Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Batas yang Hampir Terlewati
Malam yang sunyi, Boris menatap langit-langit kamar. Matanya melirik ke arah Rania yang berada di atas ranjang sedang memainkan ponsel.
"Apa saya ada salah dengan, Nona?" tanya Boris penasaran, Rania melirik singkat ke arah pria itu.
"Pikir saja sendiri," jawaban dengan nada kesal membuat Boris tidak kuat didiamkan oleh wanita itu.
Dia bangkit dan mendekat ke sisi ranjang tempat Rania tidur. Mata Boris memandangi lekat wajah Rania dari atas.
"Katakan. Apa salahku?" pertanyaan yang menyudutkan Rania. Posisi ini sebenarnya tidak baik untuk jantung.
Rania berdecak malas menaruh ponselnya dan menatap Boris kesal. Arah mata Rania turun tepat pada belah bibir Boris.
"Apa?" Boris kembali bertanya meminta jawaban, alis satunya terangkat menatap Rania bingung.
"Kamu menghentikanku saat kita sedang berciuman. Padahal aku masih ingin lanjut. Rasanya aku ingin marah," dengan jawaban cepat dan nada yang sedikit meninggi, membuat Boris hanya mampu terdiam terkejut mengedipkan beberapa kali matanya menatap Rania.
Tidak ada respon, Rania semakin kesal, "sudah minggir sana! Lihat saja! Besok aku akan mengajak Do Woo berciuman."
Mendengar nama Do Woo disebut, Boris ikut kesal. Dia memposisikan diri lebih dekat dan menghimpit tubuh Rania agar tidak bisa membalikkan tubuhnya.
"Nona mau apa?" pertanyaan dengan nada yang sangat lembut, tatapan dalam dan memohon membuat Rania luluh.
"Ciuman"jawab Rania lirih.
"Setelah itu, berjanji untuk tidak menjauhiku," Rania tersenyum lebar dan menganggukkan kepala cepat.
Boris mendapatkan respon itu, mau tidak mau dia mengabulkan kemauan Rania. Demi apapun, sebenarnya itu juga akan membuat jantung Boris tidak karuan. Mata mereka kembali bertemu, Boris lebih mendekat dan mengikis jarak antara keduanya.
Hingga akhirnya, kejadian kemarin terulang kembali. Kali ini lebih dalam, karena posisi mereka yang sangat mendukung. Rania memberikan celah untuk akses masuk benda kenyal milik Boris menyusuri rongga mulutnya.
Rania perlahan ikut menyeimbangi dan tidak ingin kalah. Dia ikut menjelajahi rongga mulut pria tampan yang dia sukai itu, bahkan menikmati tanpa memberi celah untuk mereka berhenti.
Suara decapan mengisi ruangan kamar, sedikit air juga mengalir melalui sudut bibir Rania. Karena itu hasil perang sengit antara kedua benda kenyal yang beradu di dalam.
Namun, Boris merasakan suhu ruangan berubah lebih panas. Tubuh bagian bawahnya untuk pertama kali aktif karena reaksi yang tidak terduga dari Rania. Dia melepaskan tautan dan menatap Rania dengan panik.
"Saya harus berhenti, Nona," jujurnya panik, membuat Rania berusaha membaca raut wajah Boris. Dia merasa ada yang mengganjal di bawah, dia sudah dewasa dan paham akan hal seperti itu.
"Lakukan saja, jika denganmu aku tidak masalah," bukannya melarang, justru Rania memberikan lampu hijau. Sedikit murahan dengan pria yang dia sukai, tidak masalah. Pria itu juga tidak merasa jijik dengannya. Jadi aman, pikirnya.
Tapi, Boris merasa jika dilakukan lebih dari sekedar ini, dia sudah keterlaluan. Dia telah melewati batas.
"Jika Tuan Frederick mengetahui perbuatan saya sekarang. Saya bisa dipenggal besok, Nona."
Rania memeluk tubuh Boris, dan menggelengkan kepala, "jika kamu mati, aku akan menyusul," ungkapan yang tidak baik diucap ataupun didengar.
"Jangan berbicara seperti itu! Jika aku mati, kau akan hidup lebih lama. Dan kamu tidak akan mati sebelum aku."
Cup.. Rania memberikan hadiah kecup membasahi bibir Boris dengan senyuman lebar yang menghipnotis.
Cukup sudah, Boris tidak tahan. Dia bangkit dari ranjang dan mulai melakukan push up. Pergerakan itu memancing kebingungan Rania.
"Kamu sedang apa, Boris?"
Boris tidak menjawab, dia tetap melakukan push upnya sambil menghitung.
"Bukankah harus dituntaskan dengan cara yang lain?" mata Boris terpejam mendengar perkataan Rania.
"Memangnya bisa non-aktif jika kamu push up?" tidak ada jawaban, Rania kesal. "Boris.." panggilnya terdengar manja.
Tidak! Boris runtuh. Pikirannya tidak bisa diajak kerja sama saat ini. Dia bangkit dan berlari ke arah kamar mandi sambil memegang tubuh bagian bawahnya.
Semua itu tidak lepas dari mata Rania, dia tersenyum singkat, "ternyata dia tidak bisa menahannya. Lucu sekali, kasihan.." ejeknya pelan terkekeh geli membayangkan tingkah lucu Boris.
...Bersambung.....
Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like dan komen ya. Semangat untuk kita semua..🤭🥰🤗
Masih dengan perasaan yang sama : Aku menunggu dia bertemu dengan seseorang yang pantas dan cocok menjadi pendampingnya. Berjalan perlahan menuju singgasana, dimana status akan berubah membawa kebahagiaan dan pelengkap alur kehidupan. Suasana penuh suka cita, doa, dan hadiah kecil dia dapat. Hingga aku tidak akan menyadari, bahwa alur kehidupanku juga akan berubah. Pertama dimulai dari setetes airmata jatuh membasahi pipi, bercampur rasa lega, berucap 'akhirnya dia menemukan sebuah titik rasa bahagia' . Hembusan napas panjang dan senyuman tipis mengakhiri proses perjalananku mampu melepasnya.