Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.
Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Dasar brengsek!" Draco menggebrak meja dengan sangat keras. Beberapa robot seketika menjauh darinya. "Aku tidak mendapatkan informasi apa pun dari Osvaldo Tolliver, padahal aku sudah mengerahkan orang-orang berkemampuan khusus."
Draco termenung selama beberapa waktu, mengamati Osvaldo Tolliver yang terikat tidak sadarkan diri di sebuah kursi. Beberapa robot dan senjata mengarah padanya.
"Osvaldo Tolliver hanya mengatakan semua informasi yang sudah aku dengar. Dia tidak memiliki kaitan dengan orang-orang yang sedang aku cari. Akan tetapi, aku masih yakin jika dia terlibat. Firasatku tidak mungkin salah."
Draco mematikan layar, berjalan menuju jendela. Ia mengamati lalu lalang robot dan para anggotanya. Langit tampak lebih gelap dibandingkan biasanya.
Draco mengepalkan tangan erat-erat. "Dugaanku jika Osvaldo Tolliver tahu soal pergerakanku kemungkinan benar. Dia meminta bantuan rekan-rekannya untuk menghilangkan ingatan sekaligus membentuk ingatan baru agar bisa mengecohku. Aku tidak boleh melepaskannya begitu saja."
"Aku yakin orang-orang berkemampuan khusus itu pasti bisa mengorek informasi dari Osvaldo Tolliver. Untuk sekarang, aku harus sedikit bersabar."
Draco memijat kepala berkali-kali, berbaring di ranjang. "Aku terlalu memikirkan hal ini sehingga aku kurang fokus pada hal lain. Aku sebaiknya tetap tenang."
Draco tertidur beberapa menit kemudian. Para anggotanya tampak sibuk di dalam markas, begitu pun dengan tim pencari yang berkeliaran di luar. Mereka berupaya menemukan Luc, Graham, Lorcan, maupun anggota-anggota kelompok lain.
Hujan mengguyur semakin deras dari waktu ke waktu. Malam terasa lebih panjang dibandingkan sebelumnya. Angin berembus kencang hingga udara semakin dingin.
Pagi akhirnya mengusir malam. Matahari yang muncul nyatanya harus terhalang awan hitam di langit. Hujan masih mengguyur hingga beberapa jam kemudian. Langit perlahan cerah saat waktu menjelang pukul sembilan pagi.
Xander, Lizzy, Sebastian, Samuel, Lydia, dan Larvin tengah melihat Alexis berlatih di bawah bimbingan Lorien. Para pengawal berjaga ketat di sekeliling.
Di lokasi berbeda, Larson tengah berjalan di lorong, mengamati sebuah bangunan. Pra itu termenung selama beberapa waktu, membiarkan beberapa orang keluar masuk ruangan.
"Sial! Entah mengapa aku kembali ke tempat sialan ini! Aku bahkan terkadang tidak sadar sudah berada di depan pintu. Apa yang sebenarnya terjadi?" Larson memijat kening, mengembus napas panjang.
Larson mencengkeram kenop pintu, memutuskan untuk memasuki ruangan. Ia seketika disambut dengan deretan lemari tinggi dan besar berisi banyak buku bacaan.
Larson mengabaikan para pegawai yang meliriknya, mengamati keadaan sekeliling. Ia mendengkus kesal saat lagi-lagi menyadari dirinya sudah berada di depan sebuah lemari.
"Sialan! Lagi-lagi hal ini terjadi. Aku berada di depan lemari ini, dan buku yang pertama kali aku lihat justru mengenai robot."
Larson mengambil beberapa buku, meninggalkan ruangan secepatnya. Ia memasuki kamar, duduk di kursi. Mejanya sudah penuh dengan beberapa peralatan.
"Aku bahkan tidak menyelesaikan sekolahku dengan benar. Anehnya, aku mendadak tertarik dengan hal berbau robot dan teknologi. Otakku tampaknya sudah bermasalah."
Larson membuka buku, membaca beberapa catatan. Ia mulai mengambil beberapa peralatan, fokus pada beberapa barang yang akan dirakitnya.
"Meski terlihat sia-sia, aku bisa memberikan sebuah mainan bagus untuk Alexis. Aku akan marah jika dia tidak menyukainya."
Waktu berjalan terasa sangat cepat bagi Larson. Ia melepaskan kacamata, tersenyum saat melihat sebuah robot mainan kecil di dekatnya. "Aku tidak sebodoh yang aku kira. Aku bisa menyelesaikan pemasangan robot mainan ini dengan sempurna. Semua fungsinya berjalan dengan baik. Ini sebuah pencapaian yang luar biasa."
