NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Puncak Gunung dan Hati yang Terbuka

 

Dengan hadirnya Kael dan para pengawal hutan di sisi mereka, perjalanan mereka menjadi jauh lebih mudah dan aman. Kael mengenal setiap jengkal tanah di hutan dan pegunungan itu, dia tahu jalan mana yang paling aman, jalan mana yang harus dihindari, dan tempat mana yang bisa digunakan untuk beristirahat atau berlindung dari hujan dan angin. Dia juga mengenal kebiasaan binatang dan perubahan cuaca di daerah itu, sehingga dia bisa memberitahu mereka sebelumnya jika badai akan datang atau jika ada binatang buas yang sedang berkeliaran di sekitar jalan yang mereka lalui.

Selama perjalanan, Kael bercerita banyak hal tentang kehidupan di pegunungan, tentang cara hidup orang-orang di sana, tentang kebiasaan dan adat istiadat mereka, dan tentang masalah-masalah yang mereka hadapi setiap hari. Dia bercerita bahwa tanah di pegunungan itu memang subur, tapi sulit untuk diolah karena lerengnya yang curam, sehingga hasil panen mereka tak sebanyak dan sebaik hasil panen di daerah dataran rendah. Mereka juga harus berjuang melawan cuaca yang berubah-ubah dengan cepat, kadang-kadang musim dingin datang lebih cepat dari yang diperkirakan dan menghancurkan tanaman mereka, kadang-kadang hujan turun terlalu deras dan menyebabkan tanah longsor yang menghancurkan rumah dan ladang mereka. Namun meski hidup mereka penuh dengan kesulitan, mereka adalah orang-orang yang kuat, pekerja keras, dan saling menjaga satu sama lain seperti saudara kandung.

“Selama ini kami tak pernah meminta bantuan pada orang di ibu kota,” kata Kael saat mereka sedang berjalan menanjak melewati jalanan yang berliku di lereng gunung. “Kami berpikir bahwa kami bisa mengurus diri sendiri, dan kami tak ingin dianggap sebagai orang yang lemah yang selalu meminta pertolongan. Tapi ketika aturan dan perintah datang dari jauh, dan aturan itu dibuat tanpa mengerti keadaan kami, kami merasa bahwa kami tak lagi dianggap sebagai bagian dari negeri ini. Misalnya, ada perintah yang menyatakan bahwa kami harus membayar pajak dalam bentuk hasil panen tertentu, padahal tanaman itu tak bisa tumbuh dengan baik di tanah dan iklim di sini. Ada juga aturan yang melarang kami untuk berburu di hutan-hutan tertentu, padahal daging buruan adalah salah satu sumber makanan utama kami di musim dingin. Ketika kami mengajukan permohonan untuk mengubah aturan itu, permohonan kami tak pernah dijawab atau dianggap tidak penting. Itulah sebabnya hati kami menjadi dingin dan kepercayaan kami mulai memudar.”

Mendengar cerita itu, hati Taylor dan Elizabeth terasa semakin berat namun juga semakin terang. Kini mereka mengerti sepenuhnya akar dari masalah yang terjadi. Ini bukan masalah pemberontakan atau keinginan untuk memisahkan diri, melainkan masalah kesalahpahaman yang telah tumbuh selama bertahun-tahun, masalah yang disebabkan oleh jarak dan ketidaktahuan, masalah yang bisa diperbaiki hanya dengan saling mengerti dan saling mendengar.

“Kami mengerti sekarang,” kata Taylor dengan suara yang lembut namun penuh tekad. “Dan aku berjanji padamu, begitu kita bertemu dengan para pemimpin dan rakyat di sini, kita akan duduk bersama dan membahas segala hal dengan kepala dingin dan hati yang terbuka. Kita akan mengubah aturan yang tak cocok dengan keadaan kalian, kita akan membuat kebijakan yang bisa membantu kalian dalam hidup dan pekerjaan, dan kita akan memastikan bahwa suara dan kebutuhan kalian akan selalu didengar dan diperhatikan mulai saat ini dan selamanya.”

