Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Dua minggu dalam kekangan dingin seorang Adiba Abbey telah mengubah isi kepala Raynazh Leon Osborn menjadi sebuah labirin kegilaan.
Sebagai seorang pria dewasa berusia 27 tahun yang terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan, penolakan mutlak dan tatapan muak yang diberikan Adiba setiap malam di griya tawang laksana racun yang menggerogoti harga dirinya hari demi hari.
Seharusnya, ini adalah masa-masa di mana gairahnya sebagai pengantin baru sedang menggebu-gebu.
Seharusnya, dia yang mendominasi di atas ranjang sutra, mengklaim tubuh istrinya yang cantik, dan mendengarkan desahan kepuasan yang mengukuhkan statusnya sebagai seorang pria sejati.
Namun kenyataannya, dia justru diusir ke kamar tamu yang dingin, dipaksa merangkak di bawah ancaman perceraian dan jeruji besi, sementara ingatan tentang adiknya, Louis, yang menodai ranjangnya sendiri terus berputar seperti pisau yang menguliti egonya.
Raynazh membutuhkan pelampiasan. Dia membutuhkan pembuktian bahwa dirinya masih memiliki kuasa, bahwa dia masih seorang Osborn yang mampu menundukkan orang lain di bawah kendalinya.
Dan tempat terbaik untuk mencari pelampiasan itu adalah di dalam ruang kerja mewahnya di lantai eksekutif Osborn Group Manhattan.
Siang itu, salju turun semakin lebat di luar dinding kaca yang tebal. Di dalam ruangan yang hangat oleh pemanas otomatis, atmosfer mendadak berubah pekat dan sarat akan ketegangan yang primitif.
Clara, asisten pribadi Raynazh yang telah bekerja bersamanya selama dua tahun terakhir, berdiri di samping meja kerja kayu mahoni yang besar.
Wanita muda berpakaian rok pensil ketat dan kemeja putih yang pas di tubuh itu awalnya hanya berniat mengantarkan beberapa berkas persetujuan investasi. Namun, kilat liar dan keputusasaan yang terpancar dari sepasang mata Raynazh siang ini membuat langkahnya terhenti.
Clara, yang memang sejak lama menyimpan kekaguman rahasia pada sang bos, tidak menolak ketika tangan kokoh Raynazh tiba-tiba menyambar pergelangan tangannya dan menariknya dengan paksa ke belakang meja kerja yang luas.
Brak!
Tumpukan berkas di atas meja terdorong berantakan, jatuh ke atas lantai karpet beludru, namun tidak ada yang peduli.
Raynazh mencengkeram pinggang Clara, mengangkat tubuh wanita itu untuk duduk di tepi meja kerjanya yang tinggi.
Dengan gerakan yang kasar dan terburu-buru, didorong oleh rasa frustrasi yang telah memuncak selama dua minggu, Raynazh merobek dua kancing teratas kemeja Clara, menuntut penyatuan fisik yang instan untuk memuaskan egonya yang kelaparan.
"P-Pak Raynazh... bagaimana jika ada yang masuk?" Clara berbisik dengan napas yang mulai memburu, tangannya meremas bahu jas abu-abu yang dikenakan Raynazh.
"Diam, Clara. Jangan bersuara," perintah Raynazh, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya.
Dia melepaskan sabuk kulitnya dengan sekali sentak, menurunkan ritsleting celananya tanpa sedikit pun kelembutan.
Di dalam benak Raynazh yang telah distorsi oleh tekanan, dia tidak melihat Clara. Setiap kali dia memejamkan mata, wajah cantik Adiba Abbey dengan senyuman sinisnya yang meremehkanlah yang hadir di kegelapan otaknya.
Gairah yang menggebu-gebu di dalam dirinya bukanlah gairah cinta, melainkan gairah kemarahan yang meluap-luap terhadap istrinya sendiri. Dia ingin merusak, dia ingin menaklukkan.
Ketika penyatuan panas itu terjadi di atas meja kerja, Raynazh bergerak dengan dominasi yang brutal, menuntut keliaran yang selama dua minggu ini tertahan di dalam dadanya.
Gesekan kulit yang intens dan deru napas yang bersahut-sahutan memenuhi ruang kerja yang kedap suara itu. Raynazh mencengkeram paha Clara dengan kuat, menekan tubuh wanita itu ke atas meja marmer di sela-sela gerakan kasarnya.
