“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”
Maizara merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.
Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Riak Jelang Akad
Pagi di pendopo rumah Natakusumah yang seharusnya dipenuhi oleh ketenangan wangi melati dan lantunan doa jelang akad nikah, mendadak berubah menjadi tegang. Suara bentakan berat Romo dari arah ruang tamu utama menggema hingga ke selasar belakang, memutus keheningan pagi yang dingin.
Romo murka besar.
Ternyata, kabar mengenai keberadaan Kartika di Jogja dan perkataan senonoh wanita itu di lobi hotel sampai ke telinga Romo. Kartika bukan orang asing bagi keluarga kami; ia dan keluarganya adalah salah satu langganan tetap dan pemesan batik tulis kualitas tinggi premium di galeri milik Ibu. Dari seorang staf galeri yang kebetulan melihat insiden di hotel, berita itu menyebar hingga akhirnya mengetuk pintu kamar Romo.
Bagi Romo sosok bangsawan Jogja yang sangat kaku menjunjung tinggi tata krama dan kehormatan wanita perkataan Kartika yang merendahkan statusku adalah sebuah penghinaan besar yang meremukkan harga diri keluarga.
"Gila! Wanita tidak punya sopan santun itu berani merendahkan putriku di depan umum?!" suara Romo bergetar hebat menahan emosi. Tanpa kompromi, Romo langsung mengambil ponselnya, menelpon Papi, ayah Dimas secara langsung untuk menuntut penjelasan tegas atas kelakuan mantan kekasih putranya yang dinilai mencoreng martabat calon pengantin.
Di dalam kamar pengantin, aku menghela napas panjang seraya memejamkan mata erat-erat. Ada rasa kesal yang menggumpal di dadaku—kesal pada Romo yang terlalu impulsif membawa masalah ini ke tingkat orang tua, namun sekaligus kesal pada Dimas.
Aku paham betul alasan Dimas memilih bungkam dan tidak menceritakan masa lalunya yang kelam bersama Kartika sejak awal. Pria itu takut. Dia cemas jika menceritakan hal se-sensitif itu, aku akan memandangnya dengan jijik dan menganggapnya bukan lagi sosok pria idaman yang kubayangkan. Tapi kebohongannya dengan cara menyembunyikan hal itu justru menjadi boomerang yang kini menghantam kami berdua di ambang pernikahan.
Namun, di balik kejengkolan itu, ada satu hal yang tidak bisa kuingkari. Lewat semua dinamika, sentuhan, dan kepasrahan yang kutumpahkan padanya beberapa malam lalu di apartemen, di samping Dimas-lah aku justru menemukan keberanian untuk mengenal diriku sendiri lebih jauh sebagai seorang perempuan dewasa yang berdaya, berani mencintai, dan berani menyerahkan hatinya tanpa rasa takut.
"HAH?! SERIUS, MEI?!"
Pekikan histeris yang tertahan itu meluncur keras dari bibir Mbak Dinar, sepupu sekaligus sahabat karibku yang sedang membantuku merapikan kain kemben persiapan siraman. Mbak Dinar membelalakkan matanya lebar-lebar, menutup mulutnya dengan kedua tangan, menatapku dengan pandangan tidak percaya yang teramat sangat.
"Pelankan suaramu, Mbak! Nanti Mami atau Ibu dengar!" bisikku panik sambil menepuk pahanya pelan.
Mbak Dinar dengan cepat mengunci pintu kamar, lalu merangkak mendekat di atas ranjang, menatapku dari dekat dengan binar mata yang dipenuhi rasa penasaran yang membuncah.
"Gila... kamu seriusan, Mei? Kamu... kamu sama Dimas sudah berhubungan intim?!" seru Mbak Dinar setengah berbisik, memegang pundakku. "Bagaimana bisa seorang Maizara Paramita perempuan paling benteng, paling idealis, dan paling kaku soal prinsip se-Jogja ini bisa luluh dan menyerahkan semuanya sama seorang Dimas Arjowibowo sebelum akad?!"
Aku menunduk tipis, meremas kain jarik di pangkuanku. Rona merah mendadak menjalar di seluruh permukaan wajah dan leherku.
"Bukan karena aku gampang menyerah, Mbak..." tuturku pelan, suaraku mengalun tulus dari lubuk hati. "Tapi karena malam itu... aku sadar kalau pertahananku runtuh bukan karena paksaan. Aku tidak lagi mencari sosok pria yang sempurna tanpa cela. Aku cuma butuh pria yang berjiwa provider, yang bertanggung jawab, yang kalau bertindak tidak banyak janji tapi nyata. Dan di dekat Dimas, aku merasa aman."
