NovelToon NovelToon
Twin Gus: A Love Story

Twin Gus: A Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Hantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"

Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.

Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Andara

Di layar televisi, tampak seorang wanita cantik tengah memainkan sebuah adegan dengan penuh penghayatan. Wajahnya masih terlihat sangat muda meski usianya sudah hampir menginjak kepala empat.

Sorot matanya tajam. Senyumnya anggun. Dan penampilannya begitu elegan layaknya seorang artis papan atas.

Wanita itu bernama Fiona.

Ibu kandung Kafa.

Duduk sendirian di ruang tengah apartemen yang kini hanya diterangi cahaya televisi, Kafa menatap layar itu tanpa ekspresi.

Tangannya memegang remote dengan lemah.

Tatapannya datar.

Namun ada sesuatu yang terasa sesak di dalam dadanya.

Kafa tau siapa wanita itu bukan karena ia mencari tau sendiri.

Melainkan karena Azzam dan Aira.

Orang tua angkatnya lah yang dulu diam-diam berusaha mencari informasi tentang asal-usul Kafa setelah mereka mengangkatnya sebagai anak. Dulu Kafa dibuang di tempat yang bahkan tidak layak disebut tempat tinggal manusia.

Gang sempit. Gelap. Bau. Dan dingin. Nyaris meninggal.

Saat Kafa bayi ditemukan dalam keadaan menangis sendirian di sana.

Tanpa siapa pun. Tanpa pelukan. Tanpa kasih sayang.

Ia lahir sebagai anak yang tidak diinginkan.

Awalnya Kafa sama sekali tidak tertarik mencari tau siapa orang yang telah membuangnya begitu saja.

Namun takdir mempertemukan mereka ketika Kafa berusia delapan tahun.

Hari itu, Fiona datang ke panti asuhan tempat Kafa dulu ditinggal sebelum diangkat oleh Azzam dan Aira.

Ternyata wanita itu mencari tau dirinya diam-diam.

Wanita itu menangis saat melihatnya. Memeluknya. Meminta maaf.

Tapi lucunya—Ia tidak datang untuk membawa Kafa pulang.

Ia hanya ingin memastikan anak itu masih hidup.

Dan lebih dari itu...Ia takut.

Takut kariernya hancur jika orang-orang tau dirinya pernah melahirkan anak di luar nikah.

Saat itu Kafa kecil belum terlalu mengerti arti penolakan.

Namun semakin bertambah usia—ia mulai memahami.

Bahwa dirinya memang tidak pernah benar-benar diinginkan oleh wanita itu.

Televisi masih terus menyala.

Suara Fiona terdengar lembut memainkan dialog.

Sementara Kafa hanya tersenyum kecil.

Tipis sekali. Pahit.

“Hebat ya...” gumamnya lirih. “Bisa akting jadi ibu yang baik.” Kalimat itu terdengar menyakitkan.

Namun anehnya—Kafa tidak menangis.

Karena rasa sedih itu seolah sudah habis sejak lama.

Kini hidupnya jauh lebih baik.

Ia punya keluarga. Punya rumah. Punya orang-orang yang benar-benar menyayanginya.

Azzam dan Aira mungkin bukan orang tua kandungnya. Tapi kasih sayang mereka jauh lebih nyata daripada darah yang mengalir di tubuhnya sendiri.

Azzam yang mengajarinya menjadi laki-laki baik.

Aira yang selalu khawatir kalau Kafa telat makan.

Mereka menyayangi Kafa seperti anaknya sendiri padahal mereka punya anak dari darah dagingnya sendiri tapi perhatian dan kasih sayang tidak pernah dibedakan.

Bahkan Aryan dan Arshaf yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri, mereka sudah sering bermain sejak lama karna orang tua Arshaf dan Aryan adalah saudara sekandung.

Kafa mengembuskan napas pelan lalu mematikan televisi.

Ruangan langsung berubah gelap dan sunyi.

Ia menyandarkan tubuh ke sofa sambil menatap langit-langit apartemen.

“Gue gak butuh ibu kandung yang malu punya anak kayak gue...” bisiknya lirih.

Sudut bibirnya terangkat tipis. “Tapi gue bersyukur Allah ngasih gue Abi dan bunda yang jauh lebih baik.”

Kafa menutup mata sejenak.

Lalu dalam hati, ia kembali mengulang janji yang selama ini selalu ia pegang erat— Ia akan membalas semua kebaikan Azzam dan Aira. Dengan apa pun yang ia punya.

Pintu apartemen terbuka pelan.

Arshaf baru saja pulang setelah selesai mengajar di TPQ. Tas selempangnya masih menggantung di bahu ketika langkahnya terhenti di ruang tengah.

