NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Raka baru menyadari ada sesuatu yang salah ketika Bima menyodorkan ponselnya tepat di depan wajahnya.

“Kapten, aku punya dua kabar. Kabar pertama, kamu sedang viral lagi.”

Raka tidak mengangkat kepala dari laptopnya. “Kabar kedua, kamu belum belajar menghormati privasi orang?”

“Sayangnya, kabar kedua tidak tersedia. Sekarang lihat ini.”

Bima memutar layar ponselnya.

Sebuah unggahan dari akun komunitas esports populer muncul di sana. Foto Raka dan Nadira di acara amal kemarin memenuhi layar. Dalam foto itu, Raka sedang menyerahkan sebotol air kepada Nadira, sementara perempuan tersebut menatapnya sambil tersenyum.

Tulisannya berbunyi:

VEX KALAU DI ARENA: DINGIN DAN MEMATIKAN. VEX KALAU DI DEKAT MBAK WARTAWAN: BAWAAN PENGIN MEMBERI AIR MINUM.

Di bawahnya, ribuan komentar terus bertambah.

Raka memejamkan mata.

“Siapa yang mengunggah ini?”

“Fotografer acara, sepertinya. Tapi netizen sudah mengambil tangkapan layarnya dan menyebarkan ke mana-mana.”

“Bagus.”

Bima mengerutkan kening. “Bagus?”

“Setidaknya kali ini aku tidak terlihat sedang bertengkar dengannya.”

Bima terdiam.

Kemudian, ia tertawa begitu keras hingga seorang staf di seberang ruangan menoleh.

“Raka Adhitama baru saja mengakui bahwa foto bersama Nadira bisa dinilai berdasarkan apakah mereka bertengkar atau tidak. Ini perkembangan besar.”

Raka menutup laptopnya.

“Kalau kamu tidak berhenti, aku akan menyuruh Arman mengganti posisi kamu di pertandingan berikutnya.”

“Ancaman dari seorang kapten yang sedang jatuh cinta tidak berlaku.”

“Aku tidak sedang jatuh cinta.”

“Baiklah. Kamu hanya tersenyum setiap kali membaca pesan dari Nadira, mengajaknya makan, memberinya air minum, dan mengingat semua hal yang dia ceritakan.”

Raka menatap Bima.

Bima membalas tatapannya dengan senyum puas.

“Silakan bantah. Aku punya waktu.”

Raka mengambil ponselnya dan meninggalkan ruangan.

Di belakangnya, Bima masih tertawa.

Satu hal yang paling menyebalkan dari memiliki sahabat adalah mereka sering kali mengenalmu terlalu baik untuk bisa dibohongi.

Di kantor Media Arena, situasinya tidak jauh berbeda.

Keisha berdiri di samping meja Nadira sambil menunjukkan unggahan yang sama.

“Jadi,” katanya dengan nada serius yang sama sekali tidak meyakinkan, “apakah ada penjelasan profesional mengenai alasan kamu tersenyum kepada Raka?”

Nadira tetap mengetik.

“Aku sedang menerima air minum.”

“Dengan ekspresi seperti itu?”

“Aku tidak tahu bahwa menerima air minum sekarang membutuhkan ekspresi khusus.”

Keisha mengangguk perlahan.

“Benar. Mungkin aku terlalu banyak membaca novel romansa.”

“Jelas.”

“Tapi kamu tahu, kalau ini benar-benar novel, bagian berikutnya biasanya adalah tokoh laki-laki yang mulai cemburu.”

Nadira akhirnya mengangkat wajah.

“Kenapa harus cemburu?”

“Karena selalu ada laki-laki lain.”

“Tidak ada laki-laki lain.”

Keisha tersenyum lebar.

“Oh, jadi kamu sudah memikirkan kemungkinan itu?”

Nadira mengambil bantal kecil dari kursinya dan melemparkannya ke arah Keisha.

Temannya tertawa sambil menghindar.

“Baik, baik. Aku berhenti.”

Namun, setelah Keisha kembali ke mejanya, Nadira diam-diam membuka unggahan tersebut.

Foto itu memang terlihat cukup akrab. Raka sedang menatapnya dengan ekspresi yang jarang ia lihat ketika laki-laki itu berada di depan kamera.

Tidak ada senyum profesional yang dibuat untuk menyenangkan sponsor. Tidak ada tatapan dingin seorang pemain yang sedang mempersiapkan pertandingan.

