Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Di kediaman keluarga Draco, ruang keluarga dipenuhi kehangatan yang lembut. Mereka berkumpul di atas karpet mewah, Araina tiduran dengan nyaman di pangkuan ibunya, sementara Arion menyandarkan kepala di paha ayahnya.
Di depan mereka terhampar cemilan ringan yang seolah ikut merayakan momen kebersamaan itu. Tangan Elva mengelus rambut coklat Araina dengan penuh kasih sayang, matanya menatap kedua buah hatinya bergantian.
"Bagaimana sekolah kalian, Nak?" Suaranya lembut, namun penuh perhatian.
Araina tersenyum tipis, menikmati sentuhan ibunya. "Aman, Mom. Hanya sedikit drama kecil, tapi tidak penting."
Elva menoleh ke Arion, dahi berkerut saat menangkap kegelisahan di wajah putranya. "Kamu sendiri bagaimana, Ar? Wajahmu dari tadi kusut. Ada apa?"
Arion menghela napas panjang, matanya terbuka perlahan menatap langit-langit rumah yang biasa jadi saksi bisu segudang rasa.
Suaranya rendah, nyaris terputus, "Aurora... dia benci aku, Mom."
Hembusan napas itu penuh luka, seperti beban berat yang tak terucap. Malam itu, kebahagiaan ruang keluarga tiba-tiba ternoda oleh bisik getir hati seorang anak yang terluka dalam sunyi.
"What?! Kenapa bisa seperti itu?!" Araina terlonjak dari tidurnya, matanya membelalak, langsung menatap tajam ke arah saudara kembarnya yang masih tiduran di paha ayahnya.
Suasana mendadak hening, hanya tawa samar Arjuna dan Elva yang menusuk telinga sambil menatap Arion penuh sindiran.
“Dia benci aku karena aku playboy,” jawab Arion pelan, nadanya dipenuhi kecewa dan kepahitan yang sulit disembunyikan.
Tiba-tiba, tawa meledak dari seluruh anggota keluarga. Araina mengejek dengan nada nyinyir, “Hahaha, Makanya jangan jadi cowok playboy!”
Arjuna menimpali sambil tertawa cekikikan, “Astaga, boy, baru pertama kali ditolak cewek, ya? Kasihan banget!” Suaranya penuh ejekan yang tajam, seolah nikmat merundung kegagalan anaknya sendiri.
Elva tak mau kalah, tersenyum sinis, “Mommy sudah bilang sejak dulu, berhenti jadi playboy! Tidak semua cewek suka, kan? Nah, sekarang dapat karmanya dibenci cewek yang kamu suka. Hahaha.”
Arion hanya bisa menghela napas panjang, wajahnya memanas oleh frustrasi dan malu. Matanya menyala marah saat menatap keluarga yang sedang meledeknya tanpa ampun.
Dunia seolah menindihnya, dan dia terjebak dalam ejekan tanpa henti yang menggerogoti hatinya.
"Berhenti, jangan tertawakan aku lagi! Cepat bantu aku! Aku harus bagaimana supaya Aurora mau terima aku dan tak membenci aku lagi!"
Arion menatap mereka dengan mata penuh sesal dan frustrasi, suaranya nyaris pecah menahan gelombang kecewa yang menggunung di dadanya.
Tawa yang tadi menggema di sekitar mereka segera terhenti. Kini, wajah-wajah yang tadinya mencemooh berubah jadi penuh iba dan rasa simpati.
mereka terdiam, termenung mencari jalan keluar, berharap bisa menghapus kebencian Aurora pada Arion.
"Kenapa kamu nggak putusin semua cewekmu itu? Berhenti jadi cowok playboy yang cuma bikin luka," suara Elva menusuk keheningan, penuh teguran tapi juga harapan.
"Bener, Boy. Tunjukkan bahwa kamu bisa jadi laki-laki yang setia, cukup dengan satu perempuan," sambung Arjun dengan nada tegas, menyuntikkan kewaspadaan sekaligus semangat dalam kalimatnya.
Araina meraih bahu Arion dan menepuknya pelan, memberikan dorongan yang tulus, "Semangat, saudaraku. Aku percaya kamu bisa berubah jadi lebih baik. Jangan sampai gagal sekarang."
Mata Arion berkaca-kaca, tapi tekadnya menggelora. Ini bukan sekadar soal cinta, ini tentang harga dirinya yang harus ia rebut kembali, demi Aurora dan masa depan yang pernah ia impikan bersama.
...****************...
