NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIMPI YG TUMBUH DI BANGKU KULIAH UGJ COREBON

**BAB 12

CIREBON – ENAM TAHUN YG LALU

Langit sore Cirebon berwarna jingga pucat ketika peluit kecil terdengar dari lapangan Arhanud 14. Debu tipis beterbangan, menyatu dengan tawa dan teriakan para pemain yang masih berlarian meski matahari hampir tenggelam.

Di antara mereka, seorang pemuda bertubuh ramping, berkeringat, dan mengenakan kaus kampus berwarna biru tua menghentikan langkahnya sambil menahan napas.

Namanya Sandi.

Saat itu ia masih mahasiswa kedokteran umum Universitas Gunung Jati (UGJ) Cirebon, baru semester awal, namun sudah membawa mimpi yang terlalu besar untuk sekadar disimpan di buku catatan kuliah.

Mimpi tentang Palestina.

Tentang korban perang.

Tentang luka-luka yang tak sempat disembuhkan karena dunia terlalu sibuk berdebat.

Sandi sudah hampir dua tahun mengenal lima sosok yang kini duduk melingkar di pinggir lapangan, meneguk air mineral sambil bercanda lepas.

Bima.

Andri.

Eren.

Dimas.

Agung.

Mereka bukan sekadar teman main bola hari Minggu sore. Mereka adalah prajurit Arhanud 14 Cirebon—satuan yang namanya sering terdengar di berita internasional sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB.

Lapangan itu menjadi ruang netral:

tanpa pangkat, tanpa senjata, tanpa komando.

Hanya bola, keringat, dan cerita.

Bima—yang paling sering bicara—merebahkan tubuhnya di rumput.

“Gue pertama kali ke Palestina masih Pratu,” katanya pelan, menatap langit.

“Waktu itu gue belum ngerti apa-apa. Cuma tahu… anak-anak di sana main di antara puing.”

Sandi terdiam.

“Naik Praka, terus Prama, gue balik lagi,” lanjut Bima.

“Dan setiap kali pulang, yang gue bawa bukan foto atau oleh-oleh. Tapi bayangan.”

Andri menyela dengan senyum tipis.

“Bayangan orang-orang yang ditinggal mati.”

Sunyi.

Bahkan Agung yang biasanya paling berisik ikut menunduk.

Cerita-cerita itu menyusup ke kepala Sandi, mengendap, dan tumbuh perlahan menjadi tekad.

Di bangku kuliah, ia bukan mahasiswa yang biasa.

Saat dosen membahas trauma fisik dan psikis, pikirannya melayang ke Gaza.

Saat belajar tentang bedah darurat, ia membayangkan tenda-tenda medis dengan listrik terbatas.

Saat membaca jurnal internasional, matanya selalu tertahan pada kata: war casualty.

Dan suatu hari, di ruang kelas yang dingin oleh AC dan penuh bangku kayu tua, Sandi mengangkat tangan.

“Pak,” katanya, suaranya mantap meski jantungnya berdegup kencang,

“saya ingin bertanya… kenapa Indonesia tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel?”

Ruang kelas mendadak hening.

Beberapa mahasiswa saling melirik.

Pertanyaan itu sensitif. Berat. Tidak biasa.

Dosen mereka—seorang pria paruh baya berkacamata, dikenal tegas namun adil—menatap Sandi cukup lama sebelum menjawab.

Ia tersenyum tipis.

“Pertanyaanmu bagus,” katanya akhirnya.

“Dan jawabannya tidak pendek.”

Ia berdiri, menutup buku, lalu mulai berjalan perlahan di depan kelas.

“Indonesia berdiri di atas prinsip,” ucapnya.

“Sejak awal kemerdekaan, negara ini menolak segala bentuk penjajahan.”

Ia berhenti sejenak.

“Palestina adalah bangsa yang belum sepenuhnya merdeka. Selama itu, membuka hubungan diplomatik dengan Israel sama saja dengan mengakui pendudukan.”

