follow Ig 👉 dindin_812
New Adult romance
WARNING!!! Sebelum baca siapkan hati, karena dijamin bakal kesel, baper, tegang dan lain lain.
Setting di London.
Jovanka adalah seorang gadis manja, ia memiliki paman bernama Jody yang begitu sangat menyayangi dirinya sejak kecil. Entah hanya sebuah perasaan sayang terlalu besar atau apa, membuat Jovanka sering merasa cemburu jika sang paman dekat dengan wanita lain.
Hingga suatu ketika karena akal bulus seseorang, membuat Jovanka dan Jody mengalami tragedi satu malam. Jovanka yang tidak ingin Jody merasa bersalah pun memilih pergi, tahu jika tidak mungkin baginya bisa bersama adik sang mamah, meski bunga-bunga cinta tumbuh di hatinya.
Namun, siapa sangka dibalik itu semua, Jovanka tidak tahu kalau Jody ternyata bukanlah adik kandung sang mamah. Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya? Baca selengkapnya di sini.
Pict from Pinterest editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Akhirnya pergi
Tanpa menjawab, Jovanka langsung menyandarkan kepalanya di lengan Aiden yang tengah menyetir, ia menenggelamkan wajahnya di lengan pemuda itu.
Aiden yang terkejut pun akhirnya menepikan mobilnya, memperlambat dan berhenti di bahu jalan. Mematikan mesin, Aiden membelai rambut Jovanka yang masih menangis.
"Ada apa?" tanya Aiden sekali lagi.
"Dia tega bentak-bentak aku," keluh Jovanka sedikit terisak.
Aiden tampak mengernyitkan dahi, pikirannya langsung tertuju pada Jody.
"Memangnya apa yang membuat dia sampai membentakmu?" tanya Aiden sekali lagi.
Jovanka bercerita tentang dia yang tanpa sengaja menabrak bahu Alice yang akhirnya terjadi perdebatan antara mereka.
"Kamu nggak punya mata ya?" bentak Jovanka yang memang sedang emosi.
"Maaf, Jo! Aku nggak sengaja," ucap Alice dengan memasang wajah memelas.
Alice mencoba meraih tangan Jovanka tapi segera di hempaskan oleh Jovanka dengan keras membuat Alice terdorong Ke dinding.
"Jangan pura-pura sok baik!" bentak Jovanka dengan sedikit melotot karena ia masih kesal.
Alice menangis, ia terus mengucapkan kata maaf yang membuat Jovanka menjadi muak. Ia tahu jika gadis di depannya itu pasti berpura-pura, tidak mungkin gadis angkuh seperti Alice akan mudah meminta maaf.
"Apa yang kau lakukan, Jo?" tanya Jody dengan nada sedikit membentak.
Jody berjalan mendekat ke arah Alice dan jovanka berdiri. Jovanka pun tampak terkejut dengan suara bentakan Jody yang begitu nyaring membuat kedua pundaknya sedikit bergetar.
"Apa?" bentak Jovanka yang sedari tadi sudah kesal.
"Kau ini apa-apaan sih? Jika kau marah dengan Paman ya marah saja! Kenapa harus meluapkan amarahmu pada orang lain?" tanya Jody dengan nada tinggi.
Ini untuk pertama kalinya Jody membentak Jovanka, membuat gadis itu sedikit gemetar karena rasa terkejutnya.
Dengan wajah memerah menahan amarah, Jovanka hanya bisa mengepalkan tangannya. Karena tidak ingin berdebat dengan pamannya itu, Jovanka memilih untuk pergi meninggalkan mereka dengan perasaan kesal.
Aiden yang mendengar cerita Jovanka pun hanya bisa menghela napas, ia tahu jika Jody memang sama sekali tidak pernah membentak bahkan memarahi Jovanka bagaimanapun kesalahannya.
Pemuda itu hanya bisa menepuk punggung Jovanka mencoba membuatnya tenang.
"Ya sudah! Lalu sekarang kamu mau bagaimana?" tanya Aiden.l halus.
Jovanka yang memang masih dalam keadaan labil pun bangkit dari sandaran bahu Aiden, ia menyeka bulir airmata yang masih membasahi pipinya.
"Aku akan pindah ke Apartemen paman Nathan hari ini," jawab Jovanka.
Aiden hanya bisa menganggukkan kepala, mengantar gadis itu menuju ke Apartemen yang di maksud olehnya.
*
*
*
*
"Paman pikir kamu bercanda saat bilang mau memakai Apartemen milik paman?" tanya Nathan.
"Tentu saja tidak! Kenapa harus bercanda?" tanya Jovanka balik dengan seulas senyum di bibirnya.
Aiden dan Jovanka bertemu Nathan di depan gedung Apartemen lama milik Nathan, kemudian mereka masuk bersama.
"Jo! Kamu tiba-tiba minta pindah, kamu sedang tidak marahan dengan Jody, 'kan?" tanya Nathan yang dari kemarin merasa aneh dengan sikap Jovanka.
Jovanka hanya tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya. Namun Nathan tidak begitu saja percaya, semua keluarga tahu bagaimana hubungan antara Jody dan Jovanka yang tampak seperti perangko, lalu kenapa Jovanka yang nyata-nyata sudah bersama Jody malah meminta untuk bekerja dan tinggal terpisah.
