Delia adalah seorang pramugari di sebuah maskapai penerbangan di Indonesia. Hingga suatu ketika Delia dijadwalkan terbang bersama seorang pilot tampan idola para wanita, menggantikan rekannya yang berhalangan masuk, dan bertemu dengan seorang pilot tampan, yang digandrungi banyak pramugari.
Delia pikir kapten Abian adalah Captain ramah dan baik, nyatanya Captain itu sangat menyebalkan untuknya, membuat Delia begitu membenci pilot itu.
"Aku bersumpah, walau didunia ini laki-laki tersisa hanya dia, aku tak sudi jika harus berjodoh dengan laki-laki bermulut sambal sepertinya," gerutu Delia.
Namun Delia seperti termakan omongannya sendiri, dia yang tak sengaja bertemu mama Abian, dan wanita itu menjodohkan mereka berdua, Delia pun jatuh cinta pada pesona sang pilot.
Hingga saat Abian datang dan melamar Delia. Terungkap jika kematian ayahnya ada hubungannya dengan Abian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Double D, Delia dan Daniel
Abian sedikit melonggarkan dasinya yang terasa mencekik, Daniel seperti menantangnya, padahal sudah sangat jelas dia mengatakan bahwa Delia miliknya, namun Daniel malah menanggapi dengan santai.
Delia juga, sudah tau dia dijodohkan oleh mamanya, mengapa masih mengizinkan laki-laki lain untuk menghubunginya?, Delia memang sengaja atau memang dia wanita gampangan?, yang mudah menerima kehadiran laki-laki lain dalam hidupnya. Abian mendadak jadi bad mood.
"Awas saja Delia, aku akan menghukum bibir mu karena telah lancang menjawab 'iya' ajakan Daniel."
Saat masuk ke pesawat, Abian mengabaikan Delia yang menyapanya dia begitu marah pada wanita yang menjadi calon istrinya itu. Delia tak ambil pusing, dia sedikit memahami sifat calon suaminya yang moodyan. Disaat merasa keadaan aman dan awak cabin yang lainnya sedang sibuk dengan kegiatan mereka, Delia menghampiri Abian di ruang kokpit.
"Hai, ini, aku bawain roti spesial buat kamu." Delia mengulurkan kotak roti dan kotak nasi untuk Abian, namun laki-laki itu mengacuhkanya dan jual mahal. Dia pura-pura sibuk mengecek dokumen miliknya.
Karena tak kunjung mendapat respon, Delia menarik lagi kotak bekal itu. "Yasudah dari pada mubazir, aku kasih Captain Rendy saja nanti." Delia berbalik ingin keluar, namun segera Abian bangkit dari duduknya, mencekal bahu Delia.
"Lakukan saja Delia, kamu memang suka membuat aku marah." Abian mengambil paksa kotak ditangan Delia, lalu dia segera mengunci pintu kokpit, menarik pinggang Delia, Abian dengan lancang langsung membekap bibir Delia dengan bibirnya, menghapus jejak senyum yang Delia berikan pada Daniel.
Delia tentu saja terkejut, selain ini tempat yang sempit, posisi mereka sedang dalam keadaan bekerja, sungguh jika ada yang melihat mereka, akan sangat membahayakan posisi keduanya. Delia menggigit bibr Abian yang terus bergerak mencoba masuk ke rongga mulutnya.
"Au sakit Delia."
"Kau sakit jiwa Abian, ini tempat kerja, bagaimana kalau ada yang tiba-tiba masuk?," marah Delia, dia bahkan tanpa embel-embel Captain saat menyebut Abian, Delia terlihat sangat frustasi "Kau merusak tatanan rambut dan lipstik ku." Delia mencoba mengatur nafasnya, dan membenahi tatanan rambutnya. "Jangan ulangi lagi, mencoba lah deawasa dan profesional saat kita bekerja, jangan kekanak-kanakan."
"Itu karena kamu selalu memancing emosi ku, Delia. Jangan pernah bicara atau tersenyum pada Daniel, maupaun laki-laki lain, dan kau tidak mengenalnya. Ingat, kamu calon istriku," Abian mengangkat tanganya mengusap lipstik Delia yang berantakan karena ulahnya "Aku hanya menghapus jejak senyum yang kau beri pada Daniel." ucap Abian menatap manik Delia yang menatap tajam padanya "Reapply lagi lipstik mu. Aku minta maaf atas yang tadi," lirih Abian, mendengar permintaan maaf Abian, Delia menjadi luluh.
"Aku juga minta maaf, sudah buat kamu marah," ucap Delia, sebelum keluar, Delia terlebih dahulu mengecup bibir Abian. "Selamat kerja si bungsu anak mama," ledek Delia, lalu dia berlalu dari ruang kokpit, Delia berharap tak ada yang melihat dia keluar dari sana.
Namun sayangnya Delia salah, sejak tadi Voni bahkan sudah memantaunya, walau Voni berada di bagian belakang pesawat, namun dia melihat saat Delia masuk ruang kokpit dengan membawa kotak bekal.
"Jadi sebenarnya siapa yang menjadi pacar Delia?, Daniel si pemberi coffee, atau Abian sang Captain menyebalkan untuk dia, Delia ternyata ahli menaklukkan laki-laki tampan dan mapan."
* * *
Sore hari mereka telah mendarat di ibu setelah terbang dari Kuala Lumpur.
Tak pernah pernah Abian mengajak teamnya makan bersama, namun karena hatinya sedang berbunga-bunga dan bahagia, Abian mentraktir semua awak cabin sebelum mereka pulang. Dia memilih cafe yang masih berada disekitar bandara.
