Hidup dalam kemiskinan membuat Reina gelap mata dan akhirnya mencuri dompet pria asing bernama Richie. Tapi, kalau emang dasarnya lagi kurang beruntung ya percuma! Dompet yang ia curi kosong dan hanya berisi rentetan ATM.
Apesnya lagi, Richie ternyata bukan pria sembarangan dan dia sudah menandai Reina yang berani merampoknya!
Dapatkah Reina berhasil kabur dari tindakan kriminalnya? Atau roda takdir berkata lain dan Richie berhasil menangkap jodohnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marthin Liem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak bodoh.
Saat tiba di kantor, Richie mendapat sapaan hangat dari karyawannya. Namun, mereka melihat keanehan pada diri Richie.
Beberapa orang saling bisik dan menertawakan secara sembunyi-sembunyi. Richie menyadari hal itu, ia berusaha menutupi tepi bibirnya yang masih bengkak, dan ia merasa tak nyaman dengan beberapa pasang mata yang terus mengamatinya diam-diam dari kejauhan.
"Pssst...bibir Pak Richie kenapa tuh?" tanya Riky berbisik pada Andri, Andri menaik turunkan pundaknya dengan cepat sambil tersenyum miring.
"Mungkin dia habis bercumbu dengan..." jawab Andri, dengan cepat Mariana yang menjabat sebagai sekertaris Richie langsung menepuk kasar pundak Andri.
"Kalian ini jadi laki kok mulutnya lemes! hobinya bergosip saja! Apa lagi kau!" Mariana melotot kearah Riky, ia di kenal sebagai karyawan tukang berbuat onar dan penyebar gosip.
Mendapat teguran langsung dari Mariana, Riky hanya melempar senyum sinis, sementara Andri tertunduk.
"Kalian ini seperti tak tahu saja watak Pak Richie seperti apa!" Mariana tampak bersikap tegas terhadap keduanya.
"Saya minta maaf, saya tak bermaksud begitu," ucap Andri dengan rasa penyesalan, tetapi tidak dengan Riky, ia kembali menuju ke bilik tempat kerjanya tanpa mengatakan apapun kepada Mariana.
Sementara di dalam ruangannya, Richie terkadang melamun membayangkan tingkah polos Reina yang membuatnya selalu rindu. Tak dapat di pungkiri, ia semakin tertarik dan jatuh hati pada gadis remaja itu.
Tiba-tiba, ketukan pintu membuyarkan lamunan indahnya, Richie terhenyak, dan segera menepis bayang-bayang yang berhasil menguasai seluruh isi pikirannya.
"Masuk!" teriak Richie dari dalam ruangan, Mariana membuka pintu, kemudian menyapanya.
"Selamat pagi, Pak,"
"Ya," Richie mengangguk dengan wajah datar seperti sudah menjadi ciri khas yang melekat pada dirinya.
Mariana tampak menyampaikan beberapa hal yang serius terhadap Richie, sehingga terjadi obrolan yang cukup panjang dan penting. Meski begitu, terkadang Richie sedikit tak konsentrasi, sehingga Mariana harus kembali mengulang ucapannya, hal itu membuat Mariana sedikit kesal. Namun, ia berusaha untuk terlihat tenang dan biasa saja di hadapan Richie.
"Ha??? tadi kau bilang apa? coba katakan sekali lagi!" tanya Richie, Mariana langsung berdecak sambil memegangi pelipisnya karena kepalanya mulai pening atas ketidak seriusan Richie saat mendengar dan menerima informasi darinya.
"Astaga Pak, perasaan, tadi saya sudah mengulang sampai 3 kali loh, sepertinya Bapak ini kurang minum!" ujar Mariana sambil menggeleng tak habis pikir dengan keanehan yang terjadi dengan Richie saat ini, tak seperti biasanya, Richie benar-benar sudah kehilangan wibawa di hadapan Mariana saat ini.
"Lah, Pak Richie kok mendadak O'on begini sih?" batin Mariana sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Bahkan, saat ini ia melihat Richie menatap kosong ke depan sambil tersenyum sendiri saat sekelebat bayangan Reina mencoba mencuri kewarasannya.
