Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 24 - Sapa Dulu Adik Mu
“Benar, aku bonekamu,” jawab Aluna dengan riang, senyum yang sejak dulu selalu ia tahan-tahan kini Aluna lepaskan begitu saja. Dan benar saja, hatinya berdebar kecil saat melakukan hal tersebut. Seperti biasa merasakan apa artinya bahagia.
Namun Davion menatap wanita itu dengan sorot sulit dijelaskan. Tidak ada kemarahan yang Aluna tunjukkan, tidak ada luka yang diperlihatkan. Tidak ada harga diri yang terluka seperti manusia normal pada umumnya.
Yang ada hanya penerimaan dan justru itulah yang paling membuat Davion muak.
'Dasar aneh,' batin Davion.
Karena semakin Aluna pasrah seperti itu, semakin Davion merasa jijik dan membencinya. Karena di mata Davion kepasrahan Aluna bukanlah bentuk dari ketulusan, melainkan bentuk dari kelicikan yang paling berbahaya.
Wanita ini akan melakukan apa saja demi mendapatkan yang ia mau. Termasuk mengorbankan harga dirinya sendiri, mnahan rasa sakit, mengabaikan penghinaan.
Semua hanya demi tujuan akhirnya dan sekarang tujuan itu adalah perusahaan keluarga Myles.
Davion menatap Aluna beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya kembali fokus pada sarapannya. Rahangnya mengeras pelan.
Tak lama kemudian mobil hitam milik Davion melaju membelah jalanan kota menuju pusat bisnis paling elite tempat Harold Kingdom berdiri megah.
Sepanjang perjalanan Aluna hanya duduk diam di kursi penumpang. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan. Meski wajahnya tenang namun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Hari ini adalah pertama kalinya ia datang ke perusahaan Harold Kingdom setelah resmi menjadi nyonya muda keluarga Harold.
Gedung pencakar langit itu menjulang gagah di hadapannya, begitu megah dan berwibawa hingga membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa kecil.
Saat mobil berhenti di basement khusus eksekutif, Davion keluar lebih dulu tanpa menunggunya. Aluna segera mengikuti dari belakang.
Begitu mereka memasuki lobby utama, suasana mendadak berubah.
Para karyawan yang sedang berlalu-lalang langsung menundukkan kepala hormat.
“Selamat pagi, Tuan Davion.”
“Selamat pagi, Nyonya.”
“Selamat pagi, Tuan Muda, Nyonya Muda.”
Sapaan demi sapaan terdengar menghampiri. Aluna sedikit tertegun sebab ia belum terbiasa dengan panggilan baru tersebut, nyonya muda Harold.
Sementara Davion tetap berjalan tanpa menoleh sedikit pun, baginya semua penghormatan itu sangat tidak penting.
Namun diam-diam banyak pasang mata yang memperhatikan Aluna dari kejauhan. Karena ini pertama kalinya mereka melihat langsung istri dari pewaris utama Harold Kingdom.
Dan Aluna terlalu cantik untuk diabaikan.
Gaun elegan yang dikenakannya hari ini membingkai tubuh rampingnya dengan sempurna. Rambutnya tertata rapi, wajahnya lembut dan anggun, auranya begitu bersih sampai nyaris tampak tidak nyata.
“Pantas Tuan Muda menikahinya."
“Cantik sekali…”
“Benar-benar seperti putri bangsawan.”
Bisik-bisik kecil mulai terdengar di berbagai sudut.
Aluna menunduk sedikit merasa canggung mendengar semua perhatian itu. Namun Davion sama sekali tidak menoleh padanya.
Sesampainya di lantai eksekutif, mereka langsung disambut Daddy Aston yang kebetulan baru keluar dari ruangannya.
Pria paruh baya itu sontak tersenyum lebar saat melihat keduanya datang bersama.
“Aluna,” serunya senang. “Kamu ikut datang, Nak?”
Aluna langsung menundukkan kepalanya kecil sebagai bentuk hormat. “Selamat pagi, Dad.”
Aston tertawa puas, wajahnya terlihat jauh lebih cerah dari biasanya. “Bagus, bagus sekali.”
Tatapannya lalu beralih pada Davion dengan penuh makna. “Sepertinya keputusan kalian untuk pindah ke apartemen memang keputusan yang tepat. Daddy senang kalian mulai menghabiskan waktu berdua.”
Davion langsung memasang wajah datar.
Sementara Aluna hanya tersenyum kecil canggung, tak tega merusak kebahagiaan Daddy Aston dengan menjelaskan keadaan sebenarnya.
Aston menepuk bahu Davion puas sebelum pergi.
Setelah Daddy Aston menjauh, Davion mendengus pelan. “Jangan terlalu percaya diri hanya karena Daddy salah paham,” ucapnya dingin.
“Aku tidak berpikir seperti itu,” jawab Aluna lembut.
