Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21: Kehadiran yang Menggoda, Cemburu yang Membara
Pagi itu, udara di dalam rumah besar Adhitama terasa begitu sejuk dan segar, berkebalikan dengan suasana hati Arkan yang terasa penuh dan hangat hingga meluap-luap. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, setengah telanjang, hanya terbalut kain selimut tebal yang menutupi pinggang ke bawah. Matanya tak lepas menatap sosok wanita yang masih terlelap nyaman di pelukannya. Nara tidur meringkuk di sisinya, rambut hitam panjangnya tergerai indah menutupi sebagian bahu dan dada Arkan, seolah enggan melepaskan sentuhan mereka yang semalam begitu menyatu.
Setiap kali mengingat apa yang terjadi semalam, setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap bisikan di telinganya, jantung Arkan kembali berdebar kencang. Ia tersenyum sendiri, mengusap pelan rambut Nara dengan penuh kasih sayang. Malam itu bukan sekadar pemenuhan gairah baginya, tapi adalah ikrar suci bahwa Nara adalah miliknya, dan ia adalah milik Nara, seutuhnya. Tidak ada lagi ragu, tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi dinding pemisah di antara mereka.
Perlahan, kelopak mata Nara berkedip pelan, lalu terbuka sepenuhnya. Sinar mata cokelatnya yang bening itu bertemu langsung dengan tatapan Arkan yang begitu dalam dan lekat. Saat ia sadar bahwa ia masih berbaring di dada Arkan, kulit mereka masih saling menempel tanpa penghalang apa pun, wajahnya seketika memerah merona, menunduk malu sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu.
"Pagi, sayang..." bisik Arkan lembut, menciumi puncak kepala Nara, suaranya berat dan rendah, masih bercampur sisa-sisa kehangatan semalam.
Nara mengangkat wajahnya perlahan, menatap Arkan dengan senyum malu-malu namun berbinar bahagia. "Pagi... Maaf... aku ketiduran begitu saja..."
Arkan tertawa kecil, menarik tubuh Nara agar berbaring lebih tinggi, hingga wajah mereka sejajar. Ia mengusap pipi gadis itu, menelusuri jejak bekas air mata semalam yang kini telah berganti dengan kilau bahagia. "Tidak perlu malu. Kamu istriku dalam hati, Nara. Dan apa yang kita lakukan semalam adalah hak kita. Aku hanya menyesal... kenapa tidak lebih cepat aku miliki kamu sepenuhnya seperti ini."
Nara tersenyum, tangannya bergerak menyentuh wajah Arkan, membelai setiap garis wajah yang begitu ia cintai. "Aku juga bahagia, Arkan... Bahagia sekali. Rasanya sekarang aku benar-benar merasa aku milikmu, dan kamu milikku. Seolah tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa memisahkan kita lagi."
"Benar," jawab Arkan tegas, lalu mendekatkan wajahnya, mencuri satu ciuman lembut di bibir Nara. "Dan hari ini, dan hari-hari ke depan, aku akan buktikan ke seluruh dunia, bahwa tidak ada wanita lain yang ada di hatiku selain kamu. Tidak peduli apa kata pemegang saham, tidak peduli apa kata keluarga Pradipta, atau siapa pun itu."
Saat mereka masih berduaan dalam kehangatan pagi itu, ketukan pintu terdengar, namun kali ini tidak tergesa-gesa. "Tuan Arkan... maaf mengganggu. Pak Wijaya meminta izin masuk. Beliau bilang ada berita penting mengenai jadwal kunjungan hari ini."
Arkan menghela napas panjang, memutuskan pelukan itu dengan berat hati. Ia membantu Nara bangun, mengambilkan pakaian bersih dan memakaikannya sendiri dengan sangat lembut dan penuh perhatian, seolah Nara adalah benda paling rapuh dan berharga di dunia. Setelah beres, barulah ia membuka pintu dan mempersilakan Pak Wijaya masuk.
Wajah Pak Wijaya tampak sedikit lebih tegang dari biasanya. Ia meletakkan jadwal di atas meja kerja di ruang tengah, menatap kedua pemuda-pemudi itu bergantian.
