Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21— Perhatian yang Membuat Jantung Berdebar
.
Mentari duduk di tepi ranjang sambil membersihkan luka di lengan Titan. Sesekali ia ikut meringis setiap kali melihat pria itu meringis. Dan jika sudah seperti itu, ia pasti menghentikan gerakan dan menatapnya dengan cemas.
“Pelan-pelan, Mentari. Sakit sekali,” keluh Titan sambil menatap wajah wanita yang begitu dekat dengannya.
“Jangan banyak bergerak. Kamu ini cengeng sekali. Padahal lukanya tidak terlalu dalam, tetapi kamu terus saja mengeluh, kapan selesainya? Apa kamu tidak malu kalau dilihat anak buahmu?” Mentari terus saja mengomel padahal wajahnya memperlihatkan rasa khawatir yang tak bisa ia sembunyikan.
Titan tersenyum tipis. Sebenarnya, luka itu memang tidak sesakit yang ia tunjukkan. Ia hanya ingin menikmati perhatian Mentari lebih lama. Setelah sekian lama merindukan wanita itu, kini ia akhirnya mendapat kesempatan untuk berada sedekat ini dengannya.
“Kenapa kamu terus menatapku?” tanya Mentari ketika menyadari tatapan Titan tidak beralih darinya.
“Memangnya aku tidak boleh memandangi tunanganku sendiri?” jawab Titan santai.
Mentari menggeleng, lalu mengambil plester dan menempelkannya pada luka pria itu. “Sudah selesai. Jangan terkena air dulu. Kalau masih sakit, sebaiknya kita pergi ke dokter.”
Namun, ketika Mentari hendak berdiri untuk merapikan peralatan, Titan tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya hingga tubuh gadis itu terhuyung lalu jatuh menimpa dirinya. Mentari terkejut saat menyadari wajah mereka yang hanya berjarak beberapa sentimeter.
“Titan, apa yang kamu lakukan?” tanyanya gugup.
Titan menatapnya lekat-lekat sebelum berkata dengan suara lembut, “Jika dengan terluka aku bisa menjadi lebih dekat denganmu, aku rela terluka seribu kali lagi.”
Mentari menelan ludah dengan susah payah ketika aroma napas Titan bahkan bisa dirasakannya, membuat jantungnya berdetak semakin kencang.
“Jangan bicara sembarangan. Siapa yang mau melihatmu terluka?” gumamnya sambil mengalihkan pandangan dan berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Titan.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita percepat rencana pernikahan?” balas Titan sambil tersenyum. “Aku sudah terlalu lama merindukanmu, Mentari. Sekarang, setelah kamu menerima perasaanku, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu. Tidak ingin kamu menjauh sedikitpun.”
Wajah Mentari semakin memerah. Ia hendak menarik tubuhnya untuk menjauh, tetapi Titan malah melingkarkan tangan kekarnya di pinggangnya membuat posisi mereka semakin merapat.
“Titan, jangan macam-macam,” ucap Mentari gugup saat Titan semakin mendekatkan wajah mereka.
Titan baru saja hendak menjawab ketika pintu kamar mendadak terbuka tanpa ketukan.
“Ibu mau bertanya apakah kalian sudah—”
Ucapan Ibu Titan terhenti begitu melihat putranya dan Mentari dalam posisi yang begitu intim. Wanita paruh baya itu langsung membalikkan tubuhnya dengan wajah terkejut. Tetapi tidak lama karena setelah itu wanita paruh baya itu kembali menghadap ke arah mereka sambil menutup wajah dengan telapak tangan yang jarinya direnggangkan.
“Aduh, maaf! Ibu tidak melihat apa-apa. Kalian lanjutkan saja!” serunya sebelum bergegas keluar. “Ibu mau cucu laki-laki yang gemuk!" serunya sebelum menutup pintu rapat-rapat.
Mentari membelalakkan mata. Ia segera melepaskan diri dari rengkuhan Titan, lalu mundur dengan wajah merah merona.
“Ibu kamu salah paham! Beliau pasti berpikir yang tidak-tidak tentang kita!” serunya panik.
Titan justru tertawa kecil melihat tingkah tunangannya. “Memangnya kita sedang melakukan sesuatu apa? Kita cuma berpelukan. Lagipula kita sudah bertunangan, Mentari.”