Beberapa mahasiswa mencatat cepat.

“Ini bukan soal agama,” lanjutnya tegas.

“Ini soal kemanusiaan dan konstitusi. Pembukaan UUD 1945 jelas: penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.”

Sandi mengepalkan tangan di bawah meja.

“Karena itulah,” kata sang dosen, “Indonesia memilih jalan berbeda. Mengirim dokter, relawan, dan pasukan perdamaian. Bukan senjata.”

Ia menatap Sandi langsung.

“Dan kalau kamu ingin ke sana sebagai dokter…

itu jalan yang terhormat.”

Sepulang kuliah, Sandi tidak langsung pulang.

Ia duduk lama di bangku taman kampus, membuka ponselnya, menatap foto lama: dirinya bersama Bima dan yang lain di lapangan Arhanud.

Di benaknya, satu kalimat berulang-ulang:

“Kalau mereka bisa berangkat sebagai prajurit…

aku ingin berangkat sebagai penyelamat.”

Malam itu, ia mengirim pesan singkat ke Bima.

“Suatu hari, gue pengen ke sana juga. Bukan bawa senjata. Tapi stetoskop.”

Tak lama, balasan datang.

“Kalau hari itu datang, kami jaga kamu di depan.

Tugas kamu jaga yang terluka di belakang.”

Sandi tersenyum.

Ia belum tahu, takdir akan membawa mereka lebih jauh,

lebih berdarah,

dan lebih mahal dari yang pernah mereka bayangkan.

Namun di situlah segalanya bermula—

sebuah mimpi besar,

yang tumbuh diam-diam

di bangku kuliah sederhana di Cirebon.

DESA AMBULU, LOSARI – MUSIM HUJAN

Hujan turun sejak subuh.

Bukan hujan deras, melainkan rintik panjang yang membuat tanah becek dan udara lembap—kondisi sempurna bagi nyamuk pembawa malaria berkembang tanpa kendali.

Di halaman Puskesmas Pembantu Desa Ambulu, antrean warga mengular. Anak-anak dengan tubuh panas menggigil dalam gendongan ibunya. Pria-pria tua terbaring lemah di bangku kayu. Beberapa bahkan tak sanggup berdiri.

Tenaga medis di sana sudah kewalahan.

Dan pagi itu, lima mahasiswa kedokteran turun dari sebuah mobil kampus tua.

Sandi.

Amelia.

Nurdin.

Santi.

Sinta.

Mereka datang sebagai bagian dari praktik kedokteran umum lapangan, program wajib yang dipimpin langsung oleh dosen mereka.

Bagi sebagian mahasiswa, ini hanya tugas.

Bagi Sandi—ini panggilan.

Begitu turun, Sandi langsung menggulung lengan kemejanya.

“Amel, kamu pegang triase sama Sinta,” katanya cepat.

“Nurdin, bantu laboran cek apusan darah. Santi, catat obat dan dosis.”

Amelia tertegun sejenak.

Nada suara Sandi berbeda.

Tenang. Tegas. Seolah ia sudah sering berada di situasi seperti ini.

Padahal… ini kali pertama.

Di dalam ruangan sempit berbau obat dan keringat, Sandi berlutut di hadapan seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun.

Kulitnya pucat. Matanya sayu. Tubuhnya panas seperti bara.

“Namanya siapa, Bu?” tanya Sandi lembut.

“Iqbal, Dok… sudah tiga hari panasnya nggak turun,” jawab sang ibu dengan suara bergetar.

Sandi memeriksa cepat namun teliti.

Nadi. Mata. Pernapasan.

“Gejala malaria falciparum,” gumamnya.

Ia menoleh ke Amelia.

“Siapkan ACT. Kita mulai sekarang.”

Amelia mengangguk, tangannya sedikit gemetar.

Waktu berjalan tanpa terasa.

Satu pasien berganti pasien lain.

Demam. Menggigil. Anemia. Dehidrasi.

