NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Dokter Yang Dingin Dan Menyebalkan

Suamiku Ternyata Dokter Yang Dingin Dan Menyebalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Perjodohan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Clara Adelin Dewangga, seorang siswi SMA berusia 18 tahun yang ceria namun sering terlibat masalah, tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan remajanya akan berubah drastis dalam semalam. Karena perjodohan keluarga yang terikat janji masa lalu, Clara terpaksa menikah muda di usianya yang masih duduk di bangku sekolah.
Pria yang dijodohkan dengannya adalah Arka Samudra, seorang dokter muda berparas tampan, cerdas, namun terkenal sangat dingin, kaku, dan penuh aturan. Di depan publik dan di rumah sakit, Arka adalah sosok dokter profesional yang disegani. Namun di rumah, ia menjadi sosok suami super protektif yang menyebalkan bagi Clara.
Kehidupan pernikahan rahasia mereka penuh dengan pertengkaran kecil yang menggelitik:
Clara sangat membenci Arka, karena dia menerima perjodohan tersebut, tanpa syarat.
Di balik sikap Arka yang dingin dan membuat kesal, perlahan terkuak perhatian-perhatian kecil yang membuat jantung Clara berdebar tak menentu. Hal itu yang membuat Clara tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama dan Bayangan Sekolah

Matahari pagi menyusup hangat melalui celah jendela kamar. Tiga minggu telah berlalu sejak hari di mana benteng pertahanan Clara runtuh di hadapan Arka. Proses pemulihan lututnya berjalan sangat pesat—kombinasi disiplin terapi TENS bersama Siska, asupan nutrisi yang dipantau ketat, dan perhatian tak kasat mata dari sang suami.

Hari ini adalah hari pertama Clara diperbolehkan kembali ke sekolah.

Di depan cermin tinggi kamar mandi, Clara mematut dirinya. Seragam putih-abu-abu melekat pas di tubuhnya. Di balik rok abu-abu sebatas lutut itu, penyangga lutut (knee brace) khusus berwarna hitam masih membebat rapi tempurung lutut kanannya. Bentuknya jauh lebih ringan dan tidak sekaku brace medis beberapa minggu lalu, namun cukup kuat untuk menjaga stabilitas pergerakannya.

Clara menarik napas panjang, mencoba meredakan getaran di dadanya. Sekolah bukan hanya tempat belajar baginya; itu adalah arena penuh pandangan sinis, rumor tentang pernikahan rahasianya, dan tentu saja ketakutan akan intervensi Papanya.

Tok...

Tok...

Tok...

"Clara? Sudah siap?" Suara berat Arka terdengar dari balik pintu.

"Iya, sebentar!" jawab Clara seraya meraih tas punggungnya. Ia melangkah keluar kamar mandi dengan ritme langkah yang sedikit lambat, namun tanpa pincang yang berarti.

Arka berdiri di dekat pintu kamar, sudah rapi dengan kemeja putih berlengan panjang yang tergulung hingga pertengahan lengan bawah, dipadukan dengan celana bahan gelap dan jam tangan kulit hitam. Pria itu menatap penampilan Clara dari atas ke bawah. Pandangannya tertahan sejenak pada rok seragam Clara sebelum beralih ke matanya.

"Bagaimana rasanya?" tanya Arka datar, namun matanya memancarkan kecemasan halus. "Ada rasa ngilu saat menumpu beban?"

Clara menggeleng pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis senyum murni yang kini tak lagi ragu ia tunjukkan pada suaminya. "Nggak ada, Dokter Arka. Cuma agak kaku sedikit. Tapi jauh lebih baik daripada minggu lalu."

Arka mendekat, menyelaraskan posisinya. Tangan besarnya terulur meraih tas sekolah berat di pundak Clara. "Biar saya yang bawa."

"Eh, nggak usah. Ringan, kok—"

"Jangan membantah," potong Arka tegas namun lembut. Ia mengambil alih tas tersebut tanpa cela. "Fase remodeling jaringanmu masih rentan. Jangan memberi beban vertikal berlebih pada tulang belakang dan lutut."

Clara hanya bisa mendengkus pelan, mengalah pada sifat protektif suaminya yang berbalut argumen medis. Namun di dalam hati, ada kehangatan yang menjalar.

Perjalanan menuju sekolah diisi dengan keheningan yang nyaman di dalam Range Rover hitam milik Arka. Suara alunan musik klasik yang diputar pelan mengisi kabin mobil. Clara menatap keluar jendela, menyaksikan jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan pagi.

Tiba-tiba, tangan kiri Arka yang berada di atas tuas transmisi terulur ke samping, meletakkan sebuah kotak bekal stainless steel kecil dan tumbler hangat di pangkuan Clara.

"Apa ini?" tanya Clara heran.

