NovelToon NovelToon
Diam-Diam Married

Diam-Diam Married

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Patahhati / Perjodohan / Nikahmuda / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:12.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Asri Faris

Inggit Prameswari terpaksa menikah muda dengan Albiru Rasdan karena perjodohan yang dibuat oleh orang tua mereka. Usia keduanya yang masih begitu belia, menyebabkan rumah tangga mereka dipenuhi dengan banyak drama. Terlebih sikap dingin Biru yang mendarah daging, menyebabkan keduanya bagai pasangan Tom and Jerry yang tak pernah akur dengan yang namanya perselisihan.

"Maju satu langkah gue teriak nih!" ancam Inggit

"Well, lo harus membayar mahal atas semua perlakuan lo ke gue." Biru.

Jangan lupakan pria tampan yang diam-diam menaruh hati pada Inggit, dia Ares. Laki-laki yang siap berjuang sampai di titik nadir, walaupun aral melintang di depannya. Pria itu tetap berkata, "Mari kita jalani ini semua bersama." Ares

Perjalanan cinta segitiga yang mengharu biru, persahabatan, cinta dan kesetiaan yang di uji.

follow ig~ mazarina_asrifaris

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 24

Mungkin karena terlalu benci, hingga membekas di relung jiwa

pria itu. Alam bawah sadarnya sampai berkali-kali menggumamkan nama istrinya. Nathan bingung sendiri mau membawa sahabatnya pulang ke mana. Biru mabuk, pria itu malah tak sadarkan diri, alhasil terpaksa Nathan membawa pulang pria itu ke rumah Tante Diana.

Tante Diana terpekik syok, begitu mendapati anaknya yang terkapar, sempoyongan tak tahu aturan. Nathan benar-benar tidak punya pilihan, membawa pulang sahabatnya ke rumah adalah tempat yang paling aman.

"Malam Tante? Maaf, Biru mabuk," ujar Nathan mengantar pulang.

"Anak ini selalu bikin masalah, bukannya tambah dewasa malah bertingkah seenaknya," gumam Mama Diana kesal. Perempuan itu menggumamkan kata terimakasih setelah anaknya dibawa ke kamarnya dan sudah berbaring.

Langkah Mama Diana terhenti, saat tak sengaja rungunya menangkap suara Biru menggumamkan nama istrinya (Inggit). Mama Diana langsung bisa menyimpulkan bahwa saat ini mereka sedang ada masalah. Namun, karena takut mengusik privasi keduanya, Mama Diana memilih diam, hanya mengabari keadaan Biru pada menantunya, khawatir Inggit menunggu kepulangan Biru di rumahnya. Tante Diana pikir, biarlah Biru malam ini nginep di rumahnya karena mabuk, takut berbuat yang bisa menyakiti menantu kesayangannya itu.

Inggit membaca pesan yang dikirim mertuanya pada ponselnya. Keningnya berkerut bingung mencerna perkataan mertuanya yang menyuruh dirinya jangan mengkhawatirkan anaknya, dan menyuruh gadis itu berkunjung ke rumahnya besok pagi sebelum berangkat ke kampus.

Mau tidak mau, Inggit hanya membalas 'iya' untuk menghormati mertuanya itu. Sungguh Inggit tidak mau peduli, sekalipun Albiru Rasdan melakukan hal yang lebih gila.

Keesokan paginya, saat Inggit tengah menikmati sarapan, kedamaian gadis itu terusik dengan pekikan ponsel dirinya. Nomor Mama Diana tertera di sana, walaupun sedikit enggan, gadis itu langsung menggeser layar hijau dan menyapanya.

"Pagi sayang, jangan lupa mampir ke rumah sebelum berangkat ke kampus!" ujar Mama Diana di sebrang sana.

Inggit ingin menolak, tapi tidak sampai hati melakukan hal itu, Lagi-lagi gadis itu hanya mengiyakan saja. Setelah menyelesaikan menu sarapan pagi seorang diri, Inggit terlebih dahulu mengabari Ibunya kalau hari ini berkunjung ke rumah sakit sorenya, karena harus ke kampus dulu. Setelahnya baru ke rumah mertuanya.

