Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Kehangatan Kecil Di Balkon Kamar Kaelric
⚠️Warning!!! disini area ➕➕➕ ada adegan dewasa... Anak-anak belum cukup umur jangan membacanya ya? ... Kalau tidak suka, boleh di skip.
#############@@@@@@#############
Pagi sekitar pukul sembilan., semua orang di Mansion telah selesai sarapannya pagi itu. Kaelric duduk sebentar, di balkon kamarnya sambil menikmati secangkir kopi hitam tanpa gula.
Veliora yang setiap hari menyeduh untuk dirinya. Hati Kaelric yang merasa kesepian, kini telah mulai muncul rasa yang sulit digambarkan.
Bagaimana tidak?. Dari mulai gadis itu masih kecil Kaelric-lah yang selalu menjaga dirinya. Melindungi keselamatannya. Meski dari jarak yang jauh.
Kali ini, gadis itu dekat bahkan lebih dekat dengan dirinya. Dia benar-benar tidak suka gadis itu diusik orang lain.
Pernah suatu kejadian, ada teman laki-laki di sekolah Veliora yang ingin mendekati dirinya. Kaelric segera menyuruh Ravian untuk mendatangi tempat anak itu. Dan meminta agar anak itu menjauhi Veliora.
Akhirnya, sejak saat itulah Veliora tak ada yang berani mengusik.
Suara panggilan dari ponselnya berbunyi. Ravian, nama yang tertera di aplikasi hijau ponsel miliknya.
"Bos bilang saya harus kembali ke Aegis?"
"Gak jadi, Ravian. Kamu tetap disitu. Atau setidaknya tunggu kedatangan Eryndor Hale."
"Wah, Bos. Permainan jadi lebih menantang, nih!"
"Setidaknya biar Eryndor ikut bermain disana. Biar Bismantaka tahu, siapa yang sedang dia hadapi. Tahu tidak kamu?. Kalau Adiwinata jatuh ke tangannya, Bismantaka akan lebih mudah mengambil aset lain. Sekarang ini, Aurelie Beaute sedang terguncang. Maka, aku minta Eryndor Hale datang. Perusahaan Seraphina akan aku ambil alih."
"Lha mana bisa Bos?"
"Bisa, aku bilang. Seraphina biar duduk disitu. Kamu nanti yang di Adiwinata. Alessandro biar pulang ke negaranya. Atau biar dia nanti disini dan membangun usaha baru juga boleh. Kalau Eryndor, gak tau nanti."
"Jadi, semua perusahaan itu masih di bawah kendali Bos begitu?"
"Tentu, aku juga tidak mau usaha yang dibangun dengan keringat dan jerih payah diambil begitu saja."
"Baik Bos. Baik, apapun yang Bos kehendaki. Saya siap melaksanakannya."
"Sekarang, aku sudah ada asisten baru, Ravian."
"Benarkah?. Siapa Bos?"
"Tentu saja Veliora. Sekarang dia udah jarang ke kampus. Biar dia jadi pengganti kamu saja. Lagipula, dia harus belajar banyak, Ravian."
"Perusahaan Kaeden, Papinya. Sudah menunggu kedatangannya. Maka dari itu aku harus mempersiapkan dirinya."
"Baik Bos!"
"Ini kamu masih di Penthous?"
"Ya Bos. Lima menit lagi saya berangkat."
"Oke, kamu yakin gak mau pindah rumah?"
"Nanti, Bos. Kalau saya sudah menikah, saya pasti pindah."
"Oke kalau begitu. Ya sudah, kamu harus siap-siap ke kantor, bukan?"
Akhirnya, Kaelric mematikan ponselnya.
Dia beberapa hari ini agak merasa lelah. Banyak sekali yang harus dia kerjakan. Belum lagi memikirkan perusahaan Kaeden yang sekarang juga berada di bawah kendalinya.
Di tengah pikirannya yang berkecamuk, dia merasa ada tangan yang menempel di pundaknya. Dengan lembut memijat pundaknya yang terasa kaku. Hingga, dia merasa mengantuk.
"Enak Dad?". Dia hanya mengangguk pelan sambil memejamkan mata.
" Terus, Vel. Enak rasanya. Mmm.. Beban pikiranku jadi hilang kalau kayak gini."
"Daddy gak kawin saja?"
Mata Kaelric terpejam.
"Udah tuh!. Bahkan hampir setiap hari."
Bibir Veliora manyun mendengar ucapan Kaelric.
"Maksudku bukan kawin yang itu. Menikah gitu!"
Kaelric diam. Dia cuma tersenyum geli mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri.
Lama-kelamaan dia gak betah juga. Ditariknya tangan Veliora dengan lembut. Lalu dihempaskan perlahan di pangkuannya.
Setelah Veliora duduk dipangkuan, Kaelric berbicara...
"Memang ada gadis yang baik juga cantik buatku?"
Dia menatap Veliora yang juga menatap matanya.
Veliora akhirnya menyandarkan kepalanya ke pundak Kaelric. Terasa nyaman disana. Dia memang suka berbuat begitu.
Baginya Kaelric adalah tempat ternyaman di dunia.
"Daddy.. Gak boleh jadi milik orang lain."
Bisik Veliora.
"Ya?... Lantas, aku jadi milik siapa?. Hmm..?"
Veliora mengalungkan lengannya ke leher Kaelric.
Dicium Daddynya penuh hasrat. Kaelric yang tidak bisa menahan diri, membalas Veliora dengan menyentuh area sensitif milik Veliora.
Direbahkannya Veliora di sofa tempat biasanya dia duduk santai di balkon.
Veliora menggelinjang panas dingin karena ulah Kaelric.
