"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 22
Happy reading!
.
***
Diam adalah emas. Itu yang dipikirkan Alita tentang keterdiaman seorang Diego, pemuda itu masih setia mencengkram kemudi mobil, mengeratkan rahang dan menghembuskan napas kasar berkali-kali.
Alita juga ikut bergidik. Baru kali ini Diego menunjukkan aura tidak bersahabat. Bahkan senyum palsu yang sering pemuda itu berikan padanya kini berubah menjadi muka penuh amarah, sungguh menakutkan.
Gadis itu bahkan sangat berhati-hati saat menghembuskan napas, takut pemuda di sampingnya terusik oleh udara yang dia hembuskan.
Hingga sampai di gerbang sekolah, tidak ada percakapan ringan yang sering keduanya lantunkan, Alita juga takut memulai obrolan untuk sekadar menggombali Diego. Takut menjadi makanan ringan pemuda itu.
"Tunggu aku siang nanti."
Hanya kalimat itu yang menghantarkan langkahnya turun dari mobil. Tidak ada senyum yang menemani ucapan dari bibir yang sedang mengerut kesal itu.
Alita mengangguk bersamaan dengan mobil pemuda itu berlari pelan. Gadis itu menghembuskan napas lega. Setidaknya dia sudah bebas mengeluarkan ketegangan yang tadi menyelimutinya di mobil.
"Selamat pagi, Alita," sapa seseorang dari belakang, langsung merangkul Alita seperti biasa.
Alita menoleh, mendapati pemuda yang selalu setia menemaninya beberapa hari terakhir. "Hm, pagi juga, Summer," balasnya sedikit lesu, tidak bersemangat seperti biasa.
Pikirannya langsung tertuju pada perkataan Diego tadi, 'Putuskan Summer!'. Ingin rasanya Alita tertawa jika saja aura Diego tidak seseram gorila melahirkan. Kenapa harus putus kalau tidak pacaran?
Entah dia harus bahagia atau bersedih karena tahu Diego cemburu.
"Kamu kenapa? Kekurangan nutrisi pagi? Belum dikasih jatah pagi?" cerocos Summer dengan banyak pertanyaan membuat kepala Alita mulai berdengung.
"Jangan cerewet, aku sedang galau." Alita kembali menghembuskan napas kasar, semangatnya telah terkuras habis. Pagi yang kacau, begitu pikirnya.
"Galau? Kalian bertengkar? Atau---?"
Kalimat pemuda itu menggantung setelah sebuah pukulan mendarat di rahangnya. Mata Alita terbelalak sempurna, Diego berdiri kokoh dengan wajah memerah padam. Tangan mengepal dan napas memburu.
Summer terhuyung, rangkulan di pundak Alita terlepas. Pemuda itu menghapus darah yang langsung menguncur dari sudut bibirnya, menyeringai tipis tatkala si pelaku sudah siap melancarkan pukulan kedua.
"STOP!!!" Alita berteriak menengahi. Dia takut melihat Diego seperti orang kesurupan yang tidak terkendali. Alita berdiri di tengah, menjadi penghalang antara Summer dan Diego yang sama-sama dikuasai amarah.
"Pacarmu ini selingkuh, Lele!" Teriak Diego tidak kalah kerasnya, bahkan nama yang seringkali mereka pakai saat bersama saja diteriakkan pemuda itu. "Aku membiarkan kalian berdua karena aku pikir dia hanya seorang cupu yang tidak mengenal perempuan. Tapi apa? Dia seorang pengkhianat! Aku menyuruhmu putus dengannya, kenapa masih mesra-mesraan di sini?!"
Alita menelan ludah kasar, dia tidak bisa menahan Diego ketika pemuda itu kembali memberikan pukulan pada Summer. Gerakan Diego lebih cepat dari dugaannya. "Jangan permainkan adikku, Sialan! Atau hidupmu akan hancur, aku tidak pandang bulu jika berkaitan dengannya."
Summer berbalik, membalas tatapan tajam Diego yang jarang sekali ditunjukkan pemuda itu. Sakit di rahangnya tidak tertahankan, dua pukulan mampu membuat Summer berkunang-kunang. "Adik, huh?! Dia benar adikmu? Aku mencintainya, jadi kenapa harus putus?"
Diego mencengkram kerah baju pemilik lesung pipi itu dan hendak memukul lagi jika saja tangan Summer tidak langsung menahan. "Pengkhianat! Apa kamu pantas mengatakan kata cinta sementara kamu bermain dengan perempuan lain, huh?! Aku tidak akan membiarkannya bersama denganmu lagi," desis Diego di akhir kalimat.
Summer yang emosi setelah mendengar kalimat itu hendak memukul Diego, tapi Alita menahan.
"Hentikan! Apa kalian gila?! Ini lingkungan sekolah, dan kau, Diego, apa kau sudah gila?! Aku dan Summer tidak pacaran! Kenapa harus putus?!" Alita terengah-engah setelah mengucapkan kalimat panjang itu dengan berteriak.
Diego terkejut, dia balik menatap Alita setelah melepaskan cengkraman di kerah Summer. "Kamu berpura-pura lagi?"
"Ma-maaf ...."
***
"Hisss, aku tidak mau berpura-pura lagi, Alita. Kapok aku," keluh Summer.
Gadis itu menekan luka Summer, membersihkan dan mengobatinya.
"Harusnya kamu tidak memancing emosinya tadi. Aku pikir kamu akan mengaku setelah dipukul."
