karya Pertama Author 😊
Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Tertunda
__________________________________
Langkah kaki terburu-buru bergema di koridor lantai atas Mansion Aethelred. Reynard, dengan wajah pucat dan tangan yang gemetar hebat, menggendong tubuh Annelise yang lunglai ke dalam kamar utama. Di belakangnya, Bibi Rose mengikuti dengan isak tangis yang tertahan.
"Bibi, cepat hubungi Dr. Clara! Katakan padanya ini darurat!" teriak Reynard sambil merebahkan Annelise di atas ranjang. Matanya tertuju pada pergelangan kaki dan telapak tangan Annelise yang masih mengeluarkan darah akibat pecahan porselen.
"Dr. Clara sedang melakukan operasi, Tuan. Namun, putrinya, Dokter Elina, sudah dalam perjalanan ke sini. Dia seorang dokter bedah yang andal," jawab bibi rose
Tak lama kemudian, seorang wanita muda dengan jas putih masuk dengan tenang namun sigap. Ia adalah Elina, putri Dr. Clara. Tanpa membuang waktu, Elina mulai bekerja. Dengan ketelitian seorang ahli, ia membersihkan sisa-sisa dan pecahan porselen kecil yang tertancap di kulit Annelise. Ia memberikan bius sebelum menjahit luka robek di pergelangan kaki dan mengobati luka sayatan di leher Annelise.
Reynard berdiri mematung di sudut ruangan, memperhatikan setiap gerakan Elina. Pikirannya berkecamuk. Ia mengutuk kecerobohannya sendiri karena membiarkan pintu ruang kerja terbuka saat berbicara dengan Seraphina. Kalimat "rencana besar" yang ia maksudkan untuk menjatuhkan Seraphina justru menjadi senjata makan tuan yang menghancurkan hati Annelise.
Reynard melangkah keluar ke balkon kamar dengan napas memburu. Ia menutup pintu kaca di belakangnya rapat-rapat, seolah takut suaranya akan mengusik istirahat Annelise yang baru saja selesai diobati oleh Dokter Elina. Di bawah temaram lampu taman, ia menekan nomor Leonard.
"Leonard," desis Reynard begitu panggilan tersambung. Suaranya rendah namun tajam seperti sembilu.
"Ya, Tuan Reynard.’’ Jawab leonard dengan cepat.
"Ubah semuanya. Sekarang," perintah Reynard tanpa basa-basi. "Batalkan rencana pengungkapan di hari ulang tahun Annelise. Aku ingin mereka hancur bulan ini juga."
Hening sejenak di seberang telepon. "Tuan, bukankah Anda ingin mereka merasa di puncak kemenangan tepat di hari ulang tahun Nyonya, agar jatuhnya lebih menyakitkan? Jika kita memajukan jadwalnya, risiko mereka melarikan diri sedikit lebih tinggi."
Reynard mencengkeram pagar balkon hingga buku jarinya memutih. "Aku tidak peduli lagi dengan 'rasa sakit' mereka, Leonard! Annelise... dia mendengar percakapanku dengan Seraphina tadi. Dia salah paham. Dia mengira aku masih berencana membuangnya ."
Suara Reynard bergetar karena emosi yang tertahan. "Melihatnya terluka menyadarkanku, setiap detik aku membiarkan Seraphina dan Victor merasa bebas, itu adalah detik di mana Annelise hidup dalam ketakutan. Aku tidak bisa membiarkannya menderita hanya demi kepuasan dendamku. Keselamatan dan ketenangan pikirannya adalah prioritasku sekarang."
"Saya mengerti, Tuan. Jadi, apa langkah selanjutnya?" tanya Leonard, suaranya kini penuh keseriusan.
"Jalankan rencana jebakan minggu depan. Biarkan Seraphina dan Victor masuk ke mansion ini saat aku dan Annelise tidak ada di mansion . Aku ingin mereka mengira mereka punya kesempatan emas untuk mencuri surat aset asli di brankas ruang kerjaku. Berikan mereka akses yang mudah, kendurkan penjagaan di sayap barat, tapi pastikan setiap langkah, setiap ucapan, dan setiap gerakan tangan mereka terekam oleh kamera tersembunyi beresolusi tinggi."
Reynard menatap langit, seolah-olah ia bisa melihat masa depan di sana. "Siapkan jet pribadi untuk keberangkatan ke Asia Tenggara minggu depan. "
"Apakah Anda akan membawa Nyonya bersama Anda ke Asia Tenggara, Tuan?"
"Tidak," jawab Reynard setelah terdiam sejenak. "itu terlalu berisiko jika Victor mencoba melakukan serangan balasan di sana. Leonard, siapkan apartemen pribadiku di Sky Residence. Apartemen yang tidak diketahui oleh Seraphina maupun Victor. Aku ingin Annelise di sana selama aku pergi ke Asia Tenggara sendirian minggu depan."
"Apartemen aman yang tersembunyi... saya mengerti, Tuan," sahut Leonard.
"Pastikan apartemen itu dijaga oleh tim keamanan terbaik tanpa seragam. Annelise harus merasa dia sedang beristirahat, bukan sedang ditawan. Sediakan semua fasilitas medis yang diperlukan di sana. Aku ingin saat dia merasa tenang."
"Baik tuan , saya akan menjalankan tugas yang anda berikan."jawab Leonard dengan tegas.
Reynard menyeringai dingin. "oh satu lagi, biarkan mereka merasa menang sesaat saat memegang dokumen palsu di brankas itu. Biarkan dia merayakan kemenangannya dengan Seraphina. Setelah itu baru kita uangkap semuanya. Aku ingin mereka membusuk di penjara sebelum mereka sempat menyentuh seujung rambut Annelise lagi."
Reynard mematikan ponselnya dan kembali masuk ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Annelise yang kini terbalut perban putih bersih. Hatinya perih melihat sisa air mata yang mengering di pipi istrinya.
"Annelise, maafkan aku," bisiknya di telinga wanita itu. "Begitu kau bangun, aku akan menjelaskan semuanya. Tentang 'rencana besar' itu, tentang Seraphina, dan tentang betapa aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Ia akan menunggu. Ia akan menunggu sampai mata cokelat madu itu terbuka kembali, dan kali ini tidak akan ada lagi air mata penderitaan, melainkan hanya ada penjelasan dan juga cinta.
orang kaya mereka harus membusuk