NovelToon NovelToon
Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Razif Tanjung

Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!

Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.

Namur, takdir berkata lain.

saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.

" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "

Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 : Satu nama

Di mana darah bertemu dengan debu, di sana takdir mulai menenun. Sebuah nama adalah doa, namun sebuah nama juga bisa menjadi kutukan yang mematikan. Langkah kaki di atas kerikil tajam, membawa dendam yang lebih tua dari usia rembulan. Siapa yang tertawa di akhir, dialah yang menari di atas puing-puing sejarah yang terbakar.

Ruangan itu mendadak kehilangan suhunya. Keheningan yang tercipta bukan karena rasa hormat, melainkan karena kehadiran sosok yang membawa aura otoritas yang dingin. Pintu Rahasia itu berderit pelan, memberikan jalan bagi seorang wanita yang tampak seperti personifikasi dari badai yang terperangkap dalam tubuh manusia.

Ia mengenakan jaket kulit hitam yang memeluk tubuhnya, dipadukan dengan celana kargo yang penuh saku—jenis pakaian yang menunjukkan bahwa ia lebih sering melompati pagar berduri daripada duduk manis di kursi salon kecantikan.

Namun, kontradiksi itu justru menambah daya tariknya. Wajahnya memiliki keanggunan alami yang begitu tajam, sebuah simetri yang sanggup membuat Bara Mahendra terdiam sejenak.

Keindahan itu cukup kuat untuk menghapus memori buruk Bara tentang tagihan listrik rukonya yang belum dibayar.

"Kakek" suara wanita itu membelah udara. Merdu, namun memiliki ketajaman silet yang siap mengiris ego siapa pun yang mendengarnya. "Siapa pria eksentrik yang terlihat seperti korban selamat dari bencana alam ini?"

Wanita itu adalah Sonia. Seorang yatim piatu yang ditempa oleh kerasnya kehidupan tumbuh di bawah perlindungan Sang Macan Besi. Bagi dunia bawah tanah, Sonia adalah tangan kiri sang tiran, bayangan yang tak pernah meleset. Namun bagi mereka yang jeli, ada ikatan batin yang lebih rumit di antara mereka ia adalah satu-satunya titik lemah di hati sang penguasa yang biasanya tidak mengenal ampun.

Bara, yang tadinya berniat melakukan pose heroik karena mengingat sesuatu, justru sibuk menggaruk hidungnya. Sersan Jago, ayamnya yang setia, baru saja mengepakkan sayap dengan semangat, melepaskan beberapa helai bulu dan debu pasar yang membuat Bara bersin tertahan (Bau-bau koleksi wanita baru nih).

Sang Macan Besi terkekeh rendah, suara tawanya terdengar seperti gesekan batu gerinda. "Apa kau lupa pada bocah ingusan ini Sonia?"

Sonia mengernyit, matanya menyipit penuh selidik.

"Ini adalah Bara Mahendra. Putra dari Mahendra " lanjut Sang Macan Besi dengan nada yang sedikit lebih berat. "Kalian sering mandi bersama di sungai waktu kecil, berbagi sabun dan mimpi-mimpi bodoh."

Mata Sonia mendadak melebar. Ada kilatan rasa rindu yang tertahan di sana, sebuah emosi yang ia kubur dalam-dalam selama belasan tahun. Ia menatap Bara dengan intensitas yang baru—dari ujung rambutnya yang acak-adukan seperti sarang burung hingga ujung sandal Swallow-nya yang berbeda warna. Sonia seolah sedang mencari jejak kejayaan masa lalu, mencari sisa-sisa kemegahan keluarga Mahendra di balik sosok pemuda yang saat ini lebih mirip pengungsi pasar yang baru saja kalah judi.

Tak lama setelah itu matanya berkaca-kaca meneteskan air yang membasahi pipinya yang cantik dan mendekap bara dalam pelukannya yang hangat.

"Sialan.. kenapa kau lama sekali untuk menemui kami"

"Maafin aku Son, aku sangat sibuk untuk membalaskan dendam keluargaku kepada Darmawan, sehingga aku baru inget dengan kalian."

"Tapi ini jadi sedikit rumit, ternyata Darmawan hanyalah pion dibalik permainan catur sang penguasa."

Sonia mendekap Bara makin erat seakan berbagi luka yang sama, untuk sesaat dia tidak ingin melepaskan pria ini dalam pelukannya.