Hari ketiga setelah bertemu dengan Kael, mereka akhirnya keluar dari hutan lebat dan mulai memasuki wilayah pegunungan yang lebih tinggi. Di depan mata mereka terbentang pemandangan yang luar biasa indah, membuat mereka semua berhenti berjalan sejenak untuk memandang dengan takjub. Di bawah kaki mereka terhampar lembah yang luas, dengan sungai yang berkelok-kelok mengalir di tengahnya, dan di sekelilingnya berdiri deretan gunung yang tinggi dengan puncaknya yang tertutup salju putih yang berkilau terkena sinar matahari. Di lereng-lereng gunung itu tersebar permukiman penduduk, kumpulan rumah-rumah yang dibangun dari batu dan kayu, tersusun mengikuti bentuk lereng dan tersembunyi di antara pohon-pohon cemara yang tinggi. Asap tipis mengepul dari cerobong asap mereka, dan dari kejauhan terdengar suara lonceng dan tawa orang yang bergema di antara dinding-dinding gunung.

“Ini adalah tanah tempat kami tinggal,” kata Kael dengan suara yang penuh bangga dan kasih sayang. “Dan di sana, di tempat yang paling tinggi dan paling mudah terlihat, itulah tempat tinggal pemimpin kami, Kepala Suku Arlan. Dialah orang yang paling dihormati dan dipercaya di antara kami, dialah yang memimpin kami dan berbicara untuk kami di saat-saat sulit.”

Saat rombongan mereka mulai berjalan menuruni lereng menuju permukiman, berita tentang kedatangan mereka telah menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Penduduk yang sedang bekerja di ladang atau berjalan di jalanan berhenti dan memandang dengan rasa penasaran dan kaget. Banyak dari mereka yang tak pernah melihat pemimpin kerajaan secara langsung, dan mereka tak menyangka bahwa orang yang memimpin negeri mereka akan datang sendiri ke tempat yang jauh dan terpencil seperti ini. Pada awalnya mereka memandang dengan penuh kecurigaan dan kewaspadaan, banyak dari mereka yang memegang gagang pisau atau kapak mereka, dan mereka berkerumun di pinggir jalan untuk melihat dengan jelas siapa orang yang datang ke tengah-tengah mereka.

Namun saat mereka melihat bahwa rombongan itu tak membawa banyak prajurit atau senjata, saat mereka melihat bahwa orang yang berjalan di depan berjalan dengan wajah yang ramah dan tersenyum, saat mereka melihat bahwa wanita yang berjalan di sampingnya berjalan dengan sopan dan pandangan yang lembut, dan saat mereka melihat bahwa Kael dan para pengawal hutan berjalan di samping mereka seolah mereka adalah teman dan saudara, ketegangan di wajah mereka perlahan mulai memudar. Mereka melihat bahwa kedatangan orang ini bukan untuk membawa perang atau perintah, melainkan untuk membawa persahabatan dan perhatian.

Kepala Suku Arlan datang menyambut mereka di depan rumah besar yang dibangun di tempat yang paling tinggi di permukiman itu. Dia adalah seorang laki-laki yang sudah berusia lanjut, dengan rambut dan janggut yang berwarna putih salju, namun tubuhnya masih tegap dan matanya masih tajam dan bersinar penuh semangat. Dia mengenakan pakaian yang terbuat dari kain tebal yang dihiasi dengan sulaman benang dan manik-manik berwarna cerah, dan di tangannya dia memegang tongkat kayu yang diukir dengan bentuk-bentuk hewan dan tanaman, tanda kekuasaan dan kebijaksanaannya. Dia berdiri diam di depan pintu, dikelilingi oleh para tetua suku dan para prajuritnya, memandang rombongan yang datang dengan pandangan yang tenang namun penuh pengamatan.

“Selamat datang di tanah kami,” kata Arlan dengan suara yang dalam dan berat, suaranya bergema di antara bangunan-bangunan dan membuat semua orang yang hadir terdiam untuk mendengar. “Kami mendengar kabar bahwa orang dari ibu kota datang ke tempat kami, dan kami bertanya-tanya dalam hati, apakah mereka datang untuk memerintah ataukah mereka datang untuk mendengar. Kael telah bercerita banyak hal tentang kalian, dan dia berkata bahwa kalian datang dengan hati yang tulus dan niat yang baik. Tapi di tempat seperti ini, di mana angin berhembus kencang dan kabut sering menutupi pandangan, kami telah belajar untuk tak mudah percaya pada kata-kata semata. Kami percaya pada perbuatan, kami percaya pada kebenaran, dan kami percaya pada hati yang bisa terlihat di dalam mata seseorang.”

