Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Bom
Happy Reading
❤❤❤❤❤❤
" Hadiah dari Libya untuk Ratu Queen yang sudah menghancurkan bisnis kami," kata supir itu dalam bahasa Inggris, lalu dia menekan sesuatu di saku nya._Tik... Tik... Tik..._
Dari dalam kotak kado besar itu terdengar bunyi detak. Bukan detak jam. Tapi detak bom waktu.
Supir itu lari. Van putih itu langsung tancap gas, meninggalkan debu.
"SEMUA NYA KELUAR! ADA BOM!" teriak King sekeras mungkin, suara nya menggema di gudang besi.
30 anak panik. Menangis. Berlari tidak beraturan.
Queen tidak lari. Dia lari ke arah kotak kado itu. Dia buka pita merahnya. Di dalamnya bukan buku. Tapi ada... Sebuah kotak besi dengan kabel merah, biru, kuning, dan sebuah timer digital: *00:02:47* dan terus berkurang.
2 menit 47 detik.
Bruno dan 10 security baru langsung bertindak. Mereka bukan security terlatih, tapi mereka mantan anak buah mafia yang pernah pasang bom juga dulu untuk Tuan Herman.
"BOM RAKITAN! TIPE C4 DENGAN PEMICU HP! JANGAN POTONG KABEL SEMBARANGAN!" teriak salah satu mantan anak buah Tuan Herman yang dulu tukang bom Herman, nama nya Ciko Kecil.
King sudah menggendong 2 anak sekaligus, membawa mereka keluar. Daniel menggendong Stella dan 2 anak lain, lari keluar.
Queen masih di dalam, di depan bom, dengan timer *00:01:58*.
"Queen! Keluar! Biar aku yang urus!" teriak Ciko Kecil, si tukang bom.
Queen menggeleng. "Aku tidak akan tinggalkan sekolah Mommy! Kalau bom ini meledak, semua bukti di gudang ini hilang! Semua impian anak-anak hilang!" Jawab Queen.
Lucas yang jago IT, masuk juga, bawa laptop. "Queen! Bom ini di picu pakai sinyal HP! Kalau kita bisa jam sinyal nya, timer akan berhenti!"
"Tapi kita tidak punya jammer!" kata Ciko Kecil.
Queen menatap bom itu. Dia ingat sesuatu. Sesuatu yang di ajarkan Marco 6 bulan lalu saat latihan menembak. "Queen, kalau kau ketemu bom rakitan, jangan pernah potong kabel merah. Potong kabel yang tidak terduga. Karena pembuat bom selalu jebak orang dengan kabel merah."
Timer: *00:01:10*
Di luar, 30 anak sudah aman di pelabuhan, di tahan oleh Carla dan nelayan-nelayan. Stella menangis keras memanggil, "Kakak Queen! Jangan mati!"
Daniel mencoba masuk lagi, tapi King menahan nya. "Jangan! Kau ayah Stella! Kalau kau mati, Stella jadi yatim lagi!" Ucap King.
Queen menatap kabel: merah, biru, kuning. Mana yang harus di potong?
Tiba-tiba, dari dalam kotak kado, di bawah bom, ada selembar kertas kecil. Kertas yang di selipkan sengaja oleh Al-Rashid Group.
Tulisan di kertas itu: *"UNTUK RATU QUEEN - KAU HANCURKAN BISNIS SENJATA KAMI 200 AK-47 - SEKARANG KAMI HANCURKAN 30 ANAK-ANAK MU - AL-RASHID TIDAK PERNAH LUPA - JIKA KAU POTONG KABEL MERAH, BOM MELEDAK LEBIH CEPAT"*
Jebakan psikologis.
Timer: *00:00:45*
Queen gemetar. Keringat dingin mengalir di pelipis nya. Gaun hitam Ratu Amanda yang dia pakai pagi itu basah kuyup.
Lucas berbisik, "Queen, potong biru. Biasa nya pembuat bom amatir pakai biru sebagai netral."
Cito Kecil berbisik, "Jangan! Potong kuning! Kuning itu kabel listrik utama!"
Dua pendapat berbeda.
Timer: *00:00:20*
Queen menutup mata. Dia ingat wajah Mommy. Wajah King. Wajah Stella. Wajah 30 anak yang tadi pagi tulis spanduk terima kasih dengan ejaan salah.
Dia ingat kata-kata Mommy di video USB emas: "Kalau kau takut, jangan tutup mata, Nak. Nyalakan lilin."
Queen membuka mata. Dia tidak potong kabel merah, biru, atau kuning. Dia melakukan sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun.
Dia menarik... Baterai HP pemicu bom itu. Baterai kecil yang menempel di belakang timer.
Karena semua bom rakitan pakai HP butuh baterai untuk kirim sinyal. Tanpa baterai, tidak ada sinyal, tidak ada ledakan.
_PLEK!_
Baterai tercabut.
Timer berhenti di *00:00:07*. 7 detik lagi.
