Kala Azure adalah seorang kapten agen rahasia legendaris yang ditakuti musuh dan dihormati.
Namun, karier cemerlangnya berakhir tragis, saat menjalankan operasi penting, ia dikhianati oleh orang terdekatnya dan terbunuh secara mengenaskan, membawa serta dendam yang membara.
Ajaibnya, Kala tiba-tiba terbangun dan mendapati jiwanya berada dalam tubuh Keira, seorang siswi SMA yang lemah dan merupakan korban bullying kronis di sekolahnya.
Berbekal keahlian agen rahasia yang tak tertandingi, Kala segera beradaptasi dengan identitas barunya. Ia mulai membersihkan lingkungan Keira, dengan cepat mengatasi para pembuli dan secara bertahap membasmi jaringan kriminal mafia yang ternyata menyusup dan beroperasi di sekolah-sekolah.
Namun, tujuan utamanya tetap pembalasan. Saat Kala menyelidiki kematiannya, ia menemukan kaitan yang mengejutkan, para pengkhianat yang membunuhnya ternyata merupakan bagian dari faksi penjahat yang selama ini menjadi target perburuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detakan Jantung Yang Berbeda
Kehidupan Keira di sekolah pasca insiden atap bukannya menjadi lebih tenang, malah menjadi lebih aneh.
Zero benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Alih-alih merasa terhina atau takut setelah melihat kemampuan tempur Keira yang mengerikan, pemuda itu justru menjadi pengawal pribadi yang sangat setia---atau lebih tepatnya, sangat merepotkan.
Setiap pagi, Zero sudah menunggu di depan gerbang. Begitu Keira turun dari bus, ia langsung menyambar tas ransel Keira tanpa permisi.
"Zero, kembalikan tas itu. Aku bukan anak kecil," desis Keira, mencoba merebut tasnya kembali.
"Anggap saja ini latihan kekuatan otot untukku, Keira. Lo bilang kan gue harus jadi orang berguna? Nah, membantu lo adalah awal yang bagus," jawab Zero dengan cengiran lebar yang terlihat tulus meski masih ada bekas luka tipis di sudut bibirnya.
Keira awalnya merasa sangat risih. Baginya, kehadiran Zero yang terus menempel seperti lem adalah gangguan baginya. Namun, setelah berhari-hari Zero membawakannya minum, memastikan mejanya bersih, bahkan mengusir lalat yang berani mendekat, Keira mulai lelah untuk menolak. Ia akhirnya membiarkan Zero mengikuti di belakangnya seperti anak ayam yang kehilangan induk.
Perubahan ini berdampak besar pada atmosfer kelas 11-C. Tak ada lagi suara bentakan, tidak ada lagi transaksi uang palak di pojok kelas. Bu Anna, wali kelas mereka, sampai terpana saat masuk ke kelas suatu pagi.
"Ibu tidak tahu apa yang terjadi, tapi kelas ini terasa sangat damai," ujar Bu Anna dengan senyum haru sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Ibu sangat bangga melihat kalian bisa rukun seperti ini. Terutama kamu, Zero. Ibu dengar kamu banyak membantu teman-temanmu sekarang."
Teman-teman sekelas yang dulu ketakutan kini mulai berani bercanda dengan Zero, meski mereka tetap menjaga jarak hormat jika Keira sudah menatap dengan mata tajamnya.
Namun, di tengah kedamaian semu itu, ada satu api yang masih menyala merah.
Meilan.
Gadis itu duduk di bangkunya dengan tangan bersedekap, menatap Keira dengan kebencian.
Baginya, Keira bukan hanya mencuri perhatian Zero, tapi juga meruntuhkan kekuasaan yang selama ini ia bangun bersama kelompoknya. Ia melihat pemandangan Zero yang membawakan botol air untuk Keira dengan rasa mual.
"Lihat aja," gumam Meilan tajam, kukunya menggores permukaan meja kayu. "Lo boleh menang sekarang karena Zero jadi peliharaan lo. Tapi gue bakal cari tahu siapa lo sebenarnya. Nggak ada anak baik-baik yang bisa menghajar lima orang sendirian tanpa luka."
Meilan tidak bodoh. Ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan latar belakang Keira. Dan di sisi lain gedung sekolah, dari balik jendela perpustakaan, Ardan memperhatikan semuanya. Ia melihat bagaimana Zero kini menjadi pelindung bagi Keira, ada rasa aneh yang menyesakkan.
Siang itu, koridor lantai dua sedang sepi saat Keira melihat Ardan berjalan santai ke arahnya. Tanpa membuang waktu, Keira menghadang langkah pria itu.
"Ardan, kembalikan gantungan kunciku. Itu benda keberuntunganku," tuntut Keira, tangannya sudah menadah.
Ardan menghentikan langkah, seringai tipis muncul di wajahnya. Bukannya memberikan benda itu, ia malah mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara. Dengan perbedaan tinggi badan mereka yang cukup mencolok, gantungan kunci itu kini berada jauh di atas jangkauan normal Keira.
"Ambil aja sendiri kalau lo mau. Katanya jagoan?" tantang Ardan dengan nada meremehkan, yakin Keira akan kesulitan.
Namun, Ardan lupa bahwa yang ada di depannya bukanlah siswi biasa.
Keira mengambil ancang-ancang singkat. Tanpa peringatan, ia melakukan gerakan pegas yang luar biasa mulus.
