Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎
Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.
Dulu dipuji, kini dihina.
Dulu didekati, kini dijauhi.
Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gua di Balik Air Terjun
Perjalanan menuju gua di balik air terjun ternyata lebih sulit dari yang Xiao Ba bayangkan.
Bukan sulit karena medannya tidak ia kenal. Sebaliknya, ia sudah mendeteksi keberadaan gua itu sejak hari pertama dan cukup memahami gambaran kasar jalur yang harus ia lalui untuk mencapainya.
Yang membuat perjalanan ini jauh lebih rumit adalah aura Penatua Utama Keluarga Yun yang terus bergerak di dalam kawasan tebing, menyisir setiap sudut dengan sistematis dan sabar seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa melakukan pengejaran di medan asing. Seorang Prajurit Surgawi Tingkat 9 memiliki indra spiritual yang jauh melampaui apa yang bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Xiao Ba bergerak dengan pola yang tidak linear. Ia tidak langsung menuju tujuan, melainkan mengambil rute memutar melalui lorong-lorong sempit yang ia tahu mampu meredam jejak auranya secara alami. Formasi mineral tertentu di dinding tebing memiliki sifat menyerap dan membubarkan aura kultivator yang melewatinya, efek yang tidak akan diketahui siapa pun kecuali mereka yang sudah menghabiskan cukup waktu mempelajari kawasan ini dari dalam.
Setengah jam bergerak dengan penuh kehati-hatian, akhirnya ia melihat tujuannya.
Di antara celah tebing enam dan tebing tujuh, pada sebuah ceruk tersembunyi di balik formasi batu yang mencuat ke depan seperti lidah raksasa, sebuah air terjun kecil mengalir turun dari retakan di dinding tebing. Airnya jernih dengan warna kebiruan samar yang tidak dimiliki air biasa, bukti kandungan mineral yang telah terakumulasi selama ratusan tahun.
Di balik tirai air terjun itu tersembunyi mulut sebuah gua yang tidak terlalu besar, hanya cukup untuk dua atau tiga orang berdiri bersamaan.
Xiao Ba melangkah menembus tirai air tersebut. Air dingin langsung membasahi jubahnya, namun ia tidak memedulikannya. Begitu memasuki gua, ia langsung mengerti mengapa indra spiritualnya tertarik pada tempat ini sejak hari pertama.
Gua itu kecil dari sisi ukuran fisik. Dindingnya basah oleh rembesan air dari retakan di atasnya, lantainya tidak rata dan dipenuhi genangan kecil yang memancarkan cahaya biru kehijauan dari Kristal Roh Laut yang tumbuh di bawah permukaan air. Udara di dalamnya terasa berbeda dari luar, lebih padat dan lebih berat, seperti udara yang telah dimurnikan berkali-kali hingga mencapai konsentrasi jauh lebih tinggi.
Namun semua itu bukanlah hal paling luar biasa.
Yang paling luar biasa adalah apa yang ia rasakan begitu seluruh tubuhnya berada di dalam gua tersebut. Energi Qi dari berbagai sumber mengalir masuk ke dalam meridiannya secara spontan tanpa perlu ia tarik, tanpa perlu menjalankan teknik kultivasi apa pun. Energi itu masuk sendiri seperti air yang mengalir ke tempat lebih rendah, seolah tubuhnya adalah wadah kosong yang sedang diisi oleh sumber tanpa akhir.
“Luar biasa...” gumamnya pelan.
Ia duduk bersila di tengah gua, menutup mata, lalu mulai menjalankan Metode Percepatan Kultivasi yang baru saja ia peroleh dari lautan kesadarannya.
Metode itu bekerja sangat berbeda dari Teknik Kultivasi Kaisar Langit biasa. Jika teknik utama Kaisar Langit berfokus pada menarik dan memurnikan energi dari luar, maka metode percepatan ini membuka seluruh pori-pori meridian secara bersamaan, menciptakan kondisi di mana tubuh kultivator mampu menyerap energi lingkungan dengan efisiensi maksimal seperti spons kering yang dicelupkan langsung ke dalam air.