"Bekal lunch dan suplemen harianmu," sahut Arka tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya. "Di dalam botol itu ada teh herbal hangat dengan ekstrak kurkuminoid. Minum setelah makan siang. Dan bubur gandumnya sudah disesuaikan dengan kebutuhan kalorimu."

Clara menatap bekal itu dengan pandangan tak percaya. "Kamu... bangun jam berapa lagi pagi ini?"

"Jam lima," jawab Arka tenang. "Tidak perlu heran. Memastikan asupan nutrisi pasien adalah bagian dari manajemen terapi."

"Aku ini pasien atau istri?" goda Clara pelan, keberaniannya mencuat begitu saja.

Mobil berhenti perlahan di balik lampu merah. Arka menoleh. Tatapan matanya yang pekat menatap langsung ke dalam manik mata Clara. Senyum tipis yang sangat tipis menari di sudut bibirnya.

"Dua-duanya," jawab Arka pendek, membuat pipi Clara mendadak memerah panas. Clara cepat-cepat menoleh ke luar jendela, berpura-pura sibuk memperhatikan pejalan kaki untuk menyembunyikan getaran di dadanya.

Beberapa menit kemudian, Range Rover hitam Arka berhenti sekitar sepuluh meter di depan gerbang utama SMA Nusa Bangsa. Suasana di depan sekolah cukup ramai oleh deretan mobil wali murid dan siswa-siswi yang berhamburan masuk.

"Kita berhenti di sini saja," ujar Clara pelan. Ia tahu betul jika Range Rover limited edition mahal Arka merapat tepat di depan gerbang, gosip akan menyebar cepat bagai api menyambar minyak kering.

Arka tidak memprotes. Ia mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamannya. Sebelum Clara sempat membuka pintu, Arka sudah turun terlebih dahulu, melangkah mutar, dan bukakan pintu penumpang untuk Clara.

"Terima kasih," bisik Clara canggung saat kakinya menyentuh aspal.

Arka menyerahkan tas punggung Clara, lalu merapikan kerah seragam bagian belakang gadis itu dengan gerakan alami namun terkesan sangat intim. "Dengar baik-baik, Clara."

Clara mendongak, menatap wajah tampan suaminya yang diterangi sinar matahari pagi.

"Jangan berlari. Jangan naik-turun tangga jika tidak mendesak gunakan lift guru kalau perlu, saya sudah minta izin ke kepala sekolahmu," tutur Arka dengan intonasi yang tidak menerima bantahan. "Jika ada temanmu yang bertindak keterlaluan, atau jika Papamu mencoba mengirim orang untuk menemuimu..."

Arka merogoh saku kemejanya dan menyelipkan sebuah ponsel pintar baru ke dalam genggaman tangan Clara.

"...tekan tombol nomor satu. Itu panggilan cepat langsung ke ponsel pribadi saya. Saya bisa berada di sini dalam sepuluh menit."

Clara menggenggam ponsel itu hangat. Rasa takut akan dunia luar yang sempat membayangi pikirannya sejak tadi pagi perlahan runtuh, tergantikan oleh rasa aman yang kokoh.

"Iya, Dokter Arka. Aku paham," jawab Clara lembut. Ia memberanikan diri maju satu langkah, menepuk pelan dada kemeja Arka. "Jangan khawatir. Aku bukan Clara yang dulu lagi. Aku tahu cara menjaga diriku sendiri sekarang."

Arka menatap Clara dalam-dalam. Jemari tangannya terulur menyapu helai rambut halus Clara yang terurai di pipinya, menyelipkannya ke belakang telinga.

"Bagus," bisik Arka pelan. "Pulang sekolah nanti, saya yang jemput tepat pukul tiga sore. Tunggu di dalam pos satpam, jangan berdiri terlalu lama."

"Siap, Dok!" Clara terkekeh pelan, melambaikan tangannya sejenak sebelum membalikkan badan dan melangkah pelan namun mantap memasuki area sekolah.

Dari balik kemudi Range Rover hitamnya, Arka tidak langsung menyalakan mesin. Matanya terus mengawal setiap langkah Clara langkah kaki yang tak lagi tertatih oleh sakit, dan sosok gadis yang kini mulai berdiri tegak menyongsong masanya. Arka baru menginjak pedal gas setelah memastikan punggung istrinya benar-benar menghilang di balik pintu gedung utama sekolah.

1
Hutami Ningrum
next di tunggu arka junior segera launching 💪😍
Hutami Ningrum
seru aku mau maraton 😍
Hutami Ningrum
wah seru kak sama sama ketus 😍 ga sabar lihat ntar kalau di jodohkan kek mana ya
Renjana
waduh, sudah dijodohkan
Intan Wiwi: yang ini sequel dari Seinara dan Nathan ya🤭. yang ini kisah anaknya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!