NovelToon NovelToon
Atas Nama Sang Macan

Atas Nama Sang Macan

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Petualangan / Mafia / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Bruna Mattos

Di Bukit Firdaus, satu nama menentukan nasib semua orang: Macan.

Rana baru sembilan belas tahun. Ia hanya ingin bekerja, menjaga neneknya, dan turun bukit tanpa berurusan dengan siapa pun. Tapi penguasa bukit itu sudah melihatnya, dan di wilayah Macan, apa yang diinginkannya akan menjadi miliknya. "Kamu atas namaku."

Rana menolak. Macan tidak terbiasa ditolak. Antara pesta bukit, pengintaian, dan kunjungan intim di balik jeruji, batas antara paksaan dan hasrat semakin kabur. Rahasia keluarga, sekutu yang berkhianat, dan musuh yang mengincar dari bayang-bayang membuat cinta mereka berbahaya.

Seberapa jauh seorang laki-laki berani melindungi apa yang ia klaim sebagai miliknya? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bruna Mattos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinda / Rana

Dinda (narasi)

Aku bangun pagi karena alarm ponsel. Sudah jam delapan. Aku menoleh ke kasur, dan Kerempeng sudah nggak ada, pasti di lapak. Sejak Macan ditahan, dia kerja terus sampai nggak pernah beranjak dari sana. Aku bangun, mandi, pakai baju yang nyaman, lalu turun ke dapur.

"Pagi, Bu," sapaku pada mertuaku yang lagi duduk sarapan di meja.

"Pagi, Sayang," jawabnya.

Aku menuang kopi ke cangkir dan membuat roti isi daging olahan.

"Kamu mau keluar?" tanyanya.

"Iya, mau seharian sama Rana. Aku mau nemenin dia, kasihan, lagi berat banget gara-gara neneknya di rumah sakit," kataku sambil menyeruput kopi.

"Rana itu cewek yang datang jenguk anakku?" Aku heran kok dia tahu.

"Iya, Bu," jawabku salah tingkah.

"Dinda, dia kok bisa mulai jenguk dia? Setahu Ibu mereka nggak ada hubungan apa-apa."

"Aku nggak tahu pantas nggak aku cerita, ini urusan mereka."

"Percaya sama Ibu. Kamu tahu Ibu bukan tukang gosip. Ibu cuma pengin tahu karena kelihatannya dia tertarik banget sama cewek itu, dan Ibu khawatir soalnya Ibu nggak kenal dia."

"Gini, Bu. Rana itu belum pernah dekat sama siapa pun di bukit sini. Hidupnya cuma kerja buat menghidupi rumah dan ngurus neneknya. Pesta bukit aja dia nggak pernah datang, kecuali hari waktu Gabriel ngenalin aku ke bukit." Aku meminum kopi sedikit.

"Macan memang ngejar-ngejar dia, tapi Rana nggak menggubris. Setelah Macan ditahan, neneknya sakit parah dan harus dioperasi, sementara rumah sakit umum nggak menanggung biayanya. Jadi aku minta Gabriel, kali aja bisa minjemin uang biar Rana nyicil pelan-pelan. Dia bilang mau ngomong dulu sama kakaknya. Besoknya Gabriel menemui Rana dan bilang Macan mau kasih uangnya, tapi Rana harus datang menjenguk dia." Ibu mertuaku menatapku tak percaya.

"Ibu nggak percaya dia melakukan itu."

"Iya, Bu, dan Rana nggak punya pilihan lain, jadi dia terima. Sekarang Macan merasa Rana itu miliknya. Dia nyuruh Pak Mansur memecat Rana, padahal Rana kerja di sana malam hari. Siangnya Rana juga nggak bisa kerja lagi karena tiap hari harus ke rumah sakit. Belum lagi Joni nempel terus ke dia atas perintah Si Teror," kataku.

"Ya Tuhan, Dinda. Ibu sudah memperlakukan anak itu dengan buruk sekali. Ibu harus minta maaf sama dia." Aku jadi bertanya-tanya, memangnya apa yang sudah dia lakukan.

"Tapi dia suka sama anakku, atau cuma terpaksa?"

