Bagaimana rasanya jika kamu tiba-tiba terbangun dengan wajah dan tubuh yang asing, juga keadaan yang sudah sepenuhnya berubah? Eliora, seorang ketua gengster berbahaya di California, tiba-tiba terjebak di dalam tubuh seorang wanita lemah bernama Tiara yang sudah memiliki suami dan juga anak.
Dia merasa kasihan ketika mengetahui bahwa selama ini Tiara diperlakukan semena-mena oleh suami dan mertuanya, hingga membuat Elora bertekad untuk mendapatkan keadilan bagi Tiara dan anakknya.
Perjalanannya semakin berwarna saat dirinya dipertemukan kembali dengan Charly, agen rahasia yang beberapa kali menjadikannya target operasi.
Mampukah Eliora membantu Tiara dan anaknya untuk mendapatkan keadilan? Bagaimanakah dengan masa lalu yang dia tinggalkan, apakah dia masih hidup atau sudah mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon warnyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24 Lolos dari ancaman
Pukul dua belas malam, Liora baru saja bisa kembali ke rumahnya setelah menjalani berbagai pertanyaan dan kecurigaan dari Charly dan Ramon. Untung saja, sepertinya malam ini Dery dan Niken tidak pulang ke rumah, hingga dia tidak usah lagi berbedat dengan kedua orang itu.
Setelah membersihkan diri Liora langusng merebahkan tubuhnya di tempat tdur, pikirannya jelas tidak pernah terlepas dari kejadian beberapa saat lalu di rumah Charly.
Ternyata Charly dan Ramon sudah memiliki data lengkap mengenai dirnya, mereka mengaku jika sikap Liora yang terus mendekati mereka sudah dicurigai sejak awal oleh Charly, hingga akhirnya Charly meminta bantuan salah satu temannya untuk mencari data diri Tiara yang sesungguhnya.
Mereka sudah tahu apa yang dialami oleh Tiara selama menikah dengan Dery sampai saat ini, mereka bisa mengerti dengan penderitaan yang dialami Tiara hingga terpaksa meminta bantuan pada keduanya.
Namun, mereka tidak mengira jika Tiara mengetahui tentang identitas asli mereka. Itu semua cukup mengejutkan dan membuat Charly dan Ramon menjadi khawatir.
Padahal awalnya Charly dan Ramon sudah mulai memercayai Liora. Namun, karena kejadian ini, mereka jadi meragukannya lagi.
Cukup sulit memang meyakinkan mereka untuk percaya kembali padanya, walau akhirnya Charly dan Roman juga terpaksa menyetujui keinginan Liora untuk membantunya. Namun, Liora juga harus bersiap untuk selalu diawasi oleh Charly dan Ramon, karena kejanggalan itu.
"Heuh! Baiklah, Liora, semangat! Aku yakin sebentar lagi akan berhasil mengambil harta milik Tiara dan akhirnya bisa kembali pada tubuhku, begitu juga dengan Tiara."
Liora berusaha menyemangati dirinya sendiri, dengan harapan bisa kembali pada kehidupan sebelumnya dan memperbaiki apa yang telah dia lakukan di California.
.
Akhir pekan, Liora berencana untuk mengajak Davi ke pusat perbelanjaan agar anak itu bisa bersenang-senang. Saat ini dia tengah menyiapkan anak Tiara itu di kamarnya, sementara Dery dan Niken belum pulang setelah pesta semalam. Sepertinya mereka menginap di hotel yang sama dengan tempat pesta.
Suara pintu diketuk membuat Liora mengalihkan perhatiannya dari Davi. Dia kemudian tersenyum ketika melihat wanita berbeda usia yang tengah berdiri di pintu.
"Mak Onah, Rere. Sebentar, ya, aku siap-siap dulu," ujarnya sambil beranjak setelah memastikan penampilan Davi.
"Siap! Kita tunggu di luar ya," jawab Rere. Sementara Mak Onah mengajak Davi untuk pergi ke luar kamar bersama mereka.
Liora pun bersiap diri setelah melihat pintu kamar sudah tertutup rapat. Namun, sepertinya keberuntungan belum berpihak pada Liora saat ini. Karena baru saja dia membuka pintu, dia sudah melihat Dery berdiri di sana dengan pandangan mata penuh amarah.
Hadeuh, ada apa lagi ini? Desah Liora di dalam hati, dia sudah bisa menebak jika sebentar lagi akan ada drama membosankan lagi antara dirinya dan suami tidak tahu diri itu.
"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Liora sekedar basa basi.
Dery memperhatikan wajah Liora, dia masih bisa melihat sedikit warna biru keunguan di sudut bibir Liora. Sepertinya itu bekas tamparannya malam tadi.
Ada sedikit rasa bersalah di dalam hati, walau ego diri memaksanya untuk mengacuhkan rasa itu. Lagi pula Dery menganggap jika dia semua itu pantas diterima oleh Liora karena berani melawan dirinya.
"Aku peringatkan padamu ... Jangan pernah lagi datang di depan rekan kerjaku, atau kamu akan menerima akibatnya jika nekat untuk melakukan itu lagi!" ujar Dery dengan tatapan tajamnya, tanpa mau menjawab pertanyaan dari Liora.
