-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
🍂🍂🍂🍂
Pagi itu, kedamaian Desa Lemah Wungu pecah seketika. Dari arah kediaman Pak Kades yang megah, terdengar jeritan histeris yang melengking membelah udara pagi. Mbok Asih, pembantu rumah tangga di sana, berlari keluar rumah dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah.
"Tolong! Tolong Ndoro Sekar! Ada penyakit aneh!" teriak Mbok Asih histeris di pinggir jalan desa.
Dalam sekejap, warga yang tadinya hendak berangkat ke sawah langsung berkumpul di depan pintu gerbang kayu kediaman Pak Kades. Rasa penasaran membumbung tinggi, membuat kerumunan warga makin berjubel.
Di dalam kamar berukir nan megah, suasana terasa teramat mencekam. Pak Kades berdiri mematung di samping ranjang dengan wajah memerah tahan amarah bercampur panik yang luar biasa. Di atas tempat tidur, Sekar menangis meraung-raung seraya memegangi seluruh tubuhnya.
"Panas, Pak! Panas banget! Gatal!" jerit Sekar memilukan. Tangannya yang gemetar terus menggaruk leher dan lengannya.
Kulit mulus putri kepala desa itu kini berubah mengerikan. Di sepanjang leher, dada, hingga kedua tangannya, muncul ruam-ruam kasar berbentuk pola sisik ular berwarna biru kehitaman. Tak hanya itu, di sela-sela sisik biru tersebut, melepuh bisul-bisul bernanah yang mengeluarkan bau sangit dan terus membakar kulitnya.
"Aduh, Nduk... Jangan digaruk nanti makin parah!" ratap Ibu Kades menangis sesenggukan, mencoba memegang tangan anaknya namun Sekar menepisnya karena rasa sakit yang membakar.
"Mantra tabib mana lagi yang belum datang?!" bentak Pak Kades pada para pengawalnya dengan suara menggelegar. "Bawa semua tabib terhebat dari kecamatan ke sini! Panggil Mantri Karno sekarang juga!"
Tak lama kemudian, Mantri Karno masuk ke kamar dengan tas medisnya. Namun, begitu membuka kain penutup lengan Sekar, pria tua itu langsung mundur tiga langkah dengan wajah membelalak ketakutan.
"Bagaimana, Mantri?! Obat apa yang harus disuntikkan?!" desak Pak Kades panik.
Mantri Karno menggelengkan kepala dengan tangan bergetar. "I-ini... ini bukan penyakit biasa, Pak Kades. Kulitnya melepuh seperti terbakar bisa racun, tapi polanya... polanya persis seperti sisik ular. Obat medis tidak akan mempan. Saya... saya tidak sanggup."
"Maksudmu anakku kena racun?! Atau dikirim orang?!" bentak Pak Kades, matanya menyipit penuh kecurigaan.
Sekar yang mendengar itu makin meraung dalam tangisnya. Di dalam hatinya, rasa penyesalan dan ketakutan yang teramat sangat menyergap. Ia ingat betul hembusan angin hijau dan rasa terbakar yang menyerangnya tepat setelah Mbah Suro mencoba mengirimkan pelet pada Bagas. Namun, Sekar tak berani membuka mulut; jika ayahnya tahu ia mendatangi dukun ilmu hitam, habislah harga diri keluarganya.
Dalam hitungan jam, kabar tentang penyakit mengerikan yang menimpa putri kepala desa menyebar luas bagaikan api menyambar jerami kering. Di warung makan, di tepi irigasi, hingga di pelataran pasar, warga desa tak henti-hentinya berbisik-bisik.
"Kamu sudah dengar kabar soal Ndoro Sekar?" bisik Bu Lastri pada tetangganya saat mencuci beras di sungai.
"Sudah! Katanya kulitnya berubah jadi sisik ular hitam bernanah!" sahut warga lain dengan mata membelalak. "Aneh banget kan? Padahal kemarin lusa masih segar bugar waktu main ke rumah Den Bagas!"
"Iya, lho! Katanya waktu di sawah juga Ndoro Sekar sempat mengintili Den Bagas tapi ditolak dingin. Jangan-jangan... ini tulak dari ilmu pelindung atau santet?"
"Hussh! Jangan sembarangan bicara! Tapi ya aneh saja, kok bisa kena penyakit sisik ular begitu secara mendadak?"
Gosip itu makin membesar dan berhembus hingga ke selasar rumah joglo milik Bagas.
