JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Langkah kaki Marco terasa seberat timbal saat ia menyusuri lorong berlantai marmer menuju pintu utama rumahnya. Jam dinding di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat. Sisa aroma minyak angin dan hawa dingin dari pelataran Mansion Widjaja masih tertinggal samar di jaket denimnya, namun pikiran Marco sepenuhnya masih tertinggal pada wajah pucat Haura dan tatapan air mata wanita itu yang ia hapus beberapa jam lalu.
Tepat saat tangannya meraih gagang pintu jati yang besar, sayup-sayup suara dari dalam rumah menghentikan gerakannya sejenak. Suara tawa renyah, obrolan santai yang hangat, dan denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Itu suara Andi—papanya, Anggun—ibu tirinya, dan Chelsea—adik tirinya. Mereka sedang menikmati makan malam terlambat, terlihat seperti potret keluarga bahagia yang sempurna.
Keluarga bahagia yang tidak pernah melibatkan Marco di dalamnya.
Marco menghela napas panjang, mengeras kan rahangnya, lalu mendorong pintu itu terbuka hingga menimbulkan bunyi derit yang memutus rantai tawa di dalam ruangan. Begitu siluet tinggi Marco muncul di ambang pintu, atmosfer hangat di ruang makan itu mendadak menguap, digantikan oleh ketegangan yang dingin. Semua mata langsung tertuju pada dirinya.
Anggun meletakkan garpunya dengan dentang yang sengaja dikeras-keraskan. Ia menatap sinis ke arah pakaian Marco yang agak berantakan. "Bagus ya, kamu baru pulang jam segini. Kuliah entah ke mana, pulang-pulang bentukan sudah kayak berandalan pasar."
Andi Permana, yang duduk di kepala meja, perlahan menurunkan cangkir kopinya. Tatapannya pada Marco malam itu jauh lebih dingin dari biasanya. "Anak ini memang sudah bosan hidup tampaknya. Sudah tidak punya rasa hormat pada aturan rumah, tidak punya masa depan, dan sekarang hobinya cuma keluyuran tidak jelas."
Kata-kata itu menghantam dada Marco dengan telak. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyergap parunya, rasa perih yang sudah bertahun-tahun ia pendam setiap kali ayahnya menganggap keberadaannya tak lebih dari seonggok sampah yang memalukan keluarga. Namun, Marco adalah Marco. Ia menelan paksa rasa sesak itu, memasang kembali topeng wajahnya yang datar dan acuh tak acuh, lalu melangkah melewati ruang makan tanpa niat untuk singgah.
"Duduk kamu, Marco!" gertak Andi, suaranya yang menggelegar membuat Chelsea sedikit tersentak di kursinya. "Papa belum selesai bicara!"
Marco menghentikan langkahnya tepat di undakan tangga pertama. Tanpa berbalik, ia menyahut malas, "Aku capek, Pa. Mau tidur."
"Papa bilang duduk!" bentak Andi lagi, kali ini sambil menggebrak meja makan. "Besok malam ada acara jamuan makan malam penting di kediaman mantan Anggota DPR, Anggara Widjaja. Beliau mengundang keluarga kita karena Papa adalah kolega bisnis utama dari anak sulungnya, Elang Widjaja, yang memegang kendali perusahaan investasi besar itu. Kamu harus ikut. Tidak ada bantahan, tidak ada alasan sakit, dan pasang wajah manusiamu di sana!"
Mendengar nama itu disebut, tubuh Marco seketika menegang. Anggara Widjaja? Mantan Anggota DPR?
Pikiran Marco langsung berputar cepat. Ingatannya kembali ke kejadian satu jam yang lalu di teras rumah mewah yang dingin, di mana seorang pria tua angkuh bernama Anggara memarahi putrinya yang sedang sakit sakitan. Jadi... pria tua bangka itu adalah Anggara Widjaja? Dan anak sulungnya bernama Elang Widjaja? Itu berarti... acara besok malam diadakan di mansion yang sama. Tempat di mana Haura tinggal.
Seulas senyum miring, tipis namun penuh arti, perlahan terbit di sudut bibir Marco yang membelakangi keluarganya. Takdir rupanya tidak hanya berjalan cepat, tapi juga sedang berpihak padanya.
Marco membalikkan tubuhnya, menatap sang papa dengan ekspresi wajah yang mendadak melunak, hampir terlihat patuh—sesuatu yang sangat langka terjadi pada seorang Marco Permana.
