Alana Pattinson harus menelan pil pahit, setelah lulus strata dua, perusahaan yang didirikan ayahnya mendadak bangkrut, terlilit hutang.
Mencari pekerjaan di luar tidaklah mudah, apalagi dengan gaji tinggi untuk membiayai rumah sakit ayah serta hidup kedua adiknya.
Alana terpaksa menerima tawaran menikah dari pria tua kaya raya, yang menjamin perusahaan ayahnya bangkit kembali, tentu dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Namun tidak seindah yang dibayangkan, karena sosok lain datang dan mengganggu kehidupan Alana. Bahkan berani melawan untuk mengambil kedudukan Alana.
Lewis Jansen tidak terima pada kenyataan, bahwa ayahnya menyerahkan posisi pimpinan utama perusahaan kepada ibu tirinya yang masih sangat muda. Segala upaya dia lakukan demi merebut semua haknya.
Ikuti terus kisahnya hanya di Noveltoon
Trap My Stepmother
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Rindu Yang Menggebu
Semakin bertambahnya hari, kondisi kesehatan James menurun, pria sepuh itu bergantung sepenuhnya pada obat-obatan. Alana tak pernah absen memerhatikan suaminya. Termasuk hari ini menemani suaminya check up. Setia mendampingi bahkan sesekali memijat pundak James.
“Terima kasih Alana. Kau jangan terlalu lelah, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kandunganmu.” Tukas James. Biarlah dia menerima bahwa Alana, istri mudanya mengandung anak dari Lewis.
Semua masalah sudah ditemukan solusinya. Anak itu diakui dalam keluarga Jansen hanya saja tidak akan memperoleh hak yang sama seperti anak Lewis nantinya.
Alana tersenyum samar, dirinya masih teguh, tidak merasa hamil sama sekali. “Tuan jangan khawatir, aku bisa jaga kesehatan. Anda jauh lebih penting.” Lanjut Alana begitu pelan, dia menyayangi James sama seperti Tuan Pattinson.
“Kau anak baik Alana. Maafkan aku yang telah memanfaatkanmu. Seharusnya aku bisa menyelesaikan semua masalah ini sendiri tanpa membawa orang lain. Apalagi memisahkan kalian, jika benar kau dan Lewis saling mencintai, aku adalah Ayah paling buruk di muka bumi ini.” Batin James menggenggam tangan Alana.
Saat cinta yang tak terduga menyentuh hati setiap insan, maka sulit menahan kuasanya. Alana dan Lewis terkurung dalam lingkaran yang tidak mendukung, memberi ikatan menyakitkan bagi masing-masing. Hingga memberi air mata di setiap perjalanannya.
Alana dan James Jansen tidak sadar bahwa gerak gerik mereka diamati oleh pria di sudut ruangan. Memakai kacamata serta masker, jangan lupa topi yang menyempurnakan penyamarannya. Orang ini hanya bisa mengepalkan kedua tangan, menahan amarah yang berkobar dalam dada.
“Ini kah namanya cemburu?” sindir Lewis Jansen, menertawakan dirinya sendiri. Seandainya Alana bukan ibu sambungnya, dan James bukan Ayahnya, sudah dipastikan pria dewasa ini akan melakukan hal yang seharusnya.
Tapi Lewis bisa apa selain berdiam diri? Karena James jauh membutuhkan istrinya. Tindakan apapun tidak akan menang, karena Alana bukan miliknya.
“Aku merindukanmu Alana.” Lirih Lewis, kedua mata birunya tak henti menatap sepasang suami istri yang sangat mesra.
.
.
Usai pemeriksaan, penyakit James semakin bertambah parah dan harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Tetapi dia menolak dengan alasan, mengamankan lebih dulu posisi putranya, barulah bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang.
“Tuan … Tuan. Apa perlu memberitahu Tuan Muda Lewis? Bagaimanapun beliau adalah putra Anda, aku yakin Tuan Lewis kecewa mengetahui kenyataan ini, siapa tahu hubungan Anda dan Tuan Muda bisa membaik.” Tukas Alana, sangat kasihan terhadap kehidupan suami tuanya.
Publik hanya tahu bahwa Jansen adalah keluarga hebat yang memiliki segalanya, ya kuat di luar namun rapuh di dalamnya.
“Terima kasih Alana. Jagalah cucuku, kau harus membesarkannya. Ingat perjanjian kita, siapapun hanya boleh tahu bahwa akulah Ayahnya, mengerti?” tegas James di sela napas berat.
“B-baik Tuan. Aku permisi ke toilet.” Alana tak kuasa menahan tangisnya, masalah yang menimpa hidup terlalu berat.
“Aku titip suamiku, sebaiknya kalian pulang duluan. Tuan James memerlukan ranjang dan suasana yang tenang, biar aku saja yang mengambil obatnya.” Tutur Alana, berjongkok di depan suaminya.
Dia pun berdiri dan melenggang pergi ke lorong sepi.
Alana menghela napas cukup panjang. “Lewis, aku membutuhkanmu.” Lirih Alana begitu dalam, entahlah dia berharap putra sambungnya itu ada di gedung ini.
