follow ig author: @bungadaisy206
Ana tidak jelek. Dia adalah gadis yang sangat cantik. Tapi kenapa Ana tak kunjung menikah? Kata orang, Ana digantung waris oleh mantan pacarnya. Sebagai penangkal mitos itu, Ana harus rela dijodohkan dengan anak dari sahabat ayahnya. Ana yang tidak punya pilihan, dia pun menerima pernikahan itu. Pernikahan yang diatur oleh keluarganya dan keluarga calon suaminya.
Yuks ikuti kisah cinta dan kehidupan rumah tangga 2A (Ana dan Arnold) dalam novel Istri Baru Tuan Arnold karya Syehalea.
IG : @bungadaisy206
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syehalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
Malam itu di Our Bar. Agus dan Natasha bertemu. Agus memang dekat dengan Natasha. Pertemuan itu tidak lain untuk membahas kerja sama menghancurkan hubungan Ana dengan Arnold.
Dengan live music yang berdentum, Natasha menjatuhkan dirinya duduk bersandar. Wajah cantiknya nampak seimbang dengan tubuh sensualnya, siapa pun pria yang melihatnya, pastilah tergoda.
Di sana ada Agus Bratha Yuda, direktur dari Stars Group, pesaing dari perusahaan Arnold. Namun Stars Group dua level berada di bawah Mountains Group. Agus satu kota dengan Ana, mereka hampir 8 tahun berpacaran. Agus memiliki perawakan tinggi kurus, kulit putih dengan mata sayu nan indah. Wajah Agus sangat teduh jika di pandang.
Agus dan Natasha saling menatap dengan pandangan licik, seolah hati mereka terhubung untuk satu tujuan yang sama, memisahkan Ana dan Arnold.
"Apa rencanamu?" Agus bertanya santai sembari menyesap wine plum di tangannya.
Natasha melirik ke arah Agus, yang juga menyesap wine di tangannya."Tentu saja menjebak Arnold tidur denganku," ucap Natasha penuh percaya diri.
"Apa kamu yakin si Arnold itu akan terjebak olehmu?" tanya Agus dengan wajah ragunya.
"Ya, tentu saja. Aku punya banyak cara untuk membuatnya tidur bersamaku." kata Natasha dengan yakin.
Natasha yakin jika dirinya akan mendapatkan Arnold kembali ke dalam pelukannya seperti dulu, dan tentu saja Arnold akan membuang Ana jauh-jauh dari hidupnya.
"Apa caranya?" tanya Agus penasaran dengan rencana jahat seorang Natasha.
Natasha tersenyum, kemudian mendekatkan dirinya di samping tubuh Agus berbisik pelan. Agus pun manggut-manggut mendengarkan rencana jahat Natasha untuk Ana dan Arnold.
Malam itu, mereka minum-minum hingga Natasha mabuk berat. Saat mabuk, Natasha menjadi lebih liar dan agresif. Agus membawanya menginap di sebuah hotel. Mereka pun menghabiskan malam berdua.
____ ____ ____
Mountains Group
Siang hari di Mountains Group. Wina meluruskan otot-otot tubuhnya yang kaku, seharian mengedit slide singkat beberapa new produk unggulan, serta mengedit Vidio pendek testimoni pengguna produk, belum lagi meeting dengan klien dan menjelaskan detail produk dari Mountains Group beserta kualitas di dalamnya. Wina sangat lelah tapi juga lapar. Wina dengan gesit mengarahkan jarinya menekan tombol lift kemudian masuk ke dalamnya menuju lantai dasar. Ia tidak menyadari ada orang lain selain dirinya.
"Buk Wina!" panggil seorang pria di belakangnya.
Wina tercekat mendapati pria berdiri di belakangnya, ia repleks menoleh. Ternyata pria itu Erik. Seketika kedua pipinya memerah entah karena apa.
"P-pak Erik di sini," Wina gugup bahkan tidak berani menatap mata Erik.
Erik tersenyum melihat reaksi aneh dari wanita itu. Dengan elegan Erik mengulum senyumnya menjatuhkan lirikan tepat di wajah Wina.
Erik pun memberanikan diri berbincang lebih lanjut. "Buk Win, nampak lelah?" tanya Erik menyodorkan selembar tissue untuk Wina, yang di lihatnya berkeringat.
"Panas ya, buk Win?" Erik kembali bertanya.
Sungguh Wina di buat kikuk oleh Erik di hadapannya. Dan ya, tidak biasanya Erik berada sedekat ini dengannya. Selama ini Erik terkesan menjaga jarak tidak jauh berbeda dari bosnya. Sepertinya, hari ini pagar pembatas jarak itu sudah hancur. Wina sudah lama memperhatikan pria ini, tapi karena kecuekannya membuat Wina acap kali mundur untuk mendekat. Wina yang polos dan ceplas-ceplos, menjadi nilai sendiri baginya.
"Iya, pak Erik membuat saya kepanasan," jawab Wina keceplosan.
"Hah?"
"O-oh ti-tidak maksudnya udaranya yang panas," Wina gugup hingga berbicara pun tidak lancar.
"Akhh ... Wina, kenapa jadi loading gini otak lo, Win." batin Wina.
"Oh, saya pikir kenapa. Buk Win terlihat manis jika seperti ini," kata Erik seraya keluar dari dalam lift yang sudah terbuka, dengan meninggalkan senyuman tipis di mata Wina.