Taylor melangkah maju dan berdiri di hadapan orang tua itu dengan sikap yang sopan dan penuh hormat, sama seperti dia akan bersikap pada ayahnya sendiri. “Terima kasih atas sambutanmu, Kepala Suku Arlan. Kami datang ke sini bukan untuk memerintah, bukan untuk menuntut, dan bukan untuk memberi perintah. Kami datang ke sini sebagai saudara, sebagai bagian dari keluarga besar negeri ini, yang telah terlalu lama terpisah oleh jarak dan ketidaktahuan. Kami datang untuk melihat dengan mata kepala kami sendiri bagaimana kalian hidup, kami datang untuk mendengar dengan telinga kami sendiri apa yang ada di dalam hati kalian, dan kami datang untuk memperbaiki segala kesalahan yang telah kami lakukan selama ini. Kami tahu bahwa kami telah membuat kalian merasa terasingkan, kami tahu bahwa kami telah membuat aturan yang tak cocok dengan keadaan kalian, dan kami tahu bahwa kami telah gagal menjadi saudara dan pemimpin yang pantas bagi kalian. Dan kami datang ke sini untuk meminta maaf, dan untuk berjanji bahwa mulai hari ini, kami akan berusaha menjadi apa yang kami seharusnya menjadi.”

Suasana menjadi hening sejenak, dan semua mata tertuju pada dua orang yang berdiri berhadapan itu. Arlan menatap mata Taylor dalam waktu yang lama, matanya yang tua dan tajam seolah bisa menembus ke dalam jiwa orang muda itu, membaca kebenaran dan ketulusan yang ada di dalam hatinya. Lalu perlahan, sudut bibir orang tua itu terangkat membentuk senyum yang tipis namun hangat, dan ketegangan di wajahnya perlahan menghilang digantikan oleh pandangan yang lembut dan penuh pengertian.

“Kata-kata yang indah,” kata Arlan akhirnya, dan suaranya kini terdengar lebih lembut dan ramah. “Dan aku melihat bahwa kata-kata itu datang dari hati yang tulus. Di tempat kami, ada pepatah yang berkata: ‘Orang yang datang dengan tangan terbuka akan disambut dengan hati yang terbuka pula.’ Kalian telah berjalan jauh melewati hutan dan gunung, kalian telah berani datang sendirian ke tempat yang jauh dan asing, dan kalian telah berbicara dengan rendah hati dan jujur. Semua itu sudah cukup untuk menunjukkan niat kalian yang baik. Kalian adalah tamu kami, dan di tanah kami, tamu adalah orang yang dihormati dan disayang. Masuklah, dan mari kita duduk bersama di sekitar api, berbagi makanan dan cerita, dan mari kita bicara dari hati ke hati sampai semua kabut dan keraguan lenyap dari antara kita.”

Malam itu, mereka duduk melingkar di sekitar api unggun yang besar yang dinyalakan di tengah alun-alun permukiman. Api menyala terang dan menerangi wajah semua orang yang hadir, membuat bayangan mereka menari-nari di dinding-dinding rumah dan tebing gunung di belakang mereka. Makanan dan minuman disajikan di hadapan mereka, makanan yang sederhana namun lezat, terbuat dari hasil bumi dan hewan yang ada di sekitar mereka, dan mereka makan dan minum bersama-sama dengan suasana yang hangat dan damai. Rakyat dari seluruh penjuru permukiman datang berkumpul untuk melihat dan mendengar, dan mereka duduk di sekeliling lingkaran itu dengan diam dan penuh perhatian, menunggu untuk mendengar apa yang akan dibicarakan oleh para pemimpin mereka.