Namun, di tengah puncak gelora yang memabukkan itu, sebuah kegilaan lain lolos dari bibir Raynazh. Di dalam halusinasi gairahnya, dia membayangkan bahwa wanita yang sedang berada di bawah kendalinya saat ini adalah sang istri yang angkuh.
"Ah... Adiba... Adiba..." Raynazh mendesah berat, suaranya serak dan bergetar hebat penuh dengan keputusasaan.
Clara yang mendengar nama itu disebut langsung membeku sejenak, hatinya teriris menyadari bahwa dirinya hanyalah sebuah boneka pelampiasan untuk sang pengantin baru. Namun, cengkeraman tangan Raynazh yang semakin kuat dan gerakan pria itu yang kian cepat memaksanya untuk kembali tenggelam dalam sensasi panas yang membakar mereka berdua.
"Adiba... kau milikku... dengar itu, jalang?! Kau milikku!" Raynazh mengerang keras, mendesah atas nama istrinya terus-menerus di ceruk leher Clara.
Pengkhianatan terhadap pernikahan yang baru seumur jagung ini dia lakukan secara sadar, mengotori ruang kerjanya sendiri demi ego pria dewasa yang menolak untuk kalah.
Gerakan Raynazh mencapai puncaknya. Dengan erangan panjang yang serak dan penuh kelegaan, pelepasan absolut itu terjadi, menyemburkan seluruh sisa rasa frustrasinya yang terpendam selama dua minggu terakhir.
Cairan hangat itu tersembur, beberapa di antaranya mengenai pakaian dan bahkan menciprat ke bagian wajah serta sudut bibir Clara yang terengah-engah dengan mata terpejam.
Raynazh menyandarkan dahinya di bahu Clara, napasnya memburu berantakan seperti seorang pelari maraton. Keheningan kembali merayap, menyisakan aroma sampanye sisa makan siang dan bau gairah yang pekat di udara ruangan.
Setelah beberapa menit menata kembali detak jantungnya, Raynazh menegakkan tubuhnya. Sisi rasionalnya perlahan kembali, membawa serta rasa hambar setelah pelampiasan itu selesai.
Dia mengambil beberapa lembar tisu tebal dari kotak di atas meja. Dengan gerakan yang sedikit lebih tenang, Raynazh mengulurkan tangannya yang masih sedikit bergetar, berniat untuk menghapus sisa-sisa cairan putih kental yang menempel di muka dan sudut bibir asistennya tersebut.
Tepat pada detik itulah, pintu kayu ek besar ruang kerjanya terbuka tanpa ada ketukan sama sekali.
"Raynazh, laporan dari bursa saham Manhattan baru saja—"
Kata-kata itu terputus seketika. Arthur Osborn, sang patriark dinasti, berdiri membeku di ambang pintu.
Pria tua itu memegang sebuah map kulit hitam, namun sepasang matanya yang tajam dan dipenuhi gumpalan otoritas langsung tertuju pada pemandangan menjijikkan di balik meja kerja putranya.
Di sana, Raynazh sedang berdiri dengan celana yang masih melorot di bawah pinggang, tangannya memegang tisu yang sedang mengusap sisa cairan di wajah Clara.
Sementara Clara sendiri masih duduk di atas meja dengan kemeja yang robek dan rok yang tersingkap tinggi, wajahnya seketika memucat pasi seperti mayat karena terpergok langsung oleh orang paling berkuasa di gedung ini.
Keheningan yang tercipta setelahnya terasa begitu pekat, mencekik, dan jauh lebih dingin daripada badai salju di luar jendela kaca.
Arthur Osborn mengepalkan tangannya begitu kuat hingga map di genggamannya berkerut. Wajahnya yang dipenuhi kerutan usia berubah merah padam, urat-urat di pelipisnya menegang hebat menahan amarah yang siap meledak menghancurkan ruangan tersebut.
"Keluar," ucap Arthur. Suaranya tidak meledak, melainkan rendah, bergetar oleh kemurkaan yang teramat sangat yang menembus tulang benak siapa pun yang mendengarnya.
Clara dengan tubuh yang bergetar hebat langsung melompat turun dari meja, merapikan pakaiannya yang berantakan dengan air mata ketakutan yang mulai menetes.
Dia membungkuk berkali-kali tanpa berani menatap wajah Arthur, lalu berlari keluar dari ruangan dengan langkah yang terburu-buru, menutup pintu ek yang berat itu di belakangnya.
