NovelToon NovelToon
DUDAKU ANAK DUA

DUDAKU ANAK DUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Duda
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mak Lampir Muncul

Baru saja mereka hendak berjalan menuju area restoran, seseorang tiba-tiba muncul dari arah berlawanan. Luna. Langkahnya cepat dan penuh amarah. Sebelum Rania sempat bereaksi, tangan Luna sudah menarik Kenzie dengan kasar dari sisi Rania.

"Heh!" Bentak Rania refleks sambil menggenggam lengan Kenzie agar tidak terlepas sepenuhnya. "Lepaskan, Anda ini kenapa sih?!"

Kenzie terlihat panik dan bingung, tubuh kecilnya terombang-ambing karena dua tangan dewasa menarik dan menahannya bersamaan.

"Anak ini bukan urusan kamu!" Dengus Luna tajam.

"Jangan tarik anak kecil seperti itu!" Karina ikut melangkah maju, siap membela sahabatnya.

"Kalau mbaknya punya masalah sama saya, ya bicarakan. Jangan bawa-bawa anak kecil!" Rania melindungi Kenzie dengan tubuhnya, memeluk si kecil erat sambil menatap Luna kesal.

Luna menggertakkan gigi, wajahnya memerah menahan emosi. Tapi beberapa pengunjung mulai memperhatikan mereka, membuatnya terpaksa melepas cengkeramannya.

Rania mendekap Kenzie lebih erat. "Mbaknya keterlaluan sekali."

Luna menatapnya tajam, lalu berbalik pergi tanpa sepatah kata pun.

Kenzie mulai terisak pelan, dan Rania mengusap punggungnya. "Ssstt… sudah, tidak apa-apa. Mak lampir ya sudah pergi."

Karina menatap kepergian Luna dengan mata menyipit. "Gila itu orang. Suka sekali membuat emosi." Ujar Karina geram sendiri. Baru juga dua kali bertemu, level bencinya sama Luna sudah di ambang maksimal.

"Sudahlah. Pulang saja. Makan di rumah. Gue udah nggak nafsu." Geram Rania sambil mengangkat Kenzie ke gendongannya. Sementara Karina menyusul membawa beberapa tas belanjaan.

Sesampainya di rumah, mereka disambut Galang yang baru saja turun ke ruang keluarga.

"Eh, ada bocil Kenzie." Sapa Galang santai, berjalan mendekat.

"Tidak usah jahil sama anak kecil!" Peringatan Rania langsung meluncur meski Galang belum sempat apa-apa. "Tante lagi nggak mood."

Galang melirik heran ke arah Karina yang hanya mengangkat bahu dan menghela napas panjang.

"Haus, Galang. Ambilkan tante air, ya!" Sahut Karina sambil duduk di sofa.

Galang mendengus. "Mulai deh kalian memperbudak aku." Gerutunya, tapi tetap melangkah ke dapur.

"Mbok, minta air." Ujar Galang ketika tiba di dapur, menemukan Mbok Darmi yang baru saja selesai membereskan meja dapur.

"Air apa, Den?" Tanya Mbok Darmi sambil menoleh.

"Air minum. Tante Rania sudah pulang."

Mbok Darmi mengangguk, lalu membuka kulkas dan menyiapkan air dingin dalam gelas tinggi.

"Sekalian tanyakan ke Non Rania, makan malam mau dimasakan apa, Den."

Galang mengangguk. "Udang saus padang saja, Mbok. Tambah menu lain sesuai Mbok saja. Oh iya, sepertinya bakal ada tamu juga. Mungkin tiga atau empat orang. Perkirakan saja masaknya ya, Mbok."

"Siap, Den." Jawab Mbok Darmi sambil mulai menyiapkan bahan-bahan.

Galang kembali ke ruang keluarga dengan dua gelas air di tangannya, satu buat Rania, satu lagi buat Karina.