Keringat Sandi membasahi punggungnya. Sarung tangannya berganti entah sudah berapa kali. Bahkan saat makan siang diumumkan, ia hanya menggeleng.

“Nanti aja.”

“Sand, kamu belum makan dari pagi,” kata Amelia cemas.

Sandi hanya tersenyum tipis.

“Kalau mereka bisa nahan sakit berhari-hari, gue masih bisa berdiri beberapa jam.”

Kalimat itu sederhana.

Namun menancap di hati Amelia.

Menjelang sore, listrik padam.

Lampu mati. Kipas berhenti. Suhu ruangan naik drastis.

Tenaga medis panik.

Sandi mengambil senter dari tasnya, menggigit ujung sarung tangan, lalu kembali bekerja.

“Dok… anak ini kejang!” teriak seorang perawat.

Sandi berlari.

Ia berlutut, memegang kepala pasien, menjaga jalan napasnya, memberi instruksi cepat.

“Tenang… tarik napas… kita di sini.”

Tak ada kamera.

Tak ada tepuk tangan.

Hanya manusia yang berusaha menyelamatkan manusia lain.

Amelia berdiri di sudut ruangan.

Ia melihat Sandi bukan sebagai teman kampus.

Bukan sekadar mahasiswa.

Ia melihat seorang dokter—bahkan sebelum gelarnya sah disandang.

Di wajah lelah itu, ada tekad yang tak bisa dipelajari dari buku.

Saat malam turun, hujan kembali rintik.

Pasien terakhir akhirnya stabil.

Sandi duduk di lantai, menyandarkan punggung ke dinding. Nafasnya berat. Tangannya bergetar kelelahan.

Amelia mendekat, menyerahkan sebotol air.

“Kamu gila,” katanya lirih.

Sandi tertawa kecil.

“Mungkin.”

Ia meneguk air itu, lalu menatap langit-langit.

“Aku cuma… nggak mau terbiasa melihat orang sakit dan menganggapnya biasa.”

Amelia terdiam.

Di saat itulah, tanpa suara, perasaannya tumbuh.

Bukan cinta yang meledak-ledak.

Tapi kagum yang dalam.

Sunyi.

Dan berbahaya.

Malam itu, di rumah warga tempat mereka menginap, Amelia menulis di buku kecilnya:

Ada orang yang ingin menjadi dokter untuk hidup yang mapan.

Ada orang yang ingin menjadi dokter untuk menolong.

Dan ada Sandi… yang ingin menjadi dokter karena tak sanggup melihat dunia terus melukai orang baik.

Ia menutup buku.

Tak satu pun dari mereka tahu,

desa kecil bernama Ambulu ini

adalah latihan awal

sebelum Sandi berdiri

di tanah yang jauh lebih berdarah—

Palestina.

DESA AMBULU, LOSARI – MALAM YANG TENANG

Di sebuah rumah bambu yang berdiri miring di tepi sawah, seorang anak lelaki terbaring lemah di atas tikar pandan. Tubuhnya panas, bibirnya kering, dan napasnya pendek-pendek.

Namanya Riski.

Usianya sembilan tahun.

Sudah tiga hari ia menggigil demam—tanpa obat, tanpa pemeriksaan, tanpa harapan.

Ibunya duduk di sampingnya, memijat kakinya pelan, sementara ayahnya berdiri di sudut ruangan dengan wajah tertunduk.

“Kami… mau bawa ke rumah sakit, Dok,” ucap sang ayah lirih,

“tapi kami nggak punya uang.”

Kalimat itu melayang di udara seperti vonis.

Sandi berjongkok di hadapan Riski. Ia menyentuh dahi bocah itu—panasnya tak wajar.

“Kenapa baru sekarang dibawa?” tanya Amelia hati-hati.

Ibunya terisak.

“Takut dimarahin… takut disuruh bayar.”

Sandi menarik napas panjang.

Inilah kenyataan yang tidak ada di buku kuliah.

“Amel,” kata Sandi pelan namun tegas,

“kita mulai sekarang.”