"Tuan Arkan, Nara... ada kabar yang harus saya sampaikan. Keluarga Pradipta mengubah jadwal. Mereka akan datang berkunjung hari ini, siang ini, bukan minggu depan. Bapak Pradipta membawa serta putri tunggalnya, Nona Sera. Mereka ingin bertemu langsung, berdiskusi mengenai kerja sama proyek baru, dan juga... beliau menyampaikan secara tersirat, ingin melihat calon pasangan yang dianggap paling tepat untuk menyatukan dua keluarga besar ini."
Wajah Arkan seketika mengeras. Tangan kanannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Ia tahu persis apa maksud dari pertemuan itu. Ini adalah ujian terbesar yang datang lebih cepat dari yang ia duga. Mereka ingin mempertemukannya dengan Sera Pradipta, wanita yang dianggap oleh dunia luar sebagai pasangan paling cocok, setara, dan pantas untuk dirinya. Dan mereka ingin melihat reaksi Arkan, ingin melihat apakah Arkan akan tergoda oleh pesona, kekayaan, dan status sosial wanita itu, atau tetap bertahan pada pilihannya pada Nara.
Nara yang berdiri di sampingnya seketika menundukkan pandangannya. Rasa rendah diri yang semalam telah ia buang jauh-jauh, kini perlahan kembali merayap masuk. Ia sadar, Sera Pradipta bukan sembarang wanita. Ia adalah wanita yang cantik, cerdas, kaya, berpendidikan tinggi, dan memiliki nama besar. Berbeda dengan dirinya yang hanya anak petani yang beruntung bertemu Arkan.
"Baik," jawab Arkan dingin namun tegas. "Biarkan mereka datang. Aku akan terima mereka. Dan aku akan perkenalkan siapa wanita yang berdiri di sisiku. Biar mereka lihat, biar seluruh dunia lihat, bahwa bagi Arkan Adhitama, tidak ada wanita yang lebih mulia dan lebih berharga daripada Nara."
Siang itu, mobil mewah hitam panjang meluncur masuk ke gerbang utama rumah besar Adhitama. Pintu terbuka, dan muncullah sosok wanita yang begitu memukau. Sera Pradipta. Ia mengenakan gaun berwarna merah marun yang elegan, rambut hitamnya disanggul rapi, wajahnya cantik dengan riasan yang sempurna, memancarkan aura keanggunan, kekayaan, dan kepercayaan diri yang tinggi. Di belakangnya mengikuti Bapak Pradipta, pria tua berwibawa yang merupakan salah satu pengusaha paling berpengaruh di negeri ini.
Sera melangkah masuk ke dalam ruang tamu besar itu dengan langkah yang mantap dan anggun. Matanya yang tajam dan cerdas segera menangkap sosok Arkan yang berdiri tegak di tengah ruangan, namun pandangannya seketika berhenti dan menyipit saat melihat sosok sederhana yang berdiri di sampingnya: Nara.
Senyum manis dan penuh percaya diri merekah di bibir Sera saat ia berjalan mendekat, mengulurkan tangan ke arah Arkan seolah sudah sangat akrab dan berhak.
"Ah, Tuan Arkan! Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung lagi. Sudah lama sekali ya sejak pertemuan terakhir kita saat kita masih kuliah di luar negeri dulu?" suaranya lembut namun berwibawa, terdengar sangat terlatih dan terdidik.
Arkan menyambut uluran tangan itu sekilas, lalu segera menarik tangannya kembali, berdiri tegak di samping Nara, secara jelas menunjukkan posisinya.
"Selamat datang, Nona Sera, Bapak Pradipta. Silakan duduk."
Sera duduk dengan sangat anggun di sofa utama, matanya menatap Nara sekilas dari atas ke bawah dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara keheranan, meremehkan, dan rasa ingin tahu.