Mbak Dinar mendesah haru, menyandarkan dagunya di bahuku. "Tapi kamu tidak menyesal, kan?"
Aku menggeleng mantap. "Sama sekali tidak. Justru lewat Dimas, aku menemukan keberanian untuk menerima diriku sendiri secara utuh. Tapi yang bikin aku jengkel sekarang ya ini... kenapa soal Kartika harus ditutupi sampai Romo mengamuk begini?"
Satu jam kemudian, atas desakan Romo dan panggilan darurat dari Papi, Dimas tiba di rumah Natakusumah. Pria itu datang sendirian, mengenakan kemeja batik gelap. Wajahnya tampak tegang, penuh rasa bersalah, namun langkah kakinya tetap mantap dan tegap saat memasuki ruang tengah.
Romo duduk kaku di kursi ukir utama, ditemani Papi yang sengaja terbang dari Jakarta untuk meluruskan masalah ini, serta Mami dan Ibu.
Aku melangkah keluar dari kamar, berdiri di sudut selasar bersama Mbak Dinar, memperhatikan situasi dari jarak dekat.
"Nak Dimas," suara Romo dingin dan menekan, menatap calon menantunya tajam. "Romo tidak peduli seberapa kaya atau berkuasanya keluargamu. Tapi jika ada wanita dari masa lalumu yang berani merendahkan harga diri putriku, artinya kamu gagal membatasi masa lalumu sebelum melamar Maizara!"
Papi menghela napas berat, menepuk bahu putranya. "Dimas... jelaskan pada Romo dan Maizara. Kenapa wanita bernama Kartika itu bisa bertindak sejauh ini?"
Dimas tidak membela diri. Pria jangkung itu melangkah ke tengah ruangan, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia mengambil posisi berlutut di hadapan Romo dan Papi. Seseorang CEO besar yang meruntuhkan seluruh gengsinya di hadapan calon mertuanya.
"Romo... Papi... Ibu... Mami..." tutur Dimas dengan suara baritonnya yang dalam, bergetar oleh kejujuran yang utuh. "Saya mengaku salah. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk hati saya yang paling dalam."
Dimas mengangkat wajahnya, menatap Romo lurus-lurus.
"Saya tidak bermaksud menyembunyikan soal Kartika untuk membohongi keluarga ini," lanjut Dimas parau. "Saya hanya takut... Saya sangat takut jika Maizara mengetahui betapa buruknya masa lalu saya saat saya masih muda dan bodoh dulu, Maizara akan memandang saya sebagai pria yang tidak pantas. Saya takut kehilangan wanita yang paling saya hormati di dunia ini."
Dimas berbalik sedikit, mengalihkan pandangan mata hitamnya yang berkaca-kaca tepat ke arahku yang berdiri di ujung selasar.
"Tapi saya berani bersumpah di hadapan Allah dan di depan Romo..." tegas Dimas dengan nada suara yang begitu menggelegar tulus. "Sejak Maizara hadir di hidup saya, Kartika atau wanita manapun di masa lalu saya sudah mati. Saya tidak pernah menyentuh atau memberi ruang sedikit pun untuk wanita lain. Bagi saya, harga diri dan kehormatan Maizara adalah di atas keselamatan dan nyawa saya sendiri."
Mendengar pengakuan jujur dan kepasrahan Dimas yang bersimpuh berlutut di lantai, kemarahan di wajah Romo perlahan-lahan luluh. Papi tersenyum lega, sementara Mami dan Ibu mengusap air mata haru mereka.
Aku melangkah keluar dari selasar, berjalan mendekati Dimas yang masih berlutut. Aku menggenggam tangannya, menuntun pria tegap itu untuk bangkit berdiri di sampingku.
"Mas Dimas..." bisikku lembut di sampingnya, menatap matanya yang bening. "Lain kali... jangan pernah takut untuk jujur padaku. Aku mencintaimu bukan karena kamu tanpa masa lalu, tapi karena kamu berani menjadi pria yang bertanggung jawab di masa kini."
Dimas meremas jemariku erat-erat, menyandarkan dahinya di dahiku sekilas di hadapan orang tua kami, membisikkan kata terima kasih yang amat dalam.
Romo menghembuskan napas panjang, lalu tersenyum tipis sebuah senyuman penuh keikhlasan yang merestui kami sepenuhnya.
"Sebab kejujuran yang pahit jauh lebih memuliakan daripada kebohongan yang manis, dan cinta yang sejati tidak pernah takut pada bayangan masa lalu selama dua hati saling menggenggam rapat untuk melangkah menuju masa depan."