"Nih, tante-tante kesayangan." Ucap Galang dengan nada menyebalkan, tapi tetap menyodorkan gelas dengan sopan.

"Banyak omong." Rania mengambil gelas tanpa menoleh. Ia masih menggendong Kenzie yang mulai tenang di pelukannya.

Karina menerima airnya sambil tersenyum manis. "Terima kasih, Galang. Lumayan, masih ada gunanya."

Galang menjatuhkan diri ke sofa, menatap Rania dengan alis terangkat. "Tante kenapa sih? Suasana hatinya buruk sekali."

"Orang gila tadi menyeret Kenzie." Sahut Rania.

ketus. "Untung tidak tante laporkan security."

"Serius?" Galang refleks menoleh ke Kenzie yang kini duduk di pangkuan Rania. "Kamu tidak apa-apa, Cil?"

Kenzie mengangguk pelan, meski wajahnya masih sedikit murung.

"Siapa itu orang gila?" tanya Galang lagi.

"Fans beratnya Daddy Kenzie," jawab Karina sinis.

Galang bersiul pelan. "Wuhuu... Pantas Tante Rania seperti mau bakar rumah orang."

Rania menatap tajam. "Mulutmu, Galang..."

Galang hanya tertawa kecil, lalu beralih ke Kenzie. "Cil, besok sore kita main layangan, yuk? Di lapangan komplek."

Kenzie menatapnya sebentar lalu mengangguk pelan. "Tapi Daddy harus bilang iya dulu." jawabnya polos.

Galang mengangkat kedua tangan. "Siap, nanti aku laporan dulu ke Daddy kamu."

Rania hanya bisa menghela napas, kepalanya bersandar di sandaran sofa. Hari ini benar-benar menguras tenaga.

"Ada yang mau mandi dulu atau langsung rebahan?" tanya Karina sambil berdiri dan meregangkan tubuh.

"Rebahan, jelas." jawab Rania lemas. "Tapi Kenzie duluan deh. Aku mandiin sebentar."

"Aku siapkan baju tidur di kamar tamu, ya." timpal Karina langsung berjalan ke dalam.

Galang menatap mereka bertiga, lalu bergumam sendiri. "Bau-bau bocil ini menginap di sini."

...****************...

Malam harinya, sekitar pukul setengah delapan, dering bel rumah membuat Rania yang sedang menonton televisi bersama Kenzie dan Karina langsung menoleh.

"Sepertinya Daddy kamu." gumam Rania, bangkit dari duduknya.

Kenzie langsung berdiri juga. "Daddy...!"

Rania berjalan ke pintu, membuka sedikit dan memastikan benar bahwa itu Arkan. Pria itu berdiri dengan tampilan rapi meski sedikit lelah di wajahnya.

"Masuk saja." ucap Rania sambil mempersilakan Arkan masuk.

Arkan mengangguk dan masuk. Begitu melihat sang Daddy, Kenzie langsung berlari kecil dan memeluk kaki Arkan.

"Sudah main seharian?" tanya Arkan sambil membungkuk dan mengangkat Kenzie.

Kenzie mengangguk semangat. "Tante Rania belikan baju, terus ada Mak lampir galak menarik Kenzie di mall, tapi Tante Rania marah-marahi dia!"

Arkan menatap Rania, kaget. "Serius?"

Rania hanya mengangguk malas. "Yang katanya calon istri kamu itu benar-benar keterlaluan sekali."

Arkan menghela napas panjang, lalu mengusap kepala Kenzie yang masih digendongnya. "Daddy minta maaf ya. Kamu pasti sempat takut tadi."

"Kenzie tidak takut. Soalnya Tante Rania jagain." sahut Kenzie bangga, menepuk dada kecilnya.

"Wah... Om jemput Kenzie, nih?" celetuk Galang yang entah dari mana muncul, membuat Rania dan Arkan menoleh sekilas.

