NovelToon NovelToon
Sumpah Cinta Matiku

Sumpah Cinta Matiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: dtf_firiya

Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.

Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.

Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.

Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.

Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?

Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Order Success

Matahari baru saja menampakkan semburat oranye di ufuk timur Jakarta, namun dapur apartemen lantai dua belas itu sudah terasa seperti mesin yang menderu panas. Di atas meja counter yang kini telah dilapisi stainless steel profesional, berderet rapi delapan puluh kotak brownies "Shaba Fudgy" dan empat puluh stoples "Cloud Nine Cookies".

Ini adalah pesanan besar pertama Tia: paket hantaran untuk acara ulang tahun perusahaan mantan kantornya, sebuah permintaan yang datang langsung dari sekretaris Pak Baskoro.

Tia berdiri di tengah ruangan, tangannya yang masih mengenakan sarung tangan plastik gemetar tipis karena kelelahan, namun matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa. Selama empat puluh delapan jam terakhir, ia hampir tidak tidur.

Ia hanya sempat memejamkan mata selama dua jam di atas sofa, ditemani aroma cokelat yang meresap hingga ke helai rambutnya.

Perjuangan di Balik Delapan Puluh Kotak

"Tiga... dua... satu... Selesai!" Tia menempelkan stiker segel terakhir pada kotak ke-delapan puluh.

Ia menyandarkan punggungnya pada rak besi yang dirakit Idris beberapa hari lalu. Ruang produksinya yang biasanya rapi kini tampak seperti medan perang yang manis. Tepung terigu yang terserak tipis di lantai, noda cokelat di celemeknya, dan tumpukan sisa kertas roti menjadi saksi bisu betapa kerasnya ia bekerja.

Tiba-tiba, bel pintu apartemen berbunyi. Tia tersentak, hampir menjatuhkan gulungan stiker di tangannya. Ia tahu siapa yang datang. Hanya satu orang yang cukup gila untuk datang pukul enam pagi demi membantunya melakukan pengiriman.

"Dris, pintunya nggak dikunci!" teriak Tia dengan suara parau.

Idris masuk dengan langkah tegap, membawa dua kotak kopi panas dan sekantong roti lapis. Ia tertegun sejenak melihat pemandangan di hadapannya. Barisan kotak-kotak cokelat yang tertata simetris itu terlihat seperti pasukan yang siap berangkat berperang.

"Gila, Tia... kamu beneran nyelesain semuanya sendirian?" Idris meletakkan kopi di meja, matanya menatap takjub. "Ini sih bukan lagi skala rumahan, ini sudah skala industri!"

Tia terduduk di kursi bar, menerima kopi yang disodorkan Idris. "Aku hampir menyerah jam dua pagi tadi, Dris. Pas oven gas Ibu tiba-tiba mati karena gasnya habis. Untung aku punya cadangan tabung di balkon. Pas aku lagi ganti tabung gas sendirian di tengah malam, aku cuma mikir satu hal: kalau aku bisa nggak mati pas terbang di Gunung Kidul, aku pasti bisa ganti tabung gas ini."

Idris tertawa, duduk di depan Tia. "Itu dia! Mental paralayang memang beda. Jadi, ini semua siap meluncur ke kantor Pak Baskoro?"

"Iya, jam delapan nanti kurir kargonya datang. Aku sengaja sewa mobil boks kecil supaya nggak hancur di jalan," jelas Tia sambil menyesap kopinya.

"Dris, jujur aku deg-degan. Gimana kalau rasanya beda sama sampel yang aku kasih kemarin? Gimana kalau mereka komplain?"

Idris menggelengkan kepala, mengambil satu potong brownies yang sengaja disisihkan Tia untuknya. Ia mengunyahnya pelan, merasakan tekstur fudgy yang padat namun lumer, dengan kejutan rasa asin dari sea salt yang pas.

"Dengar, Tia. Aku sudah makan brownies ini dari sejak kamu masih trial sampai sekarang. Rasanya justru makin enak. Konsistensi kamu itu luar biasa. Dan tahu nggak? Pak Baskoro itu orang yang sangat pemilih. Kalau dia sampai setuju pesan sebanyak ini, artinya produk kamu memang punya kelas."

Tia tersenyum kecil. "Makasih, Dris. Tapi tahu nggak apa yang paling bikin aku seneng? Pas aku lagi packing semalam, aku nggak ngerasa beban kayak pas ngerjain laporan bulanan di kantor dulu. Capeknya beda. Capek ini bikin aku pengen bangun lagi besok pagi buat bikin yang lebih banyak."