Hanya Raka yang sedang berbicara dengannya.

Nadira segera menutup unggahan tersebut.

Ia tidak ingin sebuah foto menentukan bagaimana ia harus memahami hubungan mereka.

Mereka baru saja mulai memperbaiki keadaan. Ia belum ingin terburu-buru memberi nama pada sesuatu yang bahkan belum selesai mereka bangun.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Raka muncul.

Raka: Aku minta maaf kalau unggahan itu membuat pekerjaanmu terganggu.

Nadira membaca pesan tersebut sebelum membalas.

Nadira: Bukan salahmu kalau orang-orang punya terlalu banyak waktu luang.

Raka: Jadi, kamu tidak keberatan?

Nadira: Aku keberatan kalau mereka mulai mengarang fakta.

Raka: Itu masuk akal.

Nadira hampir meletakkan ponsel, tetapi pesan berikutnya muncul.

Raka: Kalau ada yang bertanya, kita bisa bilang aku hanya sedang memastikan wartawan yang mengkritik performaku tetap terhidrasi.

Nadira tertawa kecil.

Nadira: Kalimat itu terlalu panjang. Aku akan bilang kamu sedang mencari cara agar tidak dikritik lagi.

Raka: Kejam sekali.

Nadira: Faktual.

Raka mengirim emoji tertawa.

Percakapan itu berakhir beberapa menit kemudian, tetapi Nadira masih tersenyum ketika kembali bekerja.

Ia tidak tahu apakah Raka juga sedang tersenyum di tempatnya.

Namun, entah mengapa, membayangkan kemungkinan itu membuat hari kerjanya terasa lebih ringan.

Dua hari kemudian, Nadira mendapat undangan ke sebuah diskusi publik tentang masa depan industri esports Indonesia.

Acara tersebut akan mempertemukan pemain profesional, pengelola tim, sponsor, dan beberapa perwakilan perusahaan yang tertarik berinvestasi dalam pengembangan ekosistem gim kompetitif.

Dimas menyerahkan undangan itu kepadanya.

“Ini cocok untukmu. Kamu bisa menulis artikel yang lebih luas tentang industri esports, bukan hanya satu tim.”

Nadira membaca daftar pembicara.

Nama Raka tercantum sebagai perwakilan ASTRAL sekaligus salah satu pemain yang akan berbagi pengalaman tentang pengembangan talenta muda.

Di bawahnya, ada nama seorang analis industri bernama Adrian Mahesa.

Nadira mengernyit.

“Adrian Mahesa? Bukankah dia pernah bekerja dengan Adhitama Global?”

“Benar. Sekarang dia menjadi konsultan independen. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya mengenali namanya dari beberapa laporan investasi.”

Dimas mengangguk.

“Bagus. Siapkan pertanyaan yang kritis. Aku ingin tahu bagaimana perusahaan besar bisa membantu industri ini tanpa membuat tim-tim kecil kehilangan kesempatan.”

Nadira menyimpan undangan tersebut.

Ia memang tertarik pada topiknya. Selama ini, banyak pembicaraan tentang esports berpusat pada popularitas pemain, jumlah penonton, dan nilai sponsor.

Padahal, ada pertanyaan yang lebih mendasar.

Siapa yang menentukan arah industri ini?

Siapa yang mendapatkan keuntungan terbesar?

Dan apakah perkembangan esports benar-benar membuka kesempatan bagi pemain muda, atau hanya memperbesar jarak antara mereka yang memiliki sumber daya dan mereka yang tidak?

Nadira mulai menyusun daftar pertanyaan.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia merasa sepenuhnya fokus pada pekerjaannya.

Namun, ketika melihat nama Adrian Mahesa sekali lagi, ia teringat pada pencariannya mengenai Yayasan Adhitama Peduli.

Ia tidak memiliki alasan untuk menghubungkan kedua hal tersebut.

Ia juga tidak akan melakukannya tanpa bukti.

Meski begitu, ia memutuskan untuk mencatat nama itu.

Bukan sebagai tersangka.

Hanya sebagai seseorang yang mungkin perlu ia wawancarai.

Diskusi publik berlangsung di sebuah auditorium yang dipenuhi peserta dari berbagai kalangan.

