Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.
Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Maaf Dafin
Matahari pagi yang masuk melalui celah gorden kamar Alea terasa begitu menyengat, seolah memaksa gadis itu untuk bangun dan menghadapi kenyataan bahwa dunia sudah tahu tentang skandal semalam. Alea meringkuk di balik selimut, menatap jari manisnya. Cincin berlian itu masih ada di sana, berkilau tanpa dosa, padahal benda itu adalah rantai yang kini mengikatnya pada pria yang mencintai wanita lain.
"Nona, Anda sudah ditunggu di bawah."
Suara Kenan dari balik pintu terdengar tenang, Alea menghela napas, bangkit dari tempat tidur, dan bersiap seadanya. Ia tidak ingin tampil cantik hari ini. Untuk siapa? Untuk pria yang videonya sedang bermesraan dengan wanita lain ditonton seantero negeri?
Saat Alea menuruni tangga, ia melihat sebuah mobil mewah terparkir di depan teras. Tak lama kemudian, pintu ruang tamu terbuka. Dafin Danuar melangkah masuk. Ia mengenakan kemeja biru muda yang rapi, namun matanya yang merah menunjukkan bahwa ia juga tidak tidur semalam. Di tangannya, ia membawa sebuah buket bunga mawar putih yang sangat besar.
Arkan Maheswari, papa Alea, menyambut Dafin dengan senyum yang dipaksakan. "Ah, Dafin. Silakan duduk. Alea baru saja turun."
Alea sampai di ruang tamu dan berdiri mematung. Tatapannya dingin, bibirnya terkatup rapat. Kenan segera mengambil posisi di belakang Alea, tangannya terlipat di depan, matanya tertuju tajam pada setiap gerak-gerik Dafin.
"Alea," panggil Dafin dengan suara rendah. Ia melangkah mendekat dan menyodorkan bunga itu. "Aku datang untuk meminta maaf secara resmi atas kejadian semalam. Itu... itu semua adalah kesalahan teknis dan sabotase yang sedang kami selidiki."
Alea menatap bunga itu seolah benda itu adalah tumpukan sampah. "Kesalahan teknis, Dafin? Atau kejujuran yang tidak sengaja terungkap?"
"Aku tahu kamu marah. Aku juga malu. Tapi Ayah ingin kita tetap melanjutkan ini demi hubungan baik keluarga kita."
"Hubungan baik atau bisnis keluarga?" potong Alea sinis. ia tidak menerima bunga itu, membuat tangan Dafin menggantung di udara.
"Alea! Jaga sopan santunmu!" tegur Arkan dengan nada mengancam. "Dafin sudah berniat baik datang ke sini. Terimalah bunganya."
Alea terpaksa mengambil buket itu dengan kasar. Berat bunga itu terasa seperti beban dosa yang harus ia pikul. "Terima kasih, Tuan Danuar. Sekarang, apa lagi? Ada sesuatu yang ingin anda ucapkan"
"Ayah ingin kita makan siang di luar hari ini. Ada beberapa media yang akan memotret kita untuk membuktikan bahwa hubungan kita baik-baik saja."
"Makan siang? Di tengah berita yang sedang panas-panasnya?" Alea tertawa getir. "Kamu benar-benar ingin aku menjadi badut di sirkusmu, ya?"
"Ini untuk kebaikan kita berdua, Alea," ucap Dafin.
"Kebaikan siapa? Kamu? Atau kekasihmu yang ada di video itu?"
Suasana mendadak menjadi sangat tegang. Arkan tampak ingin meledak, namun ia menahan diri karena ada Dafin di sana. Ia kemudian menoleh ke arah Kenan. "Kenan, siapkan mobil Nona Alea. Dia akan pergi makan siang dengan Dafin."
"Maaf, Tuan," sahut Kenan dengan suara bariton yang mantap. "Sesuai tugas saya untuk menjaga keamanan Nona Alea, terutama di situasi yang sedang tidak kondusif ini, saya harus ikut dalam perjalanan tersebut."
Dafin menoleh ke arah Kenan dengan tatapan tidak suka. "Aku bisa menjaga tunanganku sendiri. Kamu tidak perlu ikut di dalam restoran."
"Tugas saya bukan hanya di dalam restoran, Tuan Danuar," balas Kenan tanpa mundur setitik pun dari tatapan Dafin. "Saya bertanggung jawab atas keselamatan Nona Alea dari kerumunan wartawan yang mungkin akan menyerang. Saya tetap akan ikut."
Dafin mendengus, namun ia tidak punya pilihan. Akhirnya, mereka berangkat. Dafin di mobilnya sendiri, sementara Alea di mobilnya bersama Kenan yang menyetir, setelah beberapa saat tadi mengganti pakaiannya dan bersiap.