Luka yang lama tak disentuh, bukan berarti telah sembuh. Hanya tertutup debu waktu, menunggu satu nama untuk kembali mengelupas kulitnya. Di mata sang kawan, ada cermin masa lalu yang retak. Di tangan sang alkemis, ada kunci untuk menyusun kembali pecahannya.

Setelah cukup lama akhirnya Sonia melepaskan dekapannya, menatap mata Bara dengan bahagia yang campur aduk, ada senyum kelegaan yang terpancar di wajah sang wanita itu.

Keheningan yang sempat membeku perlahan mencair, namun segera digantikan oleh kabut misteri yang lebih tebal. Sonia duduk di hadapan Bara, melipat kakinya yang jenjang dengan gerakan anggun. Tatapannya kini sangat serius, menghilangkan semua sisa-sisa kesedihan tadi.

"Bara kau tau kan ayahku juga mati di tangan konspirasi Darmawan, dan kau benar bahwa dibalik Darmawan ada tangan-tangan tak terlihat yang mengendalikan" ungkap Sonia dengan nada yang dingin namun bergetar oleh dendam yang sudah mengakar hingga ke sumsum tulang.

"Aku menghabiskan separuh hidupku untuk mencari tau kebenarannya, tapi aku menyadari satu hal yang mengerikan."

Bara mendengarkan dengan seksama. Ia merogoh sakunya dan mengambil sebutir permen jahe. Sifat eksentriknya tidak bisa hilang, namun binar matanya menunjukkan bahwa otaknya yang jenius sedang bekerja secepat kilat.

"Semua petunjuk yang aku kumpulkan selama bertahun-tahun merayap di lubang-lubang gelap, semuanya mengerucut pada satu arah yang sama: luar negeri," ucap Sonia sambil menunjukkan sebuah peta dengan tanda merah di beberapa titik koordinat spesifik.

Bara mengernyitkan dahi. Otaknya mulai memetakan jalur logistik yang kemungkinan digunakan oleh organisasi ini untuk menyelundupkan bahan baku terlarang ke seluruh benua. "Aku berencana pergi ke luar negeri dalam tiga hari. Aku ingin mencari sedikit banyaknya informasi tentang mereka, aku harus paham karakteristik musuh ku seperti apa, dan aku butuh lebih dari sekadar koordinat untuk menghancurkan mereka semua."

Sonia menatap Bara dengan tatapan yang sulit diartikan—perpaduan antara harapan tipis dan keraguan yang besar. Mengingat dia sudah mencari selama bertahun-tahun tapi hanya mendapatkan sedikit informasi yang belum di ketahui secara pasti kebenarannya karena organisasi itu sangat bermain dengan rapi.

"Informasi terakhir yang aku dapatkan sangat terbatas," kata Sonia dengan suara yang hampir berbisik. Ruangan itu kembali mencekam. "Mereka sangat rapi dalam menghapus jejak. Namun, ada satu nama yang terus muncul di setiap dokumen rahasia yang berhasil kubajak. Nama yang membuat mereka yang mengetahuinya lebih memilih bunuh diri daripada mengucapkannya."

Sonia menjeda kalimatnya, matanya menatap tajam ke dalam mata Bara.

"Arya."

Hanya satu nama itu. Sederhana, umum di telinga, namun dampaknya luar biasa. Sang Macan Besi yang duduk di singgasananya mendadak mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Suasana seketika berubah dari tegang menjadi horor yang murni.

Bara tertegun. Nama "Arya" bergaung di kepalanya seperti genta gereja tua di tengah malam sunyi. Ada sensasi dingin yang merayap di tulang punggungnya, melebihi rasa dingin dari es teh manis yang ia minum di pinggir jalan tadi.

Kemudian Bara teringat akan sesuatu dan menanyakannya untuk sekedar memastikan, Bara menunjuk sebuah lokasi di peta itu tempat sinyal yang di hasilkan keberadaan max, Orang yang menyerang nya tempo hari.

"Saat saya mengambil alih perusahaan ayah kembali yang telah di rebut Darmawan, ada seseorang pria yang datang pada saat itu, dan dia memperlihatkan lencana perak bergambar ular yang melilit cawan, aku berhasil menyelipkan alat pelacak saat berhadapan dengannya dan dititik ini lah sinyal itu berhenti."