Keluar dari toilet, Alana dikejutkan dengan dua tangan kekar, melingkar di pinggulnya dan satunya membekap mulut Alana.
“Akh” pekik wanita cantik ini segera melakukan perlawanan, hendak melepaskan pukulan kepada pria yang lancang menyentuhnya.
“Ikutlah denganku, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan.” Ucapnya tepat di telinga Alana, membuat sang empu berdesir.
“Lewis?” panggil Alana tidak menyangka suara yang dia rindukan kini kembali.
.
.
Lewis membawa Alana ke sebuah hotel, untuk saat ini arena tertutup paling aman dijadikan tempat pertemuan. Menghindari mata-mata James, Debby dan para wartawan.
“Lewis, kamu baik-baik saja? Kenapa tidak pernah meneleponku, aku … aku merindukanmu Lewis.” Ucap Alana, suaranya bergetar tak karuan.
Sosok tampan dan gagah ini pun tidak bisa mengendalikan perasaannya. Lewis memeluk Alana, begitu erat. Menghirup aroma tubuh yang menyiksa nalurinya sebagai pria normal.
“Aku juga Alana. Kau selalu mengganggu pikiranku.” Balas Lewis, melepaskan pelukan dan mencium pipi Alana.
“Sebentar saja Alana.” Sambung Lewis, menyampaikan kerinduan yang tertahan. Menyesap bibir Alana penuh kelembutan dan kasih sayang, lama kelamaan berubah penuh g41r@h.
Sontak Alana yang tidak nyaman mendorong dada pria ini, menggelengkan kepala pelan. “Kamu belum jawab pertanyaanku, Lew. Kenapa tidak pernah menelepon?”.
Lewis tersenyum, memutar tubuhnya, menatap ke luar jendela. Menghirup oksigen sangat dalam.
“Kau tahu Alana, aku sangat ingin melupakanmu, tapi setiap detik aku lakukan semakin menyiksa, bayanganmu tidak pernah hilang.” Ujar Lewis, beralih duduk di tepi ranjang, membawa wanita yang dicintainya duduk di atas paha.
“Aku cemburu Alana, aku sangat marah melihatmu, mengetahui kamu dekat dengan Daddy. Alana? Apa benar kamu hamil? Dia adikku, iya kan?” Lewis menyentuh perut rata ibu sambungnya. Kemudian tertawa sejenak.
“Aku tidak hamil Lewis.” Tegas Alana. “Lew, seandainya kamu tahu. Tidak pernah sekalipun aku tidur dengan Tuan James. Hubungan kami terikat kontrak. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, nasib ribuan karyawan Patt Group di tanganku.” Alana menjerit dalam hati.
“Lalu anak siapa itu? Tidak mungkin aku kan Alana? Kita tidak pernah melakukannya. Aku sakit sekali mengetahui kalau kamu hamil. Anak ini akan menjadi penghalang besar diantara kita, aku tidak menyangka tua bangka itu masih bisa menghamili mu.” Sambung Lewis sangat marah, mendorong tubuh Alana.
“Tapi Lew, aku benar-benar tidak hamil. Hasil pemeriksaan itu palsu. Mungkin kamu bisa bantu. Aku jamin 100% tidak ada janin di dalam sini.” Alana menunjuk perutnya.
Tiba-tiba teringat kepada seorang perawat yang tiba-tiba datang, menyusulnya ke toilet. Dari sanalah keanehan yang Alana rasa.
“Benarkah? Dan apa Daddy tidak mengakui anak itu?” tanya Lewis semakin intens. Menyipitkan matanya memindai seluruh penampilan Alana.
Sedikitnya Lewis tahu bahwa ibu hamil sering mual dan pucat, tapi Alana sangat segar. Jauh dari kata ringkih.
“Aku …. Sebenarnya ... Ayahmu, menganggap ini sebagai anak kita.” Jawab Alana pelan, sangat takut pada tanggapan yang akan diberikan Lewis.
“Dia juga mengatakan kalau, sudah vasektomi setelah mendiang Nyonya Jansen melahirkanmu Lew.” Imbuh Alana tubuhnya menegang.
Sesungguhnya dalam hati, kalau pun iya hamil, Lewis ingin sekali janin yang hidup dalam rahim Alana memang miliknya. Tapi tidak mungkin, karena dia selalu menahan diri ketika berdekatan dengan Alana.
“Aku bantu kamu mengungkap kebenarannya, sekarang aku antar pulang, dan besok pagi, kita bertemu di rumah ketika sarapan. Jangan katakan apapun kepada James.” Membelai rambut Alana, mengerti akan kegelisahan wanita yang dicintai.
Mendengar penuturan Alana, ada kemungkinan 50% ini semua ulah Debby Jansen yang sengaja membuat rumah tangga Ayahnya hancur berantakan.
TBC
***
Boleh ya kasih jempol, komentar,hati, bunga atau iklan mungkin juga vote untuk author satu ini boar gercep up-nya🤗🙏
besok ya 🙏
semangat kak nulisnya 💪🏻🥰