"Dia bilang nggak suka, tapi aku nggak percaya. Dia belum pernah sama siapa pun, masih perawan, dan katanya Macan lembut banget sama dia. Ibu percaya nggak, Macan sampai nyium dia." Aku bicara sambil tertawa.

"Serius? Berarti ini lebih serius dari yang Ibu kira," katanya sambil berpikir.

"Aku berangkat dulu ya, Bu. Mau ke rumah sakit bareng dia." Ibu mertuaku mengangguk, dan aku keluar dari dapur, menuju rumah Rana.

Rana (narasi)

Aku bangun karena matahari masuk lewat jendela yang lupa kututup. Aku bangun, mandi lama, oles pelembap ke badan, menggelung rambut longgar, lalu pakai set lingerie putih, celana pendek jin, dan kaus crop putih yang longgar. Kakiku kuselipkan ke sandal jepit, lalu aku berdandan tipis-tipis dan menyemprot parfum. Selesai.

Aku turun ke dapur dan menyeduh kopi di mesin kopi biasa. Begitu keluar rumah, kusapa pengecer yang berjaga di depan pagarku, dan kali ini bukan Joni. Aku ke toko roti untuk beli roti, dan dia mengikutiku di belakang. Pas keluar dari toko, aku malah ketemu Cantika.

"Wah, kalau bukan nasi bungkusnya Macan," katanya sambil mengejekku.

"Satu-satunya nasi bungkus yang kelihatan di sini ya kamu." Aku sudah emosi.

"Dengar ya, sekarang mungkin dia lagi nidurin kamu, tapi yang bakal dia kembali cari itu gue. Begitu dia keluar dari sana, gue yang bakal dia akui." Dia menatapku lurus-lurus.

"Bagus dong." Aku berbalik membelakanginya, dan kulihat pengecer itu sudah bergegas ke arah kami.

"Semua baik-baik saja?" tanyanya.

"Iya, terima kasih."

Aku pergi dari sana dan langsung pulang. Kusiapkan meja dan sarapan sendirian sambil teringat Nenek. Dulu tiap aku bangun, kopinya sudah siap. Kangen sekali.

Selesai minum kopi, aku mencuci piring di bak, memasukkan baju kotor ke mesin cuci, lalu mengepel rumah. Setelah itu aku menyalakan TV dan duduk di sofa, sampai kudengar ada yang memanggilku.

"Rana!"

"Masuk." Aku sudah tahu itu Dinda.

"Hai, Sayang. Hari ini aku mau seharian sama kamu. Aku masakin makan siang, terus kita ke rumah sakit lihat Nenek." Dia memelukku.

"Makasih ya, aku memang lagi ngerasa sendirian banget." Aku bicara sedih.

"Makanya aku di sini. Kamu tahu aku sayang kamu kayak saudara sendiri."

"Aku juga sayang kamu, cantik."

Kami nonton film sampai jam sebelas, lalu dia berdiri.

"Aku masakin kita makan dulu." Dia ke dapur, dan saat itu ponselku bergetar, ada pesan masuk dari dr. Reza.

📱Pagi, Rana. Gimana kabarmu?

📱Pagi. Baik, kamu sendiri?

📱Baik juga. Aku mau tanya, kamu mau nggak keluar sama aku, ngopi atau makan siang?

📱Makasih ajakannya, Reza, tapi ada temanku di rumah, dia nemenin aku seharian. Lain kali ya.

📱Ya sudah, lain kali.

Ada pesan lain masuk, dan kali ini dari Arga.

📱Hai, Rana.

📱Hai.

📱Kamu apa kabar?

📱Baik, kamu?

📱Baik, walau tempatnya begini. Kamu mau jenguk nenekmu? Aku merasa aneh.

📱Iya, nanti siang.

📱Nanti kabarin aku gimana keadaannya. Aku makin heran.

📱Oke.

Dia nggak membalas lagi. Aku mengunci ponsel dan melihat Dinda sedang memandangiku.

"Siapa?"

"Pertama dr. Reza ngajak aku keluar, terus Arga nanyain kabarku dan mau tahu apa aku mau jenguk nenekku. Percaya nggak?"

"Wah, seru nih, Sayang," katanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!