Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?
Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.
!!!⚠️!!!
#BL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Suasana kantin kampus siang itu cukup riuh, tetapi fokus Luca benar-benar tersedot ke layar ponselnya. Ibu jarinya bergerak lincah, membalas deretan pesan dari Brant yang belakangan ini super sibuk di kantor. Di seberang meja, Elena dan Rose sedang heboh sendiri menghadap satu layar ponsel yang sama.
"Gila, parah sih! Padahal chemistry mereka di series itu dapet banget, Elena!" seru Rose sambil menopang dagu, matanya berbinar-binar gemas. "Kenapa coba nggak bisa go public aja di dunia nyata?"
Elena menghela napas dramatis, mengaduk es tehnya yang mulai mencair. "Ya lo tahu sendiri culture di sana ketat banget, Rose. Agensinya juga pasti ngejaga image. Kalau sampai ketahuan, bisa-bisa karier mereka berdua tamat. Hmmm, nasib remah-remah kapal fiksi ya gini, cuma bisa mandiri lewat fanfiction."
"Berisik banget lo berdua, siang-siang udah halu," dengus Vin pasrah. Dia baru saja kembali ke meja sambil membawa nampan berisi sepiring besar gorengan hangat. "Nih, pesenan lo pada. Untung gue baik ya, mau mengalah jadi babu jemput gorengan."
Luca terkekeh, langsung meletakkan ponselnya begitu Vin duduk. "Makasih, Vin kesayangan!" Luca mengambil satu bakwan, lalu wajahnya berubah agak serius. "Eh guys, btw hari ini tuh ulang tahun Mama aku."
" Tante Lana ultah?" tanya Elena antusias.
"Iya, tapi Mama lagi males ngapa-ngapain. Katanya capek, maunya di rumah aja masak makan malam buat kita bertiga," lanjut Luca dengan bahu merosot. "Tapi aku pengen banget ngasih apresiasi. kan mama udah kerja keras sendiri buat aku sama Lea. Rencananya aku mau kasih surprise kecil-kecilan nanti jam enam sore pas Mama pulang kerja? Kalian mau bantu nggak?"
"Ya mau lah! " sahut Vin tanpa ragu, diangguki cepat oleh Rose dan Elena.
"Oke, fiks ya! Nanti urusan makanan biar aku yang pesen, aku ada tabungan sendiri" ucap Luca bangga sambil menepuk dadanya sendiri.
Sore harinya, begitu jam kantor usai, Brant yang masih mengenakan kemeja formal rapi langsung menjemput Luca di gerbang kampus menggunakan mobilnya. Sesuai rencana, Luca meminta diantarkan ke salah satu katering untuk memesan paket BBQ siap antar dan menu mini prasmanan premium yang kebetulan sudah siap sedia.
Namun, momen di depan kasir katering itu menjadi pembuka realita yang brutal bagi otak mungil Luca.
"Totalnya jadi tiga juta lima ratus ribu rupiah ya, Kak," ucap petugas kasir dengan senyum ramah.
Luca langsung melongo. Matanya mengerjap panik melihat angka di mesin kasir.
Di dalam mobil saat perjalanan pulang, Luca terus menatap layar ponselnya yang menampilkan sisa saldo rekening tabungannya yang kini mengempis drastis.
Brant yang sedang menyetir melirik Luca dari balik kemudi, menyadari perubahan drastis raut wajah pacarnya. "Kenapa muka lo kusut gitu? Tabungan lo langsung sekarat?"
Luca menoleh dengan bibir mengerucut, matanya berkaca-kaca dramatis. "Kak Brant... kok makanan premium mahal banget sih? Saldo aku langsung sisa dua puluh ribu rupiah. Ini kalau besok mau beli boba, aku harus puasa dulu ya?"
Brant menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan kepolosan Luca yang main pesan tanpa melihat harga terlebih dahulu. Rahang tegasnya mengeras menahan tawa melihat wajah panik kekasihnya itu. Tanpa sepatah kata pun, Brant mengambil ponsel dari saku kemejanya, ibu jarinya bergerak lincah mengetik sesuatu di layar selama beberapa detik.