Inggit berjalan gontai memasuki pekarangan rumah setelah taksi yang mengantarnya menurunkan gadis itu di pinggir jalan. Gadis itu merasa ragu, dan canggung, tapi ayunan langkahnya tetap mendekati pintu rumah yang menjulang megah di depannya.

"Pagi, Nona Inggit," sapa art rumah Biru, membuka pintu bahkan sebelum Inggit ketuk.

"Sudah ditunggu, Nyonya di ruang makan," ujar art tersebut.

"Makasih Bik," jawab Inggit ramah, masuk dan langsung menuju meja makan.

"Assalamu'alaikum ... Ma, Pa?" sapa Inggit sopan, berhambur meraih tangan kedua mertuanya dengan takzim. Melewati Biru begitu saja yang menyorotnya tajam semenjak Inggit datang.

"Sayang ... duduk sini, gabung sarapan," tawar Mama antusias.

"Makasih Ma, Inggit baru aja selesai sarapan di rumah."

"Lho, kok malah udah sarapan, kita nungguin kamu lho sayang," selorohnya dengan nada yang dibuat kecewa.

"Iya, Ma, Inggit ambil." Karena merasa tak enak hati, Inggit mengambil menu walaupun sedikit. Gadis itu duduk tepat di sebelah Biru, tak ada percakapan di antara keduanya, Mama Diana semakin yakin kalau anak-anaknya sedang berselisih paham.

"Biru, Inggit, kalian berangkat kuliah bareng ya?" ujar Mama menginterupsi.

"Iya, Ma," jawab Biru langsung mengiyakan. Inggit yang hendak mencari alasan untuk menolak gagal sudah karena Biru langsung iya tanpa banyak drama.

"Lo kepedean banget nyusulin gue ke sini, pagi-pagi. Cari muka di depan orang tua gue? Biar tambah disayang?" tukasnya nyelkit.

Inggit bergeming, dirinya bahkan menghampiri rumah Mama atas undangan mertuanya. Biarlah manusia songong itu merasa di atas angin saja, masih pagi tak ingin meladeni debat Biru yang bisa bikin tensi naik turun. Moodnya bisa kacau, sedang hari ini Inggit cukup siap kembali kuliah, setelah tiga hari izin.

"Nih, pakai!" Biru menyodorkan satu helm untuk istrinya. Inggit menerima dengan mode diam, rasanya malas sekali membonceng pria itu.

Dalam perjalanan, ke duanya hanya diam. Baik Biru dan Inggit tidak ada yang membuka obrolan. Sampai di parkiran kampus, Inggit turun dan langsung membuka helmnya. Gadis itu langsung pergi begitu saja, setelah menggumamkan terimakasih.

Biru menyorot lebih dalam. Bergeming, menatap punggung Inggit yang berjalan menjauh dari parkiran. Sesampainya di kelas, Inggit menemukan sahabatnya sudah duduk manis di sana, bahkan gadis itu sengaja nge-tag bangku untuk Inggit, agar bisa duduk bersebelahan.

"Hai, Nggit, sini!" seru Hilda begitu melihat Inggit masuk ke kelas.

Gadis itu mendekat, mereka berpelukan sayang, layaknya sahabat yang melepas rindu.

"Sini, sini deh, gue pingin cerita," ujar gadis itu antusias.

"Sorry banget nggak sempat ngabarin lo, gue terlalu asyik, btw gue punya oleh-oleh buat lo." Hilda mengeluarkan sesuatu bungkusan dari tasnya, lalu menyodorkan bungkusan tersebut.

"Apa ini, Da?" tanyanya bingung.

"Oleh-oleh dong ... kan habis liburan," jawab Hilda enteng.

"Liburan? Sama siapa? Bukannya liburan lo tuh batal?" Inggit keceplosan.

"Kok, lo tahu, kan gue belum cerita."

Oh ya ampun ... gue lupa

"E ... ya asal nebak aja, soalnya gue lihat cowok lo masih berkeliaran di kampus, lo kan pernah cerita mau liburan bersama," ucapnya sedikit gugup.

"Owh ... kesel banget aku tuh sama doi, untung ada Om Gala, yang selalu ada waktu buat gue."

