Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
CAPTER 23
SEPAKAT BERTEMAN, NAMUN KEINGINAN HATI BERBEDA
Hasan telah menghabiskan waktu setidaknya lima hari dirawat di klinik, begitu dokter mengijinkan pulang dia segera meminta Ilham untuk mengurus administrasi. Dengan sigap Ilham langsung mengurusnya sementara kedua temannya dan bik Siti mengemasi barang-barang. Dan tak lupa bik Siti juga segera memberitahu pak Malik, segera pak supir diperintahkan untuk menjemputnya.
Tak butuh waktu lama pak Said sudah sampai dan langsung menuju kamar Hasan.
“Den mobilnya sudah didepan...apa sudah siap?.” tanya pak Said.
Hasan yang tidak menyangka pak Malik akan mengirim supir untuk menjemputnya terdiam beberapa saat. Sebenarnya Hasan tidak ingin pulang kesana, justru dia ingin kembali kerumahnya sendiri. Tapi tidak enak menyinggung hati mertuanya, dia pun menerima pengaturan yang telah ditetapkan oleh pak Malik.
“Iya Pak tunggu sebentar.” Jawab Hasan.
Setelah administrasi selesai diurus, tiga kunyuk mengantar Hasan sampai masuk ke dalam mobil.
“Mas jaga diri yang baik ya.” Ucap Ilyas.
Hasan tidak menjawab dia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.
“Pengen dapet mertua kayak mertuanya mas Hasan....” Guman Andik.
“Iya baik banget dan juga nggak pilih-pilih sama orang...beda banget sama anaknya!.” Ilyas menimpali.
“Hssstt...kita doakan yang terbaik buat Mas!.” Ilham menasehati.
Didalam kamar Naura yang mendapat kabar dari bik Siti kalau Hasan sudah diperbolehkan pulang, langsung kerja bakti. Mulai dari sprei, selimut dan gorden semuanya diganti, dia juga sudah memindahkan tas yang berisi pakaian Hasan ke lemari dan berjejer dengan miliknya. Tak lupa dia juga membeli satu set meja kerja yang dia taruh disisi kanan tak jauh dari sofa, juga rak buku untuk koleksi buku-buku Hasan yang sebelumnya ditumpuk disudut. Dia juga menaruh kotak yang berisi jam tangan dilaci meja sementara kotak hadiah yang berisi buku dan jamu dia simpan dilemari diruang pakaian, tentunya tak lupa menaruh kembali buku yang selama ini dia baca secara diam-diam.
Setelah selesai beres-beres kamar, Naura langsung menuju kamar mandi. memanjakan tubuhnya dengan berendam dibathup yang sudah diisi air dan menambahkan essential oil dengan wangi sitrus ke dalam air. Ternyata keharuman sitrus membuatnya terlelap.
Pak sopir sudah tiba dirumah dan dia membantu Hasan untuk turun dan berjalan mengingat kondisinya masih sedikit lemah. Pak Malik menyambutnya dengan penuh kehangatan bahkan dia sendiri juga ikut mengantar Hasan ke kamar. Awalnya dia meminta bik Siti menyiapkan kamar lain buat Hasan tapi bik Siti memberi masukan padanya dan menerima masukan itu demi kebaikan kedua anaknya.
Hasan sedikit kaget mendapati nuansa kamar yang berbeda dari sebelumnya, dengan dibantu pak Said dia merebahkan tubuhnya diranjang milik Naura. Ranjang itu luas dan sangat empuk dan itu adalah kali pertama dia disana. Begitu yang lainnya keluar, Hasan bangkit dari tidurnya. Sambil menahan rasa pusing yang masih menempel, dia berjalan ke meja kerja. Dia berfikir pak Malik yang membelikannya dan meminta pelayan rumah
untuk diletakkan disana. Tangannya memeriksa semua buku yang tersusun rapi, lalu juga membuka laci meja. Dia mendapati kotak jam tangan yang ingin dia hadiahkan ke Naura tersimpan disana. Melihat kotak itu seketika dia teringat dengan Naura yang tidak berada dikamar.