Tring!
Tiba-tiba ponsel di genggaman Luca berbunyi, menampilkan sebuah notifikasi transferan uang masuk ke rekeningnya dengan nominal yang lebih besar dari yang terpakai tadi. Brant langsung mengganti seluruh uang tabungan Luca yang habis terpakai untuk membayar katering itu tanpa banyak bicara.
"Kak Brant...?" Luca menatap layarnya lalu menoleh ke Brant dengan mata bulat . "Tapi ini kan acara Mama aku......"
"Uang lo simpan lagi buat jajan boba. Anggap aja ini modal awal menantu yang baik," sahut Brant dengan suara beratnya yang tenang, sukses membuat pipi Luca merona merah hingga ke telinga.
Sementara itu, di sebuah toko kue viral yang terletak tepat di sebelah pom bensin dekat kampus, Elena, Rose, dan Vin sedang berdiri di depan etalase kaca yang penuh dengan tart estetik.
"Sialan emang si Luca," gerutu Elena sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dengan wajah kecut. "Dia tadi langsung ngacir aja pas dijemput Kak Brant. Nggak ninggalin uang sepeser pun buat beli tart, tapi malah nge-chat minta dicariin kue yang warna biru terus hiasannya simple tapi cantik—katanya yang sederhana aja."
Rose mendengus kencang, meletakkan beberapa lembar uangnya di atas meja kasir untuk digabungkan dengan milik Elena. "Sederhana dari mana! Definisi sederhana versi Luca itu ternyata kue tart viral yang harganya enam ratus lima puluh ribu rupiah! Dompet gue langsung menjerit, antara rela nggak rela"
vin hanya tertawa kecil melihat ekspresi menderita kedua temannya, lalu merapikan tumpukan uang mereka di depan kasir. "Udah, nggak apa-apa, untung kita bertiga sabar.Yuk, buruan bayar terus langsung ke rumah Luca, takut telat!"
Sesampainya di rumah Luca, suasana langsung sibuk. Lea yang baru pulang sekolah sempat kaget melihat rumahnya mendadak ramai. Meski wajahnya tetap jutek maksimal seperti biasa, cewek tomboy itu tetap tahu sopan santun.
"Makasih ya Kak Brant, Kak Vin, semuanya... udah repot-repot buat Mama," gumam Lea kaku sambil bersedekap, membuat Luca diam-diam menjulurkan lidah mengejek adiknya yang gengsian.
Mereka bergerak cepat. Ruang tengah dirapikan, menu mini prasmanan ditata cantik di atas meja makan, sementara alat panggang BBQ beserta bahan-bahannya disiapkan di halaman belakang.
Tepat jam enam sore, suara pagar terbuka terdengar. Lampu ruang tengah sengaja dimatikan. Begitu Ibu Lana melangkah masuk dengan wajah yang tampak sangat kelelahan setelah seharian mengurus butik, lampu tiba-tiba menyala.
"Selamat ulang tahun!"
Suara koor kompak dibarengi tepuk tangan riuh langsung menggema. Luca dan Lea maju paling depan membawa kue tart dengan lilin angka yang menyala terang.
"Selamat ulang tahun, Mama kesayangan Luca!" seru Luca heboh.
"HBD, Mah. Doanya yang baik-baik aja ya," ketus Lea. Dia menyenggol lengan Luca dengan sikutnya karena Luca terlalu dekat membawa kue. "Kak, munduran dikit napa! Kena muka Mama nanti lilinnya!"
"Ih, Lea merusak suasana romantis aja deh!" bisik Luca sebal.
Ibu Lana terkejut, matanya seketika berkaca-kaca haru. Rasa lelah di wajahnya seolah menguap begitu saja. Setelah mengucapkan doa di dalam hati, beliau meniup lilinnya dan langsung dihujani ciuman di kedua pipi oleh Luca dan Lea.