"Yakin tidak ada apa-apa? Kalau memang ada masalah kamu bisa ngomong sama Paman," ucap Nathan memperhatikan raut wajah keponakannya.
Mereka berjalan hingga sampai di depan pintu Apartemen milik Nathan, Aiden sedari tadi hanya mengekor di belakang mereka, enggan mengganggu percakapan paman dan keponakan itu.
Jovanka tetap menggelengkan kepala dengan seulas senyum di bibirnya.
Nathan hanya bisa menghela napas panjang, ia kemudian membuka pintu ruang Apartemen miliknya.
"Paman sudah meminta orang membersihkan tempat ini tadi siang, jadi kamu bisa langsung menempatinya," kata Nathan memperhatikan ruangan yang sudah tertata rapi.
"Terimakasih paman," ucap Jovanka manja.
Jovanka mengeksplore setiap ruangan yang ada di sana, Apartemen itu memang sedikit besar, ada dua kamar, dapur, ruang tamu juga ruang keluarga.
*
*
*
*
*
Jody kembali ke rumahnya, ia tampak memandangi rumahnya yang gelap, ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobilnya, matanya ia pejamkan mengingat kejadian sore itu disaat ia membentak Jovanka tanpa sengaja. Menyesal! Tentu saja ia menyesal, gara-gara sikapnya itu kini Jovanka benar-benar pindah dari tempatnya.
"Bodooh! Bodooh!" gerutunya seraya memukul stir kemudiannya.
Jody keluar dari mobil dan berjalan dengan gontai kedalam rumahnya, jelas ia merasa ada sesuatu yang kurang. Tanpa menyalakan lampu, Jody langsung menuju kamarnya begitu saja.
Terdengar suara pintu terbuka, lampu pun terlihat terang dari luar, Jody menyadari jika Jovanka pulang.
Jody bergegas keluar dari kamarnya, tepat di saat Jovanka baru saja naik berdiri di ujung tangga untuk pergi ke kamarnya.
"Jo!" panggil Jody.
Jovanka yang mendengar suara Jody pun berhenti melangkah, ia berbalik menghadap ke arah Jody yang tengah berjalan mengarah padanya.
"Paman kira kau tidak akan pulang," ungkap Jody, matanya terlihat berbinar menatap tak percaya siapa yang pulang.
"Aku pulang karena ingin mengambil beberapa barang," kata Jovanka santai.
Mendengar perkataan Jovanka membuat Jody merasa tidak rela, ia menyesal juga ada sesuatu yang membuatnya merasa enggan berpisah dengan gadis itu.
"Aku kesini untuk mengambil beberapa barangku, Paman!" ucap Jovanka lirih.
Ia kemudian membalikkan badannya lagi berjalan menuju kamarnya. Jody pun bergegas mengekor pada Jovanka.
Jody merasa begitu bingung karena Jovanka mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari serta memasukkannya ke dalam koper, Jody terus mencegah gadis itu namun tidak dihiraukan oleh Jovanka.
"Jo! Jangan seperti ini, kita bisa bicara baik-baik, 'kan? Paman akui Paman salah tapi tidak bisakah kau tetap tinggal disini?" bujuk Jody yang menghalangi langkah Jovanka yang tengah mondar mandir mengemas barangnya.
Jovanka tersenyum semanis mungkin, ia menatap mata pamannya yang mulai terlihat kebingungan.
"Paman, aku sudah bilang ingin mandiri, 'kan? Jadi ... biarkan aku berusaha sendiri mulai sekarang," ucap Jovanka santai dan langsung memutari tubuh Jody yang berdiri di hadapannya.
"Jo! Sejak kau kabur dari rumah, mulai dari hari itu kau menjadi tanggung jawab Paman, jadi Paman tidak mengizinkanmu pergi!" tandas Jody.
"Paman tidak bisa memaksaku!" ucap Jovanka lagi yang masih terdengar santai.
Jovanka buru-buru menutup kopernya kemudian berniat pergi dari sana hingga Jody menarik lengannya membuatnya menabrak dada bidang Jody, gadis itu terkejut karena hampir tidak ada jarak di antara mereka.
Mata mereka saling bertukar pandangan, entah apa yang dipikirkan Jody. Namun ia menatap lekat ke dalam mata gadis kesayangannya itu.
"Jo! Jika paman membuat kesalahan, setidaknya beritahu apa itu? Jangan mengeksekusi Paman seperti ini, Jo! Kau tahu kan kalau paman amat sangat menyayangimu!" tutur Jody penuh kelembutan.
Jovanka tersenyum tipis, ia tidak tahu apakah ia harus mengatakan apa yang ia rasakan. Namun jika tidak, ia tahu jika pamannya itu tidak akan pernah mengerti keputusannya.
"Paman, bukan paman yang melakukan kesalahan tapi aku," cetus Jovanka yang masih terus berusaha tersenyum pada Jody.
Semua perkataan Jovanka membuat Jody bingung, Jovanka tetap meninggalkan rumah itu untuk pindah ke Apartemen milik Nathan, ia sudah memantapkan hatinya.
..._...
..._...
..._...
...Buat semua pembaca, mohon bantuan Like dan komentnya ya, meski h6anya koment up, itu sangat berarti buat saja....
...Terimakasih 🙏🙏...