"Maaf saya bertanya," ucap Sera tiba-tiba, menatap langsung ke arah Nara dengan senyum manis namun terasa meruncing. "Siapakah Nona ini? Saya kira di rumah besar ini hanya dihuni oleh keluarga Adhitama dan staf. Apakah keluarga Anda pekerja di sini? Atau teman masa kecil Tuan Arkan dari desa?"
Pertanyaan itu terdengar sopan, namun kata-kata "dari desa" itu diucapkan dengan nada yang sedikit ditekankan, seolah itu adalah sebuah kekurangan yang besar. Wajah Nara memerah seketika, ia menunduk, jari-jarinya saling mencengkeram di pangkuannya. Rasanya pertanyaan itu menusuk tepat ke hatinya, mengingatkannya kembali pada kenyataan pahit perbedaan dunia mereka.
"Ini Nara," jawab Arkan cepat dan tegas, suaranya sedikit meninggi, melindungi Nara di sampingnya. "Nara adalah wanita yang menyelamatkan hidupku saat aku terpuruk, saat seluruh dunia memusuhi dan mencaci maki aku. Nara adalah wanita yang aku cintai, dan satu-satunya wanita yang akan ada di sisiku selamanya."
Sera tertawa kecil, menutup mulunya dengan tangan dengan gerakan yang sangat terlatih dan berkelas. "Wah, betapa romantisnya. Tapi Tuan Arkan... dunia bisnis dan kepemimpinan itu kejam dan keras. Butuh pendamping yang sepadan, yang mengerti cara berbicara dengan kalangan atas, yang mengerti tata krama, yang bisa mendampingi Anda ke acara kenegaraan, jamuan makan malam resmi, dan pertemuan tingkat tinggi. Saya yakin... maksud saya, saya sangat berharap, Anda memikirkan masa depan perusahaan ini dengan lebih luas lagi. Pernikahan dan penyatuan dua keluarga besar Pradipta dan Adhitama akan menjadi kekuatan tak tertandingi. Dan saya... saya akan sangat bangga bisa menjadi pendamping Anda, membantu Anda mengelola kekayaan ini, dan menjadi nyonya rumah yang pantas untuk keluarga besar ini."
Kata-kata Sera halus, sopan, namun sangat tajam dan mengena. Ia memuji Arkan, memuji kekuasaannya, memuji kedudukannya, dan menawarkan dirinya sebagai pasangan yang "layak" dan "setara" di mata dunia. Ia sama sekali tidak menyebut Nara sebagai ancaman, karena baginya, Nara hanyalah gadis desa yang tidak akan mungkin bisa menandingi dirinya dalam hal apa pun.
Nara merasa dadanya sesak. Kata-kata Sera benar, sangat benar. Ia tidak mengerti cara berbicara dengan orang-orang kaya, ia tidak mengerti tata krama meja makan mewah, ia tidak tahu cara berbusana untuk acara resmi, ia tidak mengerti dunia tempat Arkan berdiri sekarang. Sera menawarkan kekuatan, kekuasaan, dan kestabilan bagi perusahaan. Apa yang bisa ia berikan selain cinta dan kesetiaan? Apakah itu cukup?
Saat pertemuan selesai dan para tamu pergi, suasana tegang masih terasa menyesakkan di dada Nara. Arkan yang peka langsung menangkap perubahan itu. Ia menarik tangan Nara, membawanya pergi dari ruang tamu itu, langsung naik ke lantai atas menuju kamar mereka, mengunci pintu agar tidak ada siapa pun yang bisa mengganggu.
Nara berdiri membelakangi pintu, air matanya mulai menetes lagi. Rasa rendah diri, rasa tidak percaya diri, dan rasa takut kehilangan kembali menguasai hatinya.
"Dia benar, Arkan..." isaknya pelan. "Sera benar. Dia cantik, dia pintar, dia kaya, dia satu tingkat denganmu. Aku cuma beban buat kamu. Aku cuma orang yang akan membuatmu dihina karena memilih aku. Mungkin... sebaiknya aku pergi. Biar kamu menikah dengannya, biar perusahaan aman, biar kamu dihormati semua orang. Aku rela sakit, asalkan kamu baik-baik saja."