Tanpa bertanya siapa yang akan membayar.

Tanpa formulir.

Tanpa janji apa pun.

Mereka bekerja dengan apa yang ada.

Obat anti malaria yang tersisa.

Cairan infus sederhana.

Kompres air hangat.

Malam itu, waktu berjalan lambat.

Suhu tubuh Riski naik-turun. Keringat membasahi bajunya. Sesekali ia mengigau, menyebut nama sekolahnya.

“Aku mau masuk kelas lagi…” gumamnya lirih.

Amelia menggigit bibirnya, menahan emosi.

Jam demi jam berlalu.

Sandi hampir tak duduk.

Setiap perubahan kecil ia perhatikan.

Nadi. Pernapasan. Warna kulit.

“Kita jangan lengah,” katanya pada Amelia.

“Kalau telat sedikit, bisa fatal.”

Tangannya gemetar—bukan karena takut gagal, tapi karena ia terlalu peduli.

Dan Amelia melihat itu.

Melihat seseorang yang memikul nyawa orang lain seolah nyawa itu miliknya sendiri.

Menjelang subuh, panas Riski mulai turun.

Napasnya teratur. Matanya terbuka pelan.

“Ibu…” bisiknya.

Ibunya menjerit pelan sambil menangis, memeluk anaknya.

Sandi terduduk lemas.

Ia memejamkan mata sebentar.

Hanya sebentar.

Hari-hari berikutnya, Sandi dan Amelia rutin datang ke rumah Riski.

Mengantar obat.

Memeriksa kondisi.

Mengajari ibunya cara perawatan.

Tak satu rupiah pun mereka terima.

Saat ayah Riski menyodorkan amplop lusuh berisi uang receh, Sandi menolaknya halus.

“Simpan buat sekolah Riski,” katanya.

Beberapa minggu kemudian, Riski berdiri di depan rumah dengan seragam sekolah lusuh tapi bersih.

Ia melambai sambil tersenyum lebar.

“Terima kasih, Dok!”

Sandi membalas lambaian itu, matanya berkaca-kaca.

Malam itu, keluarga Riski mengundang mereka makan.

Di rumah sederhana beratap seng, tikar digelar di lantai.

Hidangannya sederhana:

sayur asem, ikan pindang, sambal, dan lalapan segar.

Bagi sebagian orang, mungkin biasa.

Bagi Sandi—itu pesta.

Ia makan dengan lahap.

Sangat lahap.

“Pelan-pelan, Sand,” kata Nurdin tertawa.

“Kayak orang kelaparan seminggu.”

Sandi tersenyum sambil tetap menyuap.

“Dari kemarin cuma kopi sama biskuit.”

Santi menggeleng, kagum.

Amelia hanya menatap diam-diam.

Cara Sandi makan.

Cara ia tertawa.

Cara ia berbicara sopan pada orang tua Riski.

Semua itu membuat perasaan di dadanya semakin penuh.

Tak ada pengakuan.

Tak ada kata cinta.

Hanya:

Cara Amelia menuangkan air minum untuk Sandi lebih dulu

Cara ia memastikan lauk Sandi tidak habis

Cara ia tersenyum setiap kali Sandi tertawa

Bahasa tubuh yang tak berani bersuara.

Di luar rumah, jangkrik bernyanyi.

Dan di dalam hati Amelia, satu keyakinan tumbuh pelan:

Jika suatu hari Sandi benar-benar pergi ke tanah perang…

maka ia akan mencintainya dalam diam—

dan mendoakannya dalam jarak.

Penyakit yang Dipelihara**

PUSKESMAS AMBULU – SIANG HARI

Antrean pasien mengular hingga ke luar pagar.

Anak-anak demam digendong ibunya.

Lansia duduk lemas dengan selimut tipis.

Beberapa pemuda terbaring di lantai beralas tikar.

Wabah malaria di Desa Ambulu telah mencapai titik yang mengkhawatirkan.

Tenaga medis setempat hampir menyerah.

