NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pelarian Sang Pesakitan dan Jejak Garuda Hitam

Bab 15: Pelarian Sang Pesakitan dan Jejak Garuda Hitam

Malam itu, hujan turun deras di Lembah Kabut, seolah langit ikut menangisi kekacauan yang terjadi.

Berita tentang penyerangan terhadap Ki Rangga Agnimara menyebar seperti api liar. Versi resminya: "Pembunuh bayaran Kalajengking Merah menyusup dan mencoba membunuh Tetua Agnimara." Tidak ada yang menyebut nama Bara. Rara Anjani dan Ki Ageng Seta berhasil menutup rapat kejadian sebenarnya demi menjaga stabilitas politik perguruan yang sedang rapuh.

Namun, Bara tahu itu hanya masalah waktu. Pasukan Elang Hitam Kekaisaran bukan orang bodoh. Mereka akan datang, dan mereka tidak akan berhenti sampai menemukan "sumber api" yang terdeteksi hari ini.

Di dalam kamar asrama Kelas Awan yang gelap, Bara sedang mengemasi barang-barangnya.

Hanya sedikit yang ia bawa: beberapa potong baju ganti, sisa dendeng kering, kantong berisi koin emas (hasil bagi hasil judi Anjani yang akhirnya diberikan diam-diam), dan tentu saja... Peti Kayu Teratai Emas yang ia curi dari gudang.

"Kau yakin mau pergi sekarang, Mitra?" tanya Garuda. "Hujan badai begini, jejakmu akan hilang, tapi kau bisa masuk angin."

"Aku tidak punya waktu untuk sakit," jawab Bara sambil mengikat tali sepatunya. "Jika aku tetap di sini, Kirana dan Jaka akan jadi sasaran interogasi. Aku harus memancing anjing-anjing pemburu itu menjauh dari kandang."

Pintu kamar terbuka pelan.

Jaka, Kirana, dan Sutejo berdiri di sana. Mata mereka merah, jelas habis menangis atau kurang tidur.

"Mas Bara mau pergi?" tanya Kirana, suaranya bergetar.

Bara berdiri, menyampirkan buntelan kain di bahunya. Dia menatap mereka satu per satu.

"Aku harus pergi sebentar. Ada... urusan keluarga yang harus kucari tahu," bohong Bara.

"Jangan bohong, Mas," potong Jaka. Wajahnya serius, tidak ada lagi jejak si gemuk penakut. "Kami dengar rumornya. Ki Rangga gila. Dan orang-orang bilang ada 'setan api' yang menyerangnya. Itu Mas Bara, kan?"

Bara menghela napas. Dia tidak bisa membohongi mereka lagi.

"Dengar," Bara mendekat, memegang bahu Jaka. "Aku sudah membuat sarang lebah ini terlalu berisik. Ratu lebah dari Ibukota akan datang memeriksa. Kalau aku ada di sini, kalian semua akan tersengat."

Bara menyerahkan sebuah buku catatan kecil kepada Sutejo.

"Ini adalah Buku Strategi Kelas Awan. Di dalamnya ada cara mengatur keuangan lumbung, rute patroli, dan trik-trik jebakan baru. Pelajari. Gunakan."

Lalu dia beralih ke Kirana. Dia menyerahkan sebuah Kujang Kecil (buatan sendiri dari sisa besi biasa) sebagai jimat.

"Jaga diri kalian. Jangan cari masalah dengan Kelas Surya dulu sampai badai reda. Dan... jika ada orang berjubah hitam dengan lambang Elang bertanya tentangku, bilang saja aku sudah mati dimakan siluman seminggu lalu."

Kirana memeluk Bara erat. "Mas Bara harus janji... Mas harus kembali."

"Aku akan kembali saat aku sudah cukup kuat untuk membakar langit," bisik Bara.

Dia melepaskan pelukan itu, lalu melompat keluar jendela, menghilang ke dalam tirai hujan yang pekat.

Di sebuah gubuk tua di perbatasan desa dan hutan liar, Ki Awan sedang duduk menunggu. Di meja depannya ada dua cawan arak.

Bara masuk, basah kuyup.

"Kau tidak akan mengucapkan selamat tinggal pada guru tuamu ini?" tanya Ki Awan tanpa menoleh.

"Aku pikir Ki Guru sedang mabuk," jawab Bara, duduk dan meminum arak di cawan itu untuk menghangatkan badan.

Ki Awan menatap muridnya. Tatapan bangga bercampur sedih.

