Cewek sejelek Audry bisa Nikah sama Revan, seorang lelaki No satu yang paling banyak di minati oleh banyak perempuan. Kok bisa, Ya bisalah orang mereka di jodohkan. Revan sempat menyumpah nyerapahi Audry, karena dia harus menikah dengan Gadis jelek seperti Audry yang sama sekali bukan tipenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rova Afriza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Di lain sisi.
Brukk
Audry langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur, setelah baru tiba dari sekolahnya tersebut, bahkan baju seragam sekolahnya pun, masih belum ia ganti sama sekali. Wajahnya tampak kucel dengan bibir yang terus cemberut karena kesal dengan ulah Revan yang begitu membuatnya jengkel saat di sekolah tadi.
"Dasar Revan gila, Revan saraf! tu cowok mau nya apa sih!" Rutuk Audry sembari mengacak-ngacak rambutnya karena frustasi.
Niat hati, kembali masuk ke sekolah, untuk mencari informasi tentang kelemahan pria itu dari Firda, setelah adanya video itu, demi mempermalukannya di hadapan keluarganya nanti.
Namun malang nian nasibnya, justru dia yang merasa tertindas oleh pria itu, bahkan pria itu juga tak segan-segan berpesan kepada ibu kantin, agar semua tagihan kedua sahabatnya yang menggunung karena kerakusannya dalam hal makanan itu, agar semua tagihannya di mintai kepada Audry. Hal itu bisa Audry ketahui, setelah adanya salah seorang teman sekelasnya yang memberitahukan bahwa ia di panggil oleh ibu kantin setelah pulang sekolah tadi. Mau tak mau dia pun terpaksa harus merogoh kocek yang lumayan dalam, karena kepintaran lidah pria itu yang bisa meyakinkan ibu kantin dengan begitu mudahnya, dengan kata-kata pintarnya, hingga bisa memberikan tanggung jawabnya tersebut kepada orang lain.
"Dasar cowok sinting!" Umpat Audry lagi.
Sembari melemparkan guling yang ada di tangannya itu untuk melampiaskan kejengkelannya.
"Audry!" Bentak Lena. Karena terkejut dengan ulah putrinya yang berani melemparkan guling ke arahnya, sehingga langsung tepat mengenai tubuhnya itu.
"Ma....mamaaa!" Ucap Audry terbata. Sembari langsung terbangun dari tidurnya, karena terkejut dengan kehadiran mamanya di kamarnya itu.
"Ah habislah sudah kau Audry!
bagaimana bisa kau sampai tak menyadari kehadiran mamamu sendiri," Batinnya.
"Dari mana kau belajar sifat tak sopan seperti itu kepada orang tua ehh!" Lena sangat geram dengan ulah putrinya tersebut.
Karena, walaupun dari luar dia tampak begitu lemah, lembut dan menyanyangi anaknya, didikannya juga lumayan keras, agar putrinya itu bisa menjadi orang yang berguna dan terlihat bagus, baik di matanya maupun mata orang lain.
"Maaa... maafin Audry ma, Audry gak ada maksud sedikitpun, buat kurang ajar kayak gitu sama mama, Audry benar-benar gak tahu kalau mama ada masuk ke kamarnya Audry," Ucap Audry menjelaskan secepat mungkin.
Wajahnya sudah tertunduk dalam, karena menyesal sudah terlalu asyik dengan pikirannya tersebut, sehingga sampai tak menyadari kehadiran mamanya itu.
"Lain kali, biar sejengkel apapun kamu karena sebuah masalah, jangan pernah melempar-lemparkan barang seperti itu lagi!" Ucap Lena memperingatkan. Setelah menyadari apa yang tengah terjadi dengan putrinya itu. Saat melihat raut wajahnya yang tampak frustasi tersebut.
"I..iya ma," Sahut Audry pelan.
"Sekarang bersiap-siaplah! untuk berangkat melakukan fitting baju pengantinnya hari ini!" Ucap Lena memberi perintah. Lalu langsung keluar dari kamar putrinya tersebut.