Beberapa hari berlalu, kedua orang tua Anjani masih tinggal di kediaman utama Harvey, mereka belum pindah sebab atas permintaan Aurora.
"Kalian kenapa duduk di sini? Tidak ada niat untuk pindah?" Anjani bertanya, wajahnya sinis jelas sekali ia tak suka.
"Nak, kenapa bicara seperti itu? Kau tahu kami ini orang tua kandungmu, kan?" Sekar berujar lembut dia tak bisa bicara buruk pada Anjani.
"Apa kau pikir aku sudi memiliki orang tua seperti kamu begitu?" balas Anjani tak kalah sinis.
"Kau jangan kurang ajar, Jani! Bagaimana pun dia ini Ibumu," Bagas membuka suara karena tak tahan melihat bagaimana Anjani memperlakukan mereka selama tinggal di sini.
"Ibu kandung? Seharusnya jika kalian saya padaku, tak membiarkan Aurora itu kembali ke rumah ini," bentak Anjani, dia menyalahkan. Padahal keduanya tak tahu jika Aurora bukan anak mereka.
"Kami bahkan tidak tahu sejak kapan Aurora tahu dia bukan putri kami, jadi jangan asal menyalahkan, Anjani!" tegur Bagas.
"Kalian yakin tak tahu?" Anjani memicing wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan.
"Kami yakin, jika kau tidak percaya silakan cari tahu!" tegas Bagas.
"Baik, kalian sayangkan padaku?" Anjani mulai memanfatkan kasih sayang kedua orang tua kandungnya.
"Tentu, akan kami lakukan apapun permintaan mu!" angguk Sekar, bagaimana perlakuan Anjani gadis itu tetaplah putrinya.
"Aku mau kalian berdua cari cara agar Aurora keluar dari rumah ini! Tenang saja aku akan berikan kalian yang banyak dan akan aku kirim uang itu setiap bulan ke kampung, bagaimana?" usul Anjani, dia harus menggunakan kedua orang itu demi membuat Aurora di usir kasar dari rumah Harvey.
"Kau benci Aurora?" Sekar bertanya, tangannya menyentuh Anjani.
"Sangat, jika bukan karena dia aku tidak akan menjadi putri terasing di rumah ini," kilatan kebencian itu jelas terpancar dari mata Anjani.
"Kau tenang saja, kami akan bantu kamu menyingkirkan Aurora dari rumah ini," Sekar setuju, sebab entah kenapa dia tak pernah bisa sayang Aurora sejak pertama kali bayi mungil yang ia kira putrinya itu hadir.
"Kalian setuju?" Anjani tak menyangka akan mendapatkan persetujuan secepat itu, ia kira Aurora di sayang oleh kedua paruh baya itu.
"Tentu, Aurora bukan putri kami, jadi untuk apa kami sayang dia? Kau lah putri kami jadi apapun yang kau mau akan kami lakukan," jelas Bagas.
"Bagus, ini uang untuk kalian!" kata Anjani, dia memiliki uang sebab menyimpan satu kartu ATM tersembunyi yang uangnya ia ambil dari ATM yang kedua orang tuanya sita.
Uang di ATM itu tak banyak. Hanya saja mungkin cukup untuk masa hukuman. Namun, ia harus tetap hemat sebab bagaimana pun masa hukuman itu berjalan satu bulan.
"Banyak sekali, ini benar untuk kami?" Bagas memastikan, ia tak pernah memiliki uang sebanyak ini.
"Iya, akan aku tambah setiap bulan jika kalian berdua berhasil menyingkirkan Aurora dari rumah ini."
"Kamu tenang saja, sayang! Kami akan buat Aurora pergi dari sini secepat mungkin," Bagas menjanjikan hal yang belum tentu ia bisa lakukan.
Anjani mengangguk, dia akan gunakan kasih sayang dua orang ini padanya. Untuk menyingkirkan Aurora dari rumah ini secepat mungkin.
"Bersiaplah untuk keluar paksa dari rumah ini Aurora!" gumam Anjani dengan senyum miring.
Sedangkan di sudut lain, ada seseorang yang melihat dan mendengar semuanya, ia tersenyum miring dengan seringai kecil sebagai bentuk ejekkan sarkastik pada sang pelaku pembuat onar.
"Kedua orang itu tak berubah, demi uang mereka bisa menyakiti siapapun!" sinisnya.
itu aruna gk ikut liat rekaman cctv, diakan yg paling ambisi..
hshaaa...kenyataan tak sesuai ekspektasi🤣
coba lanjut
btw aku kirimin kopi thor
selalu d berikan kesehatan😄