Arkan mengangguk sambil berdiri tegak. "Tumben tidak main, Galang?"

"Lagi libur dulu, Om. Eh, ayo masuk saja. Kita belum makan malam. Sekalian saja makan bareng," ajaknya santai.

Arkan melirik ke arah Rania, seolah meminta persetujuan. Rania hanya menghela napas dan mengangguk kecil.

"Ayo... Kenzie nungguin kamu, tahu. Dia tidak mau makan kalau belum dijemput." kata Rania.

Arkan tersenyum tipis, lalu mengikuti mereka masuk ke ruang makan masih dengan Kenzie di pelukannya. Anak itu mulai menguap kecil, jelas tanda-tanda kantuk mulai datang.

Karina sudah menunggu di meja makan, membantu Mbok Darmi menata piring.

Mereka menikmati makan malam sederhana tapi hangat. Suasananya tidak terlalu ramai, tapi terasa menyenangkan.

Namun, setelah makan selesai, Arkan segera bersiap pamit pulang.

"Lho? Kenzie tidak menginap?" tanya Galang, yang mengira bocil itu bakal menginap seperti sebelumnya.

"Enggak. Kasihan abangnya nanti nyari adiknya." jawab Arkan sambil menuntun Kenzie ke pintu, tangannya menggenggam tangan kecil anak itu erat.

Kenzie menoleh ke Rania. "Besok Kenzie main lagi, ya Tante?"

Rania tersenyum. "Iya, Sayang. Kapan pun kamu mau."

Arkan hanya melempar pandang sekilas, pengennya sih cium, ya. Tapi ada Galang sama Karina kalau asal nyosor apa tidak kena bogem mentah dari Galang.. xixixi.

...****************...

Arkan baru saja masuk rumah ketika suara Axel menyapanya dari ruang keluarga. Pria itu tengah serius bermain PS bersama Zidan, sementara Nathan duduk santai di sofa, menjadi tim hore dadakan.

"Dari mana lo?" tanya Axel tanpa menoleh.

"Jemput Kenzie." jawab Arkan singkat. Ia menggendong Kenzie yang tertidur pulas sejak di mobil. "Gue tidurin Kenzie dulu." lanjutnya sambil berlalu ke kamar anaknya.

Axel melirik sekilas. "Dari mana jemputnya, Zidan?" tanyanya keponakannya yang duduk di sebelah.

"Mana Zidan tahu, Om. Zidan dari tadi juga sama Om." jawab Zidan santai, meski dalam hati dia sudah bisa menebak siapa darimana Daddy-nya menjemput Kenzie.

Beberapa saat kemudian, setelah mandi dan mengganti pakaian, Arkan kembali bergabung. Namun kini bukan di ruang keluarga, melainkan di ruang biliar. Zidan sudah pamit ke kamar, menyisakan Arkan, Axel, dan Nathan.

Suasana di ruang biliar terasa santai. Cemilan dan minuman ringan tersaji di meja kecil, sementara musik lembut mengalun dari speaker di sudut ruangan. Arkan menyandar santai pada meja biliar, stik di tangannya diputar pelan.

"Yang lo minta waktu itu sudah gue rangkum, Arkan. Mau dicek sekarang atau gue kirim ke email?" tanya Nathan tiba-tiba.

Arkan mengangkat alis, lalu meneguk air mineral sebelum menjawab, "gue minta apaan, Nathan?"

Nathan mendengus pelan. "Ck. Lo minta gue nyariin istri yang bisa nurut dan akur sama anak-anak lo, ingat?"

Arkan terdiam sejenak. Ah, iya. Dia ingat. Tapi sekarang... apa masih perlu?

"Jangan bilang lo mau batalin permintaan itu?" tanya Nathan penuh curiga.

Arkan mengangguk cepat. "Tidak jadi. Gue udah dapat." jawabnya tenang.

Seketika, Axel tersedak minumannya. "Uhuk... Sudah dapat? Calon istri maksud lo?"

