Cerita ini adalah kelanjutan dari Reinkarnasi Dewa Pedang Abadi.
Perjalanan seorang dewa pedang untuk mengembalikan kekuatannya yang telah mengguncang dua benua.
Di tengah upaya itu, Cang Yan juga memikul satu tujuan besar: menghentikan era kekacauan yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, sebuah era gelap yang pada awalnya diciptakan oleh perang besar yang menghancurkan keseimbangan dunia. Demi menebus kesalahan masa lalu dan mengubah nasib umat manusia, ia kembali melangkah ke medan takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Pertarungan Penentuan di Tahap Awal
Angin berembus pelan di arena membawa ketegangan yang membuat para penonton menahan napas. Di tengah arena, dua sosok sudah saling berhadapan.
Di sisi kiri, Feng Zhi berdiri dengan tatapan percaya diri, pedangnya bersinar lembut di tangannya. Sementara di sisi kanan, Xue Lian tampak anggun dengan pedang tipisnya yang diselimuti kabut putih tipis.
Begitu juri utama memberikan aba-aba dimulai, Xue Lian bergerak lebih dulu. Tubuhnya melesat ringan seperti kabut, meninggalkan bayangan samar di setiap langkahnya hingga lima bayangan muncul dan mengepung Feng Zhi dari berbagai arah.
Namun Feng Zhi tetap tenang. Ia mengangkat pedangnya dan memancarkan cahaya keemasan, memantulkan serangan ilusi Xue Lian, tetapi serangan asli itu justru datang dari belakang dan meninggalkan goresan tipis di pundaknya.
Alih-alih panik, Feng Zhi hanya menyeringai, ia lalu melompat ke udara dan memancarkan cahaya terang yang menghapus seluruh ilusi kabut Xue Lian.
Pertarungan berlanjut sangat cepat. Pedang mereka beradu berkali-kali, dan suara dentingan logam menggema di udara. Xue Lian bergerak dengan lincah seperti penari, setiap ayunan pedangnya tampak indah sekaligus mematikan.
Kemudian kabut kembali menyelimuti arena, membuat pandangan Feng Zhi buram. Luka tipis lain kembali muncul di lengannya, sementara suara Xue Lian terdengar pelan dari balik kabut, mengatakan bahwa seseorang tidak bisa menyerang apa yang tidak terlihat.
Feng Zhi hanya tertawa kecil, lalu memancarkan cahaya suci yang menyapu bersih kabut tersebut. Begitu kabut lenyap, ia melesat maju dan menebas dengan seluruh kekuatannya.
Serangan itu menghantam Xue Lian dan melemparkannya ke tanah. Arena mendadak senyap saat ia terlihat berlutut, dan darah menetes dari sudut bibirnya, namun meski tubuhnya gemetar, ia tetap berdiri kembali dan menyatakan bahwa ia belum kalah.
Dengan sisa tenaganya Xue Lian memanggil kelopak teratai bercahaya yang memenuhi udara, sementara Feng Zhi membalas dengan cahaya terakhirnya. Kedua serangan bertabrakan di tengah arena dan mengguncang seluruh tribun.
Saat debu perlahan mereda, keduanya masih berdiri, tetapi Xue Lian akhirnya jatuh berlutut dan pedangnya terlepas dari tangannya.
Juri akhirnya mengumumkan kemenangan untuk Feng Zhi, sementara sorakan penonton bergema di seluruh arena. Namun Feng Zhi tidak menunjukkan kesombongan, ia justru mengulurkan tangan kepada Xue Lian, dan Xue Lian pun menerimanya dengan senyuman lemah.
Tidak lama setelah itu kemudian giliran pertarungan berikutnya dimulai. Han Fei dari Sekte Gunung Es maju dengan aura dingin yang membuat tanah di setiap langkahnya membeku tipis, sementara Lei Feng dari Sekte Petir Langit berdiri berhadapan dengannya, tubuhnya dipenuhi percikan listrik.
Begitu pertarungan dimulai, Lei Feng melesat dengan kecepatan luar biasa dan melancarkan serangan petirbya. Han Fei tetap tenang dan membentuk dinding es tebal untuk menahan serangan tersebut, lalu membalas dengan hujan jarum es.
Namun Lei Feng menepisnya dengan perisai petir, dan sebelum ia sempat menyadari, tanah di bawahnya membeku serta mengikat kedua kakinya.
Han Fei memanfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan serangan pamungkas, tetapi Lei Feng memecahkan belenggu es dengan ledakan petir yang besar dan melesat ke udara.
Ia membentuk tombak petir dan menghantam Han Fei dengan kekuatan dahsyat. Ledakan besar mengguncang arena, dan meski Han Fei masih berusaha berdiri, tubuhnya akhirnya berlutut karena luka yang cukup berat.
Juri mengumumkan kemenangan Lei Feng, sementara sorakan penonton kembali memenuhi udara.
Namun, seperti pertarungan sebelumnya, Lei Feng tidak merayakan dengan arogan, ia berjalan mendekati Han Fei, mengulurkan tangannya dan membantu lawannya berdiri kembali. Penonton bersorak bukan hanya karena kemenangan, tetapi karena rasa hormat yang tetap terjaga di antara dua kultivator muda yang hebat.
***
Pertarungan keempat segera dimulai. Dua sosok petarung telah berdiri di tengah arena, mereka saling berhadapan dalam diam. Di sisi kanan, Zhao Feng dari Sekte Seribu Pedang menatap tajam lawannya. Di punggungnya tergantung sebilah pedang panjang yang masih tersarung, namun aura tajamnya sudah terasa.