"Hmm...apa jangan-jangan dia sudah mulai gak waras?" sambungnya lagi mencoba menerka-nerka.
"Pak..." panggil Mariana sedikit berteriak. Namun, Richie tampaknya belum tersadarkan.
"Pak Richie...helow....!" teriaknya lagi, dengan cepat, Richie terperanjak dan menepuk-nepuk keningnya sendiri.
"Bapak ini kenapa sih?" Mariana sudah mulai jengah menghadapinya, membuat Richie menghela napas beratnya berkali-kali untuk kembali berkonsentrasi.
"Ehm...Oya, tadi kau mengatakan apa?" tanya Richie, tampaknya ia benar-benar tak menyimak apa yang sudah Mariana jelaskan berkali-kali kepadanya.
"Ya Tuhan!" Mariana sudah kehilangan batas kesabaran menghadapi Richie saat ini, hingga bibirnya mencebik, sambil berurai air mata.
"Bapak ini bikin kepala saya hampir meledak! saya sudah jelaskan berkali-kali!" Mariana terisak, Richie yang menyadari semua kesalahan ada pada dirinya sendiri, ia hanya bisa diam.
"Maafkan saya!" ucap Richie dengan sikap dingin.
"Ya sudah, sebaiknya saya kirim lewat pesan saja dari pada saya terus mengulang-ulang ucapan saya berkali-kali!" kata Mariana, dan Richie mengangguk.
"Sudah ya Pak, saya permisi," pamit Mariana.
Kini Richie kembali sendirian di ruangannya, ia benar-benar tak habis pikir terhadap dirinya sendiri. Ternyata sekalinya mengenal cinta, membuat dirinya terlihat bodoh.
Ya terang saja, karena ini merupakan hal yang pertama dalam hidupnya, setelah sekian lama ia menampik akan hadirnya perasaan itu. Pada akhirnya, ia termakan ucapannya sendiri, dan cinta pertamanya jatuh kepada Reina. Gadis remaja yang terpaut 10 tahun lebih muda darinya.
Richie berusaha fokus dan konsentrasi, tetapi, entah mengapa bayang-bayang Reina selalu hadir dalam ingatannya, membuat dirinya merasakan euforia tersendiri.
Sampai akhirnya, ia membaca pesan whatsApp dari Mariana, barulah ia tersadar.
"Aduh aku sampai lupa, hari ini kan jadwal audisi untuk model brand fashion," batin Richie, ia menghubungi Mariana dan menyuruh untuk kembali ke ruangannya.
...
"Ya Tuhan! Ingin rasanya aku menelannya bulat-bulat," pekik Mariana saat Richie baru saja menghubungi lewat telpon, dengan cepat ia bergegas menuju ke ruangannya sambil menggerutu di sepanjang jalan.
"Tuh orang benar-benar ya!" umpatnya, sampai-sampai ia bertabrakan dengan Christian yang merupakan asisten kepercayaan Richie, hingga tubuh keduanya sama-sama terjatuh kebawah lantai.
"Aduh!" keluh Christian, ia mencoba bangkit sedikit tertatih, begitu juga dengan Mariana.
"Hei, kalau jalan itu lihat-lihat!" bentak Christian sambil berkaca pinggang.
"Maaf Pak, saya tak sengaja," kata Mariana sambil memijat bokongnya yang kesakitan, sedang Anisa yang melihat adegan itu secara langsung hanya terkekeh.
Christian melengos pergi dari hadapan Mariana dengan wajah tak ramah, sambil membetulkan kaca mata bundar karena sedikit agak miring.
"Huh! dasar!" cibir Mariana tanpa bersuara.
"Ini semua gara-gara Pak Richie!" batin Mariana, ia hanya bisa menggerutu dalam diam.
Di sisi lain, Wilson tengah mengiring beberapa wanita cantik yang akan diangkat sebagai model brand fashion yang akan lauching bulan depan, tetapi harus melalui tahap penilaian Richie terlebih dulu.