"Dad.. Seharusnya Daddy menikah, cari perempuan yang pantas untuk Daddy. Biar Daddy nggak kesepian. Teruuuus.... Hmmfth. Aaah... Daaaaad!"
"Jangan kencang teriaknya."
Kaelric melumat bibir Veliora.
"Nih, biar gak teriak kamu!"
Lidah Kaelric menari di dalam mulut Veliora. Dada Veliora naik turun, nafasnya tersengal-sengal.
"Dad.. Aduuh. Mau bikin aku mati?. Susah bernafas, nih!"
"Tapi, kamu suka kan?"
"Ya, aku suka. Suka making love with you, my sexi Daddy. You are my naughty Daddy. Aaaaah sakit Daaaad....!"
Kaelric tertawa melihat Veliora.
"Kamu bilang sakit, tapi kamu keenakan."
Veliora menggeliat sambil tertawa.
Tiba-tiba Kaelric merasakan sesuatu di bagian tubuhnya paling bawah.
"Ah, shit!"
"Vel, juniorku sudah berdiri mana kenceng banget, aduuh please!"
Veliora membeliak melihat benda panjang menonjol dibalik celana Kaelric.
Tanpa aba-aba lagi, Veliora segera membuka kakinya lebar-lebar. Memberi jalan pada Kaelric untuk memasukkan benda miliknya ke bagian tubuh Veliora.
Veliora menahan sakit, Kaelric menggerakkan tubuh bagian bawahnya naik-turun. Gadis itu memejamkan mata menahan sakit.
Rupanya Kaelric menikmati pemandangan di bawah tubuhnya. Dia benar-benar heran dengan gadis itu.
Senang sekali gadis itu disentuh olehnya. Dan Kaelric sangat memanjakan gadis itu.
"Dad... Aaah. Sakit banget. By the way. .. Berapa.... panjang.....milik....Daddy?. Dan... Aah.. Sssakit... bangeet.... Daaad. Aaahh... Aduuh.. !. Tapii enaaak!"
"Menurut kamu berapa, Vel?"
Veliora menggelengkan kepalanya. Desahan napasnya terdengar nyaring di telinga Kaelric. Mereka berdua benar-benar lupa waktu. Bergumul berdua sepanjang pagi itu.
Untung saja sudah selesai sarapan bersama. Ibu Gerard pun tidak mau ambil pusing.
Sedari tadi menunggu Veliora tak kunjung turun. Padahal, tadi dia ingin ikut ke taman kebun belakang paviliun.
"Veliora, kebiasaan. Kalau sudah di kamar Daddynya gak mau keluar. Aduuuh.. Bisa-bisa kesiangan aku nanti. Mana banyak yang mesti dikerjakan juga di kebun belakang."
Ibu Gerard menggumam sendiri. Bik Isa yang sedari tadi membereskan dapur beranjak mendekat ke arah Ibu Gerard.
"Mungkin, Tuan ada yang minta dibantu sama Non Veliora, Ibu."
"Apa perlu saya panggil ke atas?"
Ibu Gerard menggeleng.
"Nggak perlu, Bik. Sudah, biarin aja. Veliora kan anak manja. Dia pengen dimanja sama Daddynya, kali!"
Bik Isa tersenyum mendengar ucapan Ibu Gerard.
"Ya, Bu. Non Veliora memang bener-bener manja. Suka menggelendot sama Tuan. Padahal, Tuan masih bujangan. Mana bujang lapuk pula."
Alhasil, dua wanita paruh baya itu tertawa cekikikan. Lalu, Ibu Gerard segera beranjak ke taman kebun belakang paviliun. Sedangkan, Bik Isa melanjutkan pekerjaannya di dapur yang sebentar lagi selesai.
Mansion Kaelric berubah semenjak kehadiran Veliora dan Ibu Gerard. Nuansanya menjadi lebih hidup.
Dan Kaelric menyukai suasana seperti ini. Dia sangat berharap, saat seperti ini tidak akan pernah hilang ditelan waktu.
Seperti halnya yang terjadi selama kurun waktu bertahun-tahun di dalam keluarganya.
############@@@@@@@##########
Tak terasa sudah pukul sebelas siang. Setelah selesai aktivitas bersama Veliora, Kaelric segera pergi mandi. Dia ingin berangkat ke kantor.
Segera dia menyiapkan diri. Dengan kemeja putih, kedua lengan ditekuk. Celana hitam pekat.
Veliora pun juga sama. Mereka berdua mandi bareng tadi.
Setelah bersiap diri, Kaelric turun duduk di sofa tengah menunggu.
Veliora turun dari tangga perlahan.
Blouse satin berwarna ivory membalut tubuhnya dengan sederhana, dipadukan rok panjang bernuansa beige lembut yang jatuh rapi di bawah lutut.
Tidak berlebihan.
Tidak mencolok.
Namun justru itu yang membuatnya terlihat mahal.
Tatapan Kaelric Vorn terangkat sesaat.
Hening beberapa detik.
“Daddy kenapa?” tanya Veliora pelan.
Kaelric menarik ujung lengan kemejanya yang terlipat.
“Tidak ada.”
Namun tatapannya belum benar-benar berpindah. Matanya memandang takjub kearah Veliora yang tersenyum manis.
"Dia sepertinya sudah pantas menjadi Nyonya Kaelric Vorn."
Gumam Kaelric dalam hati.
Setelah itu mereka berdua berangkat ke kantor Kaelric.
Hari itu, pertama kali Veliora merasakan. Bagaimana rasanya bekerja di bawah perintah.
Kaelric akan menggembleng Veliora secara pribadi.