Ia melompat dengan presisi seorang atlet senam lantai atau lebih tepatnya, seorang agen yang terbiasa melewati rintangan tinggi.
Tubuhnya melenting ke atas, dan di puncak lompatannya, jemari Keira menyambar gantungan kunci itu dengan gerakan kilat.
Di mata Ardan, segalanya seolah berubah menjadi slow motion. Ia tersentak saat wajah Keira berada begitu dekat dengan wajahnya di udara. Ia bisa merasakan embusan napas Keira dan melihat kilatan di mata gadis itu yang jernih.
Aroma samar melati dari rambut Keira sempat menyapa indra penciumannya sebelum gravitasi menarik mereka kembali ke bumi.
Namun, tubuh Keira ternyata punya batas. Luka-luka kecil dari pertarungan di atap kemarin serta otot kaki yang belum pulih membuat pendaratannya tidak sempurna. Saat kakinya menyentuh lantai, terdengar bunyi krek halus.
"Akh!" Keira memekik pelan saat pergelangan kaki kirinya tertekuk hebat.
Keseimbangannya hilang. Keira terhuyung ke belakang, bersiap untuk merasakan kerasnya lantai koridor. Namun, benturan itu tidak pernah terjadi. Dengan refleks yang tak kalah cepat, Ardan menjatuhkan helm yang ia pegang dan merengkuh pinggang Keira dengan kedua tangannya yang kuat.
Tubuh mereka menempel erat. Keira terengah, tangannya secara refleks mencengkeram bahu Ardan untuk mencari tumpuan, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat gantungan kunci granat itu.
Keheningan yang canggung menyergap. Ardan tidak melepaskan dekapannya, matanya menatap dalam ke arah mata Keira. Untuk pertama kalinya, sang agen yang selalu waspada itu merasa wajahnya memanas bukan karena emosi, melainkan karena posisi yang terlalu intim ini.
"Lo ..." Ardan berbisik, suaranya sedikit serak. "Punya kemampuan luar biasa, tapi pendaratan lo sangat amatir."
Keira segera tersadar dari keterpakuannya. Ia mencoba berdiri tegak meski rasa nyeri berdenyut di kakinya.
"Lepaskan," desisnya, mencoba kembali ke mode dinginnya, meski detak jantungnya berkhianat.
"Lepaskan tangan lo!"
Sebuah bentakan keras memecah keheningan koridor.
Zero muncul dari tikungan dengan napas tersengal, pundaknya masih terbebani oleh tas dan tumpukan buku milik Keira.
Begitu melihat pemandangan di depannya, Ardan yang merengkuh pinggang Keira dengan posisi yang begitu intim---darah Zero seolah mendidih hingga ke ubun-ubun.
Zero menjatuhkan tumpukan buku itu begitu saja ke lantai. Ia maju dan menyentak tangan Ardan dari pinggang Keira dengan kasar, lalu menarik gadis itu ke belakang tubuhnya.
"Mau cari mati lo, hah?!" desis Zero, matanya menyipit penuh ancaman. "Jangan berani-berani lo sentuh dia dengan tangan kotor lo itu, Ardan."
Ardan hanya berdiri tegak, merapikan jaketnya yang sedikit berantakan akibat sentakan Zero. Ia tidak tampak terintimidasi sedikit pun. Justru, ia menatap Zero dengan pandangan meremehkan.
"Dia hampir jatuh, Zero. Gue cuma nolongin," jawab Ardan santai, meski nada suaranya terdengar dingin.
"Gue nggak butuh bantuan lo, dan Keira apalagi!" balas Zero sengit.
Ketegangan di antara mereka bukanlah hal baru, Ardan dan Zero memang tidak pernah akur sejak lama. Mereka seperti dua kutub magnet yang saling tolak-menolak di sekolah ini.
"Mulai sekarang, jauh-jauh dari Keira. Kalau gue lihat lo di dekatnya lagi, gue nggak peduli kita satu sekolah atau nggak, gue bakal habisin lo."
Keira, yang berdiri di belakang Zero sambil memegangi pergelangan kakinya, hanya bisa memutar bola matanya.
Ia merasa situasi ini sangat konyol. Dua pemuda ini bertingkah seolah ia adalah piala yang sedang diperebutkan.
"Zero, cukup. Kakiku terkilir," sela Keira pendek, mencoba menghentikan drama yang semakin tidak perlu ini.
Mendengar itu, kemarahan Zero langsung berganti menjadi kepanikan yang berlebihan. Ia berbalik, menatap Keira dengan cemas. "Terkilir? Mana? Biar gue gendong lo ke UKS sekarang juga!"
Ardan yang melihat itu hanya mendengus sinis. Ia mengambil helmnya yang tergeletak di lantai, lalu menatap Keira sekilas.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ardan berbalik dan berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Jangan pernah dengerin dia, Keira," gerutu Zero sambil mencoba membantu Keira berjalan. "Ardan itu berbahaya. Dia nggak jelas asal-usulnya dan selalu cari masalah."
Keira hanya diam, membiarkan Zero memapahnya menuju UKS.
Ia melirik gantungan kunci di tangannya. Ardan benar tentang satu hal pendaratannya tadi amatir.
Namun, yang lebih mengganggu pikirannya adalah mengapa Zero begitu membenci Ardan. Apakah ada sejarah kelam di antara mereka.