NovelToon NovelToon
Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Razif Tanjung

Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!

Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.

Namur, takdir berkata lain.

saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.

" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "

Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Musuh Baru

Gedung pusat Darmawan Group kehilangan keangkuhannya sore itu. Kemegahan menara gading itu luntur, berganti sunyi yang mencekam serupa suasana pemakaman bagi kehormatan keluarga Darmawan.

Di ambang Grand Ballroom, tempat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) digelar, dua baris prajurit pilihan kiriman ayah Rani berdiri tegap. Seragam safari hitam dan earpiece yang mereka kenakan memberi pesan jelas: hari ini, kekuasaan telah berpindah tangan.

Bara melangkah masuk, mengukir anomali dalam sejarah bursa saham yang kaku.

Ia dibalut atasan baju partai yang sudah luntur warnanya, bawahan dengan celana yang tampak kedodoran dan sepasang sandal Swallow ungu hasil "pinjaman" di masjid kemarin masih setia melindungi kakinya.

Sambil mengulum tusuk gigi, ia menenteng es teh manis bungkusan yang sesekali ia sedot hingga plastik itu mengempis.

Plok... plok... plok...

Bunyi sandalnya menggema, mengoyak keheningan ruangan mewah tersebut.

Ratusan pasang mata menatapnya dengan campuran rasa jijik dan ngeri( takut Bara gigit). Tanpa beban, Bara menarik kursi pimpinan di tengah meja oval raksasa.

"Sore, Bapak-bapak yang wangi," sapa Bara ringan.

"Maaf terlambat. Ada kucing berkelahi di jalan tadi, saya pisahkan dulu. Kasihan, yang satu jomblo, nyalinya besar tapi nasibnya malang dalam percintaan."

Di sudut ruangan, Darmawan tampak layu, wajahnya menua satu dekade dalam semalam.

Rico di sampingnya hanya mampu menunduk, menahan amarah yang tertahan di ujung leher, ingin rasanya dia berteriak menjungkirbalikkan Bara.

Alisa masuk membawa koper perak, diikuti Viona, Clara dan Rani yang tampil memukau dalam setelan jas putih. Kehadiran mereka membawa hawa otoritas yang mutlak.

"Ok maaf semuanya, lansung saja mari kita bicara angka," ucap Alisa dingin sembari meletakkan dokumen akuisisi. "Data Kustodian Sentral Efek mencatat, Nusantara Glow dan Golden Spoon Group kini menguasai enam puluh persen saham Darmawan Group. Dengan suara mayoritas ini, kami menuntut perombakan total jajaran direksi."

Darmawan mengangkat wajahnya yang pucat. Sebuah seringai getir muncul. "Huh...Kalian boleh menang di atas kertas, tapi kalian tak tahu apa yang kalian beli. Perusahaan ini memikul hutang yang tak bisa dilunasi hanya dengan uang."

Bara menyedot es tehnya hingga berisik. "Hutang apa, Om? Hutang rasa bersalah karena telah menghancurkan hidup orang tua saya?"

"Tentu saja bukan. Saya sangat senang melihat orang tua mu hancur hahahahha" gelak tawa Darmawan menggema di udara. "Tapi Hutang yang saya maksud adalah sesuatu yang berbeda"

" Kesuksesan yang aku bangun tanpa rasa takut akan pemerintah ini bukan datang dari langit, melainkan pemberian oleh sebuah organisasi yang tidak dapat kamu sentuh, saya rela mengkhianati ayah mu cuman ingin untuk menjilat mereka . Orang tua mu hancur karena dia menjadi ancaman bagi mereka, dan sekarang kemungkinan adalah giliran kamu karena telah menghalangi sedikit jalan mereka."

Bara naik pitam dia hentak berdiri dan menghajar Darmawan tapi niatnya terhenti oleh suara pintu ballroom yang terbuka lebar tanpa peringatan.

Seorang pria berwajah orang asing bersetelan abu-abu metalik melangkah masuk dengan ketenangan yang mengancam. Rambut putihnya rapi, matanya biru pucat sebeku es, dan kehadirannya membawa aroma tajam campuran formalin dan ozon.

Bara segera siaga. bulu-bulu kuduknya meremang menghadapi aura predator di depannya.

"Siapa kakek ini? Salah ruangan? Lomba catur lansia ada di lantai bawah, Kek," celetuk Bara, menutupi kewaspadaannya dengan humor satir.

Pria itu tak bereaksi. Ia meletakkan lencana perak bergambar ular yang melilit cawan api hitam di atas meja.

"Nama saya Maximilian Von Heist," suaranya kaku namun berwibawa. "Saya mewakili The Alchemist Syndicate (TAS). Darmawan sampah ini adalah mitra junior kami. Berdasarkan kontrak rahasia, empat puluh persen aset perusahaan ini adalah milik kami sebagai jaminan teknologi dan keberpihakan kami terhadapnya."

