NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Rumahhantu / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 010 : Lintani Neraka Di Kamar 402 (Bertemu Thoriq Lagi!)

Hujan di luar sana bukan lagi sekadar gerimis; ia telah menjelma menjadi badai yang seolah ingin meruntuhkan atap Rumah Sakit Adio.

Di lantai empat, realitas seakan terkelupas, memisahkan logika medis dengan kengerian metafisika.

Oksigen terasa tipis, digantikan oleh hawa busuk belerang dan anyir darah yang menguap dari celah pintu kamar 402. Bau itu begitu pekat, seolah-olah kematian sendiri sedang bernapas di balik kayu tersebut.

Rachel Gautama berdiri di ambang pintu. Penampilannya adalah definisi dari kehancuran yang dipaksakan.

Kaus putihnya sudah basah oleh keringat dingin dan darah segar yang mengucur deras dari kedua lubang hidungnya. Ia terhuyung sejenak, memegang bingkai pintu untuk menjaga keseimbangan, namun matanya memancarkan kobaran otoritas yang mengerikan.

Mata itu tidak lagi menunjukkan kelelahan, melainkan tekad seorang Muara yang siap menampung seluruh kutukan.

"Cak Dika, Mas Suhu... keluar. Bawa yang lain pergi jauh dari koridor ini," perintah Rachel. Suaranya pecah, berat oleh beban energi yang ia tahan di ulu hatinya.

"Hel, kamu bisa mati! Kamu bahkan belum pulih dari serangan di Jepang!" teriak Cak Dika.

Suaranya menggelegar di lorong rumah sakit yang sepi. Cak Dika mengepalkan tangannya, membuat urat-urat di lengannya menonjol—tanda bahwa Senopati Maung di dalam dirinya sedang menggeram gelisah.

"Lihat dirimu, Rachel! Kamu bahkan hampir tidak bisa berdiri tegak!"

"Keluar!" Rachel membentak, dan kali ini suaranya bergema dengan nada ganda—suara Rachel yang bercampur dengan geraman agung Nyai Ratu dari dimensi sebelah.

Getaran suara itu membuat lampu-lampu di langit-langit berkedip trauma.

"Jika kalian di sini, kalian hanya akan menjadi santapan bagi mereka. Aku tidak bisa menjaga kalian sambil bertarung. Biarkan para Pastor tetap di posisinya. Aku butuh doa mereka sebagai pasak bumi agar gedung ini tidak runtuh ke dimensi bawah."

Mas Suhu menatap Rachel dengan tatapan pedih. Sebagai sesama pemilik khodam tingkat tinggi, ia bisa merasakan bahwa lampu kehidupan Rachel sedang meredup demi menyalakan api kekuatan yang luar biasa besar. Ia menarik bahu Bella, Rara, dan Adio untuk mundur ke balik garis pembatas yang sudah ia tandai dengan taburan garam suci.

"Hati-hati, Hel. Pangeran bilang, mereka bukan cuma enam. Mereka adalah ribuan kebencian yang menyatu dalam satu nama: Legion," bisik Mas Suhu sebelum pintu tertutup.

Rachel tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kamar 402, lalu pintu besi itu menutup dengan sekali sentakan energi tanpa sentuhan tangan. Brak!

Di dalam, Amelia sudah tidak menyerupai manusia. Gadis remaja itu berjongkok di atas tempat tidur besi yang kini melengkung ke bawah karena beban energi yang tidak wajar.

Kulit Amelia pecah-pecah di area persendian, mengeluarkan cairan hitam kental yang berbau bangkai. Ia menatap Rachel dengan seringai yang merobek sudut bibirnya sendiri hingga ke telinga, memperlihatkan gusi yang membusuk.

"Rachel... Si Muara yang sekarat," Amelia mendesis. Suaranya berlapis-lapis, seolah ada ribuan orang yang bicara serempak dalam satu tenggorokan.

"Kenapa kau membawa orang-orang munafik ini ke hadapanku? Kau pikir salib perak dan air suci bisa menghentikan kami?"

Amelia menoleh ke arah Pastor Thomas yang mulai mendaraskan doa dengan tangan gemetar.

"Thomas... kau masih ingat gadis di panti asuhan itu? Gadis yang kau biarkan kelaparan karena kau terlalu sibuk dengan kesombonganmu? Kau pikir Tuhanmu tidak melihat?"

"Jangan dengarkan dia, Thomas! Fokus pada Litani!" seru Pastor Elias, meski ia sendiri berkeringat dingin saat melihat Amelia mulai merangkak di dinding dengan posisi tubuh terbalik.

"Diam kau, Legion!" bentak Rachel. Ia batuk, dan gumpalan darah hitam jatuh ke lantai porselen.