"Oke," jawab Marco pendek.
Suasana ruang makan mendadak hening seketika. Andi terpaku, Anggun mengernyitkan kening curiga, sementara Chelsea menatap kakaknya dengan mata membelalak heran dari balik gelas jusnya.
"Tumben langsung oke, Kak?" celetuk Chelsea dengan nada menyindir yang meniru ibunya. "Biasanya kan banyak alasan. Mulai dari tugas kuliah lah, kerja kelompok lah, atau pura-pura punya acara sama temen-temen geng motor Kakak itu."
Marco melirik Chelsea dengan tatapan dingin yang membuat adiknya itu langsung bungkam. "Gue bilang oke ya oke. Lagian, bukannya Papa mau aku kelihatan kayak 'anak berbakti' di depan kolega bisnisnya? Aku cuma menuruti kemauan Papa."
Andi berdeham, mencoba menguasai kembali keterkejutannya atas kepatuhan mendadak putrinya. "Bagus kalau kamu sadar. Besok pakai setelan jas yang sudah Papa siapkan di kamar tamu. Jangan memalukan nama Permana di depan keluarga Widjaja. Mereka itu kelas atas, bukan level teman-teman jalananmu."
"Ya," sahut Marco singkat, lalu berbalik dan melangkah lebar-lebar menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua.
Begitu pintu kamarnya tertutup rapat dan dikunci, Marco langsung melempar jaket denimnya ke atas lantai. Ia menghempaskan tubuh jangkungnya ke atas kasur berseprai hitam, menatap langit-langit kamar yang temaram. Bayangan wajah Haura yang menahan tangis karena dibentak ayahnya kembali berputar di benaknya.
"Ratu Jastip... ternyata hidup lo di dalam sangkar emas itu nggak seindah yang lo pamerin ke orang-orang, ya," gumam Marco, suaranya berat dan rendah di dalam kesunyian kamar.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya yang layarnya sudah sedikit retak di bagian sudut. Tanpa membuang waktu, ia membuka aplikasi pesan singkat dan mencari kontak Arlo.
Marco: Ar, gue minta nomor Tante lo.
Pesan itu terkirim. Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Arlo yang tampaknya juga belum tidur untuk membalas.
Arlo: Hah? Buat apa lo minta nomor Tante Haura? Lo jangan macem-macem ya, Co. Kejadian tadi malam di depan Opung aja udah bikin jantung gue mau copot. Lo mau cari mati dipalak Tante gue lewat WA?
Marco mendecih pelan melihat balasan keponakan Haura yang terlalu banyak khawatir itu. Jarinya dengan cepat mengetik balasan dengan penuh penekanan.
Marco: Udah, mana. Nggak usah banyak tanya lo. Gue ada urusan darurat soal barang ruko buat besok.
Marco sengaja membawa-bawa urusan ruko agar Arlo tidak curiga. Di seberang sana, Arlo tampaknya sempat ragu selama beberapa menit, terlihat dari status typing yang muncul dan hilang berulang kali, sebelum akhirnya sebuah kartu kontak digital dikirimkan ke ruang obrolan mereka.
Arlo: [Contact: Tante Haura]
Arlo: Nih. Tapi inget ya, kalau dia ngamuk atau blokir nomor lo gara-gara lo ketahuan tengil, jangan bawa-bawa nama gue ke Opung!
Marco tidak membalas pesan terakhir Arlo. Ia langsung menekan kartu kontak tersebut, menyimpan nomor telepon Haura ke dalam daftar kontaknya dengan nama yang sengaja ia ketik: "Tante Sayang 🦖".
Ia membuka ruang obrolan baru dengan nomor tersebut. Profil WhatsApp Haura hanya menampilkan foto siluet dirinya yang sedang berdiri di depan sebuah toko di London dengan pakaian formal, tampak sangat berjarak dan tak tersentuh. Marco menimbang ponselnya di tangan, memikirkan kalimat apa yang tepat untuk dikirimkan kepada wanita yang beberapa jam lalu baru saja ia buat gempar di depan rumahnya sendiri.
Dengan senyum miring yang menghiasi wajah tampannya, Marco mulai mengetik pesan pertamanya untuk sang Ratu Jastip. Langkah pertama dari permainan ini baru saja dimulai, dan Marco tidak punya niat sedikit pun untuk kalah.
semangattt