Nadira tiba lebih awal untuk memeriksa susunan acara dan mengenali para pembicara. Ia sedang membaca materi presentasi ketika seseorang berdiri di sampingnya.

“Kamu selalu terlihat serius ketika membaca.”

Nadira tidak perlu menoleh untuk mengenali suara itu.

“Dan kamu selalu muncul ketika aku sedang bekerja.”

Raka menarik kursi di sebelahnya.

“Aku bisa pergi kalau kehadiranku mengganggu.”

“Jangan dramatis. Aku hanya sedang membaca.”

“Baik, Bu Wartawan.”

Nadira melirik pakaian Raka. Kali ini, ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung sampai siku, tanpa jaket resmi ASTRAL.

“Tidak ada seragam tim hari ini?”

“Aku diminta tampil sebagai pembicara, bukan sebagai papan iklan berjalan.”

“Sayang sekali. Sponsor mungkin kecewa.”

“Mereka sudah mendapatkan cukup banyak foto dariku.”

Nadira tertawa kecil.

Raka memperhatikan tumpukan catatan di pangkuannya.

“Kamu menyiapkan banyak pertanyaan.”

“Karena aku ingin diskusinya menghasilkan sesuatu yang berguna.”

“Boleh aku tahu salah satunya?”

Nadira berpikir sebentar.

“Menurutmu, apa yang paling dibutuhkan pemain muda untuk berkembang?”

Raka tidak langsung menjawab.

“Kesempatan untuk berlatih dengan fasilitas yang memadai tentu penting. Tapi mereka juga butuh pelatih yang memahami perkembangan pemain, kompetisi yang teratur, dan jalur yang jelas untuk naik ke tingkat profesional.”

“Bagaimana dengan uang?”

“Uang membantu membuka pintu. Tapi kalau sistemnya buruk, uang hanya membuat pintu itu terlihat lebih bagus.”

Nadira menoleh penuh minat.

“Itu jawaban yang cukup bagus.”

“Aku sedang mencoba mengesankan wartawan.”

“Kalau begitu, jangan merusaknya dengan komentar berikutnya.”

Raka tersenyum.

“Aku akan berusaha.”

Sebelum Nadira sempat membalas, panitia mengumumkan bahwa diskusi akan segera dimulai.

Mereka mengambil tempat masing-masing.

Raka duduk bersama para pembicara, sementara Nadira berada di bagian media.

Diskusi berlangsung selama hampir dua jam. Raka berbicara tentang tekanan kompetisi, tanggung jawab tim profesional, dan pentingnya memberi kesempatan kepada pemain muda.

Ketika seorang peserta bertanya apakah perusahaan besar seharusnya memiliki pengaruh lebih besar dalam menentukan arah esports, Raka menjawab dengan hati-hati.

“Perusahaan bisa membantu menyediakan dana dan fasilitas. Tapi industri ini tidak boleh bergantung pada satu pihak saja. Kalau semua keputusan ditentukan oleh mereka yang memiliki uang paling banyak, kita berisiko kehilangan keragaman yang membuat esports menarik.”

Nadira mencatat jawabannya.

Ia teringat pada nama belakang Raka, pada Adhitama Global, dan pada berbagai hal yang belum ia pahami mengenai keluarganya.

Namun, kali ini ia tidak melihat jawaban Raka sebagai sesuatu yang harus langsung ia ragukan.

Ia hanya mencatatnya, mempertimbangkannya, dan menunggu kesempatan untuk memverifikasi hal-hal yang relevan.

Begitulah seharusnya ia bekerja.

Dan begitulah seharusnya ia mulai mengenal Raka lagi.

Bukan dengan menganggap semua yang dikatakannya pasti benar.

Bukan pula dengan menganggap semua yang disembunyikannya pasti merupakan kebohongan baru.

Melainkan dengan memberi ruang bagi fakta untuk berbicara.

Setelah diskusi berakhir, Nadira menghampiri Adrian Mahesa untuk meminta wawancara singkat mengenai investasi perusahaan besar di industri esports.

Pria itu menyambutnya dengan ramah.

“Media Arena, ya? Saya pernah membaca beberapa artikel Anda.”

“Semoga yang Anda baca bukan artikel saya tentang Vex.”

Adrian tertawa.

“Justru itu salah satunya. Anda cukup berani.”

“Keberanian terkadang hanya nama lain dari tenggat waktu.”