"Urusanmu denganku. Jangan sentuh mereka dengan mulut kotor kalian!"

Rachel kemudian duduk bersimpuh di lantai yang dingin, tepat di depan Amelia yang kini bergelantungan di jeruji jendela.

Rachel memejamkan mata, membiarkan pertahanan batinnya terbuka lebar. Ia mulai merapalkan mantra terlarang—mantra Manunggal yang menyatukan seluruh sel tubuhnya dengan energi Nyai Ratu.

"Pastor! Mulailah!" teriak Rachel.

Pastor Thomas dan Pastor Elias mulai mendaraskan Litani Orang Kudus dalam bahasa Latin yang cepat dan ritmis.

"Lord, have mercy on us... Christ, have mercy on us..."

Amelia meraung, suaranya meledakkan seluruh botol infus di ruangan itu. Ia melompat dari dinding, mencengkeram leher Rachel dengan kuku-kuku yang sudah lepas, menusuk langsung ke daging leher.

Darah menyembur, mengenai wajah Amelia. Rachel tidak menghindar. Ia justru membiarkan dirinya menjadi samsak bagi enam iblis itu.

Ia merasakan tulang rusuknya retak saat Amelia menendang dadanya. Ia merasakan jiwanya tercabik saat iblis bernama Nero mencoba membakar saraf-sarafnya dari dalam.

Pertarungan itu sangat sadis. Di luar pintu, Adio dan yang lain hanya bisa mendengar suara hantaman daging ke tembok, suara tulang yang patah, dan jeritan Rachel yang memilukan.

Rachel memuntahkan darah segar yang begitu banyak hingga menyelimuti lantai tempatnya bersimpuh. Namun, ia tidak melepaskan cengkeramannya pada Amelia. Ia menarik paksa seluruh entitas itu ke dalam dirinya sendiri.

Hingga akhirnya, kesadaran fisik Rachel terputus sepenuhnya. Di dunia nyata, monitor jantung yang dipasang Adio mengeluarkan bunyi panjang yang mengerikan: TIIIIIIIIIIIIIT.

Rachel Gautama dinyatakan mati secara medis. Lima belas menit yang melumpuhkan waktu bagi semua orang di koridor itu. Namun, di dimensi yang berbeda, Rachel tidak merasakan sakit lagi.

Ia berdiri di sebuah padang yang luas tanpa ujung. Langitnya berwarna abu-abu pekat dengan kilatan petir ungu yang membelah cakrawala tanpa suara.

Di depannya, sebuah lubang neraka menganga lebar—sebuah pusaran kegelapan yang berdenyut, tempat Legion mencoba menyeretnya masuk. Rachel merasa tenaganya habis.

Jiwanya terasa seperti pakaian lama yang robek di sana-sini. Ia hampir menyerah pada tarikan kegelapan itu, hingga sebuah tangan kokoh mencengkeram jemarinya.

"Thoriq?" bisik Rachel. Suaranya tidak lagi serak. Di alam ini, ia kembali utuh dan cantik.

Di sana, berdiri sosok pemuda yang sangat ia rindukan. Thoriq, kekasihnya yang tewas bertahun-tahun lalu demi melindunginya.

Wajahnya masih sama—tenang, dengan senyum tipis yang selalu menjadi jangkar bagi Rachel di masa-masa tersulitnya.

"Belum waktunya, Hel," suara Thoriq bergema, hangat dan menenangkan, seolah-olah ia tidak pernah pergi.

"Aku lelah, Thoriq... aku ingin bersamamu di sini. Di sini begitu tenang, tidak ada iblis, tidak ada tanggung jawab sebagai Muara," Rachel menangis, air mata spiritualnya jatuh di padang hampa itu.

"Kenapa aku harus kembali ke raga yang hancur itu? Biarkan aku ikut denganmu."

Thoriq tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik tangan Rachel, membawa gadis itu melihat sebuah pusaran cahaya yang tiba-tiba terbuka di depan mereka. Sebuah penglihatan masa depan yang menggetarkan jiwa.

Rachel melihat sebuah bangunan raksasa yang menyeramkan di tengah kota yang gelap. Di depan gedung itu, berdiri seorang pemuda berusia awal dua puluhan dengan perawakan tegap dan tatapan mata yang sangat berwibawa.

Di leher pemuda itu melingkar jimat kalung milik Rachel, dan di jari-jarinya tersemat cincin milik Cak Dika dan jimat milik Bella.

"Siapa dia, Thoriq?" tanya Rachel terperangah.

"Arka Kumitir Gautama. Keponakanmu," bisik Thoriq.

"Anak Laras dan Aldo yang lahir di antara ambang kematian. Dia adalah pewaris seluruh jimat Gautama yang akan mempersatukan kembali kekuatan yang tercerai-berai. Dia yang akan berdiri saat dunia ghaib dan nyata tak lagi memiliki batas. Kau harus ada di sana untuk membimbingnya, Rachel. Kau adalah pondasinya."