Plakk...
Audry pun langsung menepuk jidatnya saat mendengar perkataan mamanya tersebut, bagaimana bisa, dengan begitu mudahnya dia sampai melupakan kejadian penting itu karena terlalu bersemangat untuk pergi ke sekolah pagi tadi.
"Gilaaa!!!! lo udah lemparin diri lo
sendiri ke lubangnya buaya, Audry,,
Audry, kenapa lo itu begitu bodoh sih!" Umpat Audry dalam hatinya.
Namun apa mau di kata, nasi sudah menjadi bubur. Mau tak mau dia harus tetap berangkat hari ini jika tak ingin mendapat amarah dari mamanya lagi.
"Aishhh kalau aja gue inget tu masalah penting tadi pagi, gak bakalan mau gue pake pura-pura udahan sakitnya, mana pas pergi ke sekolah malah dapet apes lagi," Rutuknya dalam hati.
*******
Sementara itu.
Triring.....
Suara ponsel Revan berbunyi. Dengan cepat Revan pun langsung merogohkan tangannya ke arah saku celananya untuk menerima panggilan tersebut.
"Ya ma?" Ujar Revan. Setelah sudah menerima panggilan tersebut.
"Sayang, sekarang kamu udah berangkat ke rumahnya Audry kan?" Tanya Mirna memastikan.
"Ke rumah Audry, ngapain ma?" Tanya Revan bingung.
"Lo, masa kamu lupa sama fitting baju pengantinnya," Ujar Mirna.
Mata Revan sempat curi-curi pandang ke arah ke dua temannya yang tengah asyik bermain game dengan layar komputer yang ada di depannya tersebut, takutnya mereka sempat mendengar perkataan mamanya barusan. Namun, untungnya keduanya masih tampak sibuk dengan kegiatan mereka.
"Akh, ya, Revan memang kelupaan, sekarang Revan akan bersiap-siap sekarang juga," Ujar Revan memberitahu.
Setelah teringat, ucapan mamanya tempo hari, kalau sampai Audry sudah sembuh dari sakitnya, mereka akan langsung melakukan fitting secepatnya.
"Baiklah, mama menunggumu," Ucap Mirna sebelum mengakhiri panggilannya.
"Emang semua cewek itu gak bisa menolak dengan ketampanan seorang Revan," Batinnya sembari tersenyum menyerigai.
Karena beranggapan kalau Audry memang benar-benar sakit kemarin. Bukan sengaja untuk menghindarinya, buktinya pagi-pagi sekali hari ini, gadis itu sudah tiba di sekolah. Sebagai pertanda untuk memberitahunya kalau dirinya sudah sembuh dari sakitnya.
"Lo, mau kemana Van?" Tanya Andra saat melihat temannya itu yang sudah berdiri dari duduknya dan bersiap-siap untuk meninggalkan kursinya tersebut.
"Sorry ya bro, hari ini kita gak bisa main seharian, karena gue udah di suruh pulang sekarang, ada urusan mendadak," Ucap Revan memberitahu.
"Yah, mau gimana lagi, tapi lain kali lo harus tebus secepatnya, ok!" Ucap Andra.
"Ok," Balas Revan. Lalu meninggalkan ruangan itu.
"Kemana tu anak?" Tanya Iqbal. Yang baru terhenti dari fokusnya bermain game tersebut.
"Pulang, ada urusan mendadak katanya," Sahut Andra.
"Akhir-akhir ini teman kita yang satu itu jadi sering sibuk sendiri, ya enggak sih?" Ucap Iqbal.
"Iya," Ucap Andra membetulkan.
Keduanya tampak berpikir sejenak, mengingat perubahan sifat seorang Revan yang berbanding terbalik akhir-akhir ini. Biasanya dia adalah teman yang paling santai dan tak pernah di sibukkan oleh urusan keluarganya, di antara mereka selama ini.