Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Property of Steel
Bagi Sesilia Kira, hari-hari berikutnya saat berkunjung ke rumah sahabatnya, Uni terasa seperti berjalan di atas ladang ranjau yang tidak terlihat.
Axel Steel memang tidak memukulnya, juga tidak mengusirnya secara terang-terangan.
Namun, pria itu ada di mana-mana. Kehadirannya seperti virus yang muncul tanpa diundang. Selalu mengusik ketenangan Sesilia.
Axel tidak menggunakan cara kasar untuk mengusik gadis tamu itu. Lelaki itu menggunakan cara halus untuk mengganggunya. Membuat gadis itu terganggu dan merasa tidak nyaman adalah salah satu kesenangan baginya.
.
Suatu sore, saat sang gadis sedang serius merangkum catatan di ruang perpustakaan pribadi keluarga Steel. Axel masuk tanpa suara. Pria itu tidak mengeluarkan suara sekecil apapun, bahkan suara langkah kakinya tidak ada. Ia hanya berjalan perlahan menuju rak di belakang Sesilia, aroma sandalwood-nya yang berat memenuhi ruangan, membuyarkan konsentrasi gadis itu.
Tiba-tiba, Axel sengaja menjatuhkan sebuah buku tebal. Tepat di samping lengan sang gadis. Menimbulkan bunyi BRAKK yang kencang.
Sesilia tersentak kaget hingga pena yang dipegang menggores kertas catatannya. Gadis itu menoleh dengan jantung berdebar, namun sang penggangu hanya menatapnya dengan tatapan sok polos dan tanpa dosa.
"Kau terlalu tegang, kutu buku," Ucap Axel datar sambil memungut bukunya.
"Atau mungkin kau sama sekali belum sadar, bahwa seharusnya tidak berada di ruangan ini."
Sesilia yang kaget masih3 mencoba mengatur napas.
"Aku hanya sedang belajar, kak Axel. Uni yang mengajakku."
"Kak Axel? Sejak kapan gadis kumuh sepertimu jadi adikku?" Axel menjawab dengan nada mengejek yang kentara.
Sesilia mati kutu atas pertanyaan Axel. Belum sempat menjawab, lelaki itu kembali bersuara.
"Dan belajar, katamu?" Lelaki itu berjalan memutari meja, langkahnya pelan dan mengintimidasi. Ia kemudian membungkuk, menatap catatan sang gadis dengan tatapan menghakimi.
"Mencoba menjadi pintar tidak akan mengubah asal-usulmu. Kau tetaplah tikus kecil yang ketakutan di balik tumpukan kertas."
Gangguan itu semakin meningkat dari hari ke hari. Di satu sisi, Sesilia sangat menyukai berkunjung ke rumah Uni. Maksudnya bukan karena rumah itu mewah dan indah, tetapi perpustakaan di rumah itu sangat lengkap.
Sesilia yang tinggal sendiri di kamar kost sempit, berusaha sekuat tenaga belajar sekaligus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Dia tidak punya cukup uang untuk membeli buku-buku mahal dan bagus, maka dia menggunakan kesempatan berkunjung ke perpustakaan ini dengan baik. Gadis itu harus belajar untuk masuk ke Jurusan dan kampus impiannya. Dia bertekad, bahwa kemiskinan tidak akan bisa menyurutkan langkahnya untuk meraih cita-citanya.
....
Pada suatu kamis sore, Sesilia kembali berkunjung ke rumah sahabatnya. Kembali mengunjungi perpustakaannya. Setelah berkutat dengan buku anatomi selama 3 jam, ia merasa perlu menuntaskan hajat di toilet. Gadis itu menoleh kesana kemari untuk mengecek apakah monster jahat itu datang lagi atau tidak. Setelah yakin tidak ada siapapun, ia beranjak. Meninggalkan tas dan barang-barangnya di sana.
Sekembalinya dari toilet, gadis itu sangat kaget karena menemukan semua bukunya telah diatur ulang berdasarkan warna sampulnya.
"Orang aneh mana selain Axel yang mau melakukan hal konyol ini?" Bisiknya pelan.
Gadis itu sudah terlalu terbiasa dengan tingkah monster itu. Ia tidak pernah membalas, pun tidak memaki. Karena gadis itu sadar, orang miskin seperti dirinya tidak pantas memaki pria sempurna seperti Axel Steel.
Dua hari kemudian, sang gadis kembali berkunjung ke perpustakaan rumah Uni. Sahabatnya Uni sedang berada di kamarnya, mengambil buku yang ketinggalan. Sesilia yang haus, akhirnya memberanikan diri meminta tolong pada pelayan untuk mengambilkan air minum.
Air minum itu datang, tetapi terlalu panas. Uapnya bahkan masih mengepul. Sesilia meminta pelayan menggantinya dengan yang lain. Ternyata yang datang adalah air minum yang terlalu dingin. Ia heran, tidak mungkin pelayan itu sengaja melakukannya.
Usut punya usut, pelaku yang melakukan hal itu adalah Axel lagi. Monster itu sengaja menyuruh pelayan, tujuannya jelas. Agar Sesilia marah.
