Meyra merasa sangat aneh karena kini dia berada di sebuah pulau yang dia tidak tahu entah di mana, sejauh mata memandang hanya ada lautan saja.
Setelah dia mencari tahu, ternyata Meyra terdampar di dunia lain. Demi bisa kembali ke bumi, dia rela menerima tawaran untuk menikah dengan siluman singa jantan yang dia temui di sana.
"Apakah aku bisa pulang ke bumi jika menikah denganmu?"
"Tentu saja, aku juga bisa membantumu untuk mengungkapkan kejahatan yang menimpa ayahmu."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Langsung kita kepoin yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran Lion
Lion terlihat begitu gelisah karena saat keluar dari dalam kamarnya bersama dengan Meyra, Liliana sudah tidak ada di sana.
Dia sempat menyangka jika Liliana sedang pergi ke toilet, tapi setelah menunggu lama, ternyata tidak ada Liliana di sana.
Akhirnya Meyra memutuskan untuk melihat rekaman cctv, Lion semakin merasa khawatir kala ibunya pergi bersama dengan William.
Namun, satu hal yang dia anehkan. Kenapa William terlihat begitu perhatian terhadap ibunya tersebut, tidak ada William yang terlihat galak dan juga tempramen.
Dia ingin sekali menyusul ibunya ke rumahnya, tapi Meyra berkata jika kedua pasangan paruh baya itu harus berbicara secara baik-baik.
Mereka harus menyelesaikan masalah yang terjadi secara dewasa, berdua saja tanpa adanya Lion ataupun Meyra.
Awalnya Lion tidak mau menuruti keinginan dari istrinya tersebut, tapi setelah Meyra membujuk akhirnya Lion pun mengerti dan paham. Meyra tersenyum senang.
Akhirnya Meyra dan Lion menghabiskan waktu hanya dengan tiduran di dalam kamar seraya saling memeluk, tidak ada pergulatan panas di atas kasur.
Hanya saling menyalurkan kasih sayang dan saling menguatkan, Meyra sengaja melakukannya agar Lion tidak terlalu khawatir terhadap Ibunya.
Pukul tiga sore ponsel milik Meyra terdengar berdering dengan sangat nyaring, ternyata itu adalah telepon dari Liliana.
Baik Merya ataupun Lion, merela langsung bangun dan turun dari tempat tidur. Mereka penasaran dengan siapa yang menelpon.
Saat tahu jika itu panggilan telpon dari ibunya, dengan cepat Lion mengambil alih ponsel tersebut dari tangan istrinya.
Meyra hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari suaminya itu, tapi dia paham jika itu terjadi karena Lion pati khawatir dengan keadaan Ibunya.
"Ibu, kenapa pergi begitu saja? Kenapa membuat aku khawatir? Ibu sekarang ada di mana? Ibu tidak apa-apa, kan?" tanya Lion beruntun.
Lion benar-benar tidak sabar untuk mendengarkan apa yang terjadi sebenarnya, dia juga sudah tidak sabar ingin mendengar kabar dari ibunya.
Mendengar pertanyaan dari putranya yang beruntun, Liliana merasa sangat bahagia. Padahal, ia sempat berpikir jika Lion tidak akan menerima dirinya begitu saja.
Karena dirinya tidak pernah bertemu dengan putranya itu, dia bahkan sempat berpikir jika Lion dan juga Lucas akan membenci dirinya. Karena, dia tidak bisa melawan kehendak dari kedua orang tuanya.
Dia tidak terus bisa berusaha untuk bertemu dengan Lucas dan Lion, tapi malah menerima pernikahannya bersama dengan William.
Pernikahan bisnis, pernikahan demi kelancaran usaha dari keluarganya. Pernikahan yang tidak pernah membuat dirinya bahagia dalam seumur hidupnya.
"Ibu baik, Sayang. Maaf kalau membuat kamu khawatir, maaf untuk hari ini. Oiya, Sayang. Ajaklah istrimu ke rumah Ibu, ada yang ingin Ibu bicarakan pada kalian. Ibu juga mau kita makan malam bersama di rumah Ibu, bisa?"
Liliana berucap dengan penuh harap, dia ingin sekali menikmati waktu bersama sampai malam tiba bersama dengan anak dan juga menantunya.
Rasanya setelah kepergian William dia merasakan ada sesuatu yang hilang, memang William selalu galak dan bersikap tidak baik terhadap dirinya selama berumah tangga.
Namun, setelah kejadian ini dia merasa sangat bersalah terhadap lelaki itu. Karena lelaki itu juga berbuat seperti itu tentu berawal dari dirinya.
Dia sangat sadar jika saja dia bisa bersikap baik, pasti William juga akan bersikap baik kepada dirinya.
Sayangnya, rasa cintanya terhadap Lucas begitu besar. Rasa bersalahnya terhadap Lion begitu besar, sehingga dia tidak bisa bersikap baik kepada William.