Pandangannya langsung tertuju pada Kafa yang duduk sendirian di sofa dalam keadaan gelap.

Televisi sudah mati.

Namun ekspresi wajah laki-laki itu masih tampak sendu.

Arshaf menghela napas kecil.

Ia tau. Ia sudah hafal jam tayangnya, itu yang membuat Kafa terlihat sendu.

Pasti tentang itu lagi.

Tanpa banyak bicara, Arshaf meletakkan tasnya di meja lalu berjalan mendekat. Setelah itu ia duduk pelan di samping Kafa.

Tak ada percakapan selama beberapa detik. Hanya suasana hening yang menemani.

“Keinget lagi?” tanya Arshaf akhirnya.

Kafa tersenyum tipis hambar. “Kelihatan ya?”

“Banget.”

Kafa menunduk sambil memainkan jemarinya sendiri. “Tadi gue lihat dia di TV.”

Arshaf tak perlu bertanya siapa yang dimaksud.

Ia sudah tau. “Masih sakit?” tanyanya pelan.

Kafa diam cukup lama sebelum akhirnya menjawab lirih—

“Kadang gue mikir...” Ia tertawa kecil hambar. “Sejahat apa gue dulu sampai ibu kandung gue sendiri malu punya anak kayak gue.”

“Jangan ngomong gitu.”

“Nyatanya emang begitu, kan?”

Arshaf menatap sahabatnya beberapa detik. “Kafa.” Suaranya tenang. “Orang tua yang ninggalin anak bukan berarti anaknya yang salah.”

Kafa terdiam.

“Kadang...” lanjut Arshaf pelan, “orang dewasanya aja yang gagal jadi manusia.”

Kalimat itu membuat Kafa menoleh perlahan.

Arshaf jarang bicara panjang.

Namun sekali bicara, selalu kena.

“Lo tau gak kenapa Om dan Tante sayang banget sama lo?” tanya Arshaf.

Kafa menggeleng kecil.

“Karena lo pantas disayang. Lo anak baik, Kaf.” Arshaf menepuk pelan pundaknya. “Lo gak pernah nyusahin. Lo selalu mikirin orang lain. Bahkan pas lo lagi sedih aja, lo masih bisa ketawa biar orang lain gak khawatir.”

Kafa tersenyum kecil sambil menunduk. Matanya mulai terasa hangat.

“Kalau ibu kandung lo gak bisa lihat betapa berharganya lo...” lanjut Arshaf, “itu kerugian terbesar buat dia. Bukan buat lo.”

Hening kembali tercipta. Namun kali ini terasa lebih hangat.

“Kok lo bisa ngomong bijak gitu sih?” gumam Kafa pelan sambil tertawa kecil.

Arshaf mengangkat bahu santai. “Kan gue ganteng.”

“Najis.”

“Fakta.”

Kafa akhirnya benar-benar tertawa kecil.

Melihat itu, Arshaf ikut tersenyum tipis.

“Nih.” Arshaf tiba-tiba menyodorkan sesuatu dari kantong plastik hitam yang ia bawa.

Kafa mengernyit bingung. “Apaan?”

“Seblak.”

Mata Kafa langsung membulat. “Anjir serius?”

“Beli di depan TPQ.” Arshaf menyerahkan mangkuk itu santai. “Tadi kepikiran lo pasti lagi galau.”

Kafa langsung menerima seblak itu dengan wajah terharu bercampur bahagia. “Shaf...”

“Hm?”

“Kalau gue jadi cewek kayaknya gue udah nikahin lo deh.”

Arshaf langsung menjauh jijik. “Ih geli banget.”

Kafa nngakak. Ucapan Arshaf tadi membuat dirinya sedikit lebih ringan.

***

Kafa masuk ke dalam kamarnya sambil mengembuskan napas panjang. Bayangan tentang ibu kandungnya masih berputar di kepala. Ia sebenarnya sudah berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak peduli lagi.

Untuk apa memikirkan seseorang yang sejak awal bahkan tidak menginginkannya hadir?

Bukankah sekarang hidupnya sudah jauh lebih baik?

Ia punya keluarga. Punya rumah. Punya orang-orang yang benar-benar menyayanginya.

Namun tetap saja... kadang ada bagian kecil di hatinya yang terasa kosong.

Di tengah lamunannya, ponsel Kafa tiba-tiba berdering.

Video call masuk.

Andara.

Seketika sudut bibir Kafa terangkat tipis.

Ia langsung mengangkat panggilan itu.

“Assalamu’alaikum kak Kafaaa!!” Suara cempreng penuh semangat langsung menyeruak dari speaker sampai membuat Kafa sedikit menjauhkan ponselnya.

“Wa’alaikumussalam.” Kafa terkekeh kecil. “Ngagetin banget sih, Dek. Kuping kakak hampir pensiun.”