Summer menggeleng pelan, meringis saat merasakan sakit di sudut bibirnya. "Aku tidak tahu dia sekejam itu jika menyangkut dirimu, aku hanya ingin tahu sejauh mana dia bisa menahan diri." Pemuda itu menyentuh rahangnya yang masih sakit. "Dia memanggilmu Lele? Apa itu namamu?"
Alita terdiam sesaat, lalu mengangguk. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan setelah Diego meneriaki namanya tadi. "Hanya pelesetan dari Alita. Kenapa?"
"Tidak ada."
Summer terdiam membuat Alita menekan lagi luka pemuda itu hingga Summer kembali meringis. "Apa kamu tidak bisa lembut sedikit? Seorang gadis tidak boleh galak-galak."
"Tidak apa-apa kalau galak sama kamu. Apa yang kamu lakukan hingga Diego melihatmu bersama gadis lain?" Alita menoyor kepala pemuda yang tampak cengengesan itu.
"Kenapa? Kamu cemburu? Kalau iya, tahan tahan ya, kalau sudah putus sama dia baru kita lanjut," tukas Summer yang kembali mendapatkan pukulan di pundaknya. "Aku serius nanya-nya goblokk," imbuh Alita.
Gadis itu membereskan kotak obat yang dipinjamnya dari UKS setelah menutupi luka pemuda itu dengan kain kasa.
"Aku juga serius." Pemuda itu terkekeh pelan. "Dia cuma teman, tapi ya, terlihat aneh 'kan kalau laki-laki dan perempuan berteman?"
Alita membenarkan, "Itu dia. Aku juga tidak akan tahan kalau berteman lama dengan pria tampan. Apalagi kalau senyumnya manis sepertimu."
"Sialan," umpat Summer lalu tertawa pelan. "Jangan banyak bicara yang manis-manis, nanti aku diabetes. Kamu tanggung jawab kalau aku baper," tambahnya kemudian.
Alita tertawa karenanya. "Kamu bisa nuntut tanggung jawab kalau mau merasakan lagi pukulan Diego."
Keduanya bersama tertawa, menghirup udara pagi yang sejuk dari pepohonan hijau di halaman sekolah.
"Kenapa kamu ingin sekali membuat Diego cemburu? Aku lihat kalian sama-sama saling mencintai. Ada masalah?" tanya Summer. Pasalnya, waktu Alita memintanya untuk menjadi pacar pura-pura, pemuda itu hanya mengangguk. Karena bersama Alita, jantungnya berdebar kuat.
Alita tertegun, benarkah seperti itu Summer melihat mereka? Meski Diego pernah mengatakan hatinya miliknya, tetap saja pikiran Alita tidak bisa menerima.
"Bukan masalah besar," gumam Alita sambil menghembuskan napas gusar.
Mengingat kembali hubungannya dengan Diego, Alita menggeram tertahan pada seseorang yang jauh di sana. Lelaki paruh baya yang sangat licik dan penuh rencana kotor.
Karena lelaki itulah, keduanya terjebak dalam permainan takdir yang tidak mudah terselesaikan dengan kata cinta. "Si Rubah Tua," umpatnya.
Summer mengernyit kemudian menepuk pundak gadis yang sedang menahan marah pada seseorang. "Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit merindukan rumah," ucapnya berusaha tersenyum.
Kembali teringat betapa liciknya lelaki yang dipanggilnya Daddy itu, Alita mendesah.
"*Anakku sudah besar, dia tidak mau tinggal bersamaku lagi." Silver berpura-pura memegang dadanya, sakit.
Alita tersenyum sambil memeluk lelaki paruh baya yang memiliki warna mata sama dengan miliknya. "Hanya dua tahun, Daddy. Setelah itu aku akan pulang."
Lelaki itu mengangguk, masih memasang wajah tidak rela ditinggalkan. "Baiklah, Shaun memang bisa diandalkan. Kalian bisa tinggal bersama. Aku sudah menyiapkan apartemen ini untuk kalian, tentang sekolah si tengil itu akan membereskannya," ucap sang Daddy menjelaskan.
Alita tersenyum bahagia, memeluk sang ayah dengan erat. "Thank you, Daddy. Kamu memang yang terbaik."
Bersamaan dengan itu, mimik pura-pura tadi langsung berubah 180º. Alita sampai bergidik, merasakan firasat buruk.
"Kalian tinggal bersama, ada syaratnya!" ucap Silver. Membuat dua pasang mata berbeda warna itu seketika membulat sempurna.
"Pertama, kalian tidak boleh memegang fasilitas yang mengatasnamakan keluarga. Jadi, selama di sini, cari uang untuk mencukupi kebutuhan, termasuk bayar sewa apartemen ini dan uang sekolah. Kedua, kalian harus membayar lunas atas keputusan ini. Aku tidak bisa bertemu putriku selama dua tahun, satu miliar sepertinya sudah cukup. Ketiga, tapi yang paling utama dan terutama dari segalanya, kalian berdua tidak boleh berpacaran sampai waktunya tamat sekolah*."
.
.
.
Epilog :
"Summer, kamu 'kan siswa pintar, apa kamu tahu nilai tangen 90º?"
Summer mengernyit. "Kamu tidak tahu?"
"Hm. Berapa?"
"Tidak terhingga."
Alita tersenyum lebar, ternyata hasilnya sebesar itu. Benarkah?
.
---
***