Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26 Perasaan Rora
Siang ini Aurora berangkat ke kantor sebenarnya ia mau cuti saja tapi saat di rumah sendiri ia justru kepikiran Maxime terus. ia ingat jengkal demi jengkal adegan semalam membuatnya panas dingin dan gelisah. akhirnya Rora memutuskan untuk pergi ke kantor saja agar ia bisa fokus bekerja dan melupakan Maxime.
Saat tiba di ruang kerjanya Rora melihat buket bunga mawar merah di atas meja. ia tersenyum senang karena ia pikir Max telah mengirim buket itu untuknya. Rora meraih bunga itu dan mencium wanginya.
"Kau suka rupanya bunga itu?" sebuah suara mengejutkan Rora. seseorang memasuki ruang kerjanya tanpa permisi.
"Andre?"
Aurora mengamati kartu ucapan di buket itu ternyata bukan nama Max yang tertera melainkan nama Andre.
"Kau masih menyukai mawar merah seperti dulu bukan? dulu kau sangat suka jika aku memberimu buka itu Rora apa kau ingat?" tanya Andre sembari memandang Rora.
Rora tersenyum manis mendengar ucapan Andre. ia mengangguk perlahan membuat Andre senang. Andre berpikir Rora masih mencintainya seperti dulu. tapi dalam hitungan detik perasaan Andre hancur karena Rora membuang bunga itu ke tempat sampah.
Andre terkejut sekaligus terpaku melihat bunga pemberiannya di campakan oleh Rora ke dalam tempat sampah.
"Kau lihat cinta itu sudah habis sejak kau pergi tanpa kabar di hari pernikahan kita. sekarang jangan temui aku lagi dan pergi dari sini!" kata Rora dengan suara setenang mungkin.
"Rora apa tidak bisa kau memberiku kesempatan lagi? aku sudah katakan padamu jika aku do jebak oleh Maxime! kau tahu bagaimana ia berkuasa di dunia bisnis dan mudah saja melakukan hal buruk itu padaku"
Aurora tersenyum sinis ia menatap Andre tajam.
"Aku mengenal siapa suamiku ia tidak akan berbuat hal menyedihkan seperti mu! Max bukan pengecut seperti mu Andre jadi berhenti menuduhnya menjebak mu!"
"Rora kenapa kau membelanya? karena dia selalu menjadi pahlawan kesiangan untuk mu?!" Andre terlihat jengah dan marah karena tidak berhasil mempengaruhi Rora.
"Karena aku mencintainya" kata Rora.
Saat Rora mengatakan itu ia juga membayangkan wajah Maxime. mungkin Andre bisa melihat ketulusan di mata Rora saat Rora mengatakan jika dirinya mencintai Maxime.
"Itu tidak mungkin Rora, kau hanya mencintaiku dan Maxime hanya pengganggu di hubungan kita"
"Dasar tidak tahu malu! cepat pergi dari sini!" teriak Rora kesal.
"Baiklah aku akan pergi tapi ingat datu hal jika aku pasti membuat mu kembali padaku" Andre berbalik berjalan pergi meninggalkan ruangan kerja Rora.
Aurora duduk ia menatap bunga yang ia buang ke tempat sampah tanpa rasa penyesalan sedikitpun. ia sendiri juga heran dengan mudah ya ia bisa menghadapi Andre. cintanya untuk Andre sudah benar-benar luntur.
***
"Kenapa kau mengadu pada kakakmu? kau pengecut?"
Seorang siswa terlihat mencekal lengan Catherine. siswa itu memiliki wajah campuran ras lokal dan luar. ia berbadan tinggi seperti Maxime, berambut sedikit pirang dan wajahnya juga tampan. ia adalah Abian teman satu angkatan Catherine hanya beda kelas. mereka sejak dulu tidak akur.
"Aku tidak mengadu kak Max melihat aku membonceng motor mu, karena itu ia menyuruh mas Wisnu menjemput ku"
"Alasan!" bentak Abian sembari menunduk hampir mendekatkan wajahnya ke wajah Catherine.
"Yasudah kalau tidak percaya!"
Catherine mendorong kasar dada Abian hingga Bian mundur ke belakang.
"Permainan kita hanya satu minggu jadi jangan mengaturku seperti kau sungguhan pacar ku! ingat itu!" ancam Catherine.
Catherine tidak sengaja hampir mencelakai Abian dengan menyewa tukang pukul yang menghajar Abian hingga babak belur. karena Abian sering sekali usil dan mengerjai Catherine jadi Cathe terpaksa menyewa para tukang pukul profesional untuk menghajar Abian sepulang sekolah. karena babak belur hingga masuk rumah sakit Abian berencana melapor pada polisi. Cathe yang takut akhirnya meminta maaf pada Abian dan Abian mengajukan satu syarat agar kasus ini tidak di proses secara hukum dan ia akan memaafkan Catherine. syaratnya adalah Cathe harus mau menjadi pacar Abian selama satu minggu.