Beberapa pasang mata karyawan pria tak luput memandang wanita-wanita cantik itu, semuanya berjumlah 7 orang.
"Wah, si Boss menang banyak tuh!" celetuk Riky, dan Hengki terkekeh.
"Percuma saja, Pak Richie kan 'Gey' mau perempuan secakep apapun, dia tak akan ngeces!" cibir Hengki, Riky mengangguk dengan senyuman sinis.
"Iya juga sih, kalau aku jadi dia, sebelum tuh cewe-cewe lolos, aku manfaatin dulu!" ujar Riky dengan tatapan me-sum kearah para wanita cantik itu.
Andri dengan cepat mendorong kepalanya.
"Minimal kau punya wajah ganteng! ngaca makannya! punya muka burik begitu aja belagu!" ledek Andri, Riky yang tak terima langsung mendorong punggungnya, hingga suasana menjadi agak bising mengganggu konsentrasi para pekerja lainnya.
"Eh, Eh, Eh, kalian ini apa-apaan?!" bentak Christian yang hadir secara tiba-tiba dari arah belakang, ke 3 nya langsung tertunduk dan meminta maaf secara serentak.
...
Wilson mengetuk pintu ruangan pribadi sang Boss, saat itu Richie tengah berbicara dengan Mariana mengulangi pembahasan yang sama.
"Pak Richie..." seru Wilson dengan santun.
"Ya Wilson?"
"Saya membawa beberapa model untuk di seleksi kembali," kata Wilson, ia mempersilahkan ke 7 bidadari cantik itu masuk keruangan pribadi Richie.
Pertama masuk, mereka terpana melihat ketampanan seorang Richie Richard yang luar biasa.
Hingga ke 7 wanita cantik itu berlomba untuk menaklukan hatinya. Meski begitu, Richie sama sekali tak tertarik sedikitpun kepada mereka.
"Selamat pagi Pak," ucap ke 7 nya secara serentak, dan Richie mengangguk dengan wajah datar, dan sikap yang angkuh.
"Ya, tolong perkenalkan nama, berikut data diri kalian secara lengkap satu persatu sambil berdiri!" perintahnya kepada ke 7 wanita itu, dengan antusias mereka mempersiapkan diri agar terkesan dan memukau di hadapan Richie.
Ketika mereka tengah berbicara di hadapannya, Richie membayangkan jika itu adalah Reina, hingga ia tersenyum samar kearah lawan bicaranya.
"Wah...dari tadi dia tersenyum padaku, apa jangan-jangan dia tertarik padaku," batin Dania, yakni satu dari ke 7 model cantik itu.
"Aduh, mampus aku, berarti dari tadi aku senyumin dia, dong!" Richie tersadarkan, hingga ia merutuki kebodohannya sendiri.
...
Hingga seleksi dinyatakan selesai, dan Richie membubarkan semuanya.
Tiba-tiba, Anisa mengetuk pintu dan membawakan nampan minuman untuknya.
"Selamat pagi menjelang siang, Pak Richie," sapa Anisa dengan ceria, Richie mengangguk tanpa ekspresi.
Anisa dengan cepat mendaratkan nampan, lalu meletakan gelas minumannya di atas meja.
"Pak.." serunya membali, dan Richie menatapnya.
"Apa?!"
"Bagaimana dengan Reina? apakah dia betah bekerja di tempat Bapak?" tanya Anisa. Tanpa Richie sadari, sang Mama sedang berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka, karena Beliau baru saja tiba.
Bu Lily menguping pembicaraan Anisa dengan Putranya ketika tengah membicarakan 'Reina'.
"Ya, dia betah kok, Kerjanya bagus, Mama saya suka cara kerjanya," jawab Richie, ia berbohong kepada Anisa.
Awalnya ia mengatakan jika Reina di pekerjakan di mansion keluarga besarnya. Namun, nyatanya Reina di bawa ke unit apartemennya, hal itu membuat Bu Lily heran, bertanya-tanya.
Ia terus menguping pembicaraan keduanya sampai mendapatkan informasi yang akurat mengenai siapa itu Reina, dan ada hubungan apa dengan Richie...
....
Bersambung...