Hanya ada rasa takut yang selalu terbayang kala dirinya berumah tangga dengan William, tidak pernah ada rasa cinta sedikit pun.
Mendengar permintaan dari ibunya, Lion terlihat mengalihkan pandangannya kepada Meyra. Meyra yang memang mendengar percakapan antara Lion dan juga Liliana, langsung menganggukkan kepalanya.
Lion terlihat begitu senang, dia langsung memeluk Meyra dan mengecup bibir istrinya beberapa kali. Setelah itu, dia pun berkata.
"Ya, Ibu. Kami akan segera ke sana," kata Lion.
Sebenarnya Meyra sudah sangat tidak sabar ingin segera pergi ke bukit bunga, dia ingin mencari pintu menuju alam di mana ibu dan ayahnya terjebak.
Sayangnya, dia juga tidak bisa mengabaikan perasaan Lion. Dia sangat tahu jika suaminya itu ingin sekali menghabiskan waktu bersama dengan ibu kandungnya, Meyra mengalah.
Dia berpikir, mungkin besok masih ada waktu untuk dirinya mencari pintu tersebut. Hari ini akan dia gunakan untuk membahahiakan suaminya, Singa jantannya.
Setelah mengobrol beberapa waktu dengan sang ibu, Lion langsung memutuskan sambungan teleponnya. Lalu dengan tidak sabarnya dia meminta Meyra untuk pergi bersamanya.
"Ayo, Sayang. Kita ke rumah Ibu, aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Ibu," ajak Lion.
"Iya, Singa jantanku," kata Meyra seraya terkekeh.
Meyra dan Lion melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju halaman depan, di mana mobilnya sudah terparkir.
Lima belas menit kemudian.
Meyra dan Lion sudah sampai di kediaman Liliana, dengan tidak sabarnya Lion langsung turun dan menghampiri Liliana yang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Ibu ngga apa-apa, kan? Ibu baik-baik aja, kan?" tanya Lion seraya memperhatikan tubuh Ibunya dari atas sampai bawah.
"Ibu baik-baik saja, ayo masuk," ajak Liliana.
"Itu, lelaki itu ke mana?" tanya Lion yang sangat enggan menyebutkan nama William.
"Kita masuk dulu, ada yang mau Ibu jelaskan," kata Liliana seraya tersenyum hangat.
Lion menurut, dia mengajak menghampiri Meyra, merangkul pundaknya dan mengajaknya untuk masuk bersama dengan ibunya.
Liliana terlihat tersenyum kala Lion melakukannya, Lion mirip dengan Lucas. Perhatian dan tidak sabar jika bertanya, dia juga terlihat penyayang sama seperti Lucas.
Saat tiba di ruang keluarga, Liliana mengajak Lion dan Meyra untuk duduk bersama di sofa panjang. Lion terlihat duduk di sebelah kanan Liliana seraya memeluk erat wanita itu.
Berbeda dengan Meyra yang duduk di sebelah kiri Liliana, dia terlihat duduk anteng seraya memperhatikan Lion yang begitu manja terhadap Liliana.
Liliana terlihat mengelus lembut puncak kepala putranya, putra yang sangat dia rindukan kehadirannya.
"Bu, ke mana lelaki itu?" tanya Lion tanpa melepaskan pelukannya.
Walaupun dia terlihat, tapi tetap saja dia merasa penasaran dengan sosok William yang tiba-tiba saja tidak ada di sana.
"Pergi! William sudah pergi, dia sudah memutuskan untuk berpisah," kata Liliana dengan air mata yang menetes di pipinya.
Dia merasa sedih tapi juga merasa lega, karena akhirnya bisa lepas dari William. Namun, tetap saja dia merasa sangat bersalah terhadap William.
"Benarkah? Semudah itu?" tanya Lion seraya mendongakkan wajahnya.
Lion terlihat kaget saat melihat wajah Liliana yang basah dengan air mata, tapi dia diam tanpa berkata apa pun. Dia hanya mengangkat tangannya dan mengusap air mata di pipi Liliana.
"Dia mengizinkan Ibu untuk berkumpul lagi bersama dengan kamu dan ayahmu, Lucas." Liliana terisak.
Rasa bahagia dan juga sedih berbaur menjadi satu, walaupun William sudah melepaskan dirinya, tapi tetap saja dia masih mengingat pria itu.
"Bagus, kalau begitu ibu bisa menemui ayah. Tapi--"
Lion terdiam, dia tidak bisa meneruskan ucapannya. Jika Liliana pergi dan menyusul ayahnya, lalu bagaimana dengan dirinya, pikirnya.
Namun, jika Liliana pergi pun, dia tidak bisa berlama-lama di duanianya. Karena Liliana adalah manusia sejati, bukan seperti dirinya yang mengaliri darah Lucas.
***
Selamat pagi kesayangan, selamat beraktifitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, jangan lupa like dan komentnya, Sayang kalian semua.