“Titan!” tegur Mentari sambil menatapnya kesal. “Kamu masih bisa bercanda setelah membuatku malu di depan ibumu?”
“Tenang saja. Ibuku tidak akan salah paham. Lagipula kelihatannya ibuku malah berharap kita melakukan lebih,” ucap Titan yang segera mendapat hadiah pukulan di dada.
Titan terkekeh melihat Mentari yang salah tingkah. Wajah gadis itu yang merah merona membuat nya merasa gemas. Pria itu kembali menggenggam tangannya dengan lembut. “Aku sungguh bahagia karena kamu sekarang berada di sisiku. Jangan marah kepadaku, ya?”
Mentari memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan pipinya yang terasa panas. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Semua perlakuan Titan membuat dadanya berdetak lebih kencang. Apalagi saat melihat senyum tulus di wajah pria itu.
“Sudahlah, istirahat saja. Aku akan meminta pelayan membawakan makan malam ke sini,” ujarnya sambil melepaskan tangannya lalu buru-buru berlari keluar..
Sebelum Mentari menutup pintu, Titan kembali memanggilnya. “Jalan-jalannya kita ganti besok ya?”
Mentari menoleh dengan tatapan tidak percaya. “Lenganmu masih terluka, tetapi kamu malah sempat-sempatnya memikirkan jalan-jalan?”
“Karena aku ingin bersamamu,” jawab Titan tanpa ragu.
Mentari menggeleng sambil menahan senyum. “Kita lihat besok. Sekarang, istirahatlah.”
Setelah mengatakan itu, Mentari benar-benar menutup pintu dan berjalan menuruni tangga sambil memegang dadanya yang sejak tadi serasa berlompatan ingin keluar. Sebelah tangannya menyentuh pipinya yang masih terasa panas. Ia memejamkan mata, teringat kejadian memalukan tadi.
Sesampainya di lantai bawah, Mentari mendapati Nyonya Rinjani, ibunya Titan sedang menata makanan di meja makan dengan dibantu oleh dua orang pelayan. Gadis itu segera mendekat dan menawarkan diri untuk membantu.
“Mentari, kenapa kamu tidak istirahat saja di kamar sama Titan? tanya Nyonya Rinjani. "Titan pasti lebih senang kalau kamu menemaninya.”
Mentari menggaruk tengkuknya merasa canggung. "Eng… itu… Tante… yang tadi itu sama sekali tidak seperti yang Tante bayangkan. Saya sama Titan beneran nggak ngapa-ngapain.” Mentari mencoba menjelaskan tak ingin disalah pahami.
Nyonya Rinjani segera meletakkan apa yang ia pegang dan memberikan isyarat pada pelayan untuk melanjutkannya. Wanita itu mendekat ke arah Mentari dan menggenggam jemari gadis itu lembut.
"Aih… tidak apa-apa," ucap Nyonya Rinjani. “Lagian ngapa-ngapain juga boleh kok. Biar Tante segera gendong cucu."
Uhuk! Uhuk!
Mentari tersedak ludahnya sendiri.merasa bingung harus menjawab apa. Wajah gadis itu semakin merah karena sikap orang tua Titan yang begitu blak-blakan.
.
Sementara itu di dalam kamar, Titan tersenyum puas di atas ranjang. Luka kecil di lengannya sebenarnya sama sekali tidak terasa apa-apa baginya, tetapi dia memang sengaja berpura-pura agar mendapatkan perhatian dari Mentari.
"Besok bikin luka apa lagi ya, biar Mentari bisa lebih perhatian lagi,” gumamnya sambil mengetuk-ngetuk dagunya menyusun rencana.
Namun, sebelum satu ide muncul dalam otaknya, tiba-tiba ponselnya berdenting. Titan segera membuka ponselnya dan mendapati sebuah pesan masuk dari seorang anak buahnya.
"Saya sudah mendapatkan apa yang Tuan minta. Saya sudah mengirim informasi lengkapnya ke email Anda,” bunyi pesan itu lalu ada sebuah file masuk ke email-nya.
Titan segera membuka email-nya dan seketika itu rahangnya mengeras, dan matanya menyala merah.
"Berani-beraninya dia mau mencelakai gadis milikku. Apa dia sudah bosan hidup?"