Viona mengerutkan kening. "Kontrak rahasia itu ilegal di mata hukum korporasi kami!"

"Huh..Hukum kalian tidak bisa menyentuh kami bahkan seujung kuku pun," balas Maximilian dingin. Tatapannya kini terkunci pada Bara.

"Karena Darmawan gagal dalam tugasnya maka perusahaan ini akan kami ambil alih... dan saya juga ditugaskan untuk membawa pemuda yang mampu mengalahkan Darmawan. Ikutlah ke luar negri bersama saya, Tuan Bara, atau gedung ini akan menjadi kuburan massal bagi kalian."

Bara terdiam sesaat mencerna semua perkataan yang terlontar hampir secara bersamaan tersebut, setelah dirasa cukup mencernanya dengan baik lalu tawanya pecah, memenuhi seisi ballroom.

"Ikut ke luar negeri? Aduh, Kakek Max, perut saya ini perut lokal. Beda zona waktu saja saya sudah diare. Di sana mana ada mendoan? Mana ada sambal terasi ,mana ada bakso mamang Ujang yang enaknya kelewatan itu."

Bara mengangkat kaki, memamerkan sandal Swallow-nya di atas meja mahoni yang mengkilap.

"Sandal saya ini tidak dirancang untuk salju. Kalau jempol saya beku lalu patah, memangnya Kakek mau ganti pakai jempol Kakek?"

Wajah Maximilian menggelap. "Kau berani menolak The Syndicate?"

"Maaf kakek max, tapi tidak ada alasan aku untuk menerimanya" sahut Bara santai walaupun dia sudah sangat waspada.

"Hahahahaha.....kau cukup berani, maka rasakanlah kemarahan ku."

Detik berikutnya, Maximilian memecahkan botol kecil ke lantai. Kabut hitam berbau belerang menyebar dengan kecepatan kilat.

"Tutup hidung!" teriak Bara.

Itu adalah neurotoksin tingkat tinggi. Para pemegang saham mulai bertumbangan, kehilangan kontrol saraf mereka. Alisa dan Viona segera memakai sapu tangan yang telah di oleskan cairan alkimia pemberian Bara, meski rasa pusing tetap menyerang.

Namun, pasukan ayah Rani masih bisa tetap berdiri tegak, walaupun agak sedikit oleng, Serum Spartan yang mereka konsumsi menciptakan benteng di dalam darah mereka.

Kapten Aris bergerak cepat, menghancurkan jendela ballroom dengan tembakan untuk membiarkan oksigen menyapu racun tersebut keluar.

Maximilian terkesiap melihat manusia-manusia yang masih sanggup berdiri. "Ternyata kau sesuai dengan apa yang di laporkan, nampaknya pasukan mu tidak terlalu terpengaruh.!"

"Tentu saja karena mereka sudah saya kasih 'vitamin' hutan" Bara melompat lincah dari meja.

Ia merogoh kantong plastiknya, lalu menyiramkan sisa es teh manisnya tepat ke arah wajah Maximilian. Tapi dengan mudahnya di halau max dengan tendangan sapuan udara yang sangat memukau.

Kemudian ia mengeluarkan belati di pinggangnya yang di sembunyikan dengan baik, dan melesat ke arah Bara, dia mengayunkan belati itu sekuat tenaga.

Bara reflek cepat ingin menghindar, tapi belati itu sudah beradu dengan belati lainnya yang di miliki pasukan yang melindungi Bara dan tim, sehingga menghasilkan suara senjata beradu yang memekakkan telinga.

~Klangggggh~

"Tuan Bara mundur, biar kami yang mengurusnya." Ucap Aris yang di sambut gelak tawa oleh max seakan meremehkan.

"Hahahah.....tidak ada yang bisa lolos dari genggaman ku."

Suara belati menggema di udara dan sayatan demi sayatan terdengar menyisakan teriakan yang membuat ngeri.

~Klanggggg~. ~Klangggggg~. ~Srettttttt~ ~Sssretttttttt~

Pasukan Bara sedikit kewalahan menghadapi max yang hanya seorang diri, situasi sangat tidak menguntungkan bagi Bara, dia berfikir cepat menggabung setiap bubuk herbal yang ada di dalam sakunya, dia tidak menyangka hal ini akan terjadi sehingga dia tidak membawa cukup persiapan.

"Siaalll....kalau tau begini akan lebih baik bawa banyak ramuan tadi."

Rani mengerti situasi tidak kondusif, saat keadaan makin kacau dan max tampak sibuk bertarung, dia membawa ketiga temannya untuk menjauh terlebih dahulu agar para pasukan bisa fokus untuk sekedar bertarung.