Inggit mendelik kaget atas pengakuan Hilda, perempuan itu bercerita gamblang tanpa dosa, sesekali dibumbui cengengesan, yang sama sekali tak ada penyesalan.

"Da, lo nekat banget sih, jalan sama Om-om yang udah punya istri?" tegur Inggit. Tanpa dia sadari, jadi kekasih Biru juga sudah punya istri.

"Sans ... dong say, gue main cantik kok, lagian tuh ya, doi masih ganteng dan tajir abis." Hilda berbangga hati menceritakan teman kencannya. Entah mengapa Inggit khawatir, dan mendadak merasa kasihan dengan Biru, ia begitu mencintai perempuan yang sedang mengoceh di depannya, tanpa Biru tahu ia mendapat penghianatan.

Mulut Hilda yang asyik berceloteh langsung terhenti begitu Dosen memasuki kelas. Mereka mengikuti pelajaran seperti biasanya. Sembilan puluh menit berlalu. Ke dua gadis itu sibuk mengumpulkan tugas yang kemarin tertinggal karena izin.

"jadi, lo juga nggak masuk?"

"Iya," jawabnya datar.

"Kenapa, apa ini ada hubungannya sama jalan lo yang agak pincang, lo sakit?"

"Nggak sih, ini cuma insiden kecil, bukan ini, tapi kemarin gue nggak enak badan," bohong Inggit.

"Kasihan banget, sorry gue nggak ada saat lo butuh," ucapnya dengan penuh penyesalan.

Mereka berdua memutuskan pergi ke kantin. Inggit dan Hilda baru mau ke luar kelas, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti begitu mendapati Biru sudah berada di ambang pintu.

"Hai beb, lo jemput gue?" Hilda langsung berujar menghampiri Biru penuh semangat, pria itu terlihat murung, mungkin karena selama tiga hari ini Hilda ngilang tanpa kabar. Hilda langsung bergelayut manja di lengan Biru.

"Kantin yuk, gue kangen sama baksonya ibu kantin," ujar Hilda manja. "Ayo, Nggit!" seru perempuan itu menginterupsi Inggit yang tak jauh dari mereka.

"Iya," jawabnya cuek. Berjalan lebih pelan dibelakang mereka berdua. Sementara Biru melirik istrinya dingin, tanpa ekspresi.

"Inggit!" seru Ares tergesa.

1
Wahyunni Winarto
biru pemain handal
ko kayak ga rela🤭
Wahyunni Winarto
sumpahh sakit bngt bc nya gmn pun istri lho itu😭😭😭
Wahyunni Winarto
laki modelan gtu di pertahanin
tinggalinnn
Melda Herawaty
👍🏻👍🏻 ga nyesal baca brpun telat 😆, salah satu author fav ku🤩
Anisha Khalifah
jujur agak gimana gitu liat sikap inggit
Susanti Susanti
Luar biasa
Rara Love
klo bisa kak asri ceritanya lanjutin dong dengan cerita rumah tangga yg harmonis bersam anak mereka albitu dan inggrit
Rara Love
tak bosan bosan baca cerita ini dari 2021 masih di ulang membaca berkali kali sampai sekarang
Rara Love
ceritanya yg mengharuskan biru sebuah cinta yg murni karena akhlak dan kesederhanaan ,menjadikan cinta yg hakiki karena kesabaran dan keyakinan akan jodoh yg baik
Khadijah Nafisah
good
pipi gemoy
tamat 2x 🌹👻
pipi gemoy
😂😂😂😂😂😂😂
baca ulang gue
Desri Yasmita
Luar biasa
Yeni Atik Munawaroh
lagi kangen karya kak asri yang di sini huhu

mau nostalgiaan ama Inggit dan Birru🤭
Qaisaa Nazarudin
Heran aku masih bocil udah celap celup aja,Gimana gedenya jadi players sejati.. Kasihan banget Inggit,Ini juga katena KEEGOISAN bokapnya..
Qaisaa Nazarudin
Kadian Inggit dapet barang bekas..
Ney Maniez
waduhh 🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
Ney Maniez
geli ma cowo kyk gt🤦🏻‍♀️
Ney Maniez
aku mampir
SeoulganicId
sumpah pengen liat si biru guling guling nangis sumpah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!