"Selamat ulang tahun, Tante," ucap Brant maju memberikan salaman hormat, diikuti oleh Vin, Rose, dan Elena secara bergantian.
Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama di ruang tengah. Ibu Lana mencicipi salah satu menu katering dan matanya langsung berbinar. "Wah, ini makanannya enak banget, rasanya pas. Siapa yang pesan? Totalitas banget ini."
Luca langsung mendongak sambil cengengan tanpa dosa. "Luca yang siapin semuanya dong, Ma! Tapi... Kak Brant yang jadi donatur dadakannya, hehe."
Brant yang sedang mengunyah langsung mengembuskan napas pasrah, menatap Luca yang hanya menunjukkan deretan giginya. Brant hanya bisa tersenyum tipis menghadapi kelakuan pacarnya. Nggak apa-apa, demi calon mamer, batin Brant pasrah.
"Aduh, Brant... Tante jadi enak. Makasih banyak ya, ganteng. Makasih juga buat teman-teman Luca semuanya," ucap Ibu Lana tulus.
Setelah makan malam yang penuh kehangatan itu selesai, Ibu Lana meminta izin untuk langsung ke kamar karena badannya ternyata agak kurang sehat dan butuh istirahat total.
Dengan beristirahatnya Ibu Lana dan Lea yang sudah masuk ke kamarnya setelah menghabiskan dua potong daging jumbo—dengan alasan ada PR sekolah—halaman belakang kini sepenuhnya menjadi milik anak muda.
Setelah mengistirahatkan perut sejenak dari makan malam tadi , mereka kembali berkumpul. Halaman rumah kini mulai dipenuhi kepulan asap dari panggangan BBQ, membawa keseruan baru bagi malam mereka.
Tiba-tiba, ponsel Elena berdering keras. Elena melirik layarnya, lalu tersenyum lebar dan langsung berlari ke arah pagar depan. Tak lama kemudian, dia kembali bersama seorang cowok jangkung.
"Guys! Masih ingat Billi kan? Pacar resmi gue sekarang!" kenalin Elena dengan nada bangga luar biasa.
Brant yang sedang membalik daging di atas panggangan langsung tertegun. Matanya menyipit menatap Billi. Oh, jadi ini cowok yang tempo hari bikin gue stres dan hampir ngamuk ? batin Brant. Dia mengembuskan napas lega, untung saja waktu itu dia tidak gegabah membuat masalah karena ternyata cowok itu adalah incaran Elena.
Tak lama setelah Billi bergabung, pagar depan kembali berbunyi. Ternyata Rose juga sudah meminta izin kepada Luca untuk mengajak Jack. Menariknya, Jack tidak datang sendiri, dia membawa Rey yang bertugas sebagai ojek pribadi.sang Kapten lagi enggan berkendara sendiri malam itu.
Suasana halaman belakang berubah total menjadi pesta anak muda yang seru namun tetap sopan tanpa alkohol. Mereka mengobrol, bercanda, dan bernyanyi kecil di bawah langit malam.
Namun, ada satu pemandangan kontras yang tercipta di sudut tikar halaman belakang.
Brant duduk berdampingan dengan Luca yang bersandar manja di bahunya, sibuk menyuapi Luca daging BBQ. Di sebelah mereka, Jack duduk tenang bersama Rose yang sesekali memberikan tisu dengan wajah merona. Elena pun tampak asyik tertawa bersama Billi sambil berbagi segelas minuman.
Sementara itu, di ujung tikar yang lain...
Rey dan Vin duduk berdampingan dengan jarak satu jengkal. Keduanya menatap tiga pasang kekasih di depan mereka dengan pandangan datar dan penuh penderitaan. Mau tidak mau, karena hanya mereka berdua yang berstatus jomlo di tempat itu, mereka terpaksa harus duduk berdekatan agar tidak terlihat merana sendirian.
Rey melirik Vin, lalu menatap piringnya yang kosong. "Vin... nasib kita tragis banget ya. Berasa jadi pajangan pos ronda di tengah pameran orang pacaran."