Di layar, wajah Andara muncul super dekat sampai hanya kelihatan mata dan jidatnya saja.

“Aku kangen loh!”

“Baru juga tiga hari gak video call.”

“Tiga hari itu lama!”

“Lama dari mana?”

“Ya lama aja.” Andara manyun. “Kakak gak kangen aku ya?”

Kafa tersenyum geli. “Kangen.”

“Nah gitu dong.” Andara langsung berubah ceria lagi. “Aku kira kakak lebih kangen Kak Zaskia.”

Kafa hampir tersedak ludah sendiri. “Apaan sih?!”

“Hehehe ketahuan panik.”

“Dara...” Kafa memijat pelipis. “Kamu sebelas tahun tapi mulutnya kayak emak-emak.”

“Ini bakat.”

“Bakat nyebelin?”

“Iya.”

Kafa tertawa kecil sambil merebahkan tubuhnya di kasur. “Lagi ngapain emangnya?”

“Tadi aku habis bantu bunda bikin donat.”

“Terus?”

“Terus dapurnya hampir kebakar dikit.”

Kafa langsung bangun duduk. “HAH?!”

“Bercanda.”

Kafa menghela napas panjang lega. “Ya Allah, Dara... jantung kakak.”

“Tapi minyaknya sempat muncrat.”

“KAMU ITU BIKIN KAGET AJA.”

Andara ngakak keras sampai badan kecilnya goyang-goyang.

“Kak Kafa lagi ngapain?”

“Lagi tiduran.”

“Boong.”

“Serius.”

“Kirim bukti.”

Kafa memutar kamera memperlihatkan dirinya yang memang sedang rebahan di kasur.

“Nah kan bener.”

Andara terkikik puas. “Tadi aku habis dimarahin guru loh.”

“Kenapa lagi?”

“Aku gambar kucing di buku matematika.”

Kafa menahan tawa. “Terus salahnya di mana?”

“Katanya aku gak fokus belajar.”

“Emang iya.”

“Tapi aku bosan...” Andara rebahan di meja sambil manyun. “Matematika jahat.”

“Yang jahat itu nilai kamu.”

“Huuu kakak nyebelin.”

Kafa tersenyum kecil sambil memperhatikan tingkah adiknya itu.

Aneh.

Padahal beberapa menit lalu hatinya masih sesak memikirkan Fiona.

Namun sekarang... Perasaannya perlahan mulai membaik.

Mungkin benar kata orang— Kehangatan keluarga bisa menyembuhkan luka yang paling dalam sekalipun.

“Kak.”

“Hm?”

“Aku boleh curhat gak?”

“Boleh.”

Andara mendekatkan wajahnya ke kamera lalu berbisik dramatis— “Aku kayaknya jatuh cinta.”

Kafa langsung melotot. “HAH?”

Andara ngakak keras melihat ekspresi kagetnya. “Kakak panik!”

“Kamu baru umur sebelas tahun, Dek!”

“Terus kenapa?” Andara melipat tangan di dada. “Cinta gak kenal umur.”

“Drama banget kalimatnya.”

“Hehehe.”

Kafa menghela napas panjang sambil menggeleng pasrah. “Siapa lagi sekarang?”

“Rahasia.”

“Dara.”

“Apa?”

“Kalau masih bocil fokus ngaji sama belajar dulu.”

“Tapi dia ganteng...”

“Masya Allah...” Kafa memijat pelipis. “Siapa yang ngajarin beginian?”

Andara langsung menunjuk layar. "Kak Kafa kan yang ngajarin!"

"Ih siapa yang ngajarin kamu, kakak gak ada ya. Jujur sama kakak dek, kamu jatuh cinta sama siapa? Laki-laki itu harus menghadapi kakak dulu sama Azra."

"Kalau aku bilang jatuh cinta sama kak Kafa gimana?"

Deg

Deg

Deg

Kafa membeku.

Untuk sesaat otaknya seperti gagal memproses ucapan Andara barusan.

Sementara gadis kecil di layar itu malah menahan tawa sambil memperhatikan ekspresi panik Kafa.

“K-kamu ngomong apaan sih, Dek?”

Andara langsung ngakak keras. “HAHAHA muka kakak lucu banget!”

Kafa mengembuskan napas kasar sambil memegangi dada. “Ya Allah, Dara... jangan ngomong begitu sembarangan.”

“Kenapa emangnya?”

“Kamu itu adik kakak.”

“Tapi aku kan bukan adik kandung.”

Kafa langsung melotot lagi. “ANDARA!”

“Hehehehe.” Gadis itu makin puas menggoda Kafa yang mulai pusing sendiri.

“Denger ya.” Kafa mulai menatap serius ke arah layar. “Kamu itu masih kecil. Yang kamu rasain sekarang paling cuma kagum.”

Andara memonyongkan bibir. “Tapi aku suka kalau Kak Kafa perhatian sama aku.”

“Karena kakak nganggep kamu adik.”

“Aku juga suka kalau Kak Kafa pulang.”

“Itu namanya nyaman sama keluarga.”

“Aku suka kalau Kak Kafa senyum.”

“Semua orang juga suka lihat orang senyum.”

Andara terdiam sebentar.

Lalu—

“Aku juga suka kalau Kak Kafa cemburu.”

“HAH?!”

Andara langsung terbahak lagi sampai nyaris menjatuhkan ponselnya sendiri. “Kakak panikan banget sih!”

Kafa mengusap wajah frustrasi. “Dara, demi Allah, jangan bikin umur kakak pendek.”

“Makanya jangan serius-serius banget mukanya.”

Kafa akhirnya ikut tertawa kecil walaupun kepalanya masih pening menghadapi bocah satu itu. “Jadi siapa orang yang kamu suka sebenarnya?”

Andara memainkan ujung jilbab rumahnya sambil malu-malu. “Rahasia.”

“Kamu baru sebelas tahun udah banyak rahasia.”

“Biar misterius.”

“Misterius dari mana? Yang ada ngeselin.”

Andara terkikik kecil. “Kak.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari nanti aku udah gede banget...” katanya tiba-tiba. “Terus aku masih suka sama Kak Kafa gimana?”

Kafa langsung menunjuk layar tegas. “Enggak boleh.”

“Kenapa?”

“Karena kakak itu keluarga kamu.”

“Tapi—”

“Enggak ada tapi-tapian.” Kafa memotong cepat. “Dan lagi...”

“Apa?”

Kafa terdiam sepersekian detik. Bayangan seseorang tiba-tiba muncul di kepalanya.

Kerudung pastel. Senyum ceria. Dan mata bulat yang selalu membuatnya tenang.

“Karena hati kakak...” Kafa tersenyum kecil tanpa sadar, “kayaknya udah susah buat pindah ke orang lain.”

Andara langsung menyipitkan mata curiga. “Kak Zaskia ya?”

Kafa spontan salah tingkah. “Bukan urusan anak kecil.”

“YAH KAKAK MALU!”

“Udah sana belajar.”

“Enggak mau.”

“Ngaji.”

“Nanti.”

“Tidur.”

“Masih sore.”

Kafa menyerah. “Ya Allah... siapa sih yang ngajarin kamu debat?”

“Abi.”

“Pantes.”

"Aku seriusan, aku suka sama Kak Kafa."

Kafa menghela napasnya. "Omongan bocah sebelas tahun gak bisa dipercaya."

Ya, Andara dan Kafa usianya terpaut sepuluh tahun.

"Oke, nanti kalau umur aku udah 17 tahun, omongan aku pasti bisa dipercaya."

1
Syti Sarah
Masya Allah bucin bnget sih Aryan 🥰🥰
Ayu Oktaviana
jodohnya kafa msih unyu unyu😁😁😁😂😂😂
syora
dara nih kyak si onty zura 🤣🤣🤣🤣
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wah jodoh nya kafa masih sd
Syti Sarah
kocak juga nih anak nya Azzam 😂😂
Shabrina Darsih
blm Tau aja kia. uda nikah pasti hbs tuh sm aryan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya nggak papa lah wong yang hamilin kan suami sendiri
nan luxiao
suka banget, dari cerita athar cila, abidzar zuya, azzam aira, sama yang ini selalu seruu banget
Syti Sarah
waah,mmang ya umma zuya absurd nya gak ada lawan.msa anak sndiri di bilang hamil 😂😂
anakkeren
best ,❤️
Anak manis
cakep buat authornya 🥰
just a grandma
seruuu
cutegirl
pokoknya aku sllu menunggu cerita dri author ini
cutegirl
ada ada aja😂
Ayu Oktaviana
selamat untuk kia dan aryan😍😍.. kita tinggal tunggu arshaf nih
Fegajon: kurang lebih begitu 😛
total 3 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lengkap sudh kbhgian pasangan ini.slmat ya kia Aryan 🥰🥰
Syti Sarah
ciie yg udh di blas cinta nya sama istri 🥰
Syti Sarah
prsis kyak Abi nya ya aryan ini.tpi klau udh sah,bda bnget sifat nya sama istri nya .jdi syang ,bucin bnget sama istri nya .eeeh,udh mulai brani ya kia😁😁
Syti Sarah: iya btul bnget kak 😊
total 4 replies
Syti Sarah
ciie yg msak untuk pak suami 🤭🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
udah terlambat kali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!