Lampu timer mati. Bunyi tik... tik... berhenti.
Hening.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Tidak meledak.
Queen jatuh terduduk di lantai gudang, di depan bom yang gagal meledak, menangis. Bukan menangis takut. Tapi menangis lega.
King, Daniel, Lucas, Bruno, Ciko Kecil langsung lari masuk, memeluk Queen.
Di luar, 30 anak bertepuk tangan, mereka pikir ini adalah pertunjukan sulap dari Kakak Queen. Mereka tidak tahu mereka baru saja hampir mati.
Stella lari paling depan, memeluk Queen yang masih duduk di lantai.
"Kakak Queen hebat! Kakak Queen matikan hadiah jahat!" Ucap Stella. Queen memeluk Stella erat.
Tapi di dalam kotak kado, di bawah bom yang gagal meledak, ada satu lagi amplop hitam. Amplop yang sama seperti amplop di brankas kemarin, dengan stempel jangkar ular.
Queen membuka amplop itu dengan tangan masih gemetar.
Di dalam nya ada foto. Foto Daniel Russo sedang bersalaman dengan seorang pria Arab berjenggot, di pelabuhan Palermo, di belakang mereka ada kotak-kotak bertuliskan "IKAN TUNA" tapi salah satu kotak terbuka, isinya... AK-47.
Foto itu tanggal: *10 Mei 2026*. 3 minggu lalu.
Daniel masih selundupkan senjata. Bahkan setelah damai di Excelsior. Bahkan setelah janji jadi Ketua Penasehat Pelabuhan.
Queen menatap Daniel yang sedang menggendong Stella.
"Daniel... foto ini apa?" tanya Queen, suaranya pelan, tapi semua orang di gudang yang tadi nya bahagia langsung diam.
Daniel melihat foto itu. Wajah nya yang tadi bahagia karena selamat, langsung pucat.
"Itu... itu bukan aku... itu..."
King merebut foto itu, melihat tanggal nya. "3 minggu lalu, Daniel. Kau bilang kau sudah berhenti. Kau bilang kau mau jadi ayah yang baik untuk Stella. Tapi kau masih kirim senjata untuk Al-Rashid?"
Daniel terdiam. Tidak bisa menjawab.
Bruno yang melihat foto itu, langsung berbisik, " Ratu... itu... itu pelabuhan tempat kami dulu kirim senjata untuk Herman. Pelabuhan Palermo yang di kuasai keluarga Russo. Jadi... selama ini... yang kirim senjata ke Al-Rashid bukan hanya Herman... tapi juga... keluarga Russo..."
Jadi musuh sebenarnya bukan hanya Herman. Musuh sebenarnya adalah jaringan yang lebih besar. Jaringan yang menghubungkan Herman, Daniel, dan Al-Rashid Group.
Dan bom hari ini bukan hanya balas dendam Al-Rashid pada Queen. Tapi mungkin... peringatan dari Al-Rashid pada Daniel, karena Daniel mau berhenti dan jadi legal.
Daniel berlutut di depan Queen dan Stella. "Queen, maafkan aku... aku... aku coba berhenti 3 minggu lalu. Foto itu adalah pengiriman terakhir. Aku janji itu terakhir. Aku butuh uang terakhir itu untuk beli kapal ikan legal yang sekarang ada di pelabuhan. Aku butuh modal... aku..."
Queen menatap Daniel. Apakah dia harus percaya lagi? Setelah Herman, setelah Bruno, setelah semua pengkhianatan?
Stella yang ada di pelukan Daniel, tiba-tiba berbicara, polos. "Ayah Daniel bohong?"
Satu kalimat dari anak 5 tahun. Lebih menyakitkan dari 200 AK-47.
Daniel menangis. Untuk kedua kali nya dalam 2 hari, Tuan Russo yang dingin itu menangis di depan anak nya.
"Tidak, Stella... Ayah tidak bohong... Ayah hanya... Ayah takut kalau Ayah tidak punya uang, Ayah tidak bisa jadi Ayah yang baik untuk Stella..." Sahut Daniel.
Queen berdiri. Dia mengambil keputusan lagi. Keputusan ratu.
"Daniel, kau bohong pada kami. Kau masih selundupkan senjata 3 minggu lalu. Seharus nya aku penjarakan kau seperti Herman." Ucap Queen. Daniel menunduk, siap di borgol.
"Tapi..." lanjut Queen, "Aku tidak akan penjarakan kau. Karena kau jujur sekarang. Dan karena Stella butuh Ayah. Tapi sebagai hukuman..." Sambung Queen.
Queen mengambil koper 200 Miliar yang tadi pagi mau dia pakai untuk modal yayasan.
"Koper ini... Tidak akan jadi modal kapal ikan. Koper ini akan aku bakar. Di depan semua anak-anak. Sebagai simbol bahwa uang dari darah tidak boleh di pakai untuk masa depan anak-anak." Lanjut Queen. Semua terkejut.
************
Happy Reading Guys. 🥰🤗