Menceritakan tentang seorang gadis bernama Rachelia Edward yang harus hidup dengan menyembunyikan identitasnya karena sebuah perselisihan yang dapat mengancam nyawanya.
Ketika ia berusia 19 tahun, terungkap fakta mengejutkan mengenai kematian orang tuanya. Dengan berbekal kemampuan IT yang ia miliki, Michel mulai menjalankan rencana balas dendamnya. Namun, di tengah rencana, Michel justru di pertemukan dengan Calvin Archer, pria yang berhasil mencuri hatinya, namun memiliki rahasia yang berhubungan dengan misi balas dendam Michel.
Lalu manakah yang akan di pilih Michel, cinta atau misi balas dendam?
Yuk baca cerita lengkapnya.
Sebelum baca jangan lupa subscribe/favorite, dan tinggalkan jejak like dan koment yah agar Authornya semangat 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UQies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Tepat Sasaran
Michel membenarkan kacamatnya, ia sedang fokus mengerjakan tugas yang diberikan oleh Robin. Entah itu sudah revisi yang ke berapa, namun dimata Robin, semua yang dikerjakan oleh Michel selalu salah.
"Pssst," lagi lagi Franz memanggilnya dengan kode.
"Ssssst," desis Michel pelan agar tidak diganggu oleh Franz.
"Sebenarnya apa sih yang diinginkan pak Robin? kenapa dia begitu suka menyulitkan Michel?" batin Franz sembari menatap tajam Robin yang sedang fokus dengan laptopnya.
"Apa kau sudah tidak memiliki pekerjaan lain sehingga kau hanya menatapku dari tadi seperti itu?" Suara bass Robin mengagetkan Franz dan juga Michel tentunya.
Tanpa banyak bicara, Franz kembali fokus pada komputernya, begitupun dengan Michel.
"Pagi pak Robin, dimana pak Alfred?" tanya William yang baru saja tiba di ruangan khusus divisi IT.
"Pagi pak William, pak Alfred sedang ada urusan tadi diluar, ada yang bisa saya bantu pak?" Robin bertanya seramah mungkin.
"Tidak, kalau begitu, ikuti aku sebentar pak Robin, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ujar William lalu meninggalkan ruangan, diikuti Robin yang mengekor dibelakangnya.
Kini mereka berdua berada di ruangan William.
"Lihat ini, ini adalah pegawai baru di divisimu, seru William memberikan data diri dua pegawai barunya di dalam sebuah map.
Robin membuka map itu dan mengamati foto keduanya. "Benar pak, mereka pegawai baru di divisi kami."
"Bagaimana kinerja keduanya dan apa keahlian mereka hingga mereka bisa lolos masuk ke perusahaan ini?" tanya William.
"Mereka berdua ahli dalam komputer, khususnya bagian memperbaiki hardware komputer yang bermasalah, jika masalah software mereka agak kurang, terutama Michel."
"Michel?" tanya William mengerutkan alisnya.
"Iya pak, Michel ini kemampuannya dibawah standar, apa yang dikerjakan sering salah, saya bahkan tidak yakin jika dia dulu kuliah dijurusan IT."
"Lalu bagaimana dia bisa lulus masuk disini?" tanya William kembali.
"Mungkin saat interview ia mampu menjawab pertanyaan wawancaranya dengan baik sehingga ia bisa lulus pak," jawab Robin asal.
"ck.. jika dia tidak berguna, sebaiknya keluarkan saja dia!" seru William.
"Baik pak, kami akan mendiskusikannya dulu dengan pak Alfred," jawab Robin.
"Sekarang, panggilkan orang bernama Franz itu, suruh dia kesini sekarang dan bawa laptop dan ponselnya," perintah William.
"Ba-baik pak, saya permisi dulu kalau begitu."
Robin pun akhirnya keluar dari ruangan William dan langsung pergi menuju ruangan divisi IT.
"Franz, kau ke ruangan pak William sekarang!" seru Robin
"Baik pak," jawab Franz lalu hendak pergi.