Puncaknya terjadi saat sore yang mendung di balkon belakang. Sesilia sedang menikmati secangkir teh sambil membaca. Suasana itu sangat tenang dan nyaman, tanpa ada penggangu yang siap mengerjainya.
Tanpa disadari, Axel sedari tadi sedang memperhatikan sang gadis. Tatapan matanya sangat tajam tak berkedip sekalipun. Persis tatapan predator saat mengintai mangsa.
Sesilia, mulai merasa aneh. Ada perasaan seperti diawasi oleh seseorang. Gadis itu mulai memperhatikan segala arah, mencari tahu pemilik tatapan itu. Tanpa sadar, ia mendongak ke atas. Di saat itulah matanya bertubrukan dengan mata kelabu milik Axel Steel. Gadis itu kaget, tetapi berusaha terlihat berani.
"Kenapa anda menatap saya seperti itu? Apa... apa saya melakukan kesalahan?" teriaknya pelan, suaranya bergetar antara marah dan ingin menangis.
Monster itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat gelas kristal berisi whiskey di tangannya, menyesap sedikit, lalu menuangkan sisa cairannya ke bawah, tepat ke arah pot bunga di samping Sesilia.
"I'm just boring," Jawab Axel, suaranya serak dan menusuk.
"Dan melihatmu menderita adalah satu-satunya hiburan yang cukup bagus di rumah ini."
Sesilia mengepalkan tinju. Di saat itulah, amarah mulai mengalahkan rasa takutnya. Ia berdiri tegak, tidak lagi menunduk.
"Kalau begitu, anda adalah orang kaya paling menyedihkan yang pernah saya temui."
Gerakan Axel terhenti. Matanya menyipit. Untuk pertama kalinya, Sesilia melihat percikan emosi lain di mata itu. Minat.
Bukan minat romantis, melainkan minat seorang kolektor yang menemukan sebuah artefak unik yang berani melawan balik. Axel merasa bosan dengan intimidasi yang mudah. Ia ingin sesuatu yang lebih. Ingin melihat sejauh mana tikus kecil ini bisa bertahan sebelum benar-benar hancur.
Malam itu, Axel memanggil asisten kepercayaannya, Tuan Han, ke ruang kerjanya.
"Aku akan kembali ke AS dalam dua minggu. Harvard memanggilku kembali untuk menyelesaikan studi pascasarjanaku," ucap Axel sambil menatap laporan tentang latar belakang keluarga Sesilia.
"Baik, Tuan Axel. Apakah ada instruksi khusus sebelum anda berangkat?" tanya Tuan Han patuh.
Axel terdiam sejenak. Ia teringat tatapan menantang Sesilia di balkon tadi. Ia menyadari satu hal, ia tidak ingin ada orang lain yang melihat tatapan itu. Ia tidak ingin ada pria lain yang mengganggu "mainannya" selama ia pergi.
"Atur seseorang. Seseorang yang sangat kompeten untuk mengawasi gadis bernama Sesilia Kira," perintah Axel, nadanya kini mutlak, tidak menerima bantahan.
"Gunakan Shadow Guard System. Aku ingin laporan harian. Setiap gerak-geriknya, setiap interaksinya, dan yang paling penting... setiap pria yang mencoba mendekatinya."
Tuan Han sedikit terkejut. "Mengawasi... Nona Sesilia? Sampai kapan, Tuan?"
Axel berdiri, berjalan menuju jendela yang menampilkan kegerlapan Jakarta. Ia membayangkan Sesilia yang akan tumbuh tanpa kehadirannya, namun tetap berada di bawah bayang-bayang dan kendalinya.
"Sampai aku kembali dan mengklaimnya," jawab Axel dingin.
"Dia adalah properti yang menarik. Pastikan dia terjaga hanya untukku. Jika ada yang mencoba mendekat, buat mereka gagal secara alami. Tanpa kekerasan, cukup buat hidup mereka sulit hingga menyerah dengan sendirinya"
Sebelum pergi malam itu, Axel masuk ke perpustakaan. Ia mengambil buku The Obsidian Kingdom milik Sesilia yang tertinggal. Dengan sebuah pena perak, ia mencoret nama penulisnya dan menuliskan satu kata di halaman pertama dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas,
PROPERTY OF STEEL.
Kemudian meninggalkan buku itu di atas meja. Axel pergi, kembali ke Amerika untuk menempa dirinya menjadi monster yang lebih kuat. Namun, laki-laki itu tidak benar-benar pergi. Ia telah menanamkan sebuah sangkar tak kasat mata di sekeliling Sesilia.
Empat tahun. Empat tahun adalah waktu yang cukup untuk membiarkan sang Ratu tumbuh di dalam sangkar emas yang ia buat, tanpa disadarinya.
Sang Monster sedang menunggu waktu yang tepat. Dan ketika kembali nanti, ia tidak akan lagi bermain-main dengan sekedar menjatuhkan buku atau melakukan tindakan konyol lainnya. Sang monster akan menjatuhkan seluruh dunia Sesilia ke dalam genggamannya.
Tunggu aku tikus kecil....
bau bau bucin😍😄