Bara melemparkan serbuk biasa yang menghasilkan asap.

"Rasakanlah ini pak tua" teriak bara sambil mendekat dengan jarak yang cukup dari jangkauannya, dia melemparkan bubuk herbal yang digabung ke arah mata max saat max sibuk bertarung dengan Aris (pemimpin pasukan).

"AAARRGHH! MATAKU!" Maximilian mengerang pedih dia sedikit lengah dengan pergerakan bara yang tiba-tiba, datang dari balik kabut.

Kesempatan dimanfaatkan dengan baik oleh pasukan, sehingga memberikan sayatan yang cukup dalam ke dada max dan menendang tulang kering orang itu sehingga berbunyi krakk...

~ Ahhhhhhhrrrkkkk, ~

"Sialan... semut... sialan, kalian akan membayar atas perbuatan kalian ini." Ucap max sambil menekan tombol bantuan.

Du...du...du.. suara helikopter bergemuruh di udara, meluncurlah 2 orang berpakaian jas hitam yang menghancurkan jendela dan menembakkan asap beracun.

"Awas....cepat tutup hidung" Teriak bara memperingati.

Dua orang itu menggendong max yang terluka dan menghilang di dalam kepulan asap meninggalkan bunyi baling-baling helikopter yang kian menjauh.

Setelah Maximilian melarikan diri lewat helikopter dan Darmawan diringkus tim hukum, ruangan itu kembali senyap. Bara berdiri di dekat jendela, menatap lencana perak yang kini ada di genggamannya.

"Ternyata Darmawan hanyalah pion kecil, ayah siapa mereka....apa yang engkau lakukan sehingga memiliki musuh seperti ini?" Bara hanya bisa berbisik ke udara kosong menatap nanar kearah yang jauh, dia pikir ia sudah membalaskan dendam keluarganya ternyata perjalanannya masih panjang.

Bara mengepalkan tinjunya. "Dendam pada Darmawan sudah lunas. Tapi perang sesungguhnya melawan mereka yang menghancurkan duniaku baru saja dimulai."

Viona mendekat, menyentuh pundak Bara. "Bara, kami akan selalu ada buat kamu, kami akan selalu mendukung mu, tidak peduli seberbahaya apapun itu."

Bara hanya bisa tersenyum kemudian menatap kakinya yang bertelanjang sebelah. "Sandal Swallow ungu saya putus.... aaaaaaaaa....... Al, belikan yang warna hitam-emas ya, ok ya plissss." Canda Bara untuk mencairkan suasana.

Alisa tertawa, setetes air mata kelegaan jatuh di pipinya. "Siap, Bos Besar Gembel."

Hari itu, kota itu mengenal penguasa baru: "Bara si tabib gila" tapi ini baru saja permulaan, musuhnya masih berkeliaran diluar sana menikmati setiap udara segar di balik penderitaan orang lain yang mereka hancurkan.

1
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Razif Tanjung: terimakasih udah mampir kak🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Gege
pikir ada adegan kultivasi ganda kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu lima some...kan tenaganya berlimpah ruah birahinya naik..mirip epek afrodiak..🤣🤭
Razif Tanjung: jangan tar ke banned🤣🤣🤣
total 1 replies
Gege
naaaah kaaan ada adegan nanti remas remas...pastikan scene remas meremas 2k kata sendiri thoorr...🤣🤣
Razif Tanjung: eittt pelanggaran 🤣🤣
total 1 replies
Gege
kereeen updatenya...apik dan epic... kalo bisa lima kenapa tiga Thor...banyakin hareemnyaah...
Gege
apakah akan ada scene kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu dalam 10k kata thorr?🤣
Razif Tanjung: oh jelas tidak🤭
total 1 replies
Gege
mantaabbb...gassss 10k kata per update thorrr...
Gege
wasyeeek... moga ada alur yang nemuin wanita kena kanker payudara sembuhnya harus dipijat dengan olesan ramua ajaibnya Bara...yoook bikin thorr alurnya
Razif Tanjung: wah kebetulan sekali🤣🤣🤣, tinggal nunggu update ya kak
total 1 replies
Gege
karya yang warbyasaah
Gege
gilaa karya yang warbyasaah...para reader NT wajib sih ini mampir...rugi kalo engga...gasss thorrr
Gege
udah sampe bab 6 ceritanya amajing bangeed...warbyasaah...gass sekali up 10k kata...🤣
Razif Tanjung: wah terima kasih udah mampir saya terharu loh
total 1 replies
Slow ego
gua ikut mampir like👍.
Slow ego
namanya unik🤔
Razif Tanjung: terimakasih banyak kak, apakah ada yang harus saya perbaiki kedepannya, dari sudut pandang kakak yang baca deh
total 3 replies
anggita
mampir like👍, iklan👆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!