Wina terbengong hingga tidak bergerak sama sekali. Ia benar-benar shock di puji Erik tanpa persiapan.
Setelah beberapa saat, Wina tersadar dari dunia yang tadi mengelabuinya. Wina keluar dengan sumringah. Pipinya bahkan masih meninggalkan jejak rona merah. Wina yang limbung sampai tidak memperhatikan jalannya. Hingga tanpa sadar menabrak seseorang.
"BUUGH!"
Wina terhuyung jatuh. Ia mendongak, mendapati yang ditabraknya adalah Arnold, iya dengan buru-buru bangun dari jatuhnya. Tapi karena sepatunya, Wina pun kembali terjatuh saat mencoba untuk bangun.
"Buk Win, bisakah hati-hati jika berjalan," ucap Arnold bernada dingin seraya membuka jas mahalnya dan melemparnya ke tempat sampah. Ya, Arnold tidak suka jika orang lain menyentuh barang-barang pribadinya.
Arnold menjatuhkan tatapan dingin di wajah Wina kemudian berlalu pergi. Semua karyawan bahkan ikut tegang melihat adegan tadi. Wina yang masih terduduk di lantai, dengan pupil mata yang nyaris merah sangat menyedihkan. Namun, entah siapa yang berdiri di hadapannya sembari mengulurkan tangan. Wina pun tanpa melihat, menyambut tangan itu. Wina bangun merapikan pakaiannya dan beralih melihat sosok itu, Wina kaget hingga kakinya goyah, karena pria itu adalah Erik.
"Buk Win baik-baik saja? jangan di ambil hati, bukankah buk Win kenal watak tuan seperti apa," ucap Erik memberi dukungan.
Wina hanya manggut-manggut tidak mampu berbicara apapun lagi.
__ __ ___ ___
Sementara itu Arnold di dalam ruangannya.
"Kemana jas yang kamu pakai?" tanya Ana terheran.
"Aku buang,"
"Kenapa di buang?" tanya Ana mengerutkan kulit dahinya hingga kedua alisnya bertemu.
"Buk Wina menabrakku, dan aku tidak suka orang lain menyentuh barang-barang milikku," kata Arnold dengan jelas.
"Tidak baik menghamburkan uang," sindir Ana.
"Orang kaya itu bebas, Ana." kata Arnold menyombong.
"Bebas kepalamu," sahut Ana sembari menjitak kepala suaminya.
"Anaaaa! tidak sopan ya, kamu. Ini KDRT namanya," keluh Arnold menggerutu.
"Pria sepertimu memang harus di perlakukan seperti ini," kata Ana dengan tidak menyesal.
"Kenapa dia itu sangat galak," gumam Arnold.
"Apa kamu bilang?"
"Galak." jawab Arnold.
Karena kesal di bilang galak oleh Arnold, Ana tidak tinggal diam. Ia dengan gesit mengejar Arnold hendak memukulnya. Arnold pun berlari menghindari Ana.
"Hei, sini kamu! jangan lari!" teriak Ana.
Mereka berdua berlarian seperti Tom dan Jerry. Saat seperti itu, aura kepemimpinan Arnold jatuh, jika bersama Ana istri tercintanya. Mereka nampak bahagia, berlarian saling mengejar dengan tawa Arnold yang mengembang.
Ana yang kelelahan nampak ngos-ngosan, ia berhenti dengan duduk berjongkok di lantai. Arnold menghampirinya, mengambil pundak wanita itu dan menggendongnya. Arnold menempatkan tubuh Ana di atas kursi kebanggaannya, kursi direktur utama.
"Istirahatlah dulu, nyonya." kata Arnold menarik senyum di bibirnya.
Ana tidak bicara apapun, hanya dengan satu tarikan nafas meminum segelas air yang ada di meja Arnold.
"Itu Air dua hari yang lalu, Ana."
Mendengar itu, sontak Ana menghamburkan sisa air di mulutnya keluar. Membuat baju yang di kenakannya basah akibat percikan.
"Hahahaha. Aku hanya bercanda." kata Arnold sembari tertawa puas.
Ana seketika memelototi suami jahilnya itu. Arnold memang sering berbuat konyol dan iseng padanya. Tetapi jauh dari itu, Arnold sangat mencintai Ana.
Mereka saling pandang satu sama lain. Ana menjatuhkan tatapan penuh cinta di wajah Arnold.
"Sayang, aku mau dengar kamu mengatakan sesuatu untukku," pinta Arnold.
"Apa?" Ana singkat.
"Aku ingin kamu bilang I love you. Bukankah kamu belum pernah mengatakan apapun selama ini,"
Ana seketika gugup dengan permintaan Arnold yang tidak terduga. Sungguh, Ana malu jika harus mengatakan hal itu. Walaupun kalimat I Love You terkesan sederhana. Tapi bagi Ana, itu hal yang sangat sulit.
"Ayo ucapkan," desak Arnold.
"A-aku ... A-aku ... Aku--
"Minta di cium," Arnold menyela ucapan Ana, dan mengakhiri kegugupan wanita itu dengan mencium bibirnya. Ana terbelalak.
*****
Hai readers berikan perhatian kalian pada Author khususnya padaku dengan memberi like coment dan votenya dan favoritkan y.
salam hangat@Syehalea
❤️❤️❤️