NovelToon NovelToon
Dokter Nikah, Yuk!

Dokter Nikah, Yuk!

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Dokter / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Asazya

Kisah ini menceritakan tentang Adela Putri Wijaya (19) yang sebelum pendakian bersama teman-temannya ke salah satu Gunung, merasa hidupnya baik-baik saja dan tentram. Namun, setelah itu banyak kejadian-kejadian janggal yang terjadi hingga membuat penyakit jantung bawaan dari lahirnya sering kambuh.

Adel sering disapa seperti itu, bertekad untuk mengungkap semuanya sebenarnya siapa dibalik kejadian janggal yang terjadi dalam hidupnya.

Bersamaa dengan hal itu, Adel juga bertemu dengan Tomi Bagus Alamsyah dokter baru yang memiliki wajah tampan yang membuatnya merasakan cinta pada pandang pertama. Tapi siapa sangka umurnya terpaut jauh dari Adel.

***

"Dokter, nikah yuk!"

"Saya nggak suka bocil."

"Tapi aku suka sama dokter, gimana dong?"

"Yaudah nikahin aja dokter yang lain. Masih banyak kok, dokter yang jomblo di rumah sakit ini."

"Ih, maksud aku dokter Tomi. Aku maunya nikah sama Dokter Tomi."

"Maaf bocil, saya nggak denger ucapan kamu. Tiba-tiba kuping saya budeg."

"Yah, dokter Tomi jangan pergi!"

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asazya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Kebenaran

Awal berita Bima temukan meninggal karena bunuh diri itu sudah naik ke media. Sebenarnya, pihak Polisi menyatakan pernyataan yang mengejutkan kepadanya secara pribadi padanya, katanya ini pembunuhan, namun belum diketahui siapa yang membunuhnya. Hanya Alfa, pihak kepolisian dan tentu pihak yang mengautopsi yang tahu.

Walaupun terdengar licik, Alfa menyuruh pihak polisi yang menangani kasus Bima untuk menyembunyikan fakta dan mengatakan pada keluarganya bahwa Bima meninggal karena bunuh diri. Tentu menyatakan hal yang sama pada masyarakat.

Namun adik dari Bima, Bianca ternyata menemukan diary dan kertas sebelum Bima pergi ke pendakian yang menyatakan bahwa Bima sangat terobsesi pada Adel. Dia merasa patah hati karena Adel menolaknya.

Bianca beranggapan bahwa Adellah penyebab kakaknya meninggal. Mungkin saja Adel merasa tidak nyaman dengan kehadiran Bima lalu membunuhnya saat pendakian.

Alfa melakukan ini, karena tahu Bima sering bermain dengan Adel di rumahnya. Ia tahu mereka dekat, karena sudah memprediksi hal seperti ini pasti akan membawa-bawa nama anaknya dan pasti akan dimanfaatkan oleh pihak yang ingin dirinya jatuh. Alfa melakukan pencegahan sebelum terjadi, meski pada akhirnya berita itu tetap naik karena ketidakmampuan Albar mengurusi masalah.

Dan disinilah Alfa sekarang, mencoba menjalankan rencana-rencana. Ia menatap seorang lelaki yang selama ini menangani pengobatan penyakit anaknya, namun dia datang tidak hanya untuk menanyakan tentang perkembangan Adel. Ada sesuatu yang harus ia urus dengan Tomi.

"Kenapa Om memberikan dokumen ini pada saya?" tanya Tomi dengan tenang saat membuka dokumen yang diberikan oleh Alfa. Isinya terdapat data-data yang mengatas namakan ayahnya.

Alfa duduk dengan tenang di ruangan milik Tomi. "Dokumen itu adalah bukti-bukti kejahatan papah kamu selama menjabat sebagai pemilik perusahaan."

Tomi tertawa, merasa tidak percaya. "Ayah saya tidak mungkin melakukan hal ini. Saya hanya bertanya-tanya kenapa Om memberikan ini pada saya?"

Tomi menatap Om Alfa dengan tatapan bingung. Tentu Tomi tidak akan percaya dengan ucapan Alfa dan dokumen ini, karena yang paling tahu ayahnya seperti apa hanya Tomi dan keluarga. Toh, dokumen seperti ini mudah sekali untuk dimanipulasi apalagi oleh orang-orang berkuasa seperti Om Alfa.