“Bukannya kata bik Siti dia nggak ke butik hari ini....” Guman Hasan.
Matanya mulai memeriksa sekeliling ruangan namun tidak menadapatinya, langkahnya menuju ruangan pakaian tapi juga kosong. Firasatnya mengatakan kalau istrinya ada dikamar mandi, dia pun melangkah kesana tapi tidak berani masuk. Dia mengetok pintu kamar mandi tapi tidak ada jawaban dari dalam. Setelah menunggu beberapa menit diluar Hasan memutuskan untuk masuk. Begitu pintu dibuka dan melangkah kedalam dia mendapati Naura tertidur dibathup.
“Apa emang hobinya tidur disana.” Guman Hasan.
Dia mencoba melangkah mendekatinya namun tiba-tiba kakinya terhenti begitu sadar kalau Naura tertidur tanpa sehelai pakaian. Dia segera berbalik dan keluar dari sana, untuk membangunkan Naura dia sengaja menyalakan televisi dan sedikit mengeraskan volumenya dengan harapan membuat Naura terbangun.
Tak lama Naura pun terbangun tapi bukan karena suara televisi tapi karena sebuah mimpi. Setelah selesai membilas badannya Naura langsung keluar dengan mengenakan jubah mandi kimono yang panjangnya hanya menutupi separuh paha dan lilitan handuk dikepalanya. Pupil mata Naura melebar tak kala melihat Hasan di sofa, hatinya seketika mekar.
Dia ingin berlari kesana dan memeluk erat tubuhnya tapi dengan sedih dia menahan keinginan batinnya itu. Langkah lesunya berjalan ke meja rias dan seperti biasa memanjakan kulitnya dengan minyak zaitun lalu memoles sedikit wajahnya.
Hasan menoleh kearahnya, dia hendak memberikan senyum manis pada Naura tapi urung ketika melihat raut wajah Naura yang datar.
“Apa penyakit ngambeknya lagi kambuh?.” gumannya dihati.
“Kapan kamu dateng?.” tanya Naura.
“Sudah dari tadi Mba." Jawab Hasan dan mengecilkan volume televisi.
“Ohhh...kalo kamu mau ganti pakaian disana!.” Sambil menunjuk kearah ruangan.
“Iya Mba." Jawab Hasan singkat.
Karena tak ada obrolan lebih lanjut Naura segera bangkit dan pergi keruang pakaian untuk berganti baju. Hatinya sangat sedih ketika Hasan hanya memberikan perhatian yang hambar. Setelah selesai dia kembali keluar dan meraih tasnya, menaruhnya diatas kasur bersama dengan dirinya. Tangan Naura mengeluarkan buku dan pensil dari dalam, untuk membuang kesumpekan dia mencoba mendesain pakaian dan pakaian yang dia gambar adalah pakaian seorang pria. Upayanya berhasil dia terlihat sangat fokus dan lupa dengan sekelilingnya.
-----
Setelah selesai sholat Hasan berjalan kearah Naura yang sedang sibuk bermain game di handphonenya.
“Mba....” Ucap Hasan
“Iya....” tetap bermain game.
“Mari kita berteman!.” Suara Hasan sedikit bergetar.
“Maksudnya?." menaruh handphonenya.
“Iya Mba...mari kita berteman saja, mungkin dengan berteman kita bisa belajar memahami dan juga tidak saling menyakiti.”
“Kenapa harus dengan berteman?.” menyembunyikan kesedihan.
"Karena tidak mungkin bagi kita untuk kembali dan memulainya.”
“Aku bisa.” batin Naura menjerit.
“Ohhh...benarkah?.” namun itu suaranya yang keluar.
“Perbedaan kita terlalu besar dan saya sadar dengan status saya.”
