Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05: Kebohongan Pertama
____🌺
Matahari siang terasa menyengat, ketika Nayara merapikan meja kerja, di ruang tengah rumahnya. Saat hendak memindahkan beberapa berkas milik suaminya, matanya tertuju pada sebuah map berwarna biru tua yang tergeletak di samping laptop mati.
Dia mengambil map itu dan membukanya sedikit. Di dalamnya terdapat dokumen perjanjian kerja sama investasi dengan stempel merah berlogo perusahaan Mahendra Group. Di lembar atas, tertera catatan tempel kuning bertuliskan tangan Adrian: Bawa ke rapat jam 1 siang.
Nayara melirik jam dinding di ruang tengah. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit.
Ia menarik napas panjang. Sejak kejadian pertengkaran dua malam lalu dan percakapan telepon yang ia dengar kemarin pagi, hubungan mereka dingin. Adrian berangkat kerja tanpa pamit, dan pesan singkat yang dikirim Nayara, hanya dibalas singkat, atau dibiarkan, berstatus centang dua.
Nayara memegang map itu erat-erat. Ada dorongan di dalam hatinya untuk mengantarkan dokumen ini langsung ke kantor Adrian.
Bukan semata-mata, hanya karena dokumen ini penting, tetapi ia juga ingin melihat langsung suaminya. Ada rasa sesak yang terus mengganjal di dadanya dan butuh jawaban.
Setelah mengganti pakaian dengan terusan kasual berwarna krem dan merapikan rambutnya, Nayara memesan taksi online.
Sepanjang perjalanan menuju kawasan bisnis Sudirman, tangannya tak berhenti meremas ujung tas, yang ia pangku.
Gedung tinggi berlantai dua puluh tempat kantor Mahendra Group berdiri megah di hadapannya lima belas menit kemudian.
Nayara melangkah masuk melintasi pintu kaca putar lobi utama. Suasana lobi cukup ramai oleh para pekerja kantor yang mulai keluar untuk mencari makan siang.
Rani, salah satu staf resepsionis yang sudah mengenal Nayara, menyapa dengan senyum ramah dari balik meja marmer.
"Selamat siang, Mbak Nayara. Mau bertemu Pak Adrian?" sapa Rani sopan.
Nayara membalas senyum itu dengan mengangguk tipis. "Selamat siang, Rani. Iya, ini ada dokumen penting Mas Adrian yang tertinggal di rumah. Katanya mau dipakai rapat jam satu."
"Oh, Pak Adrian tadi ada di ruangannya, Mbak. Tapi sekitar sepuluh menit yang lalu beliau turun ke lantai bawah sama tamu," jelas Rani sambil menunjuk ke arah koridor lift utama di sebelah kanan. "Mungkin beliau mau makan siang di restoran area lobi."
"Terima kasih informasinya ya, Rani. Saya susul ke sana saja kalau begitu."
Nayara berjalan pelan menuju lorong utama yang menghubungkan area lift dengan deretan restoran di lantai dasar. Koridor itu dilapisi lantai marmer putih yang mengilap, memantulkan bayangan orang-orang yang melintas.
Saat dirinya berada sekitar sepuluh meter dari deretan lift, denting bel pintu lift berbunyi halus.
Pintu besi tahan karat salah satu lift eksekutif terbuka lebar.
Nayara menghentikan langkahnya secara refleks.
Dari dalam lift, Adrian melangkah keluar.
Pria itu memakai kemeja biru muda yang gulungan lengannya dinaikkan hingga ke siku. Di sampingnya, berjalan seorang perempuan bergaun terusan hitam tanpa lengan dengan potongan leher rendah. Rambut bergelombangnya dibiarkan jatuh di satu sisi bahu.
Itu Selena. Perempuan yang foto dan pesannya membuat hidup Nayara, berantakan dalam dua hari terakhir.
Wanita itu membeku di tempatnya berdiri. Jari-jarinya mencengkeram map biru di tangannya hingga kertas di dalamnya sedikit terlipat.
Adrian dan Selena berjalan berdampingan menuju arah restoran. Mereka tampak sangat dekat. Jarak di antara tubuh mereka bahkan tidak sampai sejengkal.
Selena sedang berbicara sambil tertawa pelan. Tangan kanan perempuan itu terulur, menyentuh lengan kemeja Adrian dengan santai, lalu membetulkan letak kerah kemeja pria itu.
Adrian tidak menepis tangan itu. Ia justru menundukkan kepala sedikit, tersenyum tipis mendengarkan ucapan Selena, dan membiarkan jemari perempuan itu menyentuh kerahnya selama beberapa detik.
Pandangan itu menghantam dada Nayara dengan sangat keras. Napasnya tertahan di tenggorokan. Suaminya, yang tadi pagi beralasan sangat sibuk dan enggan diajak bicara, kini berdiri di sana dengan raut wajah santai, tertawa bersama perempuan lain.
Nayara berdiri kaku di dekat pilar besar. Kakinya seolah terpaku pada lantai marmer, tak sanggup melangkah maju maupun mundur.
Saat Selena selesai berbicara dan kembali tertawa, Adrian mengalihkan pandangannya ke depan. Matanya menyapu area lobi yang mulai ramai, hingga akhirnya tatapannya terhenti tepat pada sosok sang istri yang berdiri sejajar dengan pilar.
Langkah Adrian terhenti seketika.
Senyum tipis di wajah pria itu hilang dalam sekejap. Senyumnya berganti menjadi raut terkejut murni. Matanya membelalak lebar, memandang istrinya dengan tubuh yang mendadak kaku. Tangannya refleks menjauh dari Selena, seolah-olah baru saja tersengat listrik.
"Nayara?" gumam Adrian pelan, meski suaranya tidak terdengar sampai ke tempat Nayara berdiri.
Selena menyadari perubahan sikap Adrian yang tiba-tiba berhenti melangkah. Selena ikut menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh memandang Adrian dengan dahi berkerut halus.
"Kenapa, Mas?" tanya Selena heran.
Adrian tidak menjawab. Pandangannya tetap terkunci rapat pada Nayara yang berdiri menatapnya dari jarak sepuluh meter dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca.
Selena perlahan mengikuti arah pandangan mata Adrian. Ia memutar tubuhnya menghadap ke depan, menatap lurus ke arah pilar besar tempat Nayara berdiri kaku sambil memegang map biru.
Selena memperhatikan Nayara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dari gaun krem sederhana yang dikenakan olehnya riasan tipis di wajahnya, hingga jari manis tangan kirinya, yang melingkar cincin pernikahan yang sama persis dengan yang dikenakan Adrian.
Raut kebingungan di wajah Selena perlahan memudar. Berganti menjadi sebuah senyuman tipis di sudut bibirnya—sebuah senyuman yang dingin dan penuh arti.
Bukannya menjauh atau merasa panik seperti Adrian, Selena justru melangkah maju mendahului Adrian. Langkah kakinya dengan sepatu hak tinggi berbunyi konstan di atas lantai marmer, berjalan lurus mendekati tempat Nayara berdiri.
Adrian yang baru tersadar langsung mencoba menggapai lengan Selena. "Selena, tunggu—"
Selena mengabaikan teguran Adrian. Ia terus melangkah hingga berhenti tepat dua langkah di hadapan Nayara.
Suasana di sekitar koridor lobi terasa mendadak hening bagi Nayara.
Selena menyilangkan kedua tangannya di dada, menatapnya dari jarak dekat dengan pandangan menilai.
Selena tersenyum tipis, lalu bersuara dengan nada santai namun tajam.
"Jadi, kamu istrinya Adrian?"
emang lu doang yang bisa 🤣🤣