Namun sejak Sandi dan timnya turun tangan, suasana berubah.

“Pasien berikutnya!”

Suara Sandi terdengar tegas namun tetap hangat.

Tangannya bergerak cepat—memeriksa, mendiagnosis, memberi instruksi.

Amelia menangani pencatatan dan obat.

Nurdin membantu pemeriksaan laboratorium sederhana.

Santi dan Sinta mengatur antrean dan edukasi pasien.

Tak ada teriakan.

Tak ada kepanikan.

Hanya kerja terkoordinasi.

“Bu, obatnya diminum teratur ya. Jangan berhenti meski demam sudah turun,” ucap Amelia lembut.

“Pak, tolong pakai kelambu malam ini. Nyamuknya pembawa penyakit,” tambah Sandi.

Tak satu pun dari mereka menyebut soal biaya.

Dan warga mulai sadar—

mereka dilayani sebagai manusia, bukan pelanggan.

Sore menjelang.

Sandi berdiri sejenak di depan Puskesmas, menatap antrean yang belum juga habis.

“Kita nggak bisa cuma obatin,” katanya pada Amelia.

“Kalau sumbernya nggak diberesin, ini nggak akan selesai.”

Amelia mengangguk.

“Edukasi.”

“Dan perubahan pola hidup.”

Malam itu, Balai Desa Ambulu penuh.

Pak Kades berdiri di depan warga, wajahnya serius.

“Kita kedatangan mahasiswa kedokteran yang mau bantu kita tanpa bayaran,” katanya lantang.

“Malam ini, mereka mau ngajarin kita cara memutus penyebaran malaria.”

Sandi maju.

Ia tidak membawa slide.

Tidak membawa istilah medis rumit.

Hanya papan tulis dan kapur.

“Malaria bukan kutukan,” katanya.

“Bukan juga penyakit orang miskin. Ini penyakit nyamuk.”

Warga tertawa kecil.

“Kalau kita bersihkan genangan air, pakai kelambu, jaga kebersihan—

nyamuknya hilang, penyakitnya ikut pergi.”

Ia bicara sederhana.

Membumi.

Dan warga mengerti.

Namun tidak semua orang senang.

Di sudut desa, sebuah toko obat berdiri mencolok. Raknya penuh pil warna-warni, botol tanpa label jelas.

Pemiliknya seorang pria bermata sipit, berperut buncit, bernama O Kim Eng.

Ia menghitung uang dengan wajah masam.

“Sejak bocah-bocah kampus itu datang, pembeli sepi,” gerutunya.

Salah satu anak buahnya menyeringai.

“Padahal kemarin obat yang kadaluarsa aja masih laku, Bos.”

Kim Eng mengepalkan tangan.

“Kalau penyakitnya hilang,” katanya dingin,

“kita bangkrut.”

Keesokan harinya, mulai terjadi kejanggalan.

Poster edukasi malaria dicabut.

Genangan air yang sudah dikeringkan dibuka lagi.

Isu beredar bahwa obat gratis dari Puskesmas berbahaya.

“Katanya bikin mandul.”

“Katanya obat palsu.”

“Katanya mahasiswa itu cuma cari nama.”

Warga mulai ragu.

Sandi menyadari perubahan itu.

Ia berdiri di depan Puskesmas, menatap papan pengumuman yang dirusak.

“Ada yang sengaja,” gumamnya.

Amelia menatapnya cemas.

“Kita lagi dilawan, Sand. Tapi bukan pakai senjata.”

Sandi mengangguk pelan.

“Inilah medan yang sebenarnya,” katanya.

“Bukan cuma melawan penyakit… tapi melawan orang yang hidup dari penderitaan orang lain.”

Ia menatap kembali antrean pasien yang tetap datang, meski ragu.

Dan saat itu, satu tekad mengeras di dadanya:

Jika kelak ia mampu berdiri di tanah perang,

maka hari ini adalah latihannya—

melawan wabah, kebodohan, dan keserakahan,

tanpa membenci manusia di baliknya.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!