“huhhh...dari aku berubah saya...rasanya semakin asing." Batin Naura berguman.
“Ok lah...aku ikuti keinginanmu.” Lalu bersiap diri untuk turun kebawah.
Seperti biasa mereka berdua turun kebawah untuk makan malam, karena Hasan belum sepenuhnya sehat bik Siti memasak makanan yang dianjurkan dokter.
“Selesai makan jangan langsung ke atas ya...papa mau bicara sebentar.” Ucap pak Malik memberitahu keduanya.
“Iya Pa!.' Jawab Hasan sementara Naura memilih diam.
Dan setelah selesai makan malam Hasan dan Naura menemui pak Malik yang sudah berada diruang kerjanya. Wajahnya tidak terlihat cerah seperti yang biasa dia tunjukkan selama ini. Setelah menyuruh keduanya duduk pak Malik mulai membuka mulut.
“Papa minta maaf sama kalian berdua terlebih sama nak Hasan...mungkin ada banyak sikap atau perbuatan papa yang menyinggung. Beberapa hari ini papa terus merenung dan berfikir apa yang terbaik buat kita semua. Sebenarnya hati papa sakit tapi papa harus bijak dan tidak mengedepankan keinginan papa terus. Papa ingin memberikan kebebasan buat kalian berdua, silahkan kalian yang memutuskan. Dan apapun keputusannya papa akan berbesar hati untuk menerimanya...."
“Maaf saya kurang faham maksud Papa?." Hasan memotong, perasaannya mulai tidak enak.
“Papa ingin membebaskan kalian berdua, David akan mengurus semuanya.”
“Maksudnya Pa?.” Hasan kembali bertanya.
“David akan mengurus perceraian kalian...papa sudah memintanya tentunya setelah berunding dengan kalian....” Tidak bisa melanjutkan.
‘Deg’
Hati Hasan dan Naura bagai dihantam batu berukuran besar, bagi Naura ucapan Papanya beberapa hari yang lalu ketika bertengkar dengannya hanyalah gertakan belaka tapi ternyata tidak demikian. Hasan yang sama sekali tidak pernah berfikir pak Malik akan memutuskan hal demikian sangat terpukul. Sebelumnya dia memang marah pada Naura karena telah menyakiti hatinya tapi pikiran kearah itu belum pernah terlintas.
“Kenapa Papa memutuskan hal itu?." memberanikan diri.
“Itu adalah keputusan yang papa ambil untuk kebaikan kalian berdua."
“Mohon berikan saya waktu Pa...setidaknya untuk membicarakannya dengan Adek!." dengan hati bergetar.
“Lakukanlah jika itu demi kebaikan."
Naura sama sekali tidak bersuara dan ketika pembicaraan selesai dia langsung undur diri dan kembali keatas tanpa menoleh. Pikiran dan hatinya tengah berkecamuk, selama ini dia menginginkan pernikahan itu tidak pernah terjadi tapi sekarang ketika kebebasan itu akan segera datang hatinya justru menolak.
Dia menjatuhkan tubuhnya ke kasur begitu masuk kamar, menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Pikirannya terus menerawang entah kemana, mengingat kembali perkataan Papanya dan keinginan suaminya untuk berteman.
“Berteman...hanya berteman ” Gumannya dihati.
-----
Ditengah malam Naura terbangun dari tidurnya, matanya terasa sakit mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Dia duduk termenung diatas kasur sambil menatap kesofa dimana suaminya tidur. Lalu turun dari tempat tidur dan berjalan ke balkon, menatap gelapnya langit.
“Kenapa gelap...kemana semua bintang yang biasa bersinar.” Gumannya.
Tubuhnya beringsut kebawah dan bersandar kepagar besi, menekuk kedua kakinya dan memeluk dengan kedua tangannya. Kepala bersimpuh dikedua lutut dan air mata tak terasa mengalir membasahi pipinya.