Davion tak menanggapi lagi. Mereka masuk ke ruang kerja Davion yang luas dan megah.
Ruangan itu berada di lantai tertinggi, berdinding kaca penuh dengan pemandangan kota dari atas.
Aluna duduk diam di sofa sambil memperhatikan Davion yang langsung berjalan ke meja kerjanya.
Tak lama kemudian, pintu diketuk.
Seorang pria muda berjas rapi masuk sambil membawa beberapa map tebal.
Itu adalah Haris, asisten pribadi Davion. “Selamat pagi, Tuan. Nyonya,” sapanya sopan.
Davion mengangguk. “Duduk. Kita mulai.”
Haris segera meletakkan dokumen-dokumen di atas meja. “Ini laporan lengkap kondisi perusahaan Myles,” jelas Haris, “Hutang aktif mereka meningkat empat puluh persen dalam satu tahun terakhir. Tiga proyek besar berhenti di tengah jalan dan dua investor utama menarik diri bulan lalu.”
Aluna yang duduk di sofa langsung menegang mendengar semua itu.
'Separah itu?' batin Aluna lirih.
Ia benar-benar tidak tahu apa-apa.
Davion membuka dokumen satu per satu dengan wajah dingin. “Bagaimana aset mereka?”
“Masih cukup besar, Tuan. Tapi cash flow mereka nyaris mati.”
“Aku tidak akan memberi mereka uang cuma-cuma.”
Haris mengangguk cepat. “Tentu, Tuan.”
Davion melirik ke arah Aluna sekilas sebelum kembali berkata,
“Siapkan draft pembelian saham mayoritas bertahap.”
Aluna langsung menoleh cepat. “Apa maksudmu? membeli saham perusahaan keluargaku?” tanyanya pelan.
Davion menatapnya dingin. “Apa kamu pikir aku akan menyelamatkan mereka dengan cuma-cuma?”
Aluna terdiam.
“Keluargamu sangat serakah, Aluna. Memberi mereka uang tanpa jaminan hanya sama saja membuang uang ke tong sampah," ucap Davion, nada suaranya tenang namun penuh penghinaan.
Haris seketika terdiam, merasakan getaran panas diantara keduanya.
“Aku akan bantu mereka,” lanjut Davion. “Tapi sebagai investor, sebagai pemilik saham yang punya kendali, apa kamu paham?"
Haris ikut menambahkan dengan sopan, “Dengan begitu Harold Kingdom tidak akan rugi besar jika perusahaan Myles kembali bermasalah, Nyonya.”
Aluna menggenggam jemarinya erat di pangkuan. Untuk pertama kali ia benar-benar melihat sisi Davion sebagai pebisnis.
Rasanya Aluna makin tak mampu menjangkau pria tersebut.
Menjelang siang akhirnya segala persiapan telah selesai dengan matang. Haris akan ikut bersama mereka untuk menemui Presdir perusahaan keluarga Myles, yang kini dipegang langsung oleh kakak tertua Aluna.
Davion kemudian mengambil jasnya dari sandaran kursi, “Ayo, ini saatnya kita menemui kakak tertuamu.”
Aluna berdiri perlahan dengan jantungnya kembali berdegup. Hari ini mungkin akan menjadi hari di mana untuk pertama kalinya ia melihat wajah asli keluarganya dari sudut pandang orang luar.
Dan entah kenapa Aluna mulai takut dengan apa yang akan ia temukan.
Perjalanan berlangsung beberapa saat, sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Gedung perusahaan keluarga Myles masih berdiri kokoh meski di dalamnya sudah begitu hancur.
Sebelumnya pihak kakak Aluna sudah mendapatkan kabar tentang kedatangan Davion, karena itulah kedatangannya benar-benar ditunggu.
Begitu pintu ruang Presdir terbuka, kakak tertua Aluna langsung berdiri menyambut. Sedikit terkejut saat melihat Aluna ikut datang bersama dengan Davion.
"Davion, selamat datang di perusahaanku," ucap Vincent.
"Sebelum menyapaku, sapa dulu adikmu," balas Davion.
Belajar untuk membiarkan Aluna merasakan hidup sendiri tanpa tekanan dari siapapun dan menjadi dirinya sendiri...
Tetaplah dukung dan terus berada disisinya walaupun kalian terpisah tunjukan bahwa cinta yang tulus itu mulai tumbuh dihatimu ...
Nah apakah disini Aluna dan Davion bisa bersama? sedangkan Aluna sdh nyaman hidup seperti ini, Davion setelah bertemu Aluna mungkin sdh tidak bermain wanita lagi. Tapi entahlah dulu sampai tahap mana dia bermain, Yang pasti Aluna sdh tidak peduli lagi. Mungkin akan sedikit tersentuh kalau Davion berhasil membawa Aluna bertemh keluarga kandungnya kembali.