Apa salah jika memiliki kakak yang super posesif, ini tidak boleh itu tidak boleh?
Bahkan Papa dan Mama juga tidak pernah membatasi apa yang kulakukan. Hampir semua laki-laki yang mendekatiku akan mundur secara perlahan karena kakak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Blerina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Possessive Brother| 24
Malam yang sunyi menemani kedua sahabat yang masih saling berbicara di ponsel, tampak ada rasa bahagia yang menyeruak dalam hati mereka masing-masing. Kedua mata Aletha berbinar, mungkin senang rasanya bisa kembali bertemu dan berbicara dengan sahabatnya yang sudah lama tidak ditemuinya.
Sekali bertemu tadi sore sahabatnya justru langsung mendapatkan amukan dari sang kakak.
"Maaf ya tadi sore kakakku," gadis itu menundukkan kepalanya malu. Jika bukan karena Aletha yang mengijinkan Arka untuk mengantarnya ke rumah, semuanya pasti tidak akan terjadi.
"Iya nggak apa-apa, sudah biasa mendapatkan kejutan seperti itu. Lagipula aku senang, sudah mendapatkan lampu hijau dari mama , papa mu."
Pipi gadis itu bersemu, ia malu apalagi yang akan dirasakan seorang gadis. Begitu pula Aletha, walaupun sudah lama bersahabat dengan Arka tetapi perasaan suka yang terus menerus berputar dalam ruang kosong hatinya itu membuatnya bersemu malu. Ada rsa senang yang begitu menggebu juga, ibunya sudah mulai membantu meruntuhkan tembok pertahanan yang dibuatnya untuk Aletha.
"Aku benar-benar tidak enak, sekali bertemu sudah seperti itu. Besok nggak usah kesini ya, aku takut kak Elang kaya tadi."
Wajah Arka yang tadinya cerah, berubah murung mungkin sedikit kecewa. Aletha menyadari perubahan mimik wajah Arka yang berusaha ditutupi dengan senyum tipisnya.
"Nggak apa-apa, aku nggak takut sama kakakmu kok," Walau bagaimanapun juga ia tetap tidak bisa menolaknya, sebenarnya ada rasa senang yang semakin memuncak. Jalan satu-satunya yang bisa membuat Aletha bisa seperti kupu-kupu yang terbang bebas, ada didepan matanya.
"Yakin nih? Nanti sampai rumah nggak berani masuk awas aja."
"Yakin lah, apa sih yang nggak buat kamu Al."
"Astaga, Arka receh," Aletha tertawa geli mendengar laki-laki yang sedang melakukan panggilan video itu terdengar seperti biasanya.
Panggilan video itu diputuskan sepihak oleh Aletha ketika pintu kamarnya diketuk pelan, dengan langkah cepat ia berlari menuju pintu yang masih tertutup rapat. Disana seorang laki-laki bertubuh tinggi yang terlihat begitu lelah, Gean. Entah ada apa tiba-tiba dia datang ke kamar Aletha yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, Aletha mempersilahkan kakaknya itu masuk.
Mimik wajahnya terlihat murung dan kacau mungkin, gadis itu duduk dibalkon kamarnya. Duduk sedekat mungkin dengan kakaknya, ia sendiri bingung ingin bertanya apa. Sudah lama sekali ia tidak berinteraksi dengan Gean.
"Apakah dunia ini adil? Yang tidak bisa didapatkan terus digapai, sedangkan yang sudah didapatkan harus rela dilepaskan. Apakah perasaan cinta itu hanya sekedar mencintai dan dicintai?" Aletha hanya mengerutkan keningnya bingung, kakaknya itu bertanya tepat disampingnya tetapi ia hanya bermonolog seperti bukan bertanya.
Ingin sekali Aletha bertanya ada apa dengan Gean, tetapi mulutnya terus terbungkam dan terus mendengarkan kakaknya bermonolog tanpa membutuhkan jawaban pasti.
Semakin lama Aletha asyik dengan pikirannya sendiri, berkelana mencari jalan yang terbuka untuknya. Otaknya yang terus bekerja memutar setiap memori tentang masa kecilnya yang masih terasa begitu bahagia, bermain bersama teman-temannya yang begitu banyak. Tanpa ada dinding tebal yang menghalanginya, tetapi sekarang semuanya berakhir. Kehidupan yang dulu amat sangat terlihat menyenangkan itu harus berakhir karena dinding pembatas yang terus menerus berdiri dengan kokoh.