Arkan tidak berkata apa-apa. Ia berjalan mendekat, langkahnya cepat dan penuh emosi. Ia menangkup wajah Nara dengan kedua tangannya, memaksanya menatap matanya. Matanya merah, bukan karena marah padanya, tapi marah pada takdir yang terus saja membuat wanita yang dicintainya merasa tidak berharga.
"Berhenti bicara begitu!" seru Arkan dengan suara bergetar. "Berhenti merendahkan wanita yang paling berharga di dunia ini di mataku! Kamu pikir aku butuh kekayaan Sera? Aku punya semua kekayaan ini! Kamu pikir aku butuh kecerdasannya? Aku punya kemampuan untuk memimpin semuanya sendiri! Aku tidak butuh apa pun dari dunia ini, Nara! Satu-satunya yang aku butuh adalah KAMU! Hanya kamu!"
Arkan menarik tubuh Nara mendekat, memeluknya begitu erat seolah takut gadis itu akan hilang jika ia melepaskan sedikit saja. Ia mencium keningnya, matanya, pipinya, hingga bibirnya dengan penuh keputusasaan dan gairah yang membara.
"Kamu pikir aku mau punya Sera? Atau wanita lain siapa pun? Tidak ada! Tidak ada yang bisa menggantikanmu! Malam ini... aku akan buktikan lagi padamu, sampai kamu percaya sepenuhnya bahwa hatiku, tubuhku, jiwaku, semuanya milikmu, dan tidak ada ruang sedikit pun untuk orang lain."
Arkan menggendong tubuh Nara yang lemas karena emosi itu, membawanya ke atas kasur empuk itu. Ia menyingkirkan selimut, menatap Nara dengan tatapan yang membakar dan penuh keinginan.
"Kamu adalah ratuku, Nara. Ingat itu selamanya. Dan malam ini, aku akan membuatmu merasakan betapa dalamnya cintaku, betapa berartinya kamu bagiku, sampai kamu tidak lagi pernah ragu akan posisimu di hatiku."
Malam itu, keintiman di antara mereka bukan lagi sekadar ungkapan cinta, tapi menjadi pembuktian, menjadi sumpah setia yang diucapkan dalam diam namun begitu keras dan mendalam. Arkan memeluk, mencium, dan menyentuh setiap inci tubuh Nara dengan penuh pemujaan, seolah ia sedang menyembah satu-satunya dewi yang ia miliki. Ia menghapus setiap keraguan, setiap rasa kurang, setiap rasa rendah diri yang masih tersisa di hati Nara, menggantinya dengan rasa percaya diri bahwa ia adalah satu-satunya wanita terindah dan paling berharga di mata Arkan.
Di bawah cahaya lampu tidur yang redup dan hangat, di antara desah napas yang menyatu dan keringat yang bercampur, Nara akhirnya benar-benar sadar. Bahwa meski dunia memandang mereka berbeda, meski orang lain membandingkan dengan Sera, di dalam dunia milik Arkan dan Nara, tidak ada perbandingan. Di sini, Nara adalah segalanya. Dan cinta Arkan begitu besar hingga cukup menutupi segala kekurangan apa pun yang ada di dunia ini.
Saat malam semakin larut dan kelelahan akhirnya membuat mereka berdua terbaring lemas namun bahagia, Arkan menarik Nara untuk berbaring di dadanya, memeluknya erat di bawah selimut hangat. Ia mengecup rambut gadis itu, berbisik pelan di telinganya.
"Jangan dengarkan mereka. Dengarkan saja hatiku. Hati ini berdetak untukmu. Dan selamanya akan begitu. Sampai nanti, sampai kita tua dan rambut kita memutih, kita tetap akan begini... bersama-sama."
Nara tersenyum bahagia, menyusukkan tangannya di pinggang Arkan, memejamkan matanya dengan hati yang tenang dan damai. Tantangan Sera baru saja dimulai, dan mungkin akan semakin berat ke depannya. Namun mereka berdua tahu satu hal pasti: tidak ada apa pun yang cukup kuat untuk memisahkan mereka.