Disini Abian sudah bisa mengontrol emosinya, dia tak begitu menunjukkan perhatiannya pada Delia, dan beruntungnya Rendy terus memasang wajah masam dan jutek pada Delia, sehingga tak membuat Abian harus menahan emosi, karena ada yang memberi perhatian pada Delia selain dirinya.
"Tumben banget nih Capt, ngajak kita makan begini?" seloroh Rendy. Dia melepaskan dasinya, dan membuka kancing kemeja teratasnya.
"Biasa aja," jawab Abian santai.
"Captain habis jadian nih kayaknya!" Voni mencoba memancing, melihat ekspresi Delia dan Abian secara bergantian, namun baik Abian maupun Delia, keduanya bersikap santai dan acuh.
Rendy tersenyum mengejek "Mana ada jadian, mau jadian sama siapa lagi dia?, sama nenek kebayan yang satu itu aja dia takut, paling juga ini perayaan Captain bisa ngegolin gawang."
Rendy tertawa sendiri atas ucapannya, dia tak melihat wajah tegang yang lainnya atas ucapan sembrononya, sedang Delia hanya menunduk, Delia baru terpikirkan, sudah sejauh mana hubungan Abian dan mantan kekasihnya itu?, mengingat pergaulan bebas yang suka menerpa dunia hiburan. Dan Abian yang selalu menyerangnya tiba-tiba, dada Delia seketika sesak.
"Lebih baik diam deh Ren dari pada tuh congor nggak bermanfaat, awas nanti kena virus H I V."
"Ihh saya kan nggak pernah kenal yang namanya begitu-begituan Capt, mana kena, saya masih polos, orisinil." Rendy menyombongkan dirinya.
"Tapi nggak laku," celetuk Voni.
"Kam ppret, udah diem deh Ren, kalo masih ngomong terus kamu yang aku suruh bayarin semuanya nanti." Abian mulai jengah, dia tahu, diamnya Delia berarti menganggap serius ucapan Rendy.
Tak butuh waktu lama, pesanan mereka datang, karena lapar, semuanya langsung bersorak senang, dan sibuk menyantap kudapan mereka dalam diam, sesekali Abian melirik Delia yang duduk didepanya. Wanita itu sejak tadi masih diam tak menatapnya sama sekali.
Abian mengetikkan pesan pada Delia.
"Pulang sama aku, kita kesuatu tempat" send Dedel, Abian menyimpan kontak Delia dengan sebutan 'Dedel'
Delia tau ponselnya berdering, namun dia tak berniat membukanya sama sekali, Delia tau ini pasti dari Abian.
Abian membuang nafasnya kasar, melihat Delia yang mengabaikan pesanya, namun dia tak pantang arang, Abian malah menelepon ponsel Delia, hingga deringan itu mengudara, namun tetap Delia mengabaikanya.
"Del, ada telepon tuh," ujar Voni menunjuk tas Delia menggunakan dagu.
"Biarin, paling juga dari nomor nggak penting."
Jawaban Delia tanpa Delia sadari kembali memancing emosi Abian yang gampang meledak-ledak. Ditambah kedatangan Daniel yang menghampiri Delia, seperti menyiram bensin diatas api yang menyala.
"Hai, Delia, hai semua, sedang ada acara nih kayaknya?" sapa Daniel mengacuhkan keberadaan Abian.
Delia membalas sapaan Daniel dengan senyum, tanpa menyapa balik, Delia masih berpikir sehat, dia masih ingat seberapa marahnya Abian pagi tadi, gara-gara dia menyapa Daniel.
Karena Daniel yang suka membaur dengan para awak cabin saat di ruang flops, beberapa diantara mereka semua mengenal Daniel.
"Iya nih Pak, Abian habis jadian," jawab Rendy asal.
Sontak membuat Daniel langsung menatap Delia.
"Oh ya, selamat kalau begitu, Captain Abian."
Abian hanya menanggapi dengan tertawa kecil. "Terima kasih, Daniel. Yang pasti aku juga segera menikahi wanitaku." Tekankan Abian pada kata wanitaku, menunjukkan pada Daniel, bahwa Delia miliknya seorang.
Mereka semua sungguh tak ada yang tau, jika Captain mereka sedang perang dingin dengan Daniel, dan penyebabnya adalah Delia. Dan Delia sendiri tak mengetahui jika yang menjadi bahan perdebatan keduanya adalah dia.
Saat Daniel sudah membawa kursi kosong untuk dia duduk disebelah Delia, handponya berbunyi, sepertinya itu panggilan penting, membuat Daniel mengurungkan niatnya untuk bergabung.
"Wah, sayang sekali, padahal aku ingin sekali bergabung dengan kalian semua, namun sepertinya kita harus membuat janji untuk acara selanjutnya. Aku yang traktir."
Ucapan Daniel mendapat sorak dan tepuk tangan dari para crew Abian.
"Bener ya Pak, kita tagih janji Pak Daniel."
"Of crouse, kalian bisa hubungi Delia untuk buat janji sama saya," Daniel tersenyum pada Delia sebelum pergi, dan mengedipkan matanya. Dan lagi-lagi Abian harus diam menahan kesal.
"Hah!." Delia terkejut dengan permintaan Daniel. Dan membuat yang lain menyimpulkan, jika benar, Daniel dan Delia tengah menjalin hubungan.
"Double D, Delia dan Daniel." Cecilia tersenyum penuh arti pada Delia.
Abian terasa seperti terbakar mendengar sebutan yang diberikan Cecilia, dia menggeram kesal, "Tak akan ada sebutan itu," ucapnya dalam hati.