Larson memeriksa robot mainannya berkali-kali, melakukan pengujian. Ia ingin memastikan semuanya berjalan dengan baik. "Seperti kata pepatah menjijikkan yang pernah aku dengar dari guru di sekolahku dulu, semua orang memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing. Dan bagiku, membuat dan merancang robot mainan ini sebuah keajaiban. Aku hanya tahu menghajar seseorang."
Larson menekan sebuah tombol. Robot mainan berbentuk kucing seketika meluncurkan sebuah roket berdaya ledak rendah dar mulutnya. "Itu bagus dan sedikit berbahaya untuk dimainkan oleh anak-anak."
Larson terus berkutat dengan kesibukannya hingga ia tidak sadar waktu makan siang sudah tiba. Ia terkejut saat Larvin membuka pintu.
"Apa yang kau lakukan di dalam kamarmu, brengsek? Apa kau akan terus bermalas-malasan sepanjang waktu di saat Alexis berlatih dan belajar?" teriak Larvin.
Larson segera menyembunyikan robot dan beberapa peralatannya ke dalam meja. "Dasar pria tua sialan! Kau terus saja mengganggu hidupku! Tidak bisakah kau mengetuk pintu sebelum memasuki kamarku?”
"Keluarlah sekarang sebelum aku menyeretmu! Semua orang sudah menunggumu di meja makan untuk makan siang." Larvin keluar kamar, menutup pintu dengan kencang.
"Kenapa tua bangka itu bisa berumur panjang?" Larson meninggalkan ruangan, terdiam saat melihat kerumunan di meja makan. Ia melihat Alexis beberapa kali menoleh ke bawah kursi dan meja. "Apa yang sebenarnya Alexis cari?"
Larson duduk di kursi kosong, menikmati makanan sekaligus cerita Alexis. Ia ingin memberi tahu anak kecil itu soal mainan yang dibuatnya, tetapi ia tidak tahu kapan waktu yang pas untuk mengatakannya.
"Paman, apa kau sakit? Kau terus diam sejak tadi," ujar Alexis.
"Tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Larson meneguk minuman, menyelesaikan makanannya secepat mungkin.
"Kau tampak tertekan. Kau sebaiknya berlibur selama beberapa waktu," saran Lizzy.
"Dia hanya bermalas-malasan sepanjang waktu. Berlibur hanya membuatnya semakin malam," sinis Larvin.
Larson tersenyum sesaat. "Kau benar. Aku sebaiknya berlibur selama beberapa hari.”
"Apa aku boleh ikut, Paman?" Alexis bertanya.
"Tentu saja tidak boleh. Kau hanya membuatku semakin pusing, Alexis. Kau harus belajar dan berlatih." Larson tertawa saat melihat Alexis cemberut, menghabiskan makanannya dengan cepat.
Larson bergegas memasuki kamar, mengunci pintu. "Aku bisa menyempurnakan robot mainan itu di tempat lain tanpa harus mendapatkan gangguan. Aku juga cukup lelah sehingga ingin melihat keadaan berbeda."
Larson membuka ponsel, menoleh pada robot di dalam meja. "Ke mana aku harus berlibur? Aku harus memilih tempat yang cocok."
Alexis tampak cemberut setelah makan siang. "Aku juga ingin pergi bersama Paman Larson, tetapi dia tidak mengizinkanku ikut."
"Kau harus belajar dan berlatih, Alexis. Setelah kau menyelesaikannya dengan baik, kau bisa pergi menemui pamanmu," ujar Lizzy.
"Benarkan?" Alexis kembali ceria.
"Tentu saja benar. Kau sudah berjuang keras selama belajar dan berlatih sehingga kau berhak mendapatkan hari libur."
"Terima kasih, Bu." Alexis memeluk Lizzy, tersenyum. Ia menoleh ke sampingnya dan seketika terdiam ketika mengingat sesuatu. "Apakah aku sebelumnya memiliki kucing?"
"Kucing?" Lizzy terdiam sejenak. "Tidak, kau tidak memiliki hewan peliharaan apa pun, Alexis."
"Aku akan pergi ke kamar Paman Larson." Alexis berlari secepat mungkin, melambaikan tangan.
Di waktu yang sama, Luc dan Graham terpojok oleh pasukan Galata. Mereka bersiap untuk melakukan pertahanan.
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