Di belakang Arka, bayangan-bayangan hitam besar berdiri tunduk—para khodam yang kini telah bersatu di bawah perintahnya. Rachel menyadari bahwa setiap tetes darah yang ia tumpahkan di kamar 402 adalah untuk memastikan pemuda ini tetap hidup.

Tiba-tiba, enam pasang tangan hitam legam muncul dari lubang neraka di bawah kaki mereka, mencoba menarik jubah Rachel.

Rachel tersentak, rasa takut kembali merayap. Namun, Thoriq dengan sigap memeluk Rachel dari belakang, menyatukan energi cinta dan perlindungannya ke dalam sukma Rachel.

"Ayo, Hel. Sekali lagi. Dorong mereka pulang!" teriak Thoriq.

Bersama-sama, mereka berdua mendorong kembali enam entitas iblis itu. Dengan satu sentakan cahaya yang keluar dari penyatuan jiwa mereka,

Legion terseret masuk ke dalam lubang neraka yang kemudian menutup rapat dengan suara ledakan ghaib yang menggetarkan dimensi tersebut.

Thoriq menatap Rachel dengan tatapan paling memilukan. Ia tahu ini adalah perpisahan lagi. Ia mulai mendorong Rachel menjauh, menuju sebuah cahaya putih yang menyilaukan di ujung padang.

"Thoriq, jangan! Aku berat melepasmu!" Rachel meronta, mencoba menggapai tangan kekasihnya.

"Hiduplah untukku, Rachel. Ada seseorang yang sedang meraung memanggil namamu di sana. Dia membutuhkanmu lebih dari aku saat ini," Thoriq tersenyum manis, lalu dengan satu dorongan paksa, ia melepas pegangan tangan mereka.

"Kita akan bertemu lagi, tapi tidak hari ini."

..._____...

"SATU... DUA... TIGA! SHOCK!"

DUG! Tubuh Rachel melenting di atas brankar rumah sakit. Adio meraung, wajahnya sudah tidak keruan karena air mata dan peluh.

"Lagi! Naikkan voltasenya! Rachel, kumohon! Jangan tinggalkan aku!"

Adio sudah hampir menyerah ketika tiba-tiba, tubuh Rachel tersentak hebat. Gadis itu mengambil napas panjang secara mendadak, seolah-olah baru saja muncul dari dasar samudera yang paling dalam tanpa oksigen.

HAAAAAH!

Paru-parunya terisi udara dengan paksa. Monitor jantung mulai kembali berdetak, meski lemah dan tidak beraturan. Adio merosot di samping brankar, ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh Rachel yang masih sedingin es.

"Terima kasih... terima kasih Tuhan!" Adio berteriak, suaranya parau karena emosi yang meledak.

Ia memeluk Rachel begitu erat, seolah ingin memberikan kehangatan tubuhnya sendiri agar Rachel tetap tinggal.

"Aku benar-benar takut kehilanganmu, Hel! Jangan pernah lakukan ini lagi, aku mohon!" ujarnya parau.

Rachel yang masih sangat lemah, hanya bisa tersenyum tipis. Seluruh tubuhnya terasa remuk, setiap sarafnya terasa seperti habis terbakar oleh energi Legion.

Namun, saat kulit Adio bersentuhan dengan kulitnya dalam dekapan yang begitu posesif itu, sebuah ledakan penglihatan kembali muncul di benak Rachel.

Ia tidak lagi melihat padang abu-abu. Ia melihat sebuah taman bunga yang sangat indah di bawah sinar matahari yang hangat.

Di sana, ia melihat dirinya sendiri mengenakan gaun putih, dan Adio mengenakan setelan rapi. Adio menariknya ke dalam pelukan, lalu mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Suasana di taman itu begitu damai, begitu nyata, hingga Rachel bisa mencium aroma mawar di sana.

Rachel membulatkan kedua matanya. Apakah ini kemampuan melihat masa depan? Apakah ini kemampuan baru yang terbuka setelah aku mati suri?

Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia memilih menyimpan rahasia tentang taman bunga dan tentang Arka Kumitir sendirian di dalam hatinya. Ia belum siap membagikan beban masa depan itu kepada siapa pun.

"Rachel!" suara Melissa memecah kesunyian.

Setelah Adio sedikit melonggarkan pelukannya, Melissa langsung menyambar tubuh Rachel. Ia memeluk Rachel dengan isak tangis yang pecah, membenamkan wajahnya di leher Rachel.

"Rachel... kamu jahat! Aku pikir kamu benar-benar pergi! Aku bersyukur kamu kembali, Hel!" Melissa terisak-isak, tubuhnya gemetar hebat karena lega yang luar biasa.