Vin mengunyah dagingnya dengan brutal, matanya menatap tajam ke arah Luca yang sedang tertawa manja pada Brant. "Gue mending nonton horor bareng hantu beneran daripada nonton dokumenter orang bucin live begini, Rey. Siniin dagingnya, cuma makanan yang bisa mengerti perasaan kaum jomlo malam ini!"
Rey tertawa lepas, membagikan sisa sate BBQ ke piring Vin. Di bawah temaram lampu taman, tawa riuh mereka memecah keheningan malam.
Di tengah obrolan hangat itu, ponsel di saku kemeja Brant tiba-tiba bergetar pelan. Jantungnya berdesir kaget saat melihat nama kontak pengirim pesan yang baru saja masuk:
'Mama Luca'.
"Brant, Nak... Terima kasih banyak ya untuk semuanya selama ini. Ibu menulis pesan ini bukan cuma untuk berterima kasih biasa, tapi juga mau menitipkan Luca sama kamu. Selama ini, Ibu sudah melihat sendiri bagaimana ketulusan dan cara kamu melindungi putra sulung ibu.
Sekarang usia Ibu sudah tidak muda lagi, dan kekuatan ini pun mulai terbatas untuk terus mengawasi Luca. Karena itu, Ibu mau meminta tolong kepadamu, Brant. Tolong tetap jadilah pelindung bagi Luca, ya?"
Tanpa sengaja, netra Brant menangkap sosok Ibu Lana yang berdiri di balik pintu kaca. Wanita itu rupanya sedang memperhatikan mereka. Saat pandangan mereka bertemu, sebuah senyum hangat terbit di wajah Ibu Lana—sebuah senyuman penuh kebahagiaan dan secercah harapan besar yang tulus diarahkan khusus untuk Brant.
Pesan penuh restu itu seketika melambungkan rasa bangga di dada Brant sebagai seorang kekasih.
Detik berikutnya, realita pahit kembali menyentak kesadaran Brant—bahwa ia harus segera pergi jauh meninggalkan Luca demi menempuh jarak ribuan kilometer. Sembari mengunci ponsel dengan tatapan bertekad, ia menyimpan amanat dari calon ibu mertuanya dalam diam. Perpisahan ini hanya sementara, demi masa depan mereka yang lebih kuat.
•
•
•
Di ruang kerja utama Wiley Group yang luas dan elegan, Lodrik Wiley duduk di balik meja eksekutifnya. Di hadapannya, Pak Doni berdiri dengan sikap hormat sambil menyerahkan sebuah map laporan evaluasi kinerja selama seminggu terakhir.
"Bagaimana penilaian kamu tentang Brant, Doni?" tanya Lodrik, suaranya berat dan penuh wibawa, khas seorang kepala keluarga The Royals.
Pak Doni tersenyum lebar, mengangguk yakin. "Sangat memuaskan, Pak Lodrik. Tuan Brant bukan cuma cepat menangkap sistem operasional kita, tapi insting bisnisnya dalam memetakan rute logistik baru di lapangan benar-benar matang. Staf di kantor pusat sudah mengonfirmasi semuanya. Tuan Brant benar-benar sudah layak dan siap untuk ditempatkan di kantor London."
Mendengar laporan tersebut, seulas senyum tipis—yang sangat jarang terlihat—akhirnya terukir di wajah tegas Lodrik Wiley. Ada rasa bangga yang luar biasa besar yang membuncah di dadanya sebagai seorang ayah.
"Bagus. Dia memang tidak pernah mengecewakan saya," ucap Lodrik sambil menutup map laporan tersebut dengan mantap. " Beritahu bagian administrasi untuk merampungkan semua berkasnya hari ini. Lusa nanti, saya akan langsung terbang kembali ke London."
Sore harinya, matahari mulai tenggelam di balik jendela kaca besar kediaman keluarga Wiley. Ny. Sofia berjalan anggun mendekati sofa ruang tengah, lalu meletakkan secangkir teh hangat yang masih mengepulkan asap tipis di atas meja di depan suaminya.