Arkan hanya berdehem sambil membidik bola dengan stiknya tanpa membalas pertanyaan secara langsung.

Nathan menghela napas panjang. "Arkan...

serius??? Gue udah capek-capek menyortir nama-nama itu buat lo."

"Lo sortir jadi berapa orang, Nath?" Tanya Axel penasaran.

"Lima orang. Termasuk tantenya sahabatnya Zidan."

"Rania?" Tanya Arkan memastikan.

Nathan mengangguk pelan. "Lo pernah sarankan dia jadi pengasuh Kenzie, karena kelihatan akrab. Tapi makin ke sini, gue lihat dia juga cocok buat jadi istri lo. Poin plusnya, Zidan sudah kenal dan cukup nyaman sama dia."

Axel masih diam, menyimak dengan ekspresi berpikir. Dia mencoba mencerna arah pembicaraan yang makin serius.

Sementara itu, Arkan hanya mengangguk-angguk pelan, disertai senyum tipis yang susah ditebak.

"Rania memang bakal jadi istri gue." Ucapnya akhirnya, tenang tapi penuh keyakinan.

Nathan dan Axel spontan menoleh, alis mereka terangkat nyaris bersamaan.

Nathan menyipitkan mata, mencondongkan tubuhnya ke arah Arkan. "Serius lo Arkan? Tidak cuma karena dia dekat sama Kenzie doang, kan?"

"Lo naksir, Arkan?" Sahut Axel cepat, lebih kepo dari sebelumnya. "Gue saja belum pernah lihat ceweknya. Cantik?"

Arkan menahan senyum. "Gue bukan tipikal yang cuma lihat tampang, Axel. Tapi kalau lo pengin tahu, iya, dia cantik. Tapi yang bikin gue yakin... dia bisa bikin Kenzie nyaman. Itu poin paling besar."

Nathan bersandar di sofa, mengangkat alis dengan wajah setengah kagum. "Wah, jarang-jarang lo ngomong kayak gitu."

Axel mengangguk setuju. "Apalagi kalau soal anak. Biasanya lo protektif parah. Tapi sekarang..."

"Ya," potong Arkan pelan, " gue udah nemu orang yang bikin gue tenang ninggalin Kenzie, bahkan cuma buat kerja setengah hari."

Nathan terkekeh. "Cinta lo, Bro."

Arkan hanya tersenyum, tapi matanya menyimpan keseriusan yang tidak biasa.

" Gue nggak main-main."

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍👍👍
Sri Supriatin
Semangat upnya thor semoga sukses kontraknya🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Buru buru pindah rumah terus tancap gas, untuk gaet ibu sambung Zidan dan Kenzie
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Kenzie baru sehari semalam.sudah suka sama Rania
Sri Supriatin
Semangat Arkan 💪💪💪😍😍😍
sunaryati jarum
Pas tuh Zidan,kamu sudah kenal
sunaryati jarum
Anak kecil diajak ngomong yang tidak benar
sunaryati jarum
Perkataan Zidan kok kasar dan tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
sunaryati jarum
Baru mampir
Noona Rara: Makasih sudah mampir kak
total 1 replies
Sri Supriatin
Top upnya thor tjs 🙏🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
Arkan g mau kok ngamuk🤭🤭🤭
Yunita Asep
yess kerren banget.. thorr.. lanjuutt...!!
Yunita Asep
🤭🤭
Yunita Asep
kaya sekar Rania, cepas ceploss
Yunita Asep
lanjutkAn
Yunita Asep
yess dah.. setuju...
Sri Supriatin
Seruuu dong ada Luna pasti kalah lah anak2 pro Rania🤭🤣🤣🤣🤣
Yunita Asep
ngawur Rania 😄😄😄
Sri Supriatin
Hadeuh Arkan aya2 wae 😄😄😄
Yunita Asep
lanjuutt,..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!