"Mengakulah pada media, kamu adalah tunangan Adel dan sebentar lagi kalian akan menikah. Untuk imbalannya saya akan merahasiakan kejahatan ayahmu," kata Alfa to the point.

Rencana ini supaya berita pembunuhan yang menyeret anaknya yang tidak terbukti itu cepat berlalu, berganti dengan berita Tomi dan Adel yang terpaksa menunda pernikahan, karena Adel mengalami serangan jantung lalu koma. Alfa berharap empati dari masyarakat kembali dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Tomi.

Lagi-lagi Tomi hanya menanggapinya dengan tawa. Sebenarnya, apa yang sedang Om Alfa lakukan? Yang benar saja, Tomi harus melakukan pembohongan publik apalagi harus mengaku-ngaku menjadi pasangan Adel. Tentu, Tomi menolaknya karena hal itu tidak ada dalam prinsip hidupnya.

Alfa tersenyum tipis, ternyata anak yang dididik oleh Riska dan Dio tidak semudah itu untuk diluluhkan. Namun tidak akan membuatnya menyerah begitu saja, kali ini Alfa harus berhasil membuat Tomi menerima tawarannya.

Demi nama keluarganya, Alfa harus mengorbankan orang lain. Bukannya dalam hidup harus saling melindungi?

Tolong, ambil sisi positifnya. Dia mencoba melindungi keluarga Tomi dengan menyimpan rahasia kejahatan ayahnya karena jika ini terungkap keluarga mereka akan hancur. Sedangkan Tomi melindungi keluarganya dengan mengaku pada media, dia akan menikah dengan Adel.

Namun, karena isu yang menyebabkan Adel koma, pernikahan mereka tertunda. Mudah, bukan? Dan antar keluarga impas.

Alfa belum tahu kapan anaknya akan bangun, tapi dia yakin Adel tidak akan semudah itu pasrah dengan kehidupannya. Adel anak kuat, dia tidak akan meninggalkan dirinya seperti ibunya. Maka dari itu, Alfa akan berjuang sepenuhnya untuk hal ini.

"Saya tidak mengerti apa yang Om bicarakan," katanya tidak mau terpengaruh.

"Om silahkan keluar dari ruangan, jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi. Saya masih ada jadwal melayani pasien."

Tomi mengusir Om Alfa secara harus. Dia tidak punya waktu untuk membicarakan omong kosong. Apalagi, membawa-bawa pernikahan. Bukan Tomi anti dengan pernikahan karena pernah sekali gagal. Nanti ketika waktunya tiba, dia akan menikah tapi tidak dengan Adel. Meski tidak bisa dipungkiri, Adel pernah membuat pikirannya selalu gagal pokus.

"Baiklah, kamu menolak untuk kedua kalinya." Alfa berdiri dari duduknya. Dia terlihat hendak pergi menuruti pengusiran halus dari Tomi.

"Tapi saya tidak akan menyerah begitu saja, karena sebentar lagi kamu akan tahu kebenarannya dan tidak bisa menolak tawaran saya lagi," kata Alfa seraya melangkahkan kakinya keluar ruangan.

Tomi menghela napas. Tomi tidak mengerti dengan jalan pikiran orang-orang seperti Om Alfa, sulit dimengerti.

Tomi memutuskan untuk pokus kembali pada apa yang sedang dikerjakannya, anggap saja tadi hanya angin lalu.

***

Sementara di ruangan Adel sudah berganti penunggu, tidak ada Friska di sana namun ada Alfi, adiknya.

Anak remaja itu sedang duduk di tempat Friska biasa duduk. Tangannya menangkup wajah dengan siku yang menyangga pada pinggir ranjang.

"Kapan lo bangun, Kak? Sehari rasanya kayak setahun, gue ngerasa sepi nggak ada yang bawel di rumah dan nggak ada yang bisa gue marahin kalau Gema nangis," sendu Alfi, sudah dua hari kakaknya itu terbaring dengan mata tertutup.

Alfi tidak pernah merasa sekhawatir ini saat kakaknya bulak-balik ke rumah sakit, karena ujung-ujungnya pasti pulang ke rumah dan berkaktivitas seperti sediakala.

