Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 KALAU ADA KESEMPATAN
Anita Tumbler semakin terhenyak kaget saat dia melihat dua bocah kecil kembar berada di bar miliknya.
Dua bocah kembar yang mirip sekali dengan dua anaknya yang telah mati dua ratus tahun yang lalu, kini muncul kembali tepat di hadapan matanya.
Tanpa sadar Anita menggumamkan kedua nama anak-anaknya.
"Karen... Kaelan..."
Tiba-tiba sekujur tubuh Anita Tumbler bergetar keras bila mengingat nama kedua anak-anaknya.
"Bruk !"
Anita mendadak lemas lalu limbung sembari berpegangan erat-erat di tepi meja bar.
Degup jantungnya berdetak keras seakan-akan mau lepas dari tempatnya, sehingga membuat Anita terpaksa memegangi dadanya.
Namun detak jantungnya tak berhenti pelan dan terus berdetak kencang, Anita terpaksa terduduk kembali dengan wajah tertunduk dalam.
Tarsius Wilson segera tanggap seraya memberikannya segelas air minuman kepada Anita.
"Kau baik-baik saja, Anita ?"
Tarsius Wilson bertanya sembari memperhatikan Anita.
"Yah, aku baik-baik saja..."
"Minumlah dulu supaya hatimu tenang, Anita !"
"Terima kasih, Tarsius..."
Anita segera menenggak habis minumannya lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Apa kau agak baikan sekarang, Anita ?"
Anita tak menjawab namun dia beranjak berdiri lalu berjalan ke arah rombongan tamu yang datang ke bar miliknya.
Langkah kakinya terhuyung-huyung saat menghampiri rombongan tamu dari luar kota, dengan pandangan sayu.
Anita Tumbler mendekati mereka dengan hati-hati.
"Permisi, boleh saya tahu nama dua bocah kecil ini, mister ?"
"Ah, iya, boleh, mereka Azka dan Alana."
"Mereka sungguh lucu dan imut sekali, saya langsung jatuh hati pada mereka saat saya melihat keduanya untuk pertama kalinya !"
"Hahahahaha..."
Laki-laki yang mirip dengan Adrian Wilson hanya merespon dengan tawa lalu berkata.
"Mereka dua anak kembarku, maafkan kami jika telah membuat kekacauan di tempat ini."
"Oh, tidak apa-apa, bukan masalah, saya malah senang tempat usahaku berubah ceria dengan kedatangan mereka, mister..."
"Yah, Adrian !"
Laki-laki itu tersenyum manis seraya mengulurkan tangannya ke arah Anita Tumbler.
Mendengar nama laki-laki itu langsung membuat Anita tersentak kaget.
"Adrian... ?!"
Gumam Anita dalam hatinya dengan tangan gemetaran lalu terkepal kuat-kuat.
Anita tergugup cepat kemudian dia membalas uluran tangan laki-laki yang namanya mirip dengan mendiang suaminya, Adrian Wilson.
"Anita... Anita Tumbler... !"
Anita menyebutkan namanya sembari menjabat tangan Adrian erat-erat.
"Nama yang indah sekali secantik orangnya.."
"Te-terima kasih..."
Anita bersemu merah mendengar pujian dari Adrian, pengunjung baru di bar miliknya.
"Apa anda pemilik usaha bar ini ?"
"Ya, benar sekali, saya adalah pemiliknya, dan saya juga ucapkan terima kasih atas kunjungan kalian semua ke bar kecilku ini."
Anita menengok sekilas ke arah rombongan tamu yang duduk mengelilingi meja bar yang digabungkan menjadi satu.
"Apa mereka semua keluarga anda, mister Adrian?"
"Ah, yah, mereka keluarga besarku, kami sedang liburan panjang ke luar kota, sebagian juga rekan-rekanku."
"Oh, begitu, ya..."
Anita tersipu malu lalu mengalihkan pandangannya kepada dua bocah kembar bekelamin laki-laki dan perempuan yang sedang asyik bermain.
"Panggil saja dengan nama, terdengar lebih akrab lagi, Anita."
Mendengar namanya disebut dengan nada yang mirip nada suara mendiang suaminya langsung menyentakkan jiwa Anita Tumbler.
Hati Anita Tumbler hancur seketika saat teringat semua kenangan tentang Adrian Wilson di masa dua ratus tahun yang lalu.
"Ah, baik, mister, ehk, Adrian..."
"Tepatnya Adrian Wilson..."
Bagaikan dihujani jutaan martil dari atas langit, mendadak saja kepala Anita berubah pening seketika.