Sementara di sisi kiri, Wei Xian dari Sekte Bayangan Malam berdiri tanpa ekspresi. Tidak ada senyum, tidak ada amarah, hanya tatapan dingin yang seolah tidak memancarkan emosi apa pun.
Para murid dari kedua sekte memandang dengan wajah tegang, sementara para tetua duduk tenang namun penuh kewaspadaan, memperhatikan setiap gerakan kecil di arena. Juri utama melangkah maju dan mengangkat tangannya.
“Bersiaplah pertarungan di mulai!”
Zhao Feng bergerak lebih dulu. Dalam satu gerakan cepat, pedangnya terhunus dan memancarkan kilau tajam.
Ratusan tebasan cahaya meluncur dan memenuhi arena membentuk badai serangan yang tampak tak terhindarkan. Beberapa murid sampai terperangah melihatnya. Namun dalam sekejap, tubuh Wei Xian menghilang. Itu adalah langkah bayangan.
Serangan Zhao Feng hanya menebas udara kosong. Dari balik punggungnya, sebuah bayangan hitam muncul.
Zhao Feng bereaksi dengan cepat. Ia memutar tubuhnya dan menangkis serangan itu tepat pada waktunya. Benturan pedang menimbulkan percikan api, dan Zhao Feng melompat mundur sambil menatap serius ke arah lawannya.
Tanpa ragu, ia kembali melesat maju.
Ribuan garis cahaya berputar di udara, mencoba menyerang dari segala arah. Wei Xian masih berdiri diam, lalu menghilang lagi. tidak lama kemudian, lima bayangan muncul dan mengurung Zhao Feng.
Zhao Feng menarik napasnya memusatkan fokusnya, lalu menebas salah satu bayangan dengan tenaga penuh. Bayangan itu lenyap dan di saat yang sama ia langsung membalik tubuh serta melancarkan tebasan lain.
Cahaya pedangnya meledak terang, mengguncang arena. Wei Xian terpental, sementara darah menetes di sudut bibirnya. Namun ekspresinya tetap datar, seolah olah luka itu tidak berarti apa-apa.
“Menarik,” gumamnya pelan.
Bayangan pekat mulai menyelimuti arena. Udara berubah dingin dan kegelapan secara perlahan menutupi jarak pandang.
Arena tenggelam dalam kegelapan total. Para penonton bahkan tidak dapat melihat sosok kedua peserta. Zhao Feng mencoba berkonsentrasi, tetapi firasat buruk mulai muncul. Dari dalam kegelapan, sebuah palu besar menyambar tubuhnya.
Suara benturan keras menggema. Sementara Zhao Feng terpental dan darah mengalir dari bahunya. Saat kegelapan memudar Wei Xian sudah berdiri di hadapannya, masih dengan tatapan kosong. Zhao Feng berusaha bangkit tetapi tubuhnya kehilangan tenaga dan lututnya jatuh menghantam tanah.
Juri utama maju ke tengah arena.
“Pemenangnya, Wei Xian dari Sekte Bayangan Malam.”
Tidak ada sorakan. Suasana tribun terasa tegang dan berat. Wei Xian hanya menatap Zhao Feng yang masih berlutut, lalu berbalik pergi tanpa sepatah katapun. Tidak ada kebanggaan, tidak ada rasa puas, baginya ini hanya satu langkah kecil menuju tujuannya.
Sementara di tribun VIP, Cang Yan memperhatikan Wei Xian dengan sorot mata serius. Ia merasakan aura gelap yang familiar mengalir di tubuh pemuda itu.
“Ini… aura iblis,” gumamnya pelan.
Xue Er yang duduk di sampingnya menyadari perubahan ekspresinya. “Senior, apa ada sesuatu yang aneh?” tanyanya. Namun Cang Yan hanya menggelengkan kepalanya meski jelas ada hal yang membuatnya waspada.
Tak lama kemudian, juri memanggil peserta berikutnya untuk pertarungan terakhir tahap awal Pembentukan Inti.
Hei Yue dari Sekte Bayangan Malam melangkah naik ke arena dengan tatapan dingin yang menyimpan kesan kejam, sementara Fang Mu dari Sekte Petir Langit baru saja menerima pesan serius dari tetua sektenya agar memenangkan pertarungan ini demi menahan dominasi Sekte Bayangan Malam.
Fang Mu mengangguk lalu naik ke arena. Keduanya berdiri saling berhadapan. Aura petir beriak di tubuh Fang Mu, sementara Hei Yue tetap tenang bagaikan bayangan yang tidak memiliki emosi. Penonton menahan napasnya.
“Pertarungan dimulai!”
Fang Mu langsung melesat seperti kilat dan menghantamkan tinju petirnya, namun serangannya hanya menembus bayangan.
Hei Yue sudah muncul di belakangnya dan menghantam punggungnya. Fang Mu bertahan, lalu memanggil petir dari langit hingga aura listrik menyelimuti seluruh arena.
Hei Yue bergerak dengan cepat, tubuhnya seolah membelah menjadi beberapa bayangan, namun Fang Mu membalas dengan gelombang listrik yang memutus ruang geraknya.
Saat momentum terbuka, Fang Mu menghantamnya dengan pukulan terakhir. Tubuh Hei Yue terpental keras dan tak mampu lagi bergerak bebas.
Juri mengumumkan kemenangan Fang Mu, yang disambut sorak sorai yang masih diselimuti ketegangan. Fang Mu menarik napas panjang dan berjalan pergi, sementara Hei Yue yang masih terbaring hanya menatapnya dengan tatapan dingin, dan dalam suara pelan yang nyaris tak terdengar, ia berbisik.
“Menarik…”