Namun, kali ini berbeda saat dirinya kedapatan menjaga Adel di kamar rawatnya, tidak ada sambutan menyebalkan dari sang kakak. Alfi hanya bisa melihat, nafas kakaknya yang teratur dengan wajah pucat pasi.

"Lo cepet bangun kak, di sini masih banyak yang harus lo urus. Lo belum ngasih ponakan buat gue, lo belum bisa ngasih uang hasil jerih payah lo sendiri ke anaknya Kak Albar, lo juga belum menggapai cita-cita. Ah, iya katanya lo pengen jadi pelukis? Ayo, bangun buka mata lo. Mama di surga pasti pengen ngeliat lo sukses," lanjut Alfi dengan nada sedih.

Dia menahan diri untuk tidak menangis dengan mengigit bibirnya kuat.

Dulu, ketika mama sakit Alfi tidak bisa menemaninya karena umurnya masih kecil, mungkin jika tidak ada foto yang terpanjang di rumahnya. Alfi sudah lupa dengan wajah mama, tapi ketika membandingkan fotonya dengan foto sang kakak. Mereka memiliki wajah yang sangat mirip, maka dari itu Alfi tidak mau kehilangan orang yang dicintainya. Sudah cukup mama, Alfi ingin menikmati hidup lebih lama bersama kakak perempuannya.

"Bangun, Kak...." Alfi mencium tangan Adel. "Maafin gue yang sering cuek, tapi bukan berarti gue nggak peduli gue sayang banget sama lo."

Tanpa Alfi sadari, dari sudut pelupuk mata Adel, ada satu tetes air mata yang mengalir melewati sela-sela pinggir matanya. Mungkin, Adel di alam bawah sadarnya mendengar apa yang tadi dibicarakan oleh Alfi. Siapa yang tahu?

Alfi menatap kondisi kakaknya tanpa bisa berbuat apapun, karena dokter sekalipun tidak bisa menjamin kehidupan Adel kedepannya seperti apa. Hanya doa dan keajaiban yang bisa membantu kesembuhan Adel untuk saat ini.

"Alfi?" tiba-tiba suara dari arah pintu membuat Alfi menoleh dan mendapati seseorang yang dikenalnya, Kak Dea teman kampus kakaknya.

"Kak Dea?" tanyanya bingung, kenapa Dea ada di sini. Harusnya dia kuliah kan?

"Lo udah makan?" tanyanya, Alfi langsung menggelengkan kepalanya. Dari pagi dia memang belum sarapan, hanya makan beberapa cemilan sisa semalam karena tidak mau meninggalkan kakaknya sendiri di kamar rawat.

"Boleh gue yang nunggu Adel setidaknya selama lo keluar nyari makan?" tawar Dea.

Alfi terlihat terdiam, menimbang tawaran dari Dea. "Emang nggak keberatan? Bukannya Kak Dea hari ini harus kuliah ya?"

Dea menggelengkan kepalanya, matanya terlihat sembab karena semalaman menangis. Tidak mungkin Dea masuk dengan keadaan Adel yang sedang sakit. Pikirannya tidak akan pokus. "Nggak apa-apa, Fi. Gue hari ini nggak ada jadwal kok."

Alfi mengangguk, bagaimanapun dirinya butuh asupan walau hanya duduk menunggu di kamar rawat.

"Oke deh, gue nitip bentaran ya Kak. Paling nyari makan ke kantin rumah sakit."

"Iya, Fi."

Tanpa menjawab lagi, Alfi melangkah keluar sambil menutup pintu. Sedangkan di ruangan itu Dea nampak berdiri menatap Adel. Pertahanannya runtuh kembali, dia menangis seraya mendekat ke arah Adel.

"Maafin gue Del, hiks." Dea memegang tangan Adel. "Gue pikir dengan janji pada diri sendiri untuk nemenin lo kemana pun. Rasa bersalah ini akan hilang. Tapi nyatanya nggak gue malah makin nggak bisa berpikir jernih. Gue stress liat kondisi lo..."