**
Sementara itu, suasana di rumah joglo terkesan jauh lebih tenang dan damai. Udara pagi yang sejuk membawa aroma teh hangat yang baru saja diseduh. Bagas duduk di meja makan selasar bersama ibunya, Mbok Sumi, menikmati cangkir teh dan piring berisi pisang goreng hangat.
Bagas menyirup tehnya secara perlahan, wajahnya tampak sangat tenang seolah tidak ada peristiwa besar yang baru saja terjadi tadi malam.
Mbok Sumi menaruh cangkirnya, lalu menatap anak tunggalnya itu dengan raut wajah yang sedikit muram dan prihatin.
"Bagas..." sapa Mbok Sumi pelan, suaranya sarat akan rasa iba.
"Nggih, Bu? Ada apa?" jawab Bagas ramah, menyunggingkan senyuman manis pada ibunya.
Mbok Sumi menghela napas panjang, memandangi kearah gerbang desa. "Kamu sudah mendengar berita tentang Mbak Sekar, Nak? Warga dari tadi pagi heboh membicarakannya di depan gerbang."
Bagas mengangguk pelan, mengambil sepotong pisang goreng. "Tadi Kang Saman sempat cerita sebentar waktu lewat, Bu. Katanya Mbak Sekar sedang sakit kulit."
"Bukan sekadar sakit kulit biasa, Bagas," tutur Mbok Sumi dengan nada khawatir. "Katanya kulitnya melepuh membiru dan ada bisul bernanah yang membentuk pola sisik ular. Ibu kasihan sekali dengarnya... Padahal Mbak Sekar itu gadis yang cantik dan berasal dari keluarga terpandang."
Bagas mendengarkan dengan serius, meski di dalam batinnya ia tahu betul bahwa penyakit itu adalah balasan setimpal dari Nyai Ratu Ular atas niat jahat Sekar yang mencoba mempelet dirinya.
"Mungkin memang sudah takdirnya Mbak Sekar harus diuji dengan penyakit itu, Bu," sahut Bagas santai namun tetap sopan. "Kita doakan saja semoga Mbak Sekar cepat sembuh dan bisa diambil hikmahnya."
Mbok Sumi menatap Bagas dengan pandangan menimbang-nimbang, lalu tersenyum tipis agak getir. "Jujur ya, Le... Sebenarnya dulu Ibu sempat membatin. Melihat Mbak Sekar rajin main ke sini dan mengantarkan kue, Ibu pikir kelak dia bisa jadi menantu Ibu, jadi istrimu. Dia cantik, anak Kepala Desa pula... Tapi kalau mendadak kena penyakit aneh begitu dan banyak gosip buruk dari warga, Ibu jadi merinding sendiri."
Bagas tersenyum tipis, menggenggam lembut jemari tangan ibunya yang sudah berseri sehat. "Ibu tidak usah memikirkan soal menantu dulu. Fokus Bagas sekarang cuma satu: merawat Ibu dan mengurus sawah kebun kita. Soal jodoh, Bagas menyerahkan semuanya pada takdir yang terbaik."
Mbok Sumi mengelus bahu tegap anaknya dengan penuh rasa bangga. "Iya, Nak... Kamu memang anak yang berbakti. Ibu cuma ingin melihatmu bahagia."
Bagas meminum sisa teh di cangkirnya hingga kandas, lalu berdiri merapikan kain beskap sederhananya dan mengambil caping lebar di sudut meja. Pusaka Sisik Emas di dada kirinya berdenyut pelan dan hangat, seolah menyalurkan rasa rileks atas keputusannya yang tidak ambil pusing dengan urusan Sekar.
"Bu, Bagas pamit ke sawah bagian selatan dulu ya. Hari ini ada pemupukan lanjutan untuk tanaman jati," pamit Bagas seraya mencium tangan ibunya penuh takzim.
"Iya, Le. Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siangnya nanti Ibu kirim lewat buruh," pesan Mbok Sumi penuh kasih.
Bagas melangkah keluar dari rumah joglo dengan dada tegap dan langkah mantap. Ia melewati warga desa yang sedang berbisik-bisik di pinggir jalan dengan sapaan dan senyuman ramah. Bagi Bagas, teror pelet Sekar sudah selesai dibalas oleh sang Ratu, dan kini ia hanya perlu fokus menjaga takdir kekuasaan dan kedamaian hidupnya di dunia nyata.
Bersambung...