"Kau sudah tumbuh, Bara. Terlalu cepat." Ki Awan merogoh jubahnya, mengeluarkan sebuah gulungan peta kulit kambing yang sudah sangat tua.

"Ini peta menuju Reruntuhan Trowulan, ibu kota lama Kerajaan Majapahit yang hancur. Ayahmu... Raden Wijaya, dulu sering ke sana sebelum dia meninggal."

Bara menerima peta itu. "Ada apa di sana?"

"Jawaban," jawab Ki Awan misterius. "Dan mungkin... cara untuk membuka peti Teratai Emas itu tanpa meledakkan isinya."

Ki Awan berdiri, mengambil sebuah caping (topi petani) lebar dan memakaikannya ke kepala Bara.

"Pergilah ke arah Timur. Hindari jalan utama. Pasukan Elang Hitam bukan seperti Kalajengking Merah. Mereka adalah militer. Mereka bergerak dalam satu unit, tidak punya emosi, dan mereka tidak akan ragu membakar satu desa hanya untuk membunuh satu target."

"Terima kasih, Ki," Bara membungkuk hormat dalam-dalam. "Aku pergi."

"Satu lagi," cegah Ki Awan. "Namamu sekarang sudah masuk daftar pencarian orang. Jangan pakai nama Bara. Pakai nama samaran."

Bara berpikir sejenak.

"Panggil aku... Elang," kata Bara.

"Hah? Kenapa Elang?"

"Karena Elang adalah satu-satunya burung yang berani terbang di atas badai," jawab Bara sambil menyeringai, lalu berbalik pergi menembus malam.

Ki Awan menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. "Dasar bocah sombong. Elang... padahal isinya Garuda."

Bara berlari di atas dahan pohon jati dengan kecepatan tinggi. Hujan menyamarkan suaranya, tapi lumpur membuatnya sulit berpijak.

Tiba-tiba, insting Garuda-nya berteriak.

"BERHENTI!"

Bara mengerem mendadak, mencengkeram kulit pohon hingga terkelupas.

WUSH!

Sebuah tombak hitam melesat dari kegelapan, menancap tepat di dahan tempat Bara akan mendarat sedetik kemudian. Tombak itu dialiri listrik ungu yang menyengat.

"Reaksi yang bagus untuk seekor tikus," suara dingin dan mekanis terdengar dari segala arah.

Bara melihat ke sekeliling. Di atas pohon-pohon di sekitarnya, berdiri lima sosok.

Mereka mengenakan zirah hitam legam yang ramping (tactical armor), wajah tertutup helm besi berbentuk paruh burung, dan jubah bulu hitam. Di dada mereka, terukir lambang Elang dengan mata merah.

Pasukan Khusus Elang Hitam - Unit Pengejar.

"Target dikonfirmasi," ucap salah satu dari mereka—pemimpinnya. "Raden Bara Wirasena. Perintah: Tangkap hidup-hidup untuk diekstraksi. Jika melawan, potong keempat anggota geraknya."

Bara mencabut kedua Kujang-nya. Si Sulung dan Si Bungsu bergetar. Ini beda. Aura mereka bukan aura pembunuh bayaran yang haus darah. Ini aura prajurit yang kosong. Tanpa niat membunuh, hanya niat menyelesaikan tugas.

"Kalian menghalangi jalanku," ucap Bara tenang.

"Formasi Sergap: Jaring Listrik," perintah pemimpin unit.

Keempat prajurit lain bergerak serentak. Mereka tidak menyerang Bara langsung, melainkan menancapkan tongkat besi di empat penjuru mata angin di sekitar pohon Bara.

BZZEEET!

Dinding listrik ungu tercipta, mengurung Bara dalam kotak energi.

"Menyerahlah," kata pemimpin unit. "Itu adalah Barikade Petir. Menyentuhnya akan melumpuhkan sarafmu permanen."

Bara tersenyum miring di balik bayangan capingnya.

"Petir, ya? Kebetulan..."

Bara memutar Kujang-nya terbalik (Reverse Grip).

"Garuda... kau pernah bilang kau penguasa badai, kan?"

"Tentu saja. Petir mainan seperti ini hanyalah menggelitik," jawab Garuda meremehkan.

Bara menusukkan kedua Kujang-nya ke dahan pohon di bawah kakinya.

"Teknik Kujang: Penangkal Petir - Pembalik Arus!"

Bara tidak melawan listrik itu. Dia justru menyerapnya melalui Kujang (logam Wesi Winge adalah konduktor super), mengalirkannya ke tubuhnya, membiarkan Garuda memakan energinya, lalu...