Lodrik Wiley menyesap tehnya sedikit, lalu menatap sang istri dengan binar kepuasan yang tertahan. "Sofia, staf kantor pusat baru saja menyerahkan laporan evaluasi Brant. Kemajuan anak itu luar biasa. Dia sudah sangat siap untuk memegang posisi selanjutnya di London." Lodrik meletakkan cangkirnya kembali, lalu melirik jam tangan. "Lusa nanti kita harus segera berangkat. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan di London terlalu lama."
Ny. Sofia menghela napas halus, duduk di samping suaminya dengan raut wajah agak cemas. "Lodrik, apa tidak terlalu tergesa-gesa? Brant baru saja menyelesaikan kuliahnya. Biarkan dia beristirahat sejenak di sini, menikmati waktunya."
"Brant sudah siap, Sofia. Dia tidak butuh jeda," potong Lodrik tegas tanpa bisa dibantah. "Kamu lihat sendiri bagaimana dia bekerja seminggu ini. Dia memiliki ambisi dan kedisiplinan yang sama persis sepertiku. Sekarang, tolong panggil dia di kamarnya."
Ny. Sofia hanya bisa mengangguk pasrah. Beliau melangkah ke lantai dua menuju kamar putra sulungnya. Di dalam kamar, Brant baru saja menyelesaikan sesi workout-nya; napasnya masih agak memburu, dan kaos hitam tanpa lengannya tampak basah oleh peluh.
"Brant, Papa menunggu kamu di ruang tengah. Ada hal penting yang mau dibahas," ucap Ny. Sofia lembut dari ambang pintu.
Brant menoleh, mengambil handuk kecil untuk mengelap sisa keringat di leher dan rahang tegasnya. "Iya, Ma. Aku segera ke bawah."
Brant melangkah menuruni tangga dan langsung mengambil tempat duduk di sofa tunggal, berhadapan dengan sang ayah. Suasana mendadak berubah formal, seolah-olah mereka sedang berada di dalam ruang rapat korporat.
"Laporan kerja kamu di kantor pusat sangat bagus, Brant," buka Lodrik tanpa basa-basi. "Papa sudah mengurus semua berkas penempatan kamu. Lusa pagi, kita bertiga akan langsung terbang ke London. Kamu akan langsung masuk ke divisi manajemen strategis di sana. Tidak ada waktu untuk bersantai, persaingan di sana jauh lebih keras daripada di sini."
Lodrik menjabarkan semua rencana, jadwal rapat, hingga target yang harus Brant capai dalam tiga bulan ke depan. Semuanya diucapkan berupa perintah mutlak—tanpa ada satu pun pertanyaan untuk meminta pendapat atau mendengarkan apa yang Brant inginkan.
Brant hanya terdiam mendengarkan. Tatapan matanya yang tajam menatap kosong ke arah meja. Ada rasa pasrah yang begitu pekat di dalam hatinya. Ia tahu, momen yang paling ia takuti ini akhirnya datang juga, dan ia tidak punya kekuatan untuk menolak takdirnya sebagai seorang Wiley.
"Kamu mengerti, Brant?" tanya Lodrik, menutup penjelasannya.
"Iya, aku mengerti," jawab Brant dengan suara berat yang terlampau tenang, hampir tanpa riak emosi.
Lodrik mengangguk puas lalu berdiri, meninggalkan ruang tengah untuk kembali ke ruang kerjanya.
Tinggal lah Brant dan ibunya berdua di ruangan itu. Sebagai seorang ibu, batin Ny. Sofia tidak bisa dibohongi. Beliau bisa merasakan ada beban yang teramat berat yang sedang menekan pundak putranya. Di balik wajah datar dan ketenangan Brant, beliau tahu anak laki-lakinya itu sedang menahan sesak yang luar biasa—sebuah perasaan sedih mendalam karena harus merelakan dunianya di sini, demi menuruti ambisi sang ayah.