Dea menunduk, air matanya terus mengalir tanpa bisa ditahan. "Lo harus bangun dan bantu gue menguak kebenaran ini! Bima dibunuh oleh Lana! Mereka ngejebak lo! Berita itu bohong! Gue tahu semuanya! Lo harus bangun Del! Kita sama-sama mengungkap kebenarannya, lo pokonya harus bangun Del! Bangun! Gue mohon bantu gue...." Dea terlihat meraung karena Adel tidak kunjung membuka mata.

Dea memegang kepalanya merasa prustasi, dia sudah gila dengan rasa bersalah ini. Adel orang baik tapi Dea tidak kuasa untuk memberitahu kebenarannya karena dia diancam oleh Lana untuk tidak membongkar semuanya. Dea harus tutup mulut dan keluarganya akan selamat.

Sampai saat ini Dea belum tahu apa yang sedang Lana rencanakan, yang ia tahu saat pendakian itu dengan kedua matanya Bima didorong oleh Lana ke jurang. Namun, karena ketakutan Dea memekik kaget hingga Lana mengetahui keberadaanya. Lana menyuruhnya untuk bersikap biasa saja di depan Adel, seolah tidak ada yang terjadi.

Kemarin-kemarin Dea bisa berlakon seperti itu. Tapi, sekarang Dea menyesali semuanya. Jika Dea tidak ketakutan, Adel tidak akan terbaring di rumah sakit dengan kondisi koma. Dirinya memang pengecut!

Tangan Dea beralih memegang bahu Adel, dia gerakan lumayan kasar seraya menangis. Ia berharap temannya itu akan bangun.

"Gue harus lakuin apa supaya lo bangun, Del?! Gue emang yang paling salah karena menyembuyikan semua ini dari lo. Tapi itu karena mereka ngancem keluarga gue! Apa gue harus bilang sama ayah lo? Jawab Del, jawab! Jangan diem aja, gue takut bertindak sendi__"

"DEA!"

***

Maaf ya kalau bikin kalian pusing :) jadi kalau ada yang mengganjal tentang cerita ini sampein aja ya hehe:) biar langsung diperbaiki:) makasih hehe sudah mau baca.

1
momiie
alur cerita nya bagus 👍
momiie
thor kenapa ceritanya lara bisa menghilanng begitu aja didufan, gada alur nya silara pergi menghilang kemana????
Tety Yuni Astuti
dilanjut dong ceritanya... yg bahagia
Tety Yuni Astuti
bagus kok.... semangat thor...
Komang Budereni
bagus
Nayaka
saya koq sakit hati yah,kasian adel nya
Surya Dharma
mantap
Asazya
Yg udah baca cerita ini sampai end, makasih yaah. Jangan lupa mampir yuk ke cerita baruku Ayah untuk Azka. Ditunggu jejaknya❤️❤️
LANY SUSANA
ni crt konflik trus kapan pd bahagianya 🙄🙄🙄
mbok satu2 konflik di beresin moso digantung trus dan nambah konflik trus
hadeh lama2 jenuh jg ,kpn endingnya🤔🤔🤔
LANY SUSANA
wah hanya di dunia halu ni mas kawin 50 kg 🤩😁gimana gotongnya😂
Asazya: salah ketikk🤣
total 1 replies
LANY SUSANA
waw dokter nya duren ya 😂😂🤭
Arin
kpn Tomi tau klo Kiki bukan anakny🤔
Arin
haha spertny Kiki emng bukan anak pak dokter...semoga nanti cpet terbongkar amiin
Arin
hehe udh bgus Thor,sy mah hnya tinggl baca trs menarik Thor critnya...ya klo mslh ada slh nulis mah wjar orng yg nulis komen doang aja kdng sy slh nulis....😍sy mlh salut sma orng"yg pada bisa bkin novel"keren....👍
Arin
kok sy jdi ragu klo Kiki itu anak pak dokter y...hehe maav Thor hnya menghalu☺️
Arin
wah kirain msih single,ech gtaunya udh ada buntutnya....🤭
Arin
mampir semoga menarik...😍
Aeyma Rahma
Memang manusia kyk adit bisa meninbulkan berbagai penyakit🤭
Aeyma Rahma
Aku sudah curiga sama si Lana. Hmmm,,, siapa tuh yg datang
Aeyma Rahma
Aduh chapter yg bikin ngakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!