"Tunggu! bawa serta laptop dan ponselmu," Franz mengerutkan keningnya lalu beralih menatap Michel yang saat ini sedang menatapnya penuh arti.
Franz mengangguk ke arah Michel karena mulai memahami apa yang akan terjadi, lalu ia segera pergi dengan membawa laptop dan Ponselnya.
Michel tersenyum getir saat ini, sungguh dugaannya kemarin tepat sasaran. "Ternyata melapor secara langsung saja tidak cukup. Tapi tenang saja, dimana ada rencana A maka disitu ada rencana B," batin Michel.
Tok tok tok
"Masuk," suara bass pria dari dalam ruangan.
Dengan hati-hati Franz masuk ke dalam ruangan William.
"Kau yang bernama Franz?" tanya William seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Benar pak, saya Franz," jawab Franz gugup.
"Ikuti aku sekarang," seru William lalu keluar dari ruangannya.
"Baik pak," ujar Franz lalu mengikuti William di belakang.
Saat ini mereka sedang menuju ke ruang CEO.
"Benar perkiraan Michel, sekarang aku dipanggil oleh CEO perusahaan yang tak lain adalah Darold Archer," batin Franz terus berjalan mengikuti William, hingga kini mereka sampai di depan ruangan CEO.
Tok tok tok
"Masuk"
William membuka pintu, "Permisi tuan, saya datang membawa orang yang anda cari," ujar William sembari masuk dan mempersilahkan Franz juga masuk.
Nampak di dalam ruangan tersebut telah hadir Darold Archer dan dua orang pria yaitu Fino dan Harry.
"Aku tidak akan basa-basi tuan Franz, sekarang berikan laptop dan ponselmu kepada mereka!" seru Darold menunjuk Fino dan Harry.
Tanpa berkata-kata, Franz melakukan apa yang diperintahkan oleh Darold. Fino dan Harry segera melakukan tugasnya.
"Apa kau pandai meretas tuan Franz?" tanya Darold berjalan mengitari Franz.
"Tidak pak, saya hanya bisa merakit dan memperbaiki Hardware komputer, jika mengenai software hanya pengetahuan umum saja yamg saya tahu,"
"Oh benarkah?"
Fanz hanya terdiam tidak merespon.
"Lalu kenapa kau tertarik bekerja diperusahaan ini?"
"Maaf pak, kebetulan saya memang sedang mencari pekerjaan saat itu dan perusahaan ini sedang membuka lowongan," jawab Franz asal.
Darold menghentikan langkahnya, "bagaimana Fino, Harry?" Darold menoleh ke arah mereka karena sudah beberapa menit mereka memeriksa laptop dan ponsel Franz.
"Kami sudah memeriksanya tuan, tidak ada tanda-tanda aktivitas peretasan didalamnya," jawab Fino.
"Lalu siapa dia sebenarnya yang telah mengusikku?" geram Darold.
"Hei tuan Franz, aku akan memberimu hadiah jika kau jujur padaku, teman kantormu yang bernama Michel, bagaimana dia menurutmu? apa dia pandai meretas data?" tanya Darold mendekati Franz.
"Ti-tidak pak, Michel itu hanya gadis culun yang lelet dalam bekerja dan hasil kerjanya pun sering salah."
"Apa kau berbicara jujur? aku tidak segan-segan mengirimmu ke penjara bahkan ke neraka jika kau berbohong," ancam Darold.
"Iya pak, saya berbicara apa adanya tentang Michel, seperti yang saya lihat setiap hari di kantor," jawab Franz jujur.
"Kamu boleh pergi kalau begitu," ujar Darold.
"William, suruh anak buah kita untuk memata-matai pegawai baru itu," perintah Darold yang sepertinya masih menaruh curiga pada Franz.
"Baik tuan," ucap Wildan.
-Bersambung-
Jarak tempuh indonesia ke washington dc itu setau saya sekitar 23jam. Apa iya, indonesia washington cuma 14jam ? hanya koreksi aja sih ..maaf ya 🙏