Anita sempat terhuyung-huyung lemas dan menabrak tepi meja bar di belakangnya.
"Ah, iya.., hahahaha..."
Anita mencoba tetap wajar meskipun dia tidak mampu menyembunyikan kegundahan hatinya saat ini.
Bagaimana bisa ada dua orang yang memiliki nama yang sama persis, terasa ini mustahil terjadi, pikir Anita semakin kebingungan.
"Memangnya kenapa, kau seperti mendengar nama hantu saja setelah mendengar nama panjangku disebut barusan, Anita ?"
"Ah, tidak, bu-bukan begitu, aku hanya terkesima saja mendengar namamu yang terdengar luar biasa."
"Bukan sindiran kan ?"
"Oh, tentu saja tidak, bukan suatu sindiran melainkan ini adalah pujian bagimu, Adrian ?!"
"Terima kasih kalau begitu aku ucapkan padamu, namamu juga sangat bagus, Anita Tumbler."
"Terima kasih..."
"Sama-sama..."
Keduanya saling melempar senyuman serta pandangan.
"Mama..."
Terdengar suara anak perempuan memanggil Anita dengan sebutan mama.
Sontak saja Anita tersentak kaget lalu mengalihkan perhatiannya kepada bocah kecil berkelamin perempuan yang ada di dekatnya.
"Mama ???"
Anita tampak kebingungan ketika bocah perempuan itu memanggilnya mama.
"Mama..."
Bocah kecil bernama Alana menarik ujung kemeja milik Anita Tumbler sambil menggoyang-goyangkan mainannya.
Sebuah boneka kayu mirip boneka sihir sedang dimainkan oleh Alana.
"Boneka apa ini, Alana ?"
"Boneka ajaib..."
"Apa kau membelinya sendiri ?"
"Kakak yang ada disana yang membelikan mainan ini buat Alana !"
Alana kecil mengarahkan ujung jarinya kepada karyawan bar yang berdiri jauh di dekat meja bar.
"Siapa ?"
Anita Tumbler segera memalingkan mukanya ke arah karyawan barnya dan langsung mengerutkan alisnya.
Karyawan bar yang diperhatikan oleh Anita Tumbler langsung salah tingkah sehingga dia agak sungkan.
"Hai, Pedro ! Kemari kau !"
Panggil Anita seraya melambaikan tangannya ke arah salah satu karyawan barnya.
Anita berkacak pinggang saat dia memandangi Perdro yang berjalan ke arahnya.
"Apa yang kau berikan pada bocah kecil ini, Pedro ?"
"Ma-maaf, bos, saya tidak bermaksud jahil tapi anak ini sangat terkagum-kagum pada boneka sihir itu jadinya saya tidak tega untuk membelikannya, bos Anita."
"Kau ini ! Bisa-bisanya beralasan saja !"
"Tapi sungguh bos, saya tidak bermaksud lainnya, saya hanya merasa iba pada bocah perempuan ini karena dia selalu saja memandangi mainan kayu itu, bos !"
"Siapa yang berjualan boneka terkutuk seperti ini ?"
"I-itu, seorang penjual wanita di luar bar ini, bos Anita !"
"Apa ? Memangnya siapa yang mengijinkan dia berjualan di depan barku ini ?"
"Saya juga tidak tahu, tapi saya sudah seringkali melihat penjual wanita asing itu berjualan di dekat bar ini, bos."
"Astaga, sudah berulangkali aku melarangnya kalau tidak diijinkan berjualan apapun di depan barku ini, Pedro !"
"Aduh, saya tidak tahu kalau ada penjual yang senekat itu, bos ?!"
Pedro menggaruk-garuk kepalanya yang botak seraya mengangkat kedua alisnya.
"Bawa aku melihat penjual mainan sihir itu sekarang juga !"
Tiba-tiba ujung kemeja Anita ditarik pelan oleh Alana, sehingga Anita menolehkan pandangannya kepada bocah perempuan bernama Alana itu.
"Ya, Alana, ada apa sayang ?"
"Mama, Alana mau main boneka ini, temani Alana main !"
Anita berubah kebingungan namun dia tidak dapat menolak permintaan Alana kecil yang memintanya bermain bersamanya, sehingga ganti dirinya yang berubah salah tingkah dibuat oleh bocah kecil perempuan yang mirip sekali dengan mendiang putri kandungnya.
"Ah, ba-bagaimana, ya ???"
"Mama..., main..., main..."
Kedua mata Alana kecil tampak berbinar-binar saat dia menatap kepada Anita Tumbler yang berhadapan dengannya.