Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: STATUS TAK TERSENTUH
Suasana di gerbang utama Akademi Pentagon sore itu mendadak mencekam, jauh dari kesan biasa. Para taruna yang semula asyik bersantai langsung terdiam seribu bahasa saat melihat rombongan kelas elit baru saja kembali dari Hutan Kelam.
Gideon de Valkyrie, sang jenius arogan yang biasanya berjalan dengan dada membusung penuh kebanggaan, kini tampak menyeret langkahnya. Wajahnya pucat pasi, tak ubahnya selembar kertas tanpa warna. Pedang kebanggaannya entah hilang ke mana. Kakinya gemetar hebat, memaksa dua pengikutnya yang sama-sama berwajah kuyu untuk memapahnya. Meski tak ada luka gores sedikit pun di tubuh mereka, tatapan mata rombongan itu kosong melompong, persis seperti orang yang baru saja menyaksikan kengerian dari balik pintu neraka.
Di belakang mereka, Axel berjalan santai seolah tanpa beban. Pemuda yang sehari-harinya hanya dikenal sebagai staf serabutan itu bahkan tak lagi memanggul tas logistiknya. Tas seberat dua puluh kilogram itu kini melayang di udara, digerakkan oleh sihir angin milik Elysia yang berjalan anggun di sisi kanan Axel. Sementara itu, di sisi kirinya, Reynarda melangkah tegap dengan tatapan tajam yang siap menghunus siapa pun yang berani melirik Axel lebih dari dua detik.
Begitu sampai di tengah halaman akademi, pertahanan Gideon runtuh. Ia jatuh berlutut hingga debu beterbangan. Beberapa profesor yang cemas segera berlari menghampiri.
"Tuan Muda Gideon! Apa yang terjadi di sana? Di mana monster serigalanya?" tanya seorang profesor dengan nada panik yang kentara.
Gideon perlahan mengangkat kepalanya, menatap punggung Axel yang kian menjauh menuju paviliun khusus. Tubuhnya kembali didera getaran hebat.
"Jangan tanya apa pun padaku," igau Gideon dengan suara serak yang parau. "Mulai hari ini, aku mengundurkan diri dari kursi perwakilan kelas. Dan tolong... jangan pernah sebut nama Axel lagi di depanku."
Sore itu juga, rumor baru meledak dan menjalar secepat api di seluruh penjuru Akademi Pentagon. Axel bukan lagi sekadar staf rendahan yang kebetulan beruntung. Ia kini dicap sebagai sebuah anomali yang tak tersentuh. Sebuah entitas misterius yang entah bagaimana caranya mampu memegang kendali atas dua monster terkuat di kekaisaran. Sejak saat itu, tak ada satu pun murid atau pengajar yang berani memandang Axel sebelah mata.
Namun, di saat akademi sedang gempar-gemparnya, suasana di dalam paviliun khusus justru terasa sangat menyesakkan bagi Axel. Pemuda itu menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya di dinding kamar mandi. Ia baru saja selesai membasuh diri dengan air hangat, mencoba membilas sisa-sisa debu dari Hutan Kelam. Sialnya, ia tak bisa benar-benar merasa rileks.
Tepat di balik pintu kamar mandi, Reynarda sedang duduk bersila di lantai dengan pedang raksasa di pangkuannya. Ia berjaga dengan kewaspadaan penuh, seolah-olah ada pasukan pembunuh bayaran yang sewaktu-waktu bisa menyelinap melalui saluran air. Lebih parah lagi, saat Axel menengadah, ia mendapati Elysia sedang duduk santai di ambang jendela ventilasi kamar mandi. Mata hijau zamrud sang peri menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.
"Elysia, bisakah kau memalingkan wajah? Aku mau berpakaian," tegur Axel sambil memegangi handuknya erat-erat di pinggang.
"Kenapa harus?" Elysia memiringkan kepalanya dengan raut wajah polos yang dibuat-buat. "Kau adalah keheninganku. Aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku. Lagipula, anatomi manusia lemah tidak ada spesialnya bagiku."
"Ini bukan soal spesial atau tidak, ini soal privasi!" Axel memijat pangkal hidungnya yang mulai terasa pening. "Dan Rey! Berhenti memancarkan aura membunuh dari balik pintu itu. Pintu ini hanya terbuat dari kayu biasa, kau bisa menghancurkannya!"
"Aku hanya memastikan tidak ada serangga yang mencoba mendekatimu saat kau lengah, Axel," sahut Reynarda dari luar dengan nada datar namun sangat keras kepala.
Axel buru-buru memakai pakaiannya dan segera membuka pintu kamar mandi. Begitu pintu terbuka, Reynarda langsung berdiri tegak dan menempel di sisi kirinya. Di saat yang sama, Elysia melayang turun dari jendela dan langsung memeluk lengan kanan Axel.
Axel menatap lurus ke depan, melihat layar sistem yang muncul dalam format baru yang jauh lebih ringkas.