Setelah pintu tertutup, Arthur melangkah maju dengan hentakan kaki yang berat, mendekati Raynazh yang kini sedang dengan panik menaikkan celananya dengan tangan yang gemetar hebat karena ketakutan.
Brak!
Arthur melempar map kulit hitam di tangannya tepat ke wajah Raynazh, membuat sudut bibirnya sedikit berdarah terkena hantaman ujung map yang tajam.
"Binatang menjijikkan!!!" Arthur berteriak, suaranya menggelegar memecah keheningan ruang kerja, membuat kaca-kaca besar di sekeliling mereka seolah ikut bergetar.
"Kira-kira apa yang ada di dalam otak udangmu itu, Raynazh?! Dua minggu! Baru dua minggu kau menikah dengan putri tunggal dinasti Abbey! Saham kita baru saja stabil setelah skandal malam pertama yang melibatkan adikmu, dan sekarang kau... kau melakukan perbuatan haram ini di dalam kantor pusat?!"
"Ayah... kumohon, dengarkan penjelasanku," Raynazh berlutut di atas lantai karpet, memegang ujung sepatu kulit ayahnya dengan frustasi.
"Aku tertekan, Ayah! Adiba... Adiba memperlakukanku seperti sampah di rumah! Dia tidak membiarkanku menyentuhnya, dia mengancamku setiap hari dengan surat perceraian! Aku hanya butuh pelampiasan, Ayah!"
Arthur menarik kakinya dengan kasar, menendang dada Raynazh hingga pria itu terjungkal ke belakang. "Pelampiasan, kau bilang?! Kau adalah putra mahkota Osborn Group! Kau mengorbankan masa depan adikmu, Louis, beberapa tahun lalu demi menjaga nama baikmu sebagai pria sempurna tanpa cela! Aku menutupi kasus pemerkosaan Ambar itu dengan uang dan darah agar kau bisa berada di posisi ini! Dan ini caramu membalas pengorbananku?!"
Arthur melangkah mendekati jendela besar, menatap salju yang turun dengan napas yang memburu berantakan. Jantungnya yang memiliki riwayat penyakit kronis mulai terasa berdenyut nyeri, namun amarahnya mengalahkan rasa sakit fisik tersebut.
"Jika Adiba tahu tentang kelakuan bejadmu siang ini, pernikahan ini akan hancur dalam hitungan detik, Raynazh!" bentak Arthur tanpa berbalik. "Dan jika keluarga Abbey menarik seluruh investasi mereka dari proyek Brooklyn, Osborn Group akan mengalami kebangkrutan massal! Kau ingin menghancurkan seluruh warisan keluarga ini hanya karena kau tidak bisa menahan gairah kotormu?!"
Raynazh merangkak kembali, duduk bersimpuh dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam. "Adiba tidak akan tahu, Ayah. Aku berjanji... aku akan membungkam mulut Clara. Aku akan memberinya pesangon yang besar dan memindahkannya keluar dari New York hari ini juga. Kumohon... jangan beri tahu Adiba."
Arthur berbalik, menatap putranya dengan pandangan yang penuh dengan rasa muak yang mendalam. "Aku tidak akan memberi tahunya. Bukan karena aku ingin melindungimu, Raynazh, tapi karena aku ingin melindungi nama besar Osborn. Mulai hari ini, setiap pergerakanmu akan diawasi oleh pengawal pribadiku. Dan jika aku melihatmu membuat kesalahan sekecil apa pun lagi... aku sendiri yang akan mendepakmu dari kursi CEO dan menyerahkan seluruh aset perusahaan kepada Louis di Brooklyn!"
Mendengar nama 'Louis' disebut sebagai penggantinya, wajah Raynazh seketika pias. Ketakutan terbesar dalam hidupnya adalah kehilangan takhta yang telah dia rebut dengan cara menghancurkan hidup adiknya sendiri.
"Baik, Ayah... aku berjanji. Aku tidak akan mengulanginya lagi," bisik Raynazh dengan suara yang patah.
"Bersihkan dirimu, dan kembali bekerja. Topengmu di depan publik harus tetap sempurna, apa pun yang terjadi," ucap Arthur dingin sebelum melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Raynazh yang terduduk lemas di atas lantai, dikelilingi oleh berkas-berkas yang berantakan dan aroma dosa yang baru saja dia lakukan di balik ruang kaca Manhattan.