Setelah perut mereka kenyang dan suasana menjadi semakin akrab, Arlan akhirnya berbicara lagi, suaranya tenang namun terdengar jelas oleh semua orang yang hadir. “Selama ini, kami merasa bahwa orang di ibu kota hidup di dunia yang berbeda dari kami. Kami merasa bahwa mereka hidup di dalam istana yang indah dan nyaman, dikelilingi oleh kemewahan dan kemudahan, dan mereka lupa bahwa di luar tembok tinggi itu ada orang-orang yang hidup berjuang setiap hari melawan alam dan nasib. Kami merasa bahwa mereka memandang kami sebagai orang yang bodoh dan kasar, yang hanya bisa mengikuti perintah dan membayar pajak, tanpa memiliki pikiran dan perasaan sendiri. Dan karena itulah hati kami menjadi tertutup, dan kami mulai berpikir bahwa kami tak lagi memiliki tempat di dalam negeri yang sama.”

Taylor mendengarkan dengan diam dan penuh perhatian, lalu dia berbicara dengan suara yang keras dan jelas, sehingga setiap orang yang hadir bisa mendengarnya dengan mudah. “Aku mengerti perasaan kalian, dan aku tak akan menyalahkan kalian karena merasa seperti itu. Kalian merasa terasingkan, karena kami telah membuat kalian terasingkan. Kalian merasa tak dipahami, karena kami tak pernah berusaha untuk memahami kalian. Kesalahan itu ada di pundak kami, dan kami tak akan menyangkalnya. Tapi dengarkan aku dengan baik, saudara-saudaraku. Di mata kami, kalian bukan orang yang asing, bukan orang yang bodoh, dan bukan orang yang hanya ada untuk mengikuti perintah. Kalian adalah saudara kami, kalian adalah bagian dari darah dan daging negeri ini, dan kalian adalah orang-orang yang kuat dan mulia, yang telah menjaga tanah dan batas negeri ini selama ratusan tahun. Kami telah salah, dan kami akan memperbaikinya mulai detik ini juga.”

Lalu Taylor berbicara tentang segala hal yang ingin dia ubah. Dia berjanji bahwa aturan tentang pajak akan diubah sesuai dengan keadaan dan kemampuan mereka, sehingga mereka tak perlu lagi memberikan sesuatu yang tak bisa mereka hasilkan. Dia berjanji bahwa aturan tentang hutan dan berburu akan disesuaikan dengan kebutuhan hidup mereka, sehingga mereka tak perlu lagi khawatir tentang makanan di musim dingin. Dia berjanji bahwa akan dibangun jalan-jalan yang lebih baik untuk menghubungkan wilayah mereka dengan daerah lain, sehingga mereka bisa menjual hasil bumi mereka dengan mudah dan mendapatkan penghasilan yang lebih layak. Dia juga berjanji bahwa akan dikirimkan guru dan tabib ke tempat mereka, sehingga anak-anak mereka bisa belajar dan orang-orang yang sakit bisa mendapatkan pertolongan yang mereka butuhkan.

Semua orang yang hadir mendengarkan dengan mulut ternganga dan mata yang terbelalak. Mereka tak pernah menyangka bahwa orang dari ibu kota akan datang dan mendengarkan mereka, apalagi menawarkan segala hal yang mereka butuhkan dan dambakan selama ini. Selama bertahun-tahun mereka hanya menerima perintah dan tuntutan, dan sekarang untuk pertama kalinya mereka mendengar janji untuk membantu dan memahami mereka. Hati mereka yang telah lama tertutup dan dingin perlahan mulai meleleh, dan mata mereka mulai berkaca-kaca menahan air mata haru dan kebahagiaan.

Namun di tengah-tengah suasana yang penuh dengan kebahagiaan dan harapan itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan dan keributan dari arah pinggir kerumunan. Orang-orang berbalik menatap, dan mereka melihat sekelompok orang yang berpakaian hitam dan berwajah tertutup kain berusaha menerobos masuk ke tengah kerumunan, sambil berteriak-teriak dengan suara yang keras dan mengancam.