[SISTEM MONITORING]
[Reynarda]: Kewarasan 50% (Sangat Stabil)
[Elysia]: Kewarasan 48% (Sangat Stabil)
[Status Ekstra]: Ketergantungan Ekstrem.
Angka kewarasan mereka memang melonjak drastis setelah insiden di hutan tadi siang. Tindakan Axel yang membela mereka tanpa rasa takut rupanya membuat kepercayaan kedua gadis ini meledak tajam. Namun, tingginya rasa percaya itu membawa efek samping yang cukup mengerikan: mereka kini menganggap Axel sebagai properti pribadi yang tak boleh lecet barang sedikit pun.
Axel melepaskan lengannya dari pelukan mereka dengan gerakan lembut namun tegas. Ia berjalan menuju sofa ruang tengah dan duduk, lalu menatap kedua wanita mematikan itu dengan serius.
"Duduklah kalian berdua," perintah Axel.
Ajaibnya, sang Ksatria Suci dan sang Penyihir Agung itu langsung patuh. Mereka duduk di sofa seberang dengan posisi rapi, persis seperti anak kecil yang sedang menunggu arahan dari gurunya.
"Dengar," Axel memulai bicaranya dengan nada rendah. "Aku sangat berterima kasih karena kalian menyusulku ke Hutan Kelam. Tapi kalian tidak bisa terus-terusan mengawasiku selama 24 jam penuh seperti ini. Kalian punya tanggung jawab sendiri. Rey, kau punya jadwal patroli wilayah. Elysia, kau harus kembali melakukan riset di menara sihir."
"Tugasku yang paling utama adalah memastikan kau tetap bernapas," potong Reynarda dengan cepat.
"Riset sihirku tidak ada harganya dibandingkan kedamaian yang kau berikan," timpal Elysia tak mau kalah.
"Kalian salah," Axel mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata mereka bergantian. EQ-nya yang tinggi mulai bekerja. Ia paham bahwa logika biasa tidak akan mempan. Ia harus menyerang sisi emosional mereka.
"Jika kalian terus menempel padaku setiap detik, orang-orang akan mulai curiga. Mereka akan mencari tahu apa kelemahanku. Dan jika ada musuh yang benar-benar kuat menyandera diriku saat kalian sedang kehabisan energi, apa yang akan kalian lakukan? Kalian ingin melindungiku, kan? Maka jadilah kuat di luar sana. Jalankan tugas kalian, agar tidak ada satu pun orang yang berani meremehkan kita."
Kata-kata Axel meresap dalam ke benak mereka. Reynarda menunduk, merenungkan strategi yang baru saja didengarnya. Elysia pun terdiam, menyadari bahwa memonopoli Axel secara berlebihan justru bisa menyeret pemuda itu ke dalam bahaya politik.
"Baiklah," Reynarda akhirnya menyerah dengan suara pelan. "Aku akan kembali berpatroli besok pagi. Tapi kau harus berjanji, setiap kali aku pulang, kau harus sudah ada di paviliun."
"Dan kau harus membiarkanku tidur di kamarmu setiap malam," tambah Elysia sesuka hati.
Axel hanya bisa menghela napas panjang dan mengangguk pasrah. Ini adalah kemenangan kecil bagi ketenangannya, meski ia tahu harga yang harus dibayar adalah jam tidurnya sendiri.
Sementara itu, jauh dari kemegahan Akademi Pentagon.
Di sebuah bar bawah tanah yang remang-remang di sudut terpencil ibu kota, seorang pria berpakaian serba hitam tampak berlutut di hadapan sebuah kursi kebesaran. Asap rokok mengepul di udara, menyamarkan wajah sosok yang sedang duduk di sana.
"Laporanmu," ucap sosok itu. Suaranya serak, terdengar sensual namun menyimpan ancaman yang nyata.
"Tuan Putri Valeria," pria berjubah hitam itu menunduk semakin dalam. "Mata-mata kita di akademi memberikan kabar terbaru. Sang Ksatria Suci dan Penyihir Peri baru saja mengamuk di Hutan Kelam. Tapi anehnya... mereka ditenangkan hanya dengan satu sentuhan oleh seorang staf kebersihan."
Jari lentik dengan kuku tajam berwarna hitam mengetuk sandaran kursi. Sesosok wanita cantik berkulit pucat menampakkan wajahnya dari balik kegelapan. Valeria, sang Ratu Dunia Bawah. Mata merah gelapnya menyipit penuh minat.
"Seorang manusia tanpa sihir bisa menjinakkan dua monster terkuat di akademi? Sangat menarik."
Valeria menyentuh pelipisnya sendiri, tempat di mana rasa sakit akibat kutukan pengkhianatan terus menggerogoti kewarasannya secara perlahan.
"Kirim unit bayangan elit kita," perintah Valeria sembari menyeringai tipis. "Culik pemuda itu hidup-hidup. Aku ingin tahu, apakah dia juga sanggup menyembuhkan kepalaku yang hampir gila ini."