"Itu namanya passion, Tia. Kamu sudah menemukan langitmu."

...----------------...

Pukul delapan tepat, petugas kurir tiba. Idris dan Tia bekerja sama mengangkut kotak-kotak itu ke dalam lift. Perjalanan turun naik lift sebanyak empat kali itu terasa seperti ritual pelepasan. Setiap kotak yang masuk ke dalam mobil boks terasa seperti sepotong mimpi yang mulai terbang meninggalkan sarangnya.

Saat mobil boks itu perlahan bergerak meninggalkan lobi apartemen, Tia berdiri di pinggir jalan, masih dengan celemeknya, melambaikan tangan.

"Sudah jalan, Dris. Pesanan besar pertamaku sudah jalan," bisik Tia, matanya berkaca-kaca.

Idris merangkul bahu Tia sebentar, memberikan penguatan. "Selamat, Bos. Kamu baru saja melakukan take-off yang sempurna. Sekarang tinggal tunggu laporan 'pendaratannya' dari sana."

...----------------...

Setelah pengiriman selesai, apartemen Tia terasa sangat sunyi. Idris pamit untuk berangkat kerja.

Tia menggunakan waktu itu untuk membersihkan dapur. Ia mencuci baskom-baskom besar, mengelap sisa tepung, dan merapikan kembali raknya. Namun, setiap lima menit sekali, ia melirik ponselnya. Menit terasa seperti jam.

Dia menunggu pesan dari Pak Baskoro mantan bossnya karena ingin tahu bagaimana rasa brownies yang dia buat menurut karyawan disana termasuk menurut bossnya.

"Tring" Suara ponselnya berbunyi. Gegas dia membukanya "Rasanya sangat enak Tia sungguh aku tidak menyangka kamu pandai dalam hal ini. Semua karyawan yang memakannya juga sangat menyukainya".

Dia merasa terharu dan segera membalas pesan Pak Baskoro "Terimakasih pak jika ingin pesan lagi saya siap!"

...----------------...

Malam harinya, setelah kegaduhan pesanan itu mereda, Tia duduk di balkon apartemennya dengan sebuah buku catatan baru. Di halaman pertama, ia menuliskan angka pendapatan dari pesanan besar tersebut. Angka itu cukup untuk menutupi biaya operasional selama dua bulan ke depan.

Namun bukan uangnya yang membuat Tia merasa menang. Ia merasa menang karena ia telah membuktikan pada dirinya sendiri, pada orang tuanya, dan pada Jakarta, bahwa mimpi yang dipupuk dengan keberanian di Gunung Kidul bukanlah sebuah khayalan.

Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke grup keluarga:

"Mama, Papa... pesanan 120 paket hari ini sukses besar. Semuanya suka. Makasih buat ovennya, makasih buat dukungannya. Tia beneran bisa terbang."

Tak lama, balasan dari Ayah masuk:

"Papa sudah tahu kamu bisa. Mobil SUV Papa selalu siap kalau pesanannya nambah jadi seribu kotak besok."

Tia tertawa kecil. Ia menatap langit malam Jakarta yang biasanya tampak dingin dan mengancam, kini terasa seperti sahabat lama. Ia teringat kembali momen saat ia ragu untuk lari di lereng bukit Shaba. Sekarang, ia sadar bahwa hidup ini memang tentang lari terus-menerus. Terkadang kita tersandung, terkadang kita lelah, tapi selama kita punya "angin" tujuan yang tepat, kita akan selalu bisa terbang.

Crumbs & Clouds bukan lagi sekadar nama di atas kertas vinil. Itu adalah bukti bahwa dari remah-remah keberanian, seseorang bisa membangun awannya sendiri.

Sebelum tidur tak lupa dia mengabari Idris "Idris semuanya sukses hari ini btw terimakasih banyak atas bantuannya selama ini".

1
partini
hah belum siap ,, aneh kali ya kalau masih pacaran ok lah kan dah nikah pasangan yg aneh
partini
salah kamu dris harusnya istrimu di ajak bertemu aihhh malah peluk segala pula ,,semoga sebelum pulang tuh video udah yampe biar berantem salah salah sendiri ga jujur
partini
hemmm so sweet
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
partini
sinopsisnya di rubah ya Thor
mantan ga ada
dtf_firiya: yes thank you sebentar ya I'll look for a fitting description
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!