“Kalau begitu, saya berharap tenggat waktu Anda selalu memberi hasil yang bagus.”

Mereka mulai membicarakan perkembangan industri esports, model investasi, dan pentingnya transparansi dalam pengelolaan dana.

Nadira mengajukan beberapa pertanyaan tambahan tentang keterlibatan yayasan perusahaan dalam kegiatan sosial.

Ketika ia menyebut Yayasan Adhitama Peduli, ekspresi Adrian berubah sangat tipis.

Hampir tidak terlihat.

Namun, Nadira terbiasa memperhatikan perubahan kecil.

“Apakah Anda pernah bekerja langsung dengan yayasan tersebut?” tanyanya.

Adrian tersenyum kembali.

“Dalam beberapa proyek lama, saya pernah berinteraksi dengan sejumlah lembaga sosial. Tapi saya tidak mengurus operasional mereka.”

“Termasuk program bantuan medis?”

“Bisa jadi. Saya perlu melihat catatan lama untuk memastikan.”

Nadira mencatat jawabannya tanpa menunjukkan kecurigaan.

Ia tidak memiliki dasar untuk menyimpulkan bahwa pria itu mengetahui sesuatu tentang operasi ibunya.

Tetapi ia juga tidak ingin melewatkan kemungkinan bahwa pengalaman profesional Adrian dapat membantunya memahami struktur pengelolaan program tersebut.

“Kalau nanti saya membutuhkan penjelasan lebih lanjut, apakah saya boleh menghubungi Anda?”

“Tentu. Silakan melalui kontak kantor saya.”

Setelah mengucapkan terima kasih, Nadira kembali ke area media.

Raka sedang berbicara dengan beberapa peserta ketika melihatnya. Setelah menyelesaikan percakapan, ia menghampiri Nadira.

“Wawancaranya berjalan lancar?”

“Lumayan. Aku mendapatkan beberapa informasi baru.”

“Bagus.”

Raka melirik ke arah Adrian Mahesa yang sedang berbicara dengan panitia.

“Kamu mewawancarainya?”

“Iya. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya pernah mendengar namanya dari ayahku.”

Nadira menatapnya.

“Dalam urusan Adhitama Global?”

“Sepertinya. Aku tidak terlalu mengenalnya.”

Ia tidak terdengar berusaha menghindari pertanyaan. Nadira juga tidak punya alasan untuk mendesaknya.

“Kalau begitu, mungkin suatu hari nanti aku akan bertanya lebih banyak tentang dia.”

Raka mengangguk.

“Kalau kamu membutuhkan informasi yang bisa kubantu, beri tahu aku.”

Nadira tersenyum tipis.

“Aku akan mengingatnya.”

Mereka berjalan menuju pintu keluar bersama.

Di luar auditorium, hujan mulai turun, membuat sejumlah peserta berteduh di bawah kanopi.

Raka memeriksa ponselnya.

“Aku bisa mengantarmu pulang kalau kamu belum membawa kendaraan.”

“Aku membawa mobil.”

“Baiklah.”

Nadira menatap hujan, lalu kembali menoleh kepadanya.

“Tapi kamu bisa menemaniku menunggu sampai hujannya sedikit reda.”

Raka tampak terkejut.

Hanya sesaat, tetapi Nadira melihatnya.

“Kamu yakin?”

“Jangan membuatku menarik kembali tawaran itu.”

Raka tertawa kecil.

“Baik. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini.”

Mereka berdiri berdampingan di bawah kanopi, membicarakan acara tadi dan menertawakan beberapa komentar peserta yang terlalu serius.

Tidak ada kamera yang diarahkan kepada mereka.

Tidak ada mikrofon yang merekam percakapan mereka.

Tidak ada tuntutan untuk memberikan jawaban yang sempurna.

Hanya ada hujan, udara Jakarta yang lembap, dan percakapan sederhana yang terasa semakin mudah.

Nadira mulai menyadari bahwa mengenal seseorang bukan hanya tentang menemukan hal-hal baru yang membuat kita menyukainya.

Terkadang, mengenal seseorang juga berarti belajar menerima bahwa ia memiliki sisi yang belum kita pahami.

Dan Raka, dengan segala rahasia serta kesalahannya, masih menjadi seseorang yang ingin ia pahami.

Meski ia belum siap mengakuinya dengan suara keras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!