“Mama....” Ucapnya yang ingin sekali merasakan pelukannya saat ini.
Pagi masih gelap Hasan sudah terbangun dari tidurnya, dia segera bangkit untuk ke kamar mandi mengambil air wudhu’. Ketika melihat tempat tidur itu kosong matanya tanpa perintah memeriksa setiap sudut ruangan.
“Apa dia lagi dikamar mandi?.” gumannya sambil berjalan kesana.
Lalu mengetok pintu tapi tidak ada suara dari dalam, selanjutnya dia berjalan ke ruang pakaian ternyata juga kosong. Matanya terus mencari sekeliling kamar dan melihat pintu kaca balkon terbuka sedikit. Meski ragu dia tetap berjalan kesana, sedikit menarik selambu kesamping dan membuka pintu lebih lebar. Kakinya melangkah sementara pandangannya mengarah keluar namun baru beberapa langkah dia terhenti karena sepertinya menabrak sesuatu. matanya segera mengecek kebawah dan tersentak ketika melihat Naura tertidur disana dengan meringkuk dan bersandar kepagar besi.
“Ya Allah....” Gumannya sambil mencoba mengangkat tubuh Naura dan membawanya kembali ke tempat tidur.
Dia hendak beranjak tapi tangannya dipegang oleh Naura dan menariknya hingga terjatuh ke kasur. Masih belum melepaskan tangan Hasan, Naura mendekat dan memeluk tubuhnya dengan erat.
“Mama....” Gumannya dengan mata masih terpejam.
Hasan membalas pelukan Naura dengan mendekap kepalanya ke dada dan membenamkan mukanya pada rambut Naura sambil mencium wangi rambutnya. Hasan pun akhirnya kembali tertidur sambil mendekap tubuh Naura.
Sarapan sudah siap sedari tadi tapi keduanya belum juga turun, akhirnya pak Malik meminta bik Siti untuk memanggilnya. Segera bik Siti naik keatas dan mengetok pintu, Hasan terbangun begitu mendengar suara ketokan dari luar. Pelan-pelan dia melepaskan diri dari pelukan Naura dan sebelum bangkit dia mengecup kepala Naura.
“Iya Bik maaf ketiduran lagi habis subuh.” Ucap Hasan pelan.
“Sarapan sudah siap Den.” Sambil melirik ke dalam.
“Tolong sampaikan sama Papa kalo kita sarapannya nyusul.”
“Iya Den.” Lalu kembali kebawah.
Sambil berjalan bik Siti terus memikirkan ucapan Hasan yang menggunakan kata kita, tebakan bik Siti sesuatu mungkin sudah terjadi. Dia pun tersenyum sendiri ketika memikirkan sesuatu yang terjadi yang di maksud.
“Tuan katanya mereka nyusul sarapannya.” Ucap bik Siti berusaha menirukan.
“Jadi mereka nggak ada yang mau turun?." timpal pak Malik.
“Bukan itu Tuan...kayaknya mereka masih tidur pas saya ketok pintunya.” Berusaha menjelaskan pada pak Malik yang tingkat kepekaannya rendah.
“Jam segini masih pada tidur?!.” sambil menggelengkan kepala.
“Siapa tahu mereka lembur Tuan tadi malem...soalnya tadi...,” Ucap bik Siti namun terhenti.
Dan akhirnya pak Malik mengerti maksud dari perkataan bik Siti, meski sarapan sendiri namun hatinya mulai cerah setelah beberapa hari mendung.
Didalam kamar Hasan yang sudah terbangun langsung ke kamar mandi, dia membiarkan tubuhnya diguyur air dingin yang keluar dari shower. Dan diluar Naura yang sebenarnya sudah terbangun, hatinya seketika cerah setelah mendapat kecupan dari Hasan. Tapi kembali sedih ketika teringat dengan ucapan Hasan yang memintanya berteman.
“Berteman saja...hanya berteman.” Gumannya dengan wajah murung.