DUAR!

Bara melepaskan kembali energi itu dalam satu ledakan omni-directional (ke segala arah).

Dinding listrik itu pecah berantakan. Keempat tongkat besi itu meledak.

Kelima anggota Elang Hitam terlempar mundur karena gelombang kejut. Formasi mereka hancur dalam hitungan detik.

Pemimpin unit itu mendarat di tanah dengan satu lutut, helmnya retak sedikit. "Dia... menyerap elemen petir? Laporan intelijen bilang dia elemen api!"

"Laporan kalian sampah," Bara mendarat di depan pemimpin itu. "Sekarang, minggir. Atau aku jadikan kalian ayam panggang."

Pemimpin unit itu mencabut pedang panjangnya. "Jangan remehkan Kekaisaran! Serang!"

Pertarungan jarak dekat pecah.

Bara melawan lima prajurit elit sendirian di tengah hujan. Denting logam beradu dengan cepat. Trang! Ting! Trang!

Mereka terkoordinasi dengan sempurna. Satu menyerang atas, satu menyapu bawah, satu menusuk dari belakang. Tidak ada celah.

Bara terdesak. Bahunya tergores pedang. Pipinya tersayat belati.

"Mereka kuat, Mitra," kata Garuda. "Mereka tidak punya rasa takut. Ini baru lawan yang sepadan!"

Bara melompat mundur, napasnya memburu. Dia tidak bisa menang lawan lima orang ini sekaligus tanpa membunuh mereka. Dan jika dia membunuh prajurit resmi, dia akan menjadi musuh negara nomor satu. Buron seumur hidup.

"Pilihan yang sulit," gumam Bara.

Dia melihat celah di hutan. Sebuah lereng curam yang mengarah ke sungai deras yang sedang banjir.

"Maaf, Tuan-Tuan. Aku harus mengejar kereta."

Bara melempar Bom Asap (hadiah dari Sekar) ke tanah.

POOF!

Asap tebal berwarna abu-abu menutupi pandangan.

"Tahan napas! Gunakan pandangan panas!" perintah pemimpin unit.

Tapi saat asap menipis, Bara sudah hilang. Jejak kakinya mengarah ke tebing sungai.

Pemimpin unit berlari ke tepi tebing. Di bawah sana, air sungai cokelat bergolak ganas, menghanyutkan batang-batang pohon raksasa.

"Dia melompat?" tanya anggotanya tak percaya. "Arus itu bisa menghancurkan tulang."

"Cari di hilir!" perintah pemimpin unit, menyimpan pedangnya. "Dia belum mati. Matanya tadi... itu bukan mata orang yang putus asa."

Dua kilometer di hilir sungai, Bara merangkak naik ke tepian lumpur. Dia batuk-batuk, memuntahkan air sungai.

Tubuhnya memar-memar.

"Gila... arusnya kuat sekali," keluh Bara, berbaring telentang menatap hujan yang mulai reda.

Dia meraba dadanya. Peti Teratai Emas masih aman terikat di balik bajunya. Kujangnya masih ada.

Dia selamat.

Bara bangkit duduk, menatap ke arah timur. Di kejauhan, fajar mulai menyingsing. Cahaya matahari pertama menembus awan mendung, menyinari jalan setapak yang panjang dan sunyi.

Di belakangnya adalah masa lalu: Perguruan, teman-teman, dan kenyamanan.

Di depannya adalah masa depan: Kerajaan kuno, rahasia orang tua, dan kejaran pasukan elit.

Bara tersenyum lebar. Senyum bebas yang sesungguhnya.

"Ayo, Garuda. Dunia sudah menunggu untuk kita acak-acak."

Bara berjalan pincang menuju matahari terbit, memulai legendanya sebagai Pendekar Pelarian: Elang.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 15

Reruntuhan Trowulan: Merujuk pada situs sejarah ibu kota Majapahit di Jawa Timur. Di dunia novel ini, tempat itu adalah bekas pusat peradaban kuno yang menyimpan banyak artefak dan misteri magis.

Barikade Petir: Teknik formasi militer yang menggunakan artefak tongkat konduktor untuk menciptakan kurungan energi. Efektif untuk menangkap target hidup-hidup.

Reverse Grip: Cara memegang pisau/kujang dengan bilah menghadap ke bawah/belakang. Gaya ini lebih defensif dan mematikan dalam pertarungan jarak sangat dekat (close quarter combat).

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!