"Aletha, kamu kenapa?," Suara berat Gean menyadarkan lamunan gadis itu tentang kenangan masa lalu yang masih terus berputar.
"Kamu nangis?" Aletha bahkah tidak sadar jika air matanya sudah menetes dipipinya, dengan cepat ia berusaha menghapus air mata yang sepertinya tentang kenangan yang baru saja ia cari dalam memori otaknya.
"Kakak kenapa? Galau ya kak?," Gean tersenyum kikuk, ia sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba ingin menemui Aletha. Angin malam yang terus berhembus menemani keduanya saling berbagi cerita yang sudah lama tidak terbagi, kata demi kata terucap tanpa dicegah sampai Gean mengatakan jika dirinya mulai bimbang dengan Carol yang sudah lama menjadi salah satu tujuannya.
__________________________________________
Sementara dikamar yang lainnya seorang laki-laki sedang menatap langit yang gelap tanpa sinar rembulan, membiarkan hembusan angin yang dingin itu menusuk kulitnya. Pikirannya berkecamuk didalam dirinya, ada suatu kebimbangan hati yang terus menerus berputar mengelilingi garis waktu miliknya.
Impiannya yang sudah berusaha diraih dengan keringat yang terperas, dipatahkan oleh satu kalimat yang tidak ada dalam catatan masa depannya. Buah apel yang sudah berada dalam genggaman tangannya harus direlakan begitu saja, tetapi ia bukan orang yang akan menyerah dengan satu kalimat. Mungkin butuh puluhan atau bahkan ratusan kalimat yang sama sekali tidak akan didengarkan olehnya, walaupun akan terdengar lebay tetapi semua impiannya harus tercapai. Bukankah itu tujuan mengapa memiliki sebuah impian?
Elang terus mengingat kalimat yang tanpa sengaja ia dengar dari percakapan kedua orangtuanya, tangannya terkepal dengan begitu erat. Otot-otot tangannya yang tidak terbungkus kain baju itu terlihat, ia tidak akan meluapkan amarahnya semudah seperti merobek kertas.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu!," Hanya satu kalimat yang keluar dari mulutnya. Kalimat yang penuh penekanan pada setiap kata yang terucap, ia tidak akan mundur untuk melawan semua orang. Sekalipun ia harus melepaskan namanya sendiri, ia harus mendapatkan yang ia inginkan.
Tangan satunya yang sedari tadi bersembunyi dibalik saku celana itu terangkat, dengan sebuah kertas foto disana. Kedua matanya terus memandangi penuh dengan emosi yang memuncak, tidak akan ada yang bisa mencegahnya saat ini. Katakanlah perasaan sudah mulai berubah menjadi sekumpulan obsesi, atau mungkin rasa cintanya terlalu mendalam membuatnya menjadi semakin gila.
"Kerjakan yang ku suruh besok pagi!".
Setelah mengatakannya diponsel ia segera memutuskan panggilan singkat itu dengan cepat, ia tidak ingin rencananya gagal.
Setelah memastikan semuanya, ia meninggalkan balkon kamarnya dengan pintu tetap terbuka mempersilahkan angin berhembus masuk kedalam kamarnya. Kamar yang terus akan terlihat indah walaupun langit yang sesungguhnya tengah murung, langit miliknya akan tersinari rembulan tiruan dalam bentuk lukisan.
Laki-laki itu memandang langit-langit kamarnya yang terlihat selalu menarik, bintang gemintang terlihat seperti nyata. Berkelip seperti kunang-kunang yang terbang, dan seakan menyampaikan pesan jika ia akan terus memberikan setitik cahaya harapan. Lengkungan senyum yang mengerikan itu tercetak indah dibibir tebalnya, dalam pikirannya hanya sebuah bayangan yang terus terpampang disana. Senyuman gadis yang terus membuatnya menggila itu mengembang seperti sebuah cahaya.
🌹🌹
Adakah yang tahu cara menjaga mood yang terus menerus hancur karena sebuah kesedihan? Seperti Mawar yang terus kehilangan mahkotanya, semuanya terasa belum sempurna.
Makasih semuanya yang terus merelakan waktu untuk membaca karya amatir yang terus ku rapikan, mungkin lama-lama ada yang kurang tetapi mohon bantuannya. Tanpa kalian aku tidak memiliki semangat untuk terus melanjutkan.
Bagian ini aku persembahkan untuk seseorang yang penting untukku. 🌹 Selamat membaca semuanya...
Salam BiruBlerina.
jangan ada pelakor lah....
tak masuk di akal????
ini aku yg bodoh apa thoor nya yg ngelantur????