"Hmmm...dari informasi yang aku dapat, setiap lencana dari organisasi ini memiliki tingkatannya masing-masing berdasarkan kekuatan dan pengaruh, dan warna perak adalah yang paling rendah, titik yang kamu tunjuk ini adalah sebuah toko terbesar yang ada di salah satu daerah itu, kemungkinannya adalah tempat ini titik kumpul dari tim yang dia kendalikan"

"Menurut saya "Arya" adalah orang yang harus kamu pertimbangkan, dari informasi menyebutkan kalau dia memegang lencana berwarna emas, tingkatannya lebih tinggi dari pria yang kamu sebutkan ini, dan yang paling tertinggi berwarna hitam"

"Untuk informasi yang lebih akurat kamu bisa untuk mencari orang yang bernama Arya ini "

Satu nama, seribu luka. Satu langkah, sejuta bahaya. Batu nisan telah disiapkan, namun siapa yang akan mengisi liang lahatnya? Dunia menahan napas, saat sang gila mulai melangkah menuju cakrawala.

Bara berdiri. Dengan penuh khidmat, ia membetulkan letak sandal Swallow-nya, seolah-olah ia sedang mengenakan sepatu boot tempur terbaik yang pernah diciptakan manusia. Ia meluruskan kaos partainya yang sudah mulai berlubang, namun auranya telah berubah total. Sifat konyolnya masih ada, tetapi di balik itu, ada ancaman yang lebih nyata.

"Arya ya... nama yang bagus," ucap Bara dengan seringai liar "Sangat pas untuk ditulis di sebuah batu nisan yang sangat mahal suatu hari nanti, terimakasih untuk informasinya sonia."

Sersan Jago seolah merasakan pergolakan batin tuannya. Ayam itu melompat ke bahu Bara dan berkokok panjang, suara nyaringnya memecah keheningan sarang tiran tersebut, menutup diskusi dengan sebuah pernyataan perang yang tak terbantahkan.

Tanpa banyak bicara lagi, Bara berbalik. Langkahnya mantap, Ia melangkah keluar menuju cahaya matahari yang mulai meredup di ufuk barat, meninggalkan Sonia dan Sang Macan Besi dalam keheningan yang menyesakkan.

Bara sudah mendapatkan puzzle baru, yang saling terhubung dengan puzzle yang telah dia dapatkan, yang akan membawanya melintasi samudera, menuju daratan asing yang belum pernah ia jamah, di mana alkimia dan darah akan menyatu dalam satu harmoni kematian, kalau dia tidak berhati-hati.

"Tiga hari lagi," gumam Bara pada angin yang bertiup. "Persiapkan diri kalian, karena sang Tabib Gila sedang datang untuk menagih hutang."

Apakah "Arya" bisa dia temukan dan apakah bisa mengantarkannya kepada rahasia yang lebih besar? Perjalan Bara baru saja dimulai.

1
anggita
penampilan yg wouu...😯
Razif Tanjung
kak apakah ada disini yang bisa memberikan saya saran, saya merasa novel ini kurang bagus, adakah dari teman-teman bisa menyebutkan kesalahan saya, atau adakah yang bisa saya perbaiki, saya mohon dengan sangat harap jika teman-teman memberikan saya kritikan Tetang karya saya.🙏🙏🙏🙏
Razif Tanjung: di bagian mana nya kak, apakah ada saran kak🙏🙏🙏
total 2 replies
Aman Wijaya
tambah lagi updatenya Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
gaaas terus
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor lanjut
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Aman Wijaya
mantul Thor semangat semangat semangat
Gege
koleksi mulu ga ada adegan kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu ya sama aja MC nya Kasim..🤣🤭
Razif Tanjung: Tidak... Nanti jdi novel 18+🤣🤣🤣, belum ada kepikiran buat bikin nya, kalau ada ide lain boleh tuh aku tampung saran nya dong kak🤭🤭
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz jooooz gandos lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Achmad
semangat Thor
Achmad
gasss
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
top top markotop bara lanjut terus
Achmad
keren Thor semangat
Achmad
semangat dan semangat Thor
Achmad
hebat sekali Thor
Achmad
bintang lima untukmu thor
Razif Tanjung: Terimakasih kak dukungannya🙏🙏🙏
total 1 replies
Achmad
aku suka Thor
Razif Tanjung: Terimakasih udah mampir kak🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz pooolll lanjut
Razif Tanjung: terimakasih kak semngatnya, tinggal kan ide dong kak, barangkali nanti otak ku buntu 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!