"Iya, aku tidak akan datang ke pestamu lagi," jawab Liora sambil memutar bole matanya.
Jika saja dia tidak memiliki janji dengan Davi, Rere, dan Mak Onah, untuk pergi jalan-jalan bersama, tentu saja Liora tidak akan mau serta merta langsung menyetujui permintaan konyol dari suami Tiara itu.
Namun, saat ini keadaannya sedang tidak memungkinkan untuk memperpanjang pedebatan antara mereka berdua. Liora tidak mau jika sampai gara-gara pertengkaran keduanya acara yang sudah direncanakan gagal begitu saja.
"Bagus, jika saja setiap hari kamu patuh seperti ini, aku pasti tidak akna berbuat kasar padamu." Dery mengangguk puas, mendengar jawaban dari istri pertamanya.
Liora menghembuskan napas kasar kemudian menatap mata Dery sambil tersenyum semanis mungkn, walau akhirnya hanya terlihat senyum paksa di wajahnya.
"Kalau sudah selesai, aku ada acara bersama Davi dan Rere," ujarnya kemudian.
"Mau ke mana lagi kamu?!" tanya Dery cepat dengan mata melebar.
"Aku hanya mau mengajak Davi bermain di mall," jawab Liora, dia mengetukkan kakinya di lantai, mulai merasa bosan dengan pertanyaan Dery yang sama sekali tidak penting menurutnya.
"Aku pergi sekarang, ya. Kasihan Davi dan Rere sudah menunggu di depan," sambung Liora lagi ketika dia tidak mendengar jawaban dari Dery.
Mulai melangkahkan kaki menjauhi Dery, dia kemudian berbalik ketika hampir sampai di pembatas ruang tengah.
"Mak Onah juga ikut dengan kami," ujarnya kemudian melanjutkan langkahnya tanpa perduli pada reaksi laki-laki itu.
Namun, ketika dia melewati ruang tengah Niken yang sedang duduk di atas sofa tampak meliriknya dengan tatapan tidak suka.
"Mau ke mana lagi kamu? Kerjanya keluyuran terus, padahal suami baru saja pulang. Gimana sih?" sindir Niken pada Liora.
Liora sedikit membelokkan langkahnya mendekati NIken, dia kemudian menyeringai sambil berdiri bersidekap dada di depan Niken.
"Kan, ada kamu yang akan mengurusnya dengan penuh cinta. Iya, kan?" Liora tampak sedikit mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Niken yang tengah mendongak menatapnya, dengan wajah yang memerah.
"Jangan mau enaknya doang dong, kamu juga harus bisa mengurus suami kesayangan kita itu dengan baik, maduku yang tersayang," sambung Liora kemudian menegakkan kembali tubuhnya kemudian pergi meninggalkan Niken begitu saja.
Sementara itu, Niken menatap tajam Liora dengan tangan mengepal sangat kencang, melampiaskan amarah yang terpendam di dalam hatinya. Jika saja dia tidak melihat Dery tengah memperhatikan mereka berdua, sudah pasti Niken akan melayangkan tamparan kencang untuk Liora, karena sudah berani mengatakan hal yang tidak sopan padanya.
Semenatara itu, Liora tersenyum penuh kepuasan karena berhasil membuat pasangan suami istri itu terdiam dan tidak berani melawan.
Ini baru awal dari semua pembalasan atas rasa sakit yang telah kalian berikan pada Tiara. Sebentar lagi, aku juga akan merebut semua hak milik Tiara dan Davi dari manusia serakah macam kalian berdua!
Liora membatin, mengingat semua rasa benci di dalam hatinya dan tujuannya berada di tubuh Tiara. Itu juga yang terus dia gunakan untuk menyemangatinya dalam melakukan sesuatu untuk orang yang bahkan sebelumnya dia tidak kenal, tetapi kini begitu berjasa banyak untuk kehidupannya.
Liora kemudian mengembangkan senyumnya begitu melihat ketiga orang yang setia berada id sampingnya tengah menunggu di dekat mobil milik Rere.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Liora dengan wajah yang kembali tersenyum senang, seolah tidak terjadi drama melelahkan di dalam rumahnya.
"Ayo!" seru Davi penuh semangat.
Liora terkekeh ringan, dia kemudian berjalan menghampiri ketiga orang itu. Mereka pun masuk ke dalam mobil, lalu pergi menuju tempat yang mereka tuju.
Suasana ceria terlihat jelas di dalam mobil. Sepanjang perjalanan, Davi tak henti bercerita ata bernyanyi bersama Mak Onah, sementara Rere dan Liora menimpali.
Siang itu, Liora bisa merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu yang melihat anaknya tertawa bahagia. Rasanya begitu menenangkan dan ada rasa bagaikan kembang api yang meledak di dalam hatinya, menggelitik hingga membuatnya tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Liora bagaikan terhipnotos oleh tingkah ceria dan polos Davi, hingga untuk sesaat dia melupakan segala beban yang berada di pundaknya dan ikut tertawa bersama.
Sementara itu, di kejauhan seorang laki-laki terlihat mengawasi Liora, dengan sesekali mengambil gambar mereka.
dan setelah itu menghancurkan Roxy dan antek-anteknya..