Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdebat
Warung bakso itu tidak terlalu besar, hanya deretan meja kayu sederhana dengan aroma kuah kaldu yang menggoda. Begitu mereka tiba, Zafira refleks menghirup aromanya
dalam-dalam. Perutnya langsung bereaksi, rasa ingin itu kembali menyeruak dengan kuat.
“Kita duduk di sini saja,” ucap Arthav sambil menarik kursi.
Zafira mengangguk cepat, bahkan terlihat lebih bersemangat dibanding sebelumnya.
Tak lama, penjual bakso mendekat. “Pesan apa, Mas? Mbak?”
Zafira hendak membuka suara, tapi Arthav lebih dulu berkata,
“Bakso biasa dua, satu tanpa sambal.”
Zafira langsung menoleh. “Tanpa sambal?”
Arthav meliriknya. “Kau hamil.”
“Aku tahu,” sahut Zafira pelan namun tegas. “Tapi aku ingin yang pedas. Sedikit saja.”
“Tidak,” Arthav menggeleng. “Dokter bilang perutmu sensitif. Kau juga punya darah rendah.”
Zafira menghela napas, menahan kesal.
“Arthav, sejak tadi aku menahan mual. Yang membuatku ingin makan itu karena bayangan bakso pedas. Kalau tidak pedas, aku takut malah tidak nafsu.”
Arthav terdiam sesaat. “Kau yakin?”
Zafira menatapnya lurus.
“Aku tidak minta banyak. Sedikit sambal saja. Aku ingin makan dengan tenang.”
Penjual bakso itu terlihat canggung, matanya bergantian menatap mereka.
“Jadi sambalnya bagaimana, Mas?” tanyanya ragu.
Arthav menghela napas panjang.
“Satu mangkuk tanpa sambal, satu mangkuk sambal dipisah. Sedikit saja,” katanya akhirnya.
Zafira langsung tersenyum kecil. “Terima kasih.”
Arthav menatapnya serius.
“Kalau kau merasa tidak enak, langsung berhenti.”
“Iya,” jawab Zafira patuh, lalu menambahkan lirih, “Aku hanya ingin menikmati makananku.”
Saat bakso datang, Zafira menatap mangkuknya dengan mata berbinar. Ia mencicipi kuahnya lebih dulu, lalu menambahkan sedikit sambal. Begitu sendok pertama masuk ke mulutnya, ia menghembuskan napas lega.
“Enak,” gumamnya.
Arthav memperhatikannya dengan seksama.
“Tidak mual?”
Zafira menggeleng. “Justru ini yang membuatku tenang.”
Arthav akhirnya ikut makan, meski matanya sesekali mengawasi setiap gerak Zafira.
“Lain kali, jangan memendam keinginanmu. Tapi kau juga harus ingat, aku hanya khawatir.”
Zafira menatapnya sejenak, lalu mengangguk.
“Aku tahu. Kita hanya masih belajar.”
Di warung bakso sederhana itu, di antara perdebatan kecil dan kuah hangat, mereka perlahan belajar menyesuaikan diri bukan hanya sebagai suami istri, tapi sebagai calon orang tua.
**
Beberapa menit kemudian, mangkuk bakso di hadapan Zafira sudah kosong. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan wajah yang jauh lebih segar.
“Aneh,” gumamnya pelan. “Tidak mual sama sekali.”
Arthav tersenyum tipis.
“Syukurlah. Dari tadi aku memperhatikanmu, kau makan dengan lahap.”
Zafira menatapnya, ada sedikit rasa lega.
“Mungkin ini benar-benar keinginannya,” ujarnya sambil menyentuh perutnya tanpa sadar.
Arthav hendak menanggapi ketika ponselnya tiba-tiba berdering, disusul notifikasi bertubi-tubi. Ia mengernyit, membuka layar ponselnya.
“Grup keluarga,” gumamnya.
Zafira ikut melirik karena penasaran. “Ada apa?”
Arthav terdiam beberapa detik, rahangnya mengeras.
“Ibu”
“Ada apa dengan Ibu?” tanya Zafira cemas.
“Ibu mengumumkan kehamilanmu di grup Keluarga Besar Pranata,” jawab Arthav jujur.
Zafira terkejut. “A-apa? Sekarang?”
Belum sempat Arthav menjawab, Zafira tanpa sengaja melihat layar ponsel itu lebih jelas. Matanya menangkap satu komentar yang membuat dadanya langsung menyesak.
Raisa: ‘Yakin dia hamil anak Artha?’
Wajah Zafira seketika pucat. Tangannya mengepal di atas meja.
“Dia, dia masih saja,” suaranya bergetar.
Arthav langsung mematikan layar ponselnya.
“Jangan kau baca,” katanya tegas.
“Tapi aku sudah melihatnya,” jawab Zafira lirih. “Sampai sejauh ini pun dia masih meragukanku.”
Arthav mencondongkan tubuhnya ke depan.
“Zafira, dengarkan aku.”
Zafira menatapnya, matanya berkaca-kaca.
“Anak ini, anakku,” ucap Arthav dengan suara rendah namun penuh tekanan. “Dan siapa pun yang meragukannya, termasuk Raisa, akan berhadapan denganku.”
Zafira menelan ludah. “Kau tidak ragu sedikit pun?”
“Tidak,” jawab Arthav tanpa jeda. “Aku ada bersamamu saat semuanya terjadi. Tidak ada yang perlu dibuktikan lagi.”
Zafira menghembuskan napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.
“Aku hanya lelah, Arthav. Setiap kali aku mulai tenang, Raisa selalu muncul.”
“Aku tahu,” sahut Arthav lembut. “Dan kali ini, aku tidak akan membiarkannya melewati batas.”
Ia meraih tangan Zafira di atas meja.
“Mulai sekarang, fokusmu hanya satu dirimu dan anak ini. Sisanya biar aku yang hadapi.”
Zafira menggenggam tangannya balik, meski hatinya masih bergetar. Di balik rasa kenyang dan ketenangan sesaat itu, badai lama kembali terasa mendekat namun untuk pertama kalinya, ia tidak menghadapinya sendirian.