Keheningan menyelimuti kabin mobil Audi milik Alea. Alea menatap ke luar jendela, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya luruh juga. Ia merasa seperti barang yang sedang dipamerkan.
"Nona..." Kenan memanggil pelan sambil melirik melalui spion tengah.
"Aku benci ini, Kenan. Aku benci harus pura-pura tersenyum di depan orang-orang yang tahu kalau tunanganku baru saja mempermalukanku," isak Alea.
"Jangan menangis, Nona. Ingat apa yang kita bicarakan di pantai. Ini adalah permainan strategi. Gunakan kesempatan makan siang ini untuk mengamati Dafin. Cari tahu apa titik lemahnya. Semakin tenang Anda, semakin mudah kita menemukan celah untuk keluar dari semua ini."
Alea menghapus air matanya dengan tisu. "Kamu benar. Aku nggak boleh kelihatan hancur di depan dia. Itu yang dia mau."
"Tepat. Saya akan berada sangat dekat dengan Anda. Jika pria itu mengatakan hal-hal yang menyakiti Anda lagi, beri saya kode. Saya tidak akan membiarkan dia bertindak semena-mena meskipun dia calon suami Anda," ucap Kenan.
Restoran mewah yang sudah dipesan oleh keluarga Danuar tampak sepi karena sudah dikosongkan untuk mereka. Namun, di depan pintu masuk, beberapa fotografer dari media yang sudah disewa oleh Bramantyo sudah bersiap.
Begitu turun dari mobil, Dafin segera menghampiri Alea dan merangkul pinggangnya. Alea tersentak, merasa jijik dengan sentuhan itu, namun ia teringat kata-kata Kenan. Ia memaksakan sebuah senyum tipis saat kamera mulai membidik mereka.
Di belakang mereka, Kenan berdiri seperti dinding hitam yang kokoh, mengawasi setiap gerak tangan Dafin di pinggang Alea. Matanya berkilat penuh ketidaksukaan, namun ia tahu ia harus menahan diri.
Saat mereka duduk di meja makan, Dafin melepaskan rangkulannya dan menghela napas panjang. "Sekali lagi, Alea... aku minta maaf. Video itu tidak seharusnya keluar."
"Jadi kalau tidak keluar, kamu akan tetap merahasiakan hubunganmu dengan Maya selamanya?" tanya Alea dingin sambil menatap menu tanpa minat.
Dafin terdiam. Ia menatap Alea yang kini tampak lebih tenang namun jauh lebih tajam. "Aku mencintai Maya. Itu kenyataannya. Tapi aku dipaksa oleh Ayah untuk menikahimu. Aku tidak punya pilihan karena Ayah mengancam akan menghancurkan karir Maya."
Alea menutup menunya dengan keras. "Jadi aku hanyalah tumbal agar karir kekasihmu selamat? Hebat sekali. Kamu mengorbankan masa depanku demi wanita itu."
"Aku akan memberimu kebebasan setelah kita menikah nanti, Alea. Kita hanya perlu tampil di depan publik sebagai suami istri. Di belakang, kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau," tawar Dafin.
"Termasuk bersama Kenan?" tanya Alea tiba-tiba, hanya untuk memancing reaksi Dafin.
Dafin tertegun. Ia melirik ke arah Kenan yang berdiri beberapa meter di belakang Alea. Rasa panas yang aneh kembali menjalar di dadanya. "Apa maksudmu? Dia itu cuma bodyguard-mu."
"Dia lebih dari sekadar bodyguard bagiku, Dafin. Dia orang yang ada di sampingku saat kamu mempermalukanku semalam. Jadi jangan harap aku akan menuruti semua aturanmu di rumah nanti," tantang Alea.
Rahang Dafin mengeras. "Jangan coba-coba membuat skandal dengan pelayanmu sendiri, Alea. Itu akan menghancurkan nama keluarga Danuar."
"Oh, jadi kamu boleh punya Maya, tapi aku tidak boleh punya seseorang yang mendukungku?" Alea tersenyum miring, sebuah senyum kemenangan. "Sangat adil, bukan?"
Makan siang itu berlalu dengan penuh ketegangan. Dafin menyadari bahwa Alea bukan lagi gadis penurut yang bisa ia injak-injak.
Saat mereka keluar dari restoran, Dafin sempat berpapasan dengan Kenan. Dafin berhenti sejenak dan berbisik di samping Kenan, "Jaga batasanmu, Pengawal. Dia tunanganku sekarang."
Kenan menatap lurus ke depan, suaranya terdengar dingin dan tak bergetar sedikit pun. "Tugas saya adalah menjaga Nona Alea dari apa pun yang menyakitinya, Tuan Danuar. Termasuk dari orang yang memakai cincin yang sama dengannya."
Dafin mendengus dan masuk ke mobilnya dengan perasaan yang sangat kacau.