Lalu Marsya ikut bergabung, ia memeluk kakak kembarnya itu dari sisi lain.

"Mbak... jangan mati dulu. Aku takut kalau Mbak nggak ada," Marsya menangis sesenggukan, martabatnya sebagai gadis yang kuat runtuh seketika di depan maut yang hampir menjemput kakaknya.

Rachel hanya bisa tertawa kecil di tengah rasa sakitnya. Suara tawa yang terdengar sangat kontras dengan wajahnya yang masih berlumuran darah.

"Kalian ini... aku cuma jalan-jalan sebentar mencari udara segar," candanya lemah.

Cak Dika dan Mas Suhu mendekat ke sisi brankar. Cak Dika mengusap matanya yang merah dengan kasar menggunakan punggung tangan.

"Candaanmu nggak lucu, Hel. Lima belas menit tanpa detak jantung... kamu hampir membuat kami semua gila." tutur Cak Dika. Hatinya rasanya seperti dicabik-cabik ketika melihat adik sepupunya tak bernafas tadi.

"Cak Dika, Mas Suhu... terima kasih sudah menjagaku dari luar," bisik Rachel.

Mas Suhu tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca penuh rasa hormat.

"Pangeran bilang, Muara Gautama malam ini telah lahir kembali dengan kekuatan yang tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh manusia biasa. Selamat datang kembali, Rachel."ujar Mas Suhu pada Rachel.

Di sudut ruangan yang gelap, sosok Albert, Barend, dan Anako tampak berdiri. Mereka tidak bicara, tapi dari tatapan mata hantu-hantu itu, terpancar rasa haru yang mendalam.

Anako, hantu kecil Jepang itu, membungkuk sangat dalam ke arah Rachel—sebuah tanda pengabdian total kepada sang pemilik jimat yang baru saja menaklukkan neraka.

Malam itu, di tengah kehancuran kamar 402 yang penuh darah dan kotoran, mereka merayakan kehidupan.

Rachel Gautama telah kembali. Ia membawa pulang rahasia masa lalu dari Thoriq, dan sebuah kunci masa depan tentang Arka Kumitir yang ia simpan rapat dalam jiwanya.

Perang melawan Legion memang berakhir malam ini, tapi perjalanan besar keluarga Gautama baru saja dimulai.

Rachel menatap Adio yang masih memegang tangannya erat, lalu tersenyum lebar.

"Aku lapar... boleh minta cilok lagi nanti?" tanya Rachel padanya. Detik itu juga pertanyaan itu membuat mereka tertawa.

Rachel Gautama, maskot yang cukup unik dengan jenaka yang terkadang absurd memang.

1
Ela Jutek
ternyata kau gak berjodoh dengan Thoriq ya Hel
Ela Jutek: wes gek turu kono wes wengi
total 8 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
luar biasa ceritanya kakak Author. aku sebenarnya kurang suka cerita horor, tapi pas baca ini ternyata beda😁😁, ku kira bakal gentayangan terus hantunya ternyata tidak. malah hantunya ngajak debat juga😁😁, sukses terus kakak karya barunya, semoga berhasil jadi karya yang paling Top 👍👍
Stanalise (Deep)🖌️: 🤣 Maacih kakak, btw di season ini aku lebih fokus ke gerbang sejarah kelam dunia kak. Yang urban legend dan kisah nyata. biar orang2 tahu juga. kalau peristiwa gila di masa lalu itu ada.
total 1 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Wah yang lagi bahagia. Ayo para hantu kalian menepi dulu🤣🤣
Ela Jutek
kerennn sih ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kok diragukan 😁😁. jiwa penyelamat sudah mendarah
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kok di lawan🤣🤣
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Yang lagi takut kenapa napa dengan Rachel ini🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
apa yang dibilang Rachel sangat benar banget lho
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
cieee Adio berani jujur tidak kamu nantinya 😁😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Untung Rachel selamat. semoga nanti bisa bertemu lagi dengan Thoriq kamu
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
tak bisa membayangkan lagi aku, serem banget 🤭🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kamu sangat luar biasa, jiwamu sangat pemberani 👍👍
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Sabar Marsya, kamu harus kuat supaya misi kalian bisa terselesaikan
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
haduuuh dimakan apa ini maksudnya
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
menyeramkan tapi bikin penasaran ingin tahu 😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
uhuk uhuk uhuk .. cie cie cie 🤣🤣
Ela Jutek
ikut petualangan lagi nie
Ela Jutek: ngokeh deh😉
total 4 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Nah baru tahu kan kamu😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Semoga Rachel berhasil mengembalikan sukma klaus ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Ayo Marsya senangat bermain cantik juga ya😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!