“Jangan percaya pada kata-kata manis mereka!” teriak salah satu dari mereka dengan suara yang melengking. “Ini hanyalah tipu daya untuk menipu kalian! Mereka datang bukan untuk membantu, mereka datang untuk menguasai dan menghancurkan kalian! Mereka akan mengambil tanah dan hutan kalian, mereka akan membuat kalian menjadi budak mereka, dan mereka akan membuang kalian seperti sampah begitu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan! Jangan percaya pada mereka, dan usir mereka keluar dari tanah kami sekarang juga!”

Suasana yang tadinya damai dan penuh harapan seketika berubah menjadi kacau dan penuh ketegangan. Beberapa orang yang berada di dekat para penyerang mulai mundur dan terlihat takut, sementara yang lain mulai marah dan siap untuk melawan. Kael dan para pengawal hutan segera melangkah maju dan berdiri melindungi Taylor dan Elizabeth, sambil memegang senjata mereka dengan erat dan menatap orang-orang yang berteriak itu dengan pandangan yang tajam dan marah.

Taylor berdiri diam di tempatnya, wajahnya tetap tenang dan tak tergoyahkan, namun matanya menyala dengan kewaspadaan yang tajam. Dia mengerti sekarang sepenuhnya. Ini bukan hanya masalah kesalahpahaman dan jarak. Ada tangan jahat yang bekerja di balik layar, ada orang yang berniat menghancurkan persatuan dan kedamaian, orang yang tak ingin melihat negeri ini bersatu dan hidup damai. Orang-orang yang datang meneriakkan kata-kata itu hanyalah alat, alat yang digunakan oleh orang lain yang bersembunyi di tempat gelap, orang yang berusaha menanamkan benih kebencian dan pertikaian di antara saudara sendiri.

Namun di saat yang sama, dia juga menyadari bahwa momen ini adalah ujian terbesar. Jika dia bertindak dengan marah atau kekerasan, maka kata-kata yang diteriakkan oleh orang-orang itu akan terdengar benar di telinga banyak orang, dan semua kerja keras mereka untuk membangun kepercayaan akan hancur dalam sekejap. Tapi jika dia bisa menghadapi situasi ini dengan bijaksana dan hati yang terbuka, maka dia akan bisa membuktikan kebenaran dan kebohongan di hadapan mata semua orang, dan kepercayaan yang mereka bangun akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Dia melangkah maju selangkah, mengangkat tangannya untuk meminta semua orang diam, dan berbicara dengan suara yang keras dan jelas, suara yang terdengar tenang namun berwibawa, mampu menenangkan hati dan pikiran semua orang yang mendengarnya.

“Dengarkan aku, saudaraku! Jangan biarkan amarah dan kebohongan membutakan mata dan hatimu! Orang yang berbicara di hadapanmu ini bukanlah orang yang menginginkan kebaikan untukmu! Mereka adalah orang yang berniat jahat, orang yang ingin melihat kita saling bermusuhan dan saling membunuh, agar mereka bisa mengambil keuntungan dari pertikaian kita! Mereka berbicara dengan kata-kata yang terdengar benar, tapi hati mereka penuh dengan kebohongan dan kejahatan! Tapi biarkan kita membuktikan kebenaran di hadapan mata kita sendiri! Jika mereka berani mengatakan apa yang mereka katakan itu benar, biarkan mereka berdiri di hadapan kita dan memperlihatkan wajah mereka, biarkan mereka berbicara dengan nama mereka sendiri, dan biarkan mereka menjelaskan apa bukti yang mereka miliki untuk mendukung kata-kata mereka! Karena orang yang berbicara dengan kebenaran tak perlu bersembunyi di balik kain dan kegelapan!”

Semua mata tertuju pada orang-orang yang berpakaian hitam itu, menunggu untuk melihat apa yang akan mereka lakukan. Jika mereka memang berbicara dengan kebenaran, mereka akan berani berdiri dan membuktikannya. Tapi jika mereka hanya pembawa kebohongan dan kejahatan, mereka akan takut dan melarikan diri seperti tikus yang terperangkap dalam perangkap.

Dan di saat itulah, dalam cahaya api unggun yang menyala terang, pertarungan antara kebenaran dan kebohongan, antara persatuan dan perpecahan, antara cahaya dan kegelapan akhirnya mencapai puncaknya di antara puncak-puncak gunung yang tinggi.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!