NovelToon NovelToon
In Umbra Penitentiae

In Umbra Penitentiae

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.

Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.

Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Kehidupan Baru

Lima belas tahun kemudian.

Suara lonceng kecil di atas pintu toko berbunyi pelan saat angin sore masuk bersama aroma manis roti yang baru matang.

Seorang wanita dengan rambut panjang yang diikat satu sedang berdiri di balik etalase kaca sambil membersihkan sisa remah kue. Wajahnya terlihat tenang dengan senyum kecil yang jarang hilang dari bibirnya.

Tidak ada lagi Dariela Atlanna Zavira Raespati yang dingin dan penuh luka.

Kini semua orang mengenalnya sebagai Ana.

Nama baru.

Kehidupan baru.

Sudah hampir lima belas tahun wanita itu menjalani hidup sederhana jauh dari keluarga Raespati dan segala kekacauan masa lalunya. Ia membuka toko kue kecil di sebuah kota tenang dan hidup dengan damai… setidaknya sampai hari ini.

Ting!

Bel pintu kembali berbunyi.

Ana menoleh lalu langsung tersenyum hangat saat melihat dua anak masuk ke dalam toko.

“Mimaaa!”

Seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun berjalan masuk lebih dulu sambil membawa tas sekolahnya asal. Dylan Gineral namanya. Tinggi, jahil, dan terlalu banyak bicara.

Di belakangnya menyusul seorang gadis empat belas tahun dengan wajah cemberut dan tangan bersedekap kesal. Sabine Savira.

“Wow,” Ana terkekeh pelan sambil menyandarkan kain lap di pundaknya. “Kenapa nih anak Mima cemberut?”

Sabine langsung menunjuk Dylan dengan wajah kesal.

“Liat abang rese banget! Dia ngambil cheesecake aku!”

Dylan langsung memutar bola matanya malas.

“Drama queen.”

“Apaan sih!”

“Loh salah siapa?” Dylan membela diri. “Semalam ada yang bilang nggak mau makan cheesecake karena takut gendut. Yaudah abang makan aja.”

Sabine langsung melotot tidak terima.

“Itu kan buat nanti!”

Ana hanya menggeleng pelan sambil menahan tawa kecil. Pemandangan seperti ini sudah jadi rutinitas sehari-harinya.

“Udah, udah.” Ana berjalan mendekati mereka. “Nanti Mima bikinin cheesecake lagi.”

Mata Sabine langsung berbinar.

“Beneran?”

“Iya.” Ana tertawa kecil. “Sekarang kalian makan dulu terus ganti baju. Mima mau beresin toko habis ini.”

Ana kembali membawa beberapa wadah cake dari etalase.

Namun baru beberapa langkah, Dylan langsung mengambil sebagian kotak dari tangan wanita itu.

“Sini Mima, abang bantu biar cepet.”

Ana tersenyum gemas.

“Aduh… baik banget anak Mima satu ini. Makasih loh.”

“Cari muka terus,” gerutu Sabine sambil manyun.

Dylan langsung menjulurkan lidah jahil ke arah adiknya.

“Biarin, blek.”

“Dylan!”

Toko kecil itu langsung dipenuhi suara pertengkaran receh mereka.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Ana benar-benar merasa hidupnya normal.

Tidak ada tatapan hina.

Tidak ada keluarga yang membencinya.

Tidak ada nama Raespati yang menyesakkan.

Yang ada hanya rumah kecil, toko kue sederhana, dan dua anak yang selalu membuat harinya ramai.

Tak lama kemudian semua selesai dibereskan. Lampu toko dimatikan satu per satu sebelum Ana menggantung papan closed di depan pintu.

Mereka bertiga lalu berjalan pulang bersama menyusuri jalan kecil yang tidak terlalu jauh dari toko.

Sabine berjalan sambil terus mengomel soal cheesecake-nya, sementara Dylan sibuk mengganggu adiknya tanpa henti sampai Ana beberapa kali tertawa kecil melihat tingkah mereka.

Namun tanpa mereka sadari…

Dari kejauhan, sebuah mobil hitam berhenti di sisi jalan yang gelap.

Seseorang di dalam mobil itu memperhatikan Ana tanpa berkedip sedikit pun.

Tatapan yang penuh keterkejutan.

Dan sesuatu yang selama bertahun-tahun belum pernah benar-benar hilang.

1
Agus Tina
bagus ceritanya ...
wulaniii: makasih kak like dan komen yah 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!