Dalam kondisi normal, membuka seluruh pori meridian sekaligus adalah tindakan bunuh diri karena energi yang masuk terlalu banyak dalam waktu singkat bisa meledakkan meridian dari dalam. Namun fondasi yang dibangun oleh Akar Spiritual Kaisar dan Pagoda Emas Sembilan Tingkat membuat meridian milik Xiao Ba jauh melampaui kultivator biasa.
Ia membuka seluruh pori-pori meridiannya.
Dan energi di dalam gua itu langsung menyerbu masuk seperti air bendungan yang baru saja dijebol.
Berbagai warna mengalir bersamaan dalam jumlah besar hingga udara di sekitar tubuh Xiao Ba tampak berpendar samar. Biru kehijauan dari air dan kristal. Putih keperakan dari mineral logam di dinding gua. Keemasan dari lapisan batu kuno yang hanya ada di kawasan tebing terdalam.
Dan satu warna lain.
Ungu gelap.
Warna yang bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya.
Energi itu mengalir dari retakan terdalam di langit-langit gua, membawa kedalaman yang melampaui seluruh pemahamannya tentang Qi.
Namun Xiao Ba tidak ragu.
Ia membiarkan semuanya masuk.
BOOM!
Ledakan pertama bergema di dalam tubuhnya.
BOOM!
Ledakan kedua menyusul.
BOOM! BOOM!
Dua ledakan lagi terjadi hampir bersamaan.
Pagoda Emas di dalam dantiannya bersinar semakin terang setiap kali satu lapisan kekuatan ditembus. Energi yang masuk diserap, dimurnikan, lalu diubah menjadi sesuatu yang jauh lebih padat dibanding Qi biasa sebelum disimpan di setiap tingkat pagoda seperti air di dalam tempayan bertingkat.
Di luar gua, tirai air terjun yang biasanya mengalir tenang mulai bergetar tanpa sebab yang jelas. Ikan-ikan kecil di genangan bawah air terjun tiba-tiba berenang menjauh seolah naluri mereka merasakan sesuatu yang berbahaya.
Di kawasan lain, beberapa binatang buas yang sedang beristirahat di sela-sela tebing mendadak bangkit dan menatap ke arah sumber gangguan dengan kegelisahan yang tidak mereka pahami.
Sementara itu, di kawasan antara tebing dua dan tebing tiga, Penatua Utama Keluarga Yun berhenti bergerak. Matanya menyipit. Ia merasakan sesuatu, Bukan aura kultivator biasa, Bukan pula ledakan energi dari teknik pertarungan.
“Ini sangatlah berbeda.” Gumam penatua dalam hatinya
Sebuah getaran yang terasa seperti datang dari dalam bumi itu sendiri, berulang dengan interval teratur.
“Di mana?” gumamnya pelan.
Dua orang di belakangnya saling pandang tanpa jawaban.
Penatua Utama Keluarga Yun memejamkan mata, lalu melepaskan indra spiritual Prajurit Surgawi Tingkat 9 miliknya secara penuh. Indra itu menyapu seluruh kawasan tebing dalam satu gelombang besar yang seharusnya mampu mendeteksi setiap keberadaan hidup di area hampir seluas kawasan ini.
Ia mendeteksi para junior dari berbagai keluarga. Ia mendeteksi binatang buas yang bergerak gelisah. Ia mendeteksi dua pengikutnya sendiri.
Namun dari sumber getaran yang tadi ia rasakan, tidak ada apa pun.
Kekosongan sempurna dari seluruh pandangannya baik didepan dibelakang, maupun disekitarnnya
Dahi Penatua Utama berkerut.
“Ini tidak masuk akal.”
Tidak ada kultivator yang mampu menyembunyikan aura sepenuhnya dari indra seorang Prajurit Surgawi Tingkat 9. Bahkan teknik penyembunyian terbaik sekalipun seharusnya masih meninggalkan jejak samar.
Namun kali ini, yang ia rasakan hanyalah kehampaan mutlak di lokasi yang seharusnya memancarkan energi besar.
Ia membuka mata perlahan.
“Anak itu bukan manusia biasa...” katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Di dalam gua, Xiao Ba membuka matanya.
Arus energi yang tadi mengalir deras kini mulai melambat menjadi aliran yang lebih stabil dan teratur, pertanda proses penyerapan besar-besaran telah selesai dan tubuhnya memasuki tahap stabilisasi.
Ia memeriksa kondisi dalam tubuhnya.
Alam Pengumpulan Qi Tingkat 9 Puncak.
Dari Tingkat 8 Menengah, ia langsung melompat ke Tingkat 9 Puncak hanya dalam satu sesi kultivasi.
Bukan hanya itu.
Kekuatan jiwanya yang sebelumnya berada di Tingkat 9 Awal kini terasa hampir mencapai puncak.
Dan kekuatan fisiknya yang selama ini tertahan di batas antara Tubuh Fana Puncak dan Tubuh Raja, akhirnya mulai bergerak maju. Belum sepenuhnya menembus, namun retakan kecil sudah mulai muncul pada batas yang memisahkan kedua tingkatan itu seperti cangkang telur yang mulai pecah dari dalam.
Xiao Ba menarik napas panjang.
“Hampir...” gumamnya. “Tinggal sedikit lagi.”
Ia tahu apa arti kata hampir itu.
Hampir memasuki alam Prajurit Surgawi.
Batas antara Pengumpulan Qi dan Prajurit Surgawi bukan sekadar jumlah Qi yang tersimpan. Ini adalah perubahan mendasar dalam cara seorang kultivator berinteraksi dengan energi dunia.
Di alam Prajurit Surgawi, seorang kultivator tidak lagi hanya menyimpan Qi di dalam tubuh, melainkan sudah mampu memanifestasikannya keluar dengan cara yang jauh lebih kuat dan lebih kompleks.
Perbedaannya seperti seseorang yang hanya mampu menyimpan air di ember dan seseorang yang mampu membuat hujan turun dari langit.
Dan kini, Xiao Ba sudah bisa merasakan batas itu dengan jelas, cukup jelas untuk mengetahui bahwa ia tidak membutuhkan waktu lama lagi.
Namun ia tidak memaksakannya sekarang.
Bukan karena tidak mampu, melainkan karena ia memahami bahwa menembus batas alam terbesar tidak boleh dilakukan dalam keadaan tergesa-gesa, tidak boleh saat ancaman aktif masih memburunya di luar, dan tidak boleh tanpa persiapan sempurna.
Ia bangkit dari posisi duduknya, merapikan jubah yang masih basah oleh air terjun tadi, lalu menatap ke arah tirai air di mulut gua.
Di luar sana, Penatua Utama Keluarga Yun masih berada di kawasan tebing ini.
Ancaman itu nyata. Namun ekspresi Xiao Ba tetap tenang, tanpa sedikit pun ketakutan atau kecemasan. Yang terlihat hanyalah ketenangan seseorang yang sudah mengetahui dengan jelas langkah apa yang akan ia ambil berikutnya.
“Masih ada waktu, Masih ada banyak hal yang harus ia selesaikan di kawasan tebing ini sebelum semuanya benar-benar berakhir.” Pikirnya
Dan ketika waktunya tiba, batas yang hampir ia capai itu akan ia tembus bukan dengan tergesa-gesa, melainkan dengan cara yang sesuai dengan siapa dirinya sebenarnya.
Ia melangkah keluar melewati tirai air terjun, kembali ke dunia luar yang masih dipenuhi berbagai urusan yang belum selesai. Bajunya masih tetaplah basah, ia menatap keluar dan memerhatikan lingkungan denngan seksama.
“Oke Aman” nadanya pelan,
Kakinya mulai bergerak sesuai tujuan yang ia inginkan, melompati tebing, pohon yang menjulang tinggi untuk mencari rasa aman pada tubuhnya.
“Deghhh.. Deghhhh.. Deghhhh.. “ suara kaki menapak dengan lincah.
Di atas kawasan tebing tujuh yang tertinggi, angin laut berhembus kencang membawa aroma garam dan sesuatu yang terasa seperti perubahan besar yang sedang mendekat, perlahan namun pasti, dan tidak akan